Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 65 - Rencana Lamaran Zidan


__ADS_3

Pernikahan terkadang bisa menjadi solusi - Auraliv.


...༻∅༺...


"Sial! Sial! Sial!" umpat Zidan sembari buru-buru berdiri. Hal serupa juga dilakukan Zerin. Keduanya kaget setengah mati mendengar kedatangan Wira yang begitu tiba-tiba.


Zerin sangat panik. Seolah sudah terbiasa, dia bersembunyi ke bawah ranjang. Sementara Zidan, dia bergegas menemui Wira.


Zidan harus berhenti, tatkala menyaksikan Wira sudah terlihat di ambang pintu. Ia mengamati keadaan kamar.


"Zidan! Aku sudah menduga kau pasti ada di sini. Kebetulan aku ingin mengajakmu bertemu rekan bisnis terbaikku malam ini. Ayo bersiaplah!" ujar Wira. Dia sebenarnya sangat marah. Bagaimana tidak? Wira dapat melihat dengan jelas celana perempuan yang tergeletak di atas karpet. Zerin jelas lupa mengambil benda tersebut ikut bersembunyi bersamanya.


Wira sengaja berlagak tidak tahu agar Zerin tidak ketakutan. Ia tidak mau pernikahan yang terjadi akan menjadi tekanan untuk calon menantunya tersebut.


"Baik, Pah." Zidan menurut saja. Dia dan Wira segera pergi meninggalkan apartemen.


Zerin mendengus lega. Sedari tadi dia sebenarnya cemas saat sadar kalau celananya tidak terbawa.


Tanpa pikir panjang, Zerin mengambil celana yang tergeletak di lantai. Sebelum pulang, dia membersihkan diri terlebih dahulu ke kamar mandi.


Di sisi lain, Zidan sedang berada di mobil bersama Wira. Ia duduk di sebelah lelaki paruh baya itu.


"Tadi kau dan Zerin berniat melakukannya lagi bukan?" celetuk Wira dengan wajah merengut.


"Aku sendirian. Zerin tidak--"


"Jangan berbohong! Aku tahu kau pergi dengan Zerin sejak awal! Ditambah, ada celana dal-am wanita di apartemen tadi!" potong Wira. Dia berucap lantang karena meluapkan amarah.


"Sampai segitunya Papah mengikutiku?!" Zidan merasa tak percaya Wira bisa berbuat sejauh itu.


Wira sebenarnya tidak mengikuti dari awal. Tetapi Arkan-lah yang melakukannya. Lelaki yang di utusnya menjadi mata-mata Zidan itu memang dibayar mahal untuk berjaga siang dan malam.


Ketika Zidan keluar dari rumah, Arkan mengikuti dengan mobil dari belakang. Dia sengaja berjaga di depan rumah keluarga Dirgantara. Arkan langsung menghubungi Wira saat mengetahui Zidan dan Zerin pergi ke apartemen berduaan.


"Sekarang atau tidak. Sebaiknya kau nikahi Zerin! Sepertinya kalian berdua tidak bisa menahan naf-su lagi." Wira melirik tajam ke arah Zidan.


"Tapi, Pah. Bukankah kau setuju kalau aku dan Zerin menikah saat masa koas kami nanti?!"


"Setelah melihat kelakuanmu hari ini, aku tidak akan menunda lagi!"

__ADS_1


"Papah nggak takut sama rumor yang--"


"Nikahi Zerin sekarang!!!" pekik Wira memaksa. Dia sengaja menghentikan bantahan Zidan yang masih ragu untuk menikah.


"Baiklah kalau itu mau Papah! Puas?!" sahut Zidan yang tak kalah lantang. Dia menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Melipat dua tangan ke depan dada.


"Lakukanlah secara alami. Lagi pula masa koas sudah tidak akan lama lagi. Buat apa terus-terusan mengulur waktu," imbuh Wira. Diam-diam dia berseringai. Rencananya sukses besar untuk mendesak Zidan menikah.


Zidan keluar dari mobil dengan raut wajah cemberut. Dia membanting pintu saat masuk ke kamar. Zidan merasa sangat kesal kepada Wira. Sekarang dirinya harus memikirkan cara membicarakan perihal pernikahan dengan Zerin.


Ponsel di ambil Zidan. Ia berselancar di internet. Mencari-cari sesuatu yang dapat membantu.


"Apa aku lamar saja dia langsung?" gumam Zidan. Dia tidak punya pilihan lain. Menikah dengan Zerin adalah satu-satunya cara lepas dari gangguan sang ayah.


Keesokan harinya, Zidan menghubungi pemilik rumah mewah yang ada di depan gang masuk kediaman Zerin. Dia mencoba melakukan penawaran sampai bisa membuat sang pemilik menjual rumahnya.


Zidan mengeluarkan uang sekitar sepuluh miliar untuk membeli rumah idaman Zerin. Dia terpaksa meninggikan harganya agar sang pemilik rumah tergiur menjual rumahnya.


Setelah berhasil membeli rumah idaman kekasih, Zidan hanya perlu menunggu sang pemilik rumah pindah. Sambil menunggu itu, dia akan menyiapkan rencana untuk melamar Zerin.


Zidan mendatangi restoran paling mewah di kota. Dia juga tidak lupa membeli cincin berlian untuk melamar Zerin. Kini Zidan hanya perlu membuat janji bersama perempuan tersebut nanti malam.


Kini Zerin berada di kelas. Dia tidak mengobrol bersama teman-temannya. Melainkan fokus mengingat materi penting untuk ujian.


Zerin terus melirik ke arah tempat duduk Kinar. Temannya itu sudah tiga hari lebih tidak masuk. Entah kenapa Zerin merasa cemas. Dia takut Kinar berhenti kuliah karena dirinya berpacaran dengan Zidan.


Dari arah pintu, muncul seorang kurir berpakaian serba hijau. Atensi semua orang sontak tertuju kepadanya.


"Kayaknya kiriman khusus Zidan buat Zerin lagi nih," tebak ketua kelas Zerin yang bernama Agas.


"Cari siapa, Mas?" Gita segera bertanya kepada kurir yang datang.


"Ini ada paket untuk Mbak Zerin Anindita," jawab sang kurir.


"Pasti dari Zidan tuh."


"Yah, kayaknya cuman Zerin yang dibelikan."


Beberapa orang di kelas mengutarakan asumsi mereka. Zerin sendiri hanya tersenyum kecut. Dia segera menerima paket dari kurir. Lalu memilih menyimpan paket tersebut.

__ADS_1


"Loh, kok nggak langsung dibuka, Rin? Kami kan penasaran?" ujar Astrid menyelidik.


"Ini bukan dari siapa-siapa. Ini memang pesananku. Kebetulan aku pesan baju di toko dekat sini." Zerin berkilah. Dia sebenarnya tidak tahu siapa orang yang sudah mengirimkannya paket misterius. Namun Zerin bisa menduga kalau pelakunya adalah Zidan.


Zerin keluar dari kelas sebentar. Lalu menelepon Zidan.


"Apa paketnya sudah sampai?" sambut Zidan dari seberang telepon.


"Sudah kuduga." Zerin menghembuskan nafas berat. "Kenapa kau tidak memberikan paketnya langsung kepadaku? Sengaja mau pamer kekayaan terus, hah?" timpalnya.


"Pakai itu buat nanti malam. Aku sudah melakukan reservasi di restoran mewah untuk makan berduaan denganmu."


"Makan malam mewah?" Pupil mata Zerin membesar. Rasa kesalnya pudar dalam sekejap.


"Iya, aku akan menjemputmu jam tujuh. Ya sudah, dosenku baru masuk kelas. Sampai ketemu nanti." Zidan mengakhiri panggilan telepon.


Zerin tersenyum senang. Dia jadi penasaran dengan paket pemberian Zidan. Akibat penasaran, Zerin bergegas memeriksa isi paket. Ternyata isi paket kiriman Zidan adalah gaun indah dan mahal.


...***...


Zidan sedang menatap pantulan dirinya di cermin. Dia mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam.


"Zerin pasti merasa semuanya terlalu cepat," gumam Zidan seraya mendengus kasar. Dia dapat menduga respon Zerin akan seperti apa.


"Tapi aku dan Zerin tidak punya pilihan. Aku tidak kuat jika kegiatanku terus diganggu sama Papah," ucap Zidan lagi. Dia segera beranjak untuk menjemput Zerin.


Ketika membuka pintu, Zidan membulatkan mata. Sebab Wira dan Arni tampak berdiri menghalangi jalan. Kedua orang tua Zidan itu sama-sama tersenyum. Kebetulan Zidan memang sudah memberitahu Wira mengenai rencana lamarannya untuk Zerin.


"Papah kasih tahu Mamah?" timpal Zidan. Menatap tak percaya kepada Wira.


"Dih! Memangnya kenapa kalau Mamah tahu?! Kan aku juga orang tuamu." Bukannya mendapat tanggapan dari Wira, Zidan malah mendapat jawaban dari Arni. Wanita paruh baya itu mendaratkan tamparan pelan ke pipi Zidan.


"Aku yakin pasti Zerin juga berpikir kalau pernikahan terlalu cepat baginya. Aku punya rencana--"


"Tidak usah, Pah. Aku bisa urus sendiri." Zidan menjeda perkataan Wira. Dia tahu ayahnya tersebut ingin membantu. Tetapi Zidan menolak. Ia tidak mau mendengar rencana yang dimiliki Wira.


"Semoga berhasil. Aku yakin Zerin pasti menerimamu," ujar Arni. Dia membiarkan Zidan berjalan melewatinya dan Wira.


"Jangan melakukan hal macam-macam. Aku sudah menyuruh Arkan untuk mengawasi di restoran," kata Wira.

__ADS_1


Zidan yang mendengar memutar bola mata jengah. Dia melambaikan satu tangan ke belakang dengan malas.


__ADS_2