
Dalam hubungan persaudaraan, selalu ada rasa iri. Jangan buat perasaan itu menjadi berlebihan - Auraliv.
...༻∅༺...
Zidan membawa Amira ke mobilnya. Di sana dia mengobati luka Amira dengan telaten. Tindakan Zidan sekarang benar-benar seperti seorang dokter sungguhan.
Amira terpaku memandangi Zidan. Jantungnya berdebaran. Lelaki di hadapannya tidak hanya tampan dan kaya, tetapi juga baik. Kini Amira semakin kagum kepada sosok Zidan.
"Nah, sudah selesai. Kau bisa berjalan dengan nyaman sekarang," ujar Zidan. Dia segera menutup kotak P3K-nya. Kotak itu memang selalu tersedia di mobil.
"Terima kasih banyak, Kak..." ungkap Amira seraya menundukkan kepala karena malu.
"Sama-sama," tanggap Zidan.
Amira segera pergi. Dia harus membantu teman-temannya di kegiatan amal.
Di sisi lain, Zerin baru saja pulang dari kampus. Dia langsung duduk ke sofa dan bermain ponsel.
Lia yang mendengar, segera keluar dari kamar. Wanita paruh baya itu tampak begitu sumringah. Dia duduk ke sebelah Zerin.
"Rin, Zidan sudah kasih tahu sama orang tuanya mengenai hubungan kalian. Dia kasih tahu kamu nggak?" ujar Lia antusias.
Zerin tersenyum dan berhenti bermain ponsel. "Iya, Bu. Dia kasih tahu aku. Sekarang kami akan jalanin semuanya pelan-pelan," tuturnya. Dia sangat senang melihat semburat kebahagiaan yang ditampakkan sang ibu.
"Aku senang banget. Aku benar-benar nggak menyangka Zidan suka sama kamu. Kamu sangat beruntung, Rin. Keluarga Dirgantara itu sangat terhormat di mata semua orang." Lia bicara sambil memegangi dada.
"Biasa saja kali, Bu. Ibu bersikap seperti aku akan menikah sama Zidan."
"Pokoknya Ibu akan selalu berdoa agar hubungan kalian langgeng." Setelah berucap begitu, Lia berjalan menuju ke kamar.
Sementara Zerin, bangkit dari sofa. Dia kembali bermain ponsel. Ia menemukan banyak pesan yang diterimanya dari grup chat pertemanan.
Zerin mendengus kasar. Dia jadi mencemaskan teman-temannya. Terutama Kinar. Dia takut hubungannya dan Zidan akan membuat tali pertemanan renggang.
Tanpa pikir panjang, Zerin segera menghubungi Zidan. Dia bicara di telepon sambil telentang di ranjang.
"Kenapa? Pasti kangen?" sambut Zidan dari seberang telepon.
"Itu pasti sih. Tapi aku cuman mau membicarakan sesuatu. Ini tentang Kinar. Aku--"
__ADS_1
"Sudah kuduga, kau pasti akan memikirkan itu. Tenang saja, Rin. Aku sudah memikirkannya. Kau tinggal duduk manis dan bermain saja bersamaku." Zidan memotong pembicaraan Zerin. Dia terdengar begitu percaya diri.
"Kau tidak merencanakan hal buruk kan?" Zerin otomatis khawatir.
"Tidak. Aku akan melakukan semuanya secara alami. Di kampus besok aku akan beraksi, tunggu saja."
"Apa yang kau--"
"Pokoknya tunggu saja besok. Kebetulan besok kita melakukan pemotretan bersama bukan?" Zidan lagi-lagi memotong perkataan Zerin. Dia memtuskan panggilan secara sepihak.
Zerin mengerutkan dahi. Dia akan menanti apa yang dilakukan Zidan besok di kampus. Zerin berharap lelaki itu tidak keterlaluan dengan Kinar.
Hari sudah sore. Amira pulang dalam keadaan kaki yang pincang. Meskipun begitu, ekspresinya tampak sumringah.
"Mir, kaki kamu kenapa?" tanya Zerin sembari bergegas mendekati Amira. Kebetulan dia tengah duduk santai di sofa. Zerin segera memeriksa keadaan kaki sang adik.
"Tadi aku jatuh dari motor, Kak." Amira menjawab dengan senyuman. Sakit di kakinya nampaknya tidak mengganggu.
"Apa? Kenapa bisa jatuh? Harusnya kamu hati-hati dong. Masih sakit?" tanggap Zerin. Dia menyuruh Amira duduk. Lalu memperhatikan keadaan kaki adiknya tersebut.
"Siapa yang jatuh?" Lia baru saja keluar dari kamar. Dia langsung memastikan keadaan dua anaknya.
"Aku baik-baik saja. Tadi ada malaikat baik hati yang tolongin aku," ujar Amira yang tampak masih cengengesan.
"Dih! Malaikat maut kali!" tukas Zerin. Dia kesal melihat Amira terkesan menikmati musibah yang menimpanya.
"Malaikat, Kak. Dia ganteng banget, hehehe..." Amira menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Mengarahkan bola mata ke kanan atas. Dia membayangkan sosok lelaki yang tadi menolongnya. Siapa lagi kalau bukan Zidan.
Zerin sigap menepuk jidat Amira. "Justru sama yang ganteng-ganteng kamu harus hati-hati, Mir!" petuahnya. Sebagai seorang kakak, Zerin berusaha menjaga sang adik dengan baik.
"Kayaknya kekagumanku sudah berubah jadi cinta deh, Kak..." ungkap Amira. Dia memegangi dadanya.
Zerin menggelengkan kepala sambil mendecakkan lidah. Dia memukul jidat Amira untuk kali kedua.
"Zerin, jangan begitu. Amira kayaknya lagi berbunga-bunga tuh. Sama kan kayak kamu," pungkas Lia.
"Ibu kenapa aku jadi kena coba?" protes Zerin.
"Kenapa, Bu? Kak Zerin punya pacar?" Amira menanggapi dengan antusias.
__ADS_1
"Iya," jawab Lia seraya melirik ke arah Zerin. "Orang tuanya kan sudah pada tahu, jadi Amira juga harus dikasih tahu kan?" lanjutnya. Meminta persetujuan Zerin.
"Iya, iya... Amira boleh tahu." Zerin setuju saja.
Lia lantas duduk ke sebelah Amira. "Kakakmu pacaran sama Zidan! Anak majikan Ibu itu loh," ujarnya memberitahu.
Amira yang tadinya bersemangat, langsung memudarkan senyuman. Dia terlihat kaget. Bagaimana tidak? Pacar sang kakak adalah malaikat yang tadi baru saja dibicarakannya.
Bola mata Amira langsung melirik ke arah Zerin. Kakaknya tersebut tampak bermain ponsel dalam keadaan menyandar ke sofa.
Rasa iri Amira terhadap Zerin kembali membuncah. Dia merasa Zerin selalu bisa mendapatkan segalanya. Dari mulai kecantikan, kepintaran, bahkan lelaki seperti Zidan.
Ketika Zerin berada di kamar mandi, Amira mengambil kesempatan untuk memeriksa sesuatu. Jujur saja, dia sebenarnya sangat sering mencurigai kelakuan sang kakak yang terkadang aneh.
Amira mengobrak-abrik barang-barang milik Zerin. Dia memeriksa lemari dan juga laci. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah buku catatan. Amira mengambil buku itu. Matanya membulat tatkala melihat ada deretan nama lelaki disertai nomor telepon.
Kening Amira mengernyit saat melihat sebuah kartu nama misterius. Nama yang tertera di kartu tersebut adalah Anika. Ada juga kalimat bertuliskan, 'Beauty is everything.'
"Siapa Anika?" gumam Amira. Ia segera menghubungi nomor telepon yang tertera di kartu nama.
"Halo?" orang yang bernama Anika menyambut dari seberang telepon.
"Halo? Maaf sebelumnya. Kenalkan aku Amira. Aku adiknya Zerin. Aku menemukan nomormu di buku milik kakakku. Sepertinya kau mengenal kakakku?" ujar Amira. Dia menggigit bibir bawahnya karena merasa gugup.
"Zerin? Tentu saja aku mengenalnya. Dia salah satu si manis favorit para pelangganku. Tapi sayangnya kakakmu itu sudah berhenti bekerja denganku," jawab Anika.
"Berhenti?" Amira sama sekali tidak mengerti.
"Bagaimana kalau kita bertemu, sayang? Aku akan jelaskan semuanya kepadamu," balas Anika.
Amira terdiam sejenak. Dia tentu berusaha memutuskan pilihan terbaik. Terlebih Anika adalah orang asing baginya.
"Ayolah, Amira... Kau bisa mempercayaiku. Aku bukan orang jahat. Buktinya aku tidak melakukan apapun kepada kakakmu. Kami bekerja dengan damai. Ada yang ingin aku tawarkan kepadamu."
"Menawarkan apa?" Amira sontak penasaran.
"Untuk bekerja denganku pastinya. Pertama-tama, aku akan merubah penampilanmu menjadi sangat cantik. Aku yakin kau tidak kalah cantik seperti kakakmu."
"Ca-cantik? Kau bisa membuatku cantik?" Amira merasa tergiur. Ia memegangi wajahnya yang penuh akan jerawat. Iming-iming dari Anika tentu berhasil mempengaruhinya. Mengingat Amira selalu bermimpi bisa jadi cantik seperti sang kakak. Alhasil dia setuju untuk bertemu dengan Anika.
__ADS_1