
Kebohongan bisa menyebabkan kesedihan yang mendalam. Baik untuk yang membohongi, maupun yang dibohongi - Auraliv.
...༻∅༺...
Zidan dan Zerin kembali ke dorm. Zerin langsung duduk ke ranjang sambil memainkan jari-jemari karena gugup.
"Semua orang sudah tahu..." Zerin akhirnya tidak bisa menahan tangis.
"Aku akan mengurusnya!" seru Zidan. Dia bergegas menghubungi Wira. Namun ayahnya itu lebih dulu menelepon. Tanpa pikir panjang, Zidan mengangkat panggilan tersebut.
"Kita perlu bicara!" ujar Wira dari seberang telepon. Nampaknya dia sudah mengetahui kabar mengenai Zerin.
"Aku tahu," jawab Zidan.
"Temui aku di perusahaan!" perintah Wira. Ia terdengar begitu serius. Lalu mematikan telepon lebih dulu.
"Sayang, kau sebaiknya kembali ke apartemen. Ayo, biar aku antar," ajak Zidan.
Zerin mengangguk. Dia dan Zidan pergi ke apartemen. Zidan tidak lupa menyuruh Amira datang untuk menemani Zerin. Selanjutnya, barulah Zidan menemui Wira.
Sekarang Zidan berada di kantor Wira. Keduanya terlihat menunjukkan ekspresi serius.
"Apa kau sudah tahu tentang ini sebelumnya," ucap Wira. Memulai pembicaraan lebih dulu.
"Aku bahkan sudah tahu saat pertama kali mengenalnya," jawab Zidan.
Mata Wira melotot tajam. Dia langsung menarik kerah baju Zidan.
"Kenapa? Kenapa kau baru bilang sekarang?!" timpal Wira.
"Karena aku berusaha melindungi orang yang kucintai!" sahut Zidan. Dia melepaskan tangan Wira dari kerah bajunya.
"Harusnya kau kasih tahu aku semuanya! Sekarang--"
"Apa, Pah?! Sekarang apa?!" sergah Zidan. Dia berani membalas pelototan Wira.
"Papah mau tahu kenapa aku nggak kasih tahu sejak awal?! Itu karena aku tahu kau pasti tidak akan menerima Zerin!"
"Terus kau mau apa?! Bisakah kau mengatasi semua ini?! Coba katakan kepadaku!"
Pintu tiba-tiba terbuka. Arni datang dengan raut wajah cemberut. Kemunculannya sukses menghentikan perdebatan yang terjadi di antara Zidan dan Wira.
"Tidak ada gunanya berdebat sekarang! Kita harus menghentikan semuanya sebelum terlambat!" cetus Arni bertekad.
__ADS_1
"Tapi, Mah--"
"Kita harus mengurus awak media terlebih dahulu. Bersamaan dengan itu, kita sebaiknya membungkam mulut semua orang yang sudah tahu. Pah, kita berdua akan mengurus semuanya demi Zerin! Dia bagian dari keluarga Dirgantara sekarang! Anak yang akan dilahirkannya akan menjadi penerus Zidan," jelas Arni panjang lebar. Dia berhasil membuat Wira terdiam.
Arni segera menghampiri Zidan. "Zidan, tugasmu adalah--"
"Aku tahu, Mah. Kau tidak perlu menjelaskan. Aku akan segera menemuinya sekarang!" ucap Zidan. Sengaja memotong perkataan Arni. Dia melangkah cepat melewati kedua orang tuanya.
"Dasar anak itu! Sok pintar sekali!" komentar Wira sinis.
"Dia persis sepertimu!" pungkas Arni. Wira lantas hanya bisa memutar bola mata jengah.
Di waktu yang sama, Amira baru saja mendatangi Zerin. Dia langsung memeluk kakaknya tersebut. Amira jadi ikut menangis. Dirinya dapat merasakan kesedihan sang kakak.
"Maafin aku, Mir... Kalian harus menanggung malu karenaku..." isak Zerin. Air mata terus membanjiri wajahnya.
"Sudahlah, Kak. Yang terjadi sudah terlanjur terjadi. Aku ada di sini bersamamu." Amira berusaha menenangkan.
"Apa ibu sudah tahu?" tanya Zerin.
"Sudah... Dia sekarang dalam perjalanan menuju ke sini," jawab Amira.
Di luar gedung apartemen Zerin berada, Zidan tidak sengaja berpapasan dengan Lia. Dia langsung mendekati ibu kandungnya Zerin tersebut.
Lia tampak menundukkan kepala. Wajahnya tampak di aliri cairan bening dari mata. Jelas dia sedang menangis.
Lia memegangi lengan Zidan. "Maafkan aku, Zidan... Kalian harus menanggung malu karena kelakuan Zerin..." lirihnya sambil memecahkan tangis.
Zidan tersenyum tipis. Dia memegang lembut pundak Lia. "Aku sudah tahu segala hal tentang Zerin. Bahkan sebelum menikahinya. Jauh-jauh hari aku sudah siap untuk menanggung resiko seperti kejadian sekarang. Ibu tidak usah khawatir. Aku dan keluargaku akan tetap menyayangi Zerin," tuturnya.
"Be-benarkah?" Lia merasa tidak percaya. Dia terenyuh dan langsung mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih... Zerin benar-benar sangat beruntung bisa memiliki suami sepertimu," ungkap Lia. Dia semakin kagum akan kebaikan hati Zidan dan keluarganya.
Usai saling bicara, Zidan dan Lia segera mendatangi Zerin. Kemunculan keduanya membuat Zerin langsung berdiri. Perempuan tersebut berlari dan bersujud ke kaki Lia.
"Maafkan aku, Bu... Hiks..." rengek Zerin. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Mengingat kebohongannya terhadap Lia sudah begitu banyak.
"Kenapa kau tega melakukannya, Rin? Kenapa?..." tukas Lia. Dia membiarkan Zerin bergumul di bawah kakinya.
"Aku melakukannya karena tidak ingin merepotkanmu... Ibu sudah mengalami banyak kesulitan karena hutang..." terang Zerin.
"Jadi karena itu kau mau melakukan pekerjaan kotor?!"
__ADS_1
"Maafkan aku, Bu... Aku memang salah..."
"Kalau kau tahu itu salah, lantas kenapa dilakukan?! Kalau sudah ketahuan begini, kau harus menanggung resikonya sendiri!" omel Lia.
"Sudah, Bu." Amira bergegas menenangkan. Dia memegang lembut pundak Lia.
"Kau harusnya--"
"Bu, maaf menyela. Tapi menurutku sekarang bukan waktu yang tepat untuk memarahi Zerin." Zidan segera angkat suara. Dia tidak tahan menyaksikan istrinya terus kena marah.
Lia membisu. Dia membiarkan Zidan membawa Zerin pergi dari apartemen.
Zerin ikut saja. Pikirannya benar-benar runyam sekarang.
Kini Zidan dan Zerin sedang berada di mobil. Keduanya belum bicara semenjak mobil berjalan.
"Pah, bisakah kau mengurus cutiku bersama Zerin? Kami akan berbulan madu selama beberapa hari." Zidan berbicara dengan Wira melalui telepon. Pembicaraannya membuat mata Zerin membola. Bulan madu? Bagaimana bisa Zidan memikirkan hal itu saat dalam keadaan sedang berantakan?
"Bulan madu? Sekarang? Kalian kemana?" sama seperti Zerin, Wira juga terheran.
Zidan tidak menjawab. Dia langsung mematikan telepon. Saat itulah Zerin angkat suara.
"Kita akan bulan madu?" tanya Zerin.
"Ya. Kita akan ke Amerika!" sahut Zidan dengan santainya.
"Apa?!" tangis Zerin seketika terhenti. "Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk pergi!" tambahnya.
"Justru sekaranglah waktu paling tepat. Aku akan membuatmu bahagia dan percaya diri lagi. Saat nanti kita kembali ke sini, aku jamin tidak ada satu pun orang yang berani menghinamu," kata Zidan. Dia yakin Wira dan Arni mampu mengatasi semuanya. Mengingat kedua orang tuanya itu memiliki koneksi yang luas dengan pejabat serta orang-orang penting.
Mobil Zidan berhenti di bandara. Sambil menunggu pesawat berangkat, Zidan mengajak Zerin untuk membeli pakaian.
Zidan mendengus kasar ketika melihat Zerin terus menunduk sendu. Tidak seperti biasanya, perempuan tersebut tampak malas membeli pakaian. Semangat dalam dirinya seakan telah sirna.
Dari kejauhan Zidan terus memperhatikan Zerin. Dia mencoba mencari cara untuk membuat Zerin ceria lagi.
"Kita bisa melakukan apapun di Amerika," imbuh Zidan. Mencoba menghibur Zerin.
"Kau selalu berkata begitu," tanggap Zerin.
"Tentu saja. Di sana tidak ada orang yang mengenal kita," ungkap Zidan seraya merangkul Zerin.
"Aku tidak yakin bisa bersenang-senang dengan mudah," sahut Zerin yang masih enggan tersenyum.
__ADS_1