Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 78 - Membuat Tato


__ADS_3

Bukti cinta hanya bisa diberitahu lewat tindakan - Auraliv.


...༻∅༺...


Zerin dan Zidan baru saja beranjak meninggalkan rumah Reza. Mereka pergi ke rumah Zidan yang kebetulan berada tidak jauh. Sekarang keduanya sudah ada di sana.


"Ini tempat tinggalmu saat bersekolah di sini?" tanya Zerin.


"Iya." Zidan menjawab singkat.


"Rumah ini cukup luas untuk ditinggali sendiri," komentar Zerin. Dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Melihat-lihat keadaan rumah.


Saat berhenti di depan dinding kaca, Zidan mendekat. Ia memeluk Zerin dari belakang.


"Apa kau masih berminat membuat tato?" tanya Zidan.


"Tentu saja. Apa kita akan pergi sekarang?" Zerin berbalik menghadap Zidan. Lelaki itu mengangguk. Usai meletakkan tas ke dalam kamar, keduanya pergi dengan mobil.


Sesampainya di tempat tujuan, Zidan dan Zerin melangkah beriringan. Mereka bertemu dengan pembuat tato bernama Hans.


"Zidan! Sudah lama kita tidak berjumpa. Kapan kau datang?" ujar Hans antusias. Dia menyapa dengan pelukan hangat. Lalu saling bersalaman dengan Zerin.


"Kemarin. Aku datang bersama istriku," jawab Zidan seraya melingkarkan satu tangan ke pinggul Zerin.


"Dia istrimu?" Hans tampak terkejut. "Bagaimana bisa? Setahuku kau bukan tipe orang yang mau berkomitmen," tambahnya.


"Mau bagaimana lagi? Perempuan ini sudah membuatku tergila-gila," ungkap Zidan. Zerin langsung menyenggol dengan siku. Wajah perempuan tersebut jadi memerah malu.


Hans tergelak mendengarnya. Dia memaklumi Zidan yang sepertinya sedang berada di masa mabuk cinta.


"Zerin katanya ingin membuat tato. Jadi aku membawanya ke sini," ucap Zidan.


"Baiklah. Beritahu aku, kau ingin tato seperti apa?" tanya Hans kepada Zerin.


"Bunga mawar mungkin sangat indah," kata Zerin seraya melirik Zidan. Meminta persetujuan suaminya tersebut.


"Ya, aku pikir itu cocok denganmu," tanggap Zidan.


"Aku juga berpikir begitu. Lalu kau ingin aku menggambarnya dimana?" tanya Hans.


"Di bahuku," sahut Zerin. Dia segera duduk dan menurunkan lengan bajunya. Hingga bahu Zerin dapat segera digambari tato.


Hans segera menyiapkan keperluan untuk mentato. Dia siap menggambar bunga mawar ke bahu Zerin.


"Pegang tanganku. Ini akan terasa sakit," tutur Zidan.

__ADS_1


"Benarkah?" Zerin membulatkan mata. Belum sempat Zidan menjawab, Hans sudah mulai mentato bahu Zerin.


Wajah Zerin tampak meringis. Benar kata Zidan, rasanya begitu sakit. Zerin hanya bisa menahan rasa sakit dengan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


"Bertahanlah! Aku akan melakukannya dengan cepat," ucap Hans. Dia hampir selesai menggambar bunga mawar di bahu Zerin.


Selang sekian menit, Hans akhirnya selesai mentato bahu Zerin. Kini Zerin dapat mendengus lega. Dia juga puas dengan hasil tato buatan Hans.


"Ini sangat bagus," komentar Zerin.


"Tentu saja bagus. Hans sudah melakukan pekerjaannya selama sepuluh tahun lebih," ungkap Zidan.


"Terima kasih. Tapi aku rasa kau agak berlebihan," tanggap Hans. "Bagaimana denganmu? Apa kau juga berminat menambah tato?" lanjutnya. Bertanya kepada Zidan.


"Iya. Aku ingin menambah lagi," jawab Zidan seraya melepas baju atasannya.


"Apa? Kau ingin menambah tato lagi?" Zerin yang mendengar, merasa terkejut.


Zidan hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaan Zerin. Dia terlihat sudah siap untuk mendapatkan tato baru.


"Kau ingin tato apa kali ini?" tanya Hans.


"Zerin. Aku ingin kau menulis nama Zerin di sini!" Zidan menunjuk area perut atas bagian kiri.


"Wah... Sepertinya kau memang sudah tergila-gila dengan istrimu ini," komentar Hans sembari melirik Zerin. Perempuan itu hanya geleng-geleng kepala dengan senyuman yang merekah di wajahnya.


"Kalau aku tidak yakin, aku tidak akan melepaskan baju dan membiarkan Hans mentatoku," sahut Zidan. Dia membiarkan Hans mentato badannya. Sampai tulisan dengan nama Zerin terukir.


Setelah tato Zidan jadi, Zerin mendekat. Dia mengamati tato lelaki itu. Namanya terukir jelas di bagian perut atas bagian kiri Zidan.


"Kau gila," tukas Zerin.


"Kau tahu aku memang gila semenjak kita bertemu," tanggap Zidan.


Zerin tersenyum sambil memegangi wajah Zidan. Ia menatap lelaki tersebut lamat-lamat.


"Sekarang akulah yang dibuatmu tergila-gila," ungkap Zerin. Dia segera menghamburkan ciuman ke wajah Zidan.


"Ekhem! Aku pikir kalian harusnya mencari kamar saja," kata Hans yang dapat menyaksikan kemesraan Zerin dan Zidan. Dua sejoli itu hanya terkekeh. Mereka segera berpamitan saat sudah puas saling mengobrol.


Zerin dan Zidan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Mereka mengunjungi tempat-tempat bagus. Keduanya juga tidak lupa untuk mengambil foto bersama.


Puas berbulan madu, Zerin dan Zidan kembali ke Indonesia. Keduanya khawatir tugas koas mereka akan bermasalah jika terlalu lama ditinggalkan.


Di sisi lain, Wira baru saja mendatangi rumah sakit dimana Zerin dan Zidan menjalani koas. Di sana dia mengajak seluruh dewan penting untuk bicara. Wira memastikan semua orang tidak lagi membicarakan perihal masa lalu Zerin.

__ADS_1


Tidak tanggung-tanggung, Wira bahkan menemui Diky dan menyuruh lelaki itu untuk menghapus video tentang Zerin. Saat Wira berderap melewati meja resepsionis, dia mendengar dua perawat yang asyik menggosipkan tentang Zerin.


"Aku heran kenapa Pak Wira lebih memilih membantu Zerin. Kalau itu aku, pasti sudah kusuruh Zidan untuk menceraikan Zerin."


"Iya, aku sangat heran. Padahal sudah jelas Zerin itu perempuan tidak benar! Malu-maluin keluarga saja."


Wira berhenti melangkah ketika mendengar pembicaraan dua perawat tersebut. Dia memasang ekspresi serius. Kemudian menatap tajam dua perawat yang tadi membicarakan menantunya.


"Rizal!" Wira memekik memanggil direktur rumah sakit. Lelaki yang dipanggilnya lantas gelagapan dan mendekat.


"Iya, kenapa, Pak?" tanya Rizal.


"Pecat dua perawat ini!" ujar Wira sambil menunjuk dua perawat yang tadi menggosipkan Zerin. Dua perawat itu otomatis gelagapan. Wajah mereka seketika memucat.


"Baik, Pak." Rizal tidak bisa mengelak.


Wira menatap orang-orang yang ada di sekeliling. Dia berkata, "Kalau ada yang berani menggosipkan tentang menantuku, maka dia akan langsung dipecat!"


Semua orang terdiam seribu bahasa. Mereka tentu mengetahui bagaimana kekuasaan yang dimiliki Wira.


"Kalian mengerti?" tukas Wira yang langsung dijawab dengan anggukan oleh beberapa orang. Setelah itu, dia segera pergi meninggalkan rumah sakit.


Sama seperti Wira, Arni juga sibuk mengurus nama baik Zerin. Dia memastikan semua pihak media tidak menulis berita buruk tentang menantunya. Hanya bermodalkan uang dan koneksi, Arni dapat mengatasi segalanya dengan baik.


Lima hari berlalu. Zerin dan Zidan kembali melakukan tugas koas di rumah sakit. Benar saja, Zerin tidak ada mendengar satu pun gosip miring tentangnya.


Zerin benar-benar lega. Dia merasa harus berterima kasih kepada keluarga Dirgantara. Zerin lantas mengajak Zidan, Wira, Arni, dan keluarganya untuk makan malam.


Kini semua orang sudah datang dan duduk bersama mengelilingi meja makan. Zerin menatap wajah semua orang satu per satu. Mereka semua tampak menikmati kebersaman.


"Aku sangat berterima kasih kepada kalian semua," cetus Zerin. Seluruh pasang mata sontak tertuju kepadanya.


"Aku sangat berterima kasih dengan penerimaan kalian terhadapku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi mengucapkan rasa terima kasihku..." Mata Zerin berkaca-kaca.


"Zerin, kau sangat berharga bagi Zidan. Jadi kau juga sangat berharga bagi kami," sahut Arni sembari tersenyum lembut.


"Mamah benar! Kau akan lebih berharga kalau memberikan kami cucu," pungkas Wira.


"Dih! Katanya suruh kami selesaikan masa koas sama magang dulu," komentar Zidan.


"Ah, benar juga." Wira menepuk jidatnya sendiri. Semua orang tergelak kecil bersama.


..._____...


Catatan Author :

__ADS_1


Habis ini siap-siap untuk konflik utama ya guys...


__ADS_2