
Semuanya bisa terkendali dengan uang, kekuasaan, dan tak-tik tipuan kelas tinggi - Auraliv.
...༻∅༺...
"Aku ingin mati... Aku lebih baik mati saja..." ujar Zerin di tengah-tengah isakan tangis.
"Ayo ikut aku!" Zidan meraih pergelangan tangan Zerin. Hingga perempuan itu tidak lagi menutupi wajah.
Zerin mendongakkan kepala. Menatap Zidan yang telah berdiri di hadapan. Matanya tampak sayu dan sudah memerah karena mabuk.
"Aku akan memberi pelajaran kepada orang yang menyebarkan rahasia terbesarmu! Satu-satunya orang yang dapat memegang rahasiamu hanyalah aku!" tukas Zidan dengan sorot tatapan serius.
Zerin termangu. Entah kenapa dia terpana mendengar Zidan berucap begitu. Matanya mengerjap pelan.
"Kau berniat mau melakukan apa?" tanya Zerin.
"Ayo!" Zidan menarik tangan Zerin. Hingga perempuan itu berdiri tegak. Zerin terpaksa mengikuti dengan langkah terseok-seok. Perempuan tersebut sudah sulit memegang kendali kesadarannya.
Zidan membawa Zerin keluar ruangan. Saat itulah dia melihat ada dua lelaki dari pihak keamanan khusus klub malam. Mereka terlihat bicara dengan Marcel yang tampak menahan sakit.
"Itu dia orang yang memukuliku!" seru Marcel sambil menunjuk ke arah Zidan. "Dan wanita yang bersamanya sudah menipuku dan Aryan! Sini kalian!" pekiknya melanjutkan.
"Hei kakek tua! Kau itu yang menipuku! Dasar tua bangka!" sahut Zerin. Racauannya menunjukkan kekesalan yang mendalam.
Mata Zidan membulat sempurna. Ia segera menyeret Zerin untuk berlari. Karena pergerakan tiba-tiba itu, Zerin nyaris terjatuh. Tetapi dia berusaha keras untuk menyelaraskan langkahnya dengan Zidan.
"Hei! Berhenti kalian!" panggil salah satu pihak keamanan. Dia dan rekannya bergegas melakukan pengejaran.
Zidan dan Zerin berlari melalui lantai dansa yang dipenuhi banyak orang. Di saat tak terduga, Zerin tiba-tiba jatuh terduduk ke lantai. Wajahnya tampak memerah padam. Perempuan tersebut justru tertawa.
"Arghh! Kau sangat menyebalkan!" keluh Zidan. Ia segera membantu Zerin berdiri. Lalu kembali melakukan pelarian.
Ketika hampir mencapai pintu keluar, pihak keamanan yang lain bermunculan. Zidan dan Zerin terpaksa berbalik arah. Keduanya kembali menyusup ke tengah banyaknya orang.
"Eh, laki biadab! Kau mau membawaku kemana, hah?! Apa kau mau terus mempermainkanku?!" Zerin kembali meracau. Untung saja dia masih bisa berlari dan tidak terjatuh lagi.
__ADS_1
"Diamlah!" balas Zidan yang masih berusaha menuntun ke tempat aman. Sampai tibalah dia ke lorong sepi. Dimana terdapat banyak sekali pintu kamar dari sisi kanan dan kiri.
Zidan masuk ke salah satu kamar dan langsung menguncinya. Lalu mendorong Zerin ke atas ranjang. Membiarkan perempuan tersebut berbuat sesuka hati.
Bertepatan dengan itu, Zerin memuntahkan cairan dari mulut. Zidan merasa beruntung berada di tempat yang agak jauh dari Zerin.
"Kau terlihat sangat menyedihkan. Aku tidak suka melihatmu begini!" komentar Zidan seraya menyandarkan pinggul ke depan nakas. Ia melipat tangan ke depan dada.
Zidan terpikir untuk membantu Zerin. Ia berseringai karena dirinya telah mendapatkan solusi di kepalanya.
Tiba-tiba terdengar suara gedoran dari pintu. Zidan sontak terkejut. Dia sekarang bingung harus lari kemana.
"Sial!" rutuk Zidan, ketika pintu sudah terlanjur didobrak. Dia segera memasang mimik wajah tenang.
"Kau harus ikut kami!" dua penjaga langsung menyeret Zidan. Mereka juga tidak lupa untuk membawa Zerin.
...***...
Kini Zidan dan Zerin duduk bersebelahan di ruang khusus keamanan. Zidan terlihat sibuk memainkan ponsel. Sedangkan Zerin tampak memejamkan mata dalam keadaan menyandarkan kepala ke pundak Zidan.
"Aku dan Aryan akan menuntutmu atas serangan tadi! Ingat itu!" ancam Marcel sembari mengarahkan jari telunjuk ke wajah Zidan.
"Kau yakin?" tanggap Zidan santai. Ia menaikkan dua alisnya secara bersamaan.
"Dasar anak muda tidak tahu malu! Untuk apa aku ragu?!" balas Marcel sinis.
"Aku pikir kau harus mempertimbangkan dahulu. Karena aku bisa saja mencabut semua uang asuransimu. Aku juga bisa memutuskan kerjasama di antara jasa layanan hukummu dengan perusahaan Dirgantara," kata Zidan. Membuat dahi Marcel sontak berkerut.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, keluarga Dirgantara memiliki bisnis besar yang berkaitan dengan kesehatan. Salah satu bisnis yang dipegang mereka adalah perusahaan untuk asuransi.
Kebetulan Zidan memeriksa informasi mengenai Marcel dan Aryan di internet. Dia menemukan fakta kalau kedua pengacara itu bekerjasama dengan perusahaan milik keluarganya. Zidan memanfaatkan statusnya untuk melakukan perlawanan terhadap Marcel.
Zidan segera memperlihatkan foto kebersamaannya dengan Wira dan Arni. Hal tersebut membuat Marcel perlahan menciut.
"Ka-kau? Siapa kau?" Mata Marcel membuncah hebat.
__ADS_1
"Menurutmu? Kau bisa menebak sendiri bukan?" Zidan menggulung lengan kemejanya secara bergantian. Kemudian menselonjorkan kaki ke atas meja.
"Kau putra Wira Dirgantara? Ba-bagaimana bisa..." Marcel tampak syok. Setahunya keluarga Dirgantara adalah keluarga terpandang dan terhormat. Dia sangat kaget menyaksikan Zidan yang terlihat memiliki sifat berbeda jauh dari ayah dan ibunya.
"Aku juga bisa memberitahu bagaimana kelakuanmu kepada istrimu. Coba bayangkan kalau semua yang kusebutkan tadi benar-benar terjadi, aku..."
"Baiklah! Aku dan Aryan tidak akan menuntutmu. Aku mohon, jangan hentikan kerjasama perusahaanmu dengan biro hukum milikku. Semuanya akan kacau kalau itu terjadi. Klien-klien kami pasti akan pergi semua," mohon Marcel. Keadaan malah terbalik. Dia bahkan tampak menunjukkan raut wajah memelas.
"Kau tenang saja. Tapi aku ada satu keinginan lagi," ujar Zidan.
"Apa?" Marcel lantas bertanya.
Zidan menyuruh Marcel mendekat. Dia segera berbisik ke telinga lelaki tersebut. Marcel tampak menganggukkan kepala beberapa kali. Perlawanan Zidan berjalan dengan mulus. Ia dan Zerin segera beranjak pergi dari klub malam.
Menyaksikan Zerin sudah hilang kesadaran, Zidan terpaksa mengantarnya. Dia tidak mengantarkan Zerin pulang, melainkan ke salah satu apartemen miliknya.
Ketika tiba di apartemen, terlihat banyak barang yang ditutupi kain putih yang menutupi beberapa barang. Kain-kain tersebut membuktikan kalau apartemen yang didatangi Zidan sekarang jarang ditinggali.
Zidan langsung menghempaskan Zerin ke ranjang. Ia menatap Zerin dalam diam. Entah kenapa dia suka melihat perempuan itu tidur.
Awalnya Zidan ingin tetap tinggal. Dia masih ingin bersama Zerin. Sayangnya pemikiran itu langsung ditepis oleh Zidan.
"Apa-apaan! Untuk apa aku menemaninya. Lagi pula dia bukan anak kecil," gumam Zidan dengan nada mengomel. Dia bergegas pergi meninggalkan Zerin. Zidan juga tidak lupa meninggalkan kunci apartemen di atas nakas.
Waktu menunjukkan jam 10.30 pagi. Zerin baru saja membuka mata. Dia perlahan merubah posisi menjadi duduk. Mencoba mengumpulkan semua kesadaran.
Zerin mengamati tempat dirinya berada. Keningnya mengernyit. Dia melebarkan kelopak mata saat sadar sedang berada di sebuah apartemen.
"Aku di apartemen bukan? Wah!" Zerin langsung berdiri. Dia memeriksa seluruh ruangan yang ada. Senyuman lebar terukir di wajahnya. Masalah yang menimpanya seolah dilupakan begitu saja.
"Tunggu. Apa Zidan yang membawaku ke sini?" tebak Zerin. Ia masih berdecak kagum dengan suasana apartemen mewah milik Zidan. Ponselnya mendadak berdering. Zerin bergegas memeriksa.
Pupil mata Zerin membesar ketika melihat nama Adi di layar ponsel. Masalah kemarin malam akhirnya kembali menghantui. Awalnya dia menolak panggilan Adi. Namun karena Adi tidak kunjung menyerah, Zerin lantas mengangkat telepon.
"Beritahu aku. Apa hubunganmu dengan Zidan? Apa kau sudah memacarinya sebelum mempermainkanku, hah?!" Adi langsung menimpali dari seberang telepon. Membuat Zerin tersentak kaget.
__ADS_1