Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 42 - Gairah Zerin & Zidan


__ADS_3

Kita tidak tahu. Ketika kita bahagia, di sudut dunia lain ada orang yang bersedih - Auraliv.


...༻∅༺...


Zidan menjelaskan semua rencananya kepada Zerin. Termasuk mengenai pembicaraannya dengan Jaka tadi pagi.


"Kau jahat sekali," komentar Zerin sembari merubah posisi menjadi duduk. Menunjukkan raut wajah tidak enak. Ia merasa bersalah kepada Ernest dan Jaka.


"Kalau begitu, apa kau ingin aku tidak usah melakukannya? Lalu membiarkan semuanya tersebar luas." Zidan duduk tegak. Mendekatkan wajahnya lebih dekat ke hadapan Zerin.


"Tentu saja tidak! Aku masih belum siap menghadapi semuanya." Zerin lekas menggeleng. Meski merasa sangat bersalah kepada Ernest, namun dia merasa lebih takut kalau jati dirinya ketahuan.


Zidan terkekeh. Dia menyentuh pelan wajah cantik Zerin. Memandanginya dengan binar penuh kekaguman.


Zerin tertegun. Dia beringsut lebih dekat dan memagut bibir Zidan.


"Aaa!" Zidan sigap menghindar. Bukan karena dia tidak mau, tapi keadaan wajahnya masih terasa sakit. Terutama di bagian bibir bawah.


"Maaf, Dan." Zerin justru tergelak kecil sambil menutupi mulut.


"Kalau kau mau mencium, harusnya kau lihat kondisiku dulu," protes Zidan.


Zerin terkekeh. Ia memegangi wajah Zidan. "Kalau begitu aku akan melakukannya pelan-pelan," ujarnya.


Satu tangan Zerin membelai lembut rambut cepak Zidan. Kecupan demi kecupan diberikannya ke lebam dan luka yang ada di wajah lelaki itu.


Zidan sesekali meringiskan wajah karena berusaha menahan sakit. Tetapi dia sama sekali tidak berniat menghentikan Zerin.


"Kau tahu? Padahal aku tadi baru saja bilang kepadamu kalau kita harus lebih hati-hati," cetus Zidan seraya menatap Zerin yang kini sibuk membuka kancing bajunya satu per satu.


"Ibumu baru saja pergi. Sedangkan ibuku dan pembantu lainnya sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Jadi aku yakin tidak akan ada yang memergoki kita kali ini," tanggap Zerin yang baru saja selesai melepas semua kancing baju Zidan. Tubuh atletis yang sudah beberapa kali dilihatnya kini terpampang nyata.


Atensi Zerin tertuju ke arah beberapa tato kecil di badan Zidan. "Apa aku juga boleh memilikinya?" tanya-nya dengan tatapan menggoda.


"Kau mau? Aku bisa membawamu kepada temanku nanti."

__ADS_1


"Apa itu temanmu yang bernama Reza itu?"


"Bukan. Ini temanku yang lain. Dia orang asli Amerika. Aku bisa mengajakmu jalan-jalan ke sana suatu saat nanti. Atau mungkin meneruskan pendidikan magister di sana saja sekalian." Zidan menarik Zerin mendekat. Ia berbisik, "kita bisa lakukan apapun di sana. Kau tahu bagaimana Amerika bukan?"


Zerin menarik sudut bibirnya ke atas. "Kau tahu? Untuk apa jauh-jauh pergi ke sana. Kita juga bisa melakukan apa pun di sini. Asalkan tidak ketahuan..." desis Zerin ke telinga Zidan. Ia menggigit pelan kuping lelaki tersebut.


Darah Zidan berdesir hebat. Dia reflek memejamkan mata. Terlebih tangan lentik Zerin sibuk menggerayangi area dada hingga perutnya.


Setelah bergumul dengan kuping, Zerin menyingkap baju atasan Zidan. Lalu duduk ke atas perut lelaki tersebut. Ia menenggelamkan wajah ke dada bidang Zidan.


"Aku yakin kau pasti sedang dalam masa subur," komentar Zidan. Nafasnya mulai tak terkendali akibat sentuhan Zerin. Perempuan itu sukses membangunkan gairahnya.


...***...


Sekarang Wira pergi menemui Ernest. Dia tidak sendirian. Ada sekretaris pribadi yang setia bersamanya.


Penampilan Ernest tampak berantakan. Hal itu karena efek mabuk yang dia lakukan semalaman. Sekarang dia duduk saling berhadapan dengan Wira. Di apartemennya yang terlihat sangat berantakan. Kemungkinan Ernest sempat mengamuk lagi tadi malam.


"Jadi kau yang menyerang putraku sampai babak belur?" Wira melotot ke arah Ernest.


"Aku punya alasan melakukan ini! Zidan sudah melakukan hal buruk kepadaku!" sahut Ernest.


"Anak Bapak melakukan hubungan intim dengan gadis yang aku cintai! Dia melakukan perbuatan hina sekaligus mengkhianatiku!"


"Zidan? Berhubungan intim dengan sembarang gadis? Kau pikir aku percaya? Dia bahkan tidak pernah berpacaran!" Wira menolak percaya. Dia merasa lebih mengenal putranya lebih dari apapun.


"Aku bersumpah! Aku akan buktikan! Kebetulan aku merekam apa yang dilakukan Zidan saat di toilet." Ernest bangkit dari sofa. Dia mencari ponselnya. Akan tetapi dia tidak bisa menemukan ponsel itu dimana pun. Tepatnya ponsel yang Ernest pakai untuk merekam video perbuatan Zidan dan Zerin di toilet.


"Dimana itu?" gumam Ernest seraya terus mencari. Dia lantas menggunakan ponsel yang satunya untuk melakukan panggilan. Sayangnya dia malah mendapat pemberitahuan bahwa nomor sedang tidak aktif.


"Kenapa? Kau tidak bisa menemukannya? Atau kau sengaja berbohong untuk menakut-nakutiku?!" timpal Wira yang bisa menyaksikan Ernest nampak kebingungan.


"Aku tidak berbohong!" bantah Ernest. Meskipun begitu, dia belum berhasil menemukan ponsel yang dicari. Alhasil Ernest berakhir menghubungi Jaka. Mengingat temannya tersebut adalah orang terakhir yang dia temui.


"Apa kau yang menyimpan ponselku?" tanya Ernest.

__ADS_1


"Iya, ponsel yang kau lempar ke lantai itu bukan? Ponsel itu sudah rusak, Nest!" jawab Jaka dari seberang telepon.


"Apa? Kau yakin?"


"Iya, apa kau lupa? Kau sendiri yang membantingnya ke lantai."


"Sial!" Ernest mengumpat sambil mengacak-acak rambut frustasi. Dia didera perasaan khawatir.


"Kenapa? Tidak bisa menemukannya? Kalau tidak punya bukti apapun, lebih baik kau ikut aku ke kantor polisi sekarang," imbuh Wira.


Perasaan panik Ernest sontak memuncak. Sekarang dia tidak punya pilihan lain untuk menyuruh Jaka datang ke apartemennya. Sebab lelaki itu adalah satu-satunya saksi. Ernest juga tidak lupa memberitahu kalau Wira sedang berada di apartemennya.


"Nest, kemarin Zidan sempat meneleponku dan memberitahu ini akan terjadi. Dia akan membantu, kalau kau dan aku memilih tutup mulut," ujar Jaka.


Mata Ernest membulat sempurna. Dia semakin marah. Ernest tentu merasa sangat terhina. "Tidak! Aku tidak sudi menerima bantuannya! Sebaiknya kau ke sini dan bantu aku!" ucapnya dalam keadaan nafas yang tersengal-sengal.


"Maaf, Nest. Aku tidak bisa. Aku tidak mau dikeluarkan dari kampus. Aku benar-benar minta maaf..." sahut Jaka yang terdengar seperti hendak menangis.


"Jaka! Kau--" ucapan Ernest terhenti, ketik Jaka mematikan panggilan telepon lebih dulu. Kini dia hanya bisa menggeram kesal.


"Tidak ketemu? Kalau begitu, ayo kita pergi." Wira terlihat berdiri. Siap membawa Ernest ke kantor polisi.


Di sisi lain, Zerin tengah sibuk menggerakkan tubuhnya di atas badan Zidan. Suara lenguhan juga diperdengarkan keduanya. Apalagi yang mereka lakukan selain bersenggama.


Tubuh Zerin sedang tidak tertutupi oleh satu helai benang pun. Dia mende-sah nikmat sembari mengacak-acak rambutnya sendiri.


Sementara Zidan tampak tidak mengenakan celana. Kemejanya masih dipakai, tetapi dalam keadaan kancing yang terbuka. Suara erangan Zidan mengiringi lenguhan Zerin. Akibat ulah mereka, seprai kasur jadi berantakan. Mereka selesai saat merasa saling terpuaskan. Lalu bergegas mengenakan pakaian masing-masing.


"Aku harus pergi, jangan lupa makan martabaknya," ucap Zerin seraya menyematkan kancing baju.


"Martabaknya pasti sudah dingin. Ini semua gara-gara kau," sahut Zidan.


"Makan saja! Aku akan menghukummu kalau makanannya tidak habis."


"Dihukum? Aku suka dihukum. Apalagi olehmu." Zidan mendongak. Dia duduk ditepi ranjang.

__ADS_1


Zerin membalas dengan juluran lidah. Sengaja mengejek Zidan. Kemudian beranjak dari kamar. Langkah Zerin terhenti, saat melihat Bi Ranti sibuk mengepel lantai di sekitaran kamar Zidan.


'Sial! Sejak kapan dia mengepel di sini?' batin Zerin dengan keadaan mata yang membola.


__ADS_2