Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 67 - Kamar 301


__ADS_3

Tidak ada sesuatu yang bisa mengalahkan keinginan yang kuat - Auraliv.


...༻∅༺...


"Zerin, jangan diam saja." Zidan kembali bersuara. Dia khawatir melihat Zerin yang diam dan membeku di tempat.


"Maaf, Zidan. Aku tidak bisa..." lirih Zerin sembari menundukkan kepala.


Mata Zidan terbelalak tak percaya. Jantungnya bahkan bertabuh lebih cepat. Dia tidak menyangka, setelah apa yang dirinya lakukan, masih belum mampu meluluhkan hati Zerin.


Zidan menutup kotak kecil berisi cincin berlian. "Aku tahu semuanya terjadi terlalu cepat. Tapi--"


"Zidan, kenapa kau sudah menyimpulkan lebih dulu. Aku belum selesai bicara," sergah Zerin. Dia memegangi tangan Zidan. "Yang ingin aku katakan tadi adalah..."


"Maaf, aku tidak bisa... menolakmu. Bagaimana mungkin aku menolak lelaki sepertimu?" ucap Zerin.


Zidan reflek berdiri. Ia terperangah sambil menyurai rambut cepaknya dengan satu tangan. Dia merasa sangat lega. Senyuman cerah terukir di wajah lelaki tersebut. Zidan kembali fokus menatap Zerin. Bergegas memasangkan cincin berlian ke jari manis perempuan itu.


"Kau sengaja mengerjaiku bukan?" Zidan memegangi erat tengkuk Zerin. Membuat kepala perempuan itu mendongak untuk menatapnya.


"Wajah panikmu tadi sangat lucu," komentar Zerin.


"Awas kau!" tanggap Zidan. Ia tak peduli lagi dengan pengawasan Arkan serta para pelayan yang memperhatikan.


Zidan mencium bibir Zerin dengan lembut. Zerin lantas melingkarkan tangannya ke pinggul Zidan. Cincin berlian terlihat sudah menghiasi jari manis perempuan itu.


Dua menit terlewat. Ciuman Zidan dan Zerin belum juga usai. Keduanya justru semakin terbuai. Sesekali mereka saling memiringkan kepala agar dapat berciuman dengan leluasa.


Tidak ada rasa bosan. Itulah yang dirasakan Zidan dan Zerin satu sama lain. Mereka malah saling merasakan candu akan setiap sentuhan.


Nafas Zidan dan Zerin mulai memburu. Suara kecupan bibir mereka dapat terdengar jelas.


"Uhuk! Uhuk!" Arkan yang melihat segera mendekat. Dia berpura-pura batuk seperti sebelumnya. Tetapi rencananya kali ini tidak berhasil. Zidan dan Zerin tidak menggubris segala gangguan Arkan.


"Permisi, aku..." Arkan memutuskan angkat suara. Namun urung dilakukan karena Zidan terlihat semakin menjadi-jadi.


Zidan memang berhenti mencium bibir Zerin. Tetapi dia berubah haluan ke ceruk leher sang kekasih. Zidan juga menurunkan lengan gaun yang dikenakan Zerin.


Entah kenapa Zerin tidak peduli lagi dengan orang sekitar. Sepertinya dia memang sangat santai terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya. Lagi pula, Zerin sedang terbawa suasana. Sungguh, dia ingin membalas apa yang diberikan Zidan dengan seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Arkan bingung harus bagaimana. Dia merasa tidak bisa lagi menghentikan gairah cinta Zerin dan Zidan. Alhasil Arkan memutuskan menghubungi Wira. Dia menjauh sebentar.


Saat itulah Zidan berhenti mencumbu Zerin. Ia menarik tangan Zerin dan membawanya keluar dari restoran. Zidan memanfaatkan kelengahan Arkan sebaik mungkin.


Bertepatan dengan itu, Arkan menoleh. Dia bisa melihat Zidan dan Zerin berlari melewati pintu. Tanpa pikir panjang, Arkan bergegas mengejar.


Aksi kejar-kejaran lantas terjadi. Hanya Zerin satu-satunya orang yang tidak mengerti. Zidan membawanya masuk ke dalam lift.


Ketika pintu lift bergerak untuk menutup, Arkan muncul dari kejauhan. Dia tampak berlari ke arah Zerin dan Zidan yang telah berada di dalam lift.


Zidan melambaikan tangan sambil tersenyum. Dia yakin Arkan tidak akan bisa mengejar.


Arkan nyaris menghampiri Zidan dan Zerin, akan tetapi tidak sempat. Sebab lift terlanjur menutup rapat.


"Siapa dia?" tanya Zerin. Membicarakan perihal Arkan.


"Wartawan. Akhir-akhir ini banyak media yang mencari tahu tentangku," kilah Zidan sembari memegangi kedua tangan Zerin. Lalu menyudutkan perempuan itu dalam keadaan tangan yang dibelenggu olehnya.


Zidan dan Zerin kembali bercumbu. Zidan mencumbu belahan dada Zerin dengan ganas.


Zerin reflek memejamkan mata. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


Sesampainya di lantai tujuan, Arkan segera mendatangi lift. Dia melihat pintu lift terbuka. Dirinya juga dapat menyaksikan Zidan dan Zerin di sana. Keduanya tampak masih asyik bermesraan.


Suara derap langkah Arkan terdengar mendekat. Zidan menghentikan cumbuannya sejenak. Dengan cepat tangan lelaki itu menekan tombol lift.


Zidan menekan tombol angka paling atas. Dia menyempatkan diri untuk memberikan senyuman arogannya kepada Arkan. Saat pintu lift hampir menutup, Zidan mengacungkan jari tengahnya untuk Arkan.


Kini Arkan kembali tertinggal. Dia hanya bisa menggeram kesal. Arkan terpaksa menunggu pintu lift terbuka kembali. Menaiki tangga menuju lantai teratas, jelas adalah hal yang melelahkan baginya.


Di dalam lift, Zidan kembali memberikan sentuhan untuk Zerin.


"Apa wartawan yang mengejarmu tadi ingin menulis berita tentang hubunganku dan kau?..." tanya Zerin lirih. Di sela-sela pengaturan nafas yang terus memburu.


"Menurutmu?..." Zidan menjawab dalam keadaan nafas yang terengah-engah. "Zerin, aku sudah tidak tahan..." sambungnya.


"Aku juga... Sebaiknya kita cari tempat yang aman dan nyaman," jawab Zerin.


Lift berdenting saat pintunya terbuka. Zidan dan Zerin buru-buru keluar sebelum Arkan menemukan mereka lagi. Langkah keduanya begitu cepat. Mereka mencoba menemukan kamar kosong.

__ADS_1


Kebetulan restoran mewah yang didatangi Zidan dan Zerin berada di sebuah hotel bintang lima. Jadi tidak heran gedung tersebut memiliki lantai dan kamar yang banyak.


Zidan membawa Zerin menuruni dua lantai lewat tangga. Zidan sebenarnya telah membuat rencana agar bisa lepas dari pengawasan Wira.


"Kau sudah memesan kamar?" tanya Zerin sembari berlari mengikuti Zidan. Mereka berhenti di depan kamar bernomor 301.


"Ya. Aku bahkan memesan dua kamar," sahut Zidan. Dia mengambil kunci dari saku celana. Lalu membuka pintu kamar yang sudah dipesannya.


"Maksudmu?" Zerin tak mengerti. Ia dan Zidan sudah berada di dalam kamar.


Zidan mengunci pintu. Kemudian mendorong Zerin hingga terjatuh ke ranjang. Ia segera menindih badan langsing perempuan tersebut.


"Satu kamar untuk muslihat. Dan satu kamar lagi untuk kita berdua!" ungkap Zidan.


"Muslihat?" Zerin merasa penjelasan Zidan masih ambigu.


"Diamlah dan sebaiknya kita jangan mengulur waktu terlalu lama." Zidan bergegas melepaskan pakaian Zerin. Selanjutnya barulah pakaiannya sendiri. Setelah itu, mereka menyatukan bibir satu sama lain.


Zidan dan Zerin sesekali berguling. Hingga mereka bisa bergantian mengambil posisi di atas badan. Saling mencumbu kulit dan tubuh satu sama lain. Cumbuan yang tentu saja akan memberikan tanda merah khas pada kulit.


Dalam sekejap, seprei menjadi acak-acakan. Begitu pun rambut pendek sebahu Zerin. Kegiatan intim yang dia dan Zidan lakukan sekarang lebih liar dari biasanya.


Usai melakukan pemanasan selama hampir setengah jam, penyatuan dilakukan. Suara erangan terdengar dari mulut Zerin dan Zidan.


Di luar, Arkan masih berupaya menemukan keberadaan Zidan dan Zerin. Dia mendatangi lantai yang dituju dua sejoli itu. Nihil, Arkan tidak bisa menemukan mereka.


Arkan lantas memeriksa nama Zidan kepada resepsionis. Dia berhasil menemukan kamar yang dipesan Zidan. Tanpa basa-basi, dia segera mendatangi kamar tersebut.


Arkan mengetuk pintu berulang kali. Saat itulah Wira datang untuk bergabung dengannya. Wira menyuruh pihak hotel membukakan pintu kamar yang ingin dibuka Arkan.


Saat pintu kamar terbuka, Wira dan Arkan tidak melihat siapapun ada di dalam. Dua orang yang mereka cari tidak ada di sana. Melainkan di kamar lain yang sengaja dipesan diam-diam oleh Zidan.


Dari awal, Zidan sudah merencanakan semuanya. Dia sengaja menyuruh pihak hotel untuk merahasiakan satu kamar yang dipesannya. Lalu membiarkan satu kamar lainnya ditulis dalam buku daftar tamu. Mungkin itulah yang dimaksud Zidan sebagai kamar muslihat. Lelaki tersebut sekarang masih sibuk mendes-ah bersama Zerin.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Wira. Dia menerima pesan dari sang putra.


'Aku sebentar lagi akan menikah. Papah tenang saja. Biarkan aku dan Zerin merayakannya berduaan dahulu.' Begitulah bunyi pesan yang diterima Wira. Zidan sebenarnya sudah mengatur pesan tersebut agar terkirim di waktu yang menurutnya tepat.


"Zidaannnn!!!" untuk pertama kalinya, rencana Zidan berhasil mengalahkan Wira.

__ADS_1


__ADS_2