Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 25 - Hati Nurani Yang Telah Lama Terkubur


__ADS_3

Sejahat-jahatnya manusia, pasti memiliki hati nurani. Meski itu hanya sekecil biji kenari - Auraliv.


...༻∅༺...


Zidan memperhatikan perempuan yang dibopong di pundak Arya. Dari rambut serta perawakannya, dia yakin perempuan itu adalah Zerin. Belum lagi dress yang terlihat sama dengan saat Zerin berada di mobil Adi.


Dahi Zidan berkerut. Karena dia melihat Zerin tampak menangis dan terus berteriak. Zidan merasa perempuan tersebut sedang ditimpa masalah serius.


Aryan dan Zerin menghilang ditelan pintu. Tanpa pikir panjang, Zidan mengikuti. Dia masuk ke ruangan dimana Zerin dibawa.


Mata Zidan membulat tatkala menyaksikan Zerin dipaksa untuk melepas pakaian. Perempuan itu tidak tampak kuat seperti biasanya. Zerin justru menangis histeris seakan tersakiti. Sebab apa yang dilakukan dua lelaki terhadapnya adalah pemaksaan.


Zidan menarik Marcel menjauh dari Zerin. Lalu mencengkeram kerah baju pria tersebut. Dilayangkannya tinju ke wajah Marcel berulang kali. Zidan melakukannya dengan cepat. Hingga sukses membuat Marcel tumbang dalam sekejap.


Selepas menghajar Marcel, Zidan beralih memukuli Aryan. Lelaki tersebut sempat melakukan perlawanan. Aryan berhasil meninju perut Zidan satu kali.


Satu serangan tidak membuat Zidan ambruk. Dia malah semakin terpacu untuk memberi pelajaran kepada Aryan. Di ambilnya sebuah botol bir kosong dari atas meja. Tanpa basa-basi, Zidan memukulkan botol itu ke kepala Aryan. Tepat sebelum Aryan sempat melakukan pergerakan.


Botol bir yang dipegang Zidan pecah berkeping-keping. Aryan sontak jatuh tak sadarkan diri. Keadaan di ruangan terlihat sudah berantakan.


Zerin mematung di tempat sambil menatap Zidan. Cairan bening sudah berhenti mengalir dari matanya. Hanya ada bekas air mata yang nampak jelas menghiasi wajah cantik Zerin. Ia tidak menyangka, orang yang menolongnya justru adalah Zidan.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Zerin. Dia hanya menatap Zidan dalam keadaan gemetar ketakutan.


"Kenapa kau tiba-tiba cengeng? Kau tidak seperti Zerin yang biasanya." Zidan mendekati Zerin. Ia membungkukkan badan. Hingga wajahnya dan Zerin berhadapan sangat dekat.


Zerin masih gemetar. Matanya berkaca-kaca. Tanpa diduga, Zerin memeluk erat Zidan. Ia menenggelamkan wajah di dada bidang lelaki itu. Memecahkan tangis yang begitu pilu.


Zidan membeku. Ia membiarkan Zerin menangis dalam pelukannya. Meskipun begitu, dua tangan Zidan sama sekali tidak mendekap atau pun bergerak untuk menenangkan Zerin.

__ADS_1


"Aku ketahuan, Dan... Adi sudah tahu siapa aku... Hiks... Sepertinya aku tidak akan bisa kuliah lagi..." isak Zerin yang sudah putus asa dengan nasibnya.


Zidan hanya membisu. Ia perlahan melepas pelukan Zerin. Mengajak perempuan itu untuk pergi. Namun Zerin terlihat masih tidak berdaya untuk menggerakkan kaki. Dia masih gemetar sambil tidak berhenti menangis.


"Kau mau pergi dari sini atau tidak?" tanya Zidan dengan nada penuh penekanan. Keningnya mengernyit dalam. Sikap yang ditunjukkannya memang seperti tidak peduli. Padahal Zidan merasakan empati yang kuat terhadap Zerin sekarang.


Zerin memaksakan diri untuk berdiri. Namun dia terjatuh lagi. Tubuhnya masih gemetaran. Walau bekerja sebagai sugar baby, bukan berarti Zerin tahan banting dengan yang namanya pelecehan. Kemarahan Adi sudah membuatnya tertekan. Zerin tambah tertekan ketika Marcel dan Aryan memaksa untuk menggaulinya secara bersamaan.


Zidan yang hampir meraih gagang pintu, berhenti melangkah. Dia kembali ke hadapan Zerin. Kemudian menggendong perempuan itu dengan gaya bridal.


Zerin terkesiap. Dia menatap Zidan dari samping. Dirinya tidak pernah menyangka Zidan akan memiliki kepedulian kepadanya. Terlebih lelaki tersebut tahu kalau Zerin bukanlah perempuan baik-baik.


Zidan menggendong Zerin dengan langkah cepat. Ia membawa perempuan itu ke ruang VIP dimana Reza sudah menunggu.


"Lama banget sih! Aku--" Reza menyambut kedatangan Zidan dengan omelan. Namun dia menjeda ucapannya saat melihat Zidan tidak datang sendiri. "Siapa gadis ini?" tanya-nya penasaran.


Sementara Zidan juga terlihat duduk. Ia menuang bir ke dalam gelas. Lalu meminumnya sampai tandas.


"Apa dia pacarmu? Kau apakan dia sampai menangis begitu?" Reza kembali mengajukan pertanyaan.


"Dia bukan pacarku. Tapi satu-satunya teman yang membuat kehidupanku di sini tidak membosankan," jawab Zidan.


"Zidan? Apa-apaan? Kau tidak mempermainkan perempuan malang ini bukan?" Reza menyelidik. Sebagai teman dekat, dia tahu bagaimana buruknya kelakuan Zidan. Termasuk dalam hal berhubungan dengan wanita.


Zidan hanya tergelak. Dia kembali menenggak bir dari dalam gelas.


Zerin masih bungkam. Dia menatap Zidan dengan sudut matanya. Lelaki itu tampak meneruskan candaannya bersama Reza.


Tak lama kemudian, pintu terbuka. Sosok wanita berpakaian seksi datang. Dia ternyata adalah wanita penghibur yang dipesan oleh Reza.

__ADS_1


"Saatnya aku bersenang-senang. Ayo kita menari ke lantai dansa," seru Reza seraya berjalan menghampiri wanita yang berdiri di ambang pintu.


"Kau duluan saja," sahut Zidan.


Mata Reza menyipit penuh curiga. "Zidan... Kau semakin nakal saja. Jangan memperlakukannya terlalu berlebihan, oke?" tanggapnya. Reza segera beranjak bersama wanitanya.


"Kau tidak akan melakukan hal buruk kepadaku kan?" imbuh Zerin. Menuntut jawaban.


"Tidak. Aku ingin kau menenangkan pikiranmu." Zidan menuang bir ke dalam gelas. Lalu memberikannya kepada Zerin.


"Rasanya aku ingin mati saja sekarang. Aku merasa tidak sanggup pulang ke rumah," ungkap Zerin. Dia segera menghabiskan bir pemberian Zidan.


"Aku tidak menyangka bisa mendengar kalimat itu dari mahasiswi kedokteran paling berprestasi," komentar Zidan.


"Aku rasa Kak Adi akan menyebarkan tentang jati diriku kepada semua orang," kata Zerin. Sekarang dia menuang bir ke dalam gelasnya yang telah kosong.


"Tapi itu belum tentu terjadi bukan?" ujar Zidan.


"Aku yakin itu pasti terjadi. Karena aku sudah membohongi banyak orang," sahut Zerin. Dia meletakkan gelas ke atas meja dengan hempasan keras. Lalu mengambil botol berisi bir. Zerin langsung meminum bir tersebut.


"Sepertinya kau benar-benar berniat ingin mati. Bir yang kau minum bisa membuatmu tidak berdaya. Kau tahu itu bukan?"


"Ya. Aku ingin secepatnya melupakan kejadian tadi. Bahkan kalau perlu, aku bisa mabuk sampai mati," ujar Zerin. Satu botol bir sudah dihabiskannya. Air matanya kembali berjatuhan. Zerin berusaha mengambil satu botol bir lagi. Tetapi Zidan sigap menjauhkan bir itu dari jangkauan Zerin.


"Aku yakin kau tidak bersungguh-sungguh ingin mati. Apa kau yakin ingin melupakan ibu dan adikmu begitu saja? Bukankah orang yang paling banyak menanggung malu terhadap kelakuanmu adalah mereka?" cetus Zidan.


Zerin sontak berhenti menenggak bir. Kini dia meraungkan tangis. Menutupi wajahnya dengan dua tangan.


"Astaga..." keluh Zidan sembari memutar bola mata kesal. Dia bisa saja meninggalkan Zerin sendirian. Derai air mata perempuan tersebut mampu menggapai hati nurani Zidan yang telah lama terkubur. Entah kenapa ada perasaan tidak tega dihati Zidan. Ia juga merasa marah kepada Adi yang mencampakkan Zerin.

__ADS_1


__ADS_2