Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 48 - Rencana Balas Dendam Yang Gagal


__ADS_3

Menjadi terlalu baik, akan membuatmu semakin mudah dimanfaatkan - Auraliv.


...༻∅༺...


Zerin baru saja selesai berpakaian. Waktu menunjukkan jam setengah tujuh. Hari itu dia memang harus pergi ke kampus lebih cepat.


Panggilan telepon dari Zidan mendadak masuk. Zerin langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Kenapa pagi-pagi telepon?" tanya Zerin sembari memoles lipstik ke bibir tipisnya.


"Aku baru saja lewat kelasmu. Aku lihat dosennya sudah datang," ujar Zidan dari seberang telepon.


"Apa?! Nggak mungkin! Ini masih pagi banget." Zerin menoleh ke arah jam dinding. Hari masih pagi sekali. Sedangkan perkuliahan akan dimulai pada jam 07.30.


"Jadi menurutmu aku berhalusinasi?" tanggap Zidan.


"Apa kau sudah di kam--" belum sempat Zerin selesai bicara, Zidan mematikan sambungan telepon begitu saja. Kini perempuan tersebut hanya bisa menggeram kesal.


Dengan tergesak-gesak, Zerin berangkat ke kampus. Dia bahkan tidak sempat minum atau makan untuk mengisi perutnya. Setelah kejadian terakhir kali, Zerin sudah kapok datang terlambat.


Setibanya di kampus, Zerin sama sekali tidak melihat ada dosen yang datang. Dia sekarang sadar kalau Zidan berbohong.


"Zidaannnn!!!" Zerin menggertakkan gigi. Dia bertekad akan memberi Zidan pelajaran saat bertemu nanti.


Sekarang Zerin tengah berada di kelas. Dia dan tiga temannya sibuk mengobrol. Tak lama kemudian, Zidan muncul dari arah pintu.


Zerin terkesiap. Begitu pun ketiga temannya. Tidak! Bukan mereka saja. Tetapi seluruh orang di kelas. Atensi mereka semua tertuju ke arah Zidan.


Keberadaan Zidan memang selalu menarik perhatian. Ia berjalan dengan gagah melewati semua orang. Lelaki itu memegang sesuatu di tangannya.


Zidan berhenti melangkah di depan Zerin. Lalu meletakkan apa yang dibawanya ke atas meja. Itu tidak lain adalah bungkus plastik berisi capuccino hangat dan kue macaron spesial. Zidan sengaja membelikannya khusus untuk Zerin.


'Sial! Sekarang dia mau ngapain coba?' batin Zerin. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dia merasa terenyuh sekaligus gugup. Takut Zidan akan melakukan sesuatu di luar dugaan.


"Ini baru jam tujuh lewat sepuluh menit." Zidan berucap sambil memeriksa jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Aku yakin kau pasti tidak sempat sarapan. Aku tadi melihatmu datang pagi sekali," tambahnya seraya merekahkan senyuman tipis.


"Te-terima kasih..." ungkap Zerin tergagap.


"Sama-sama." Zidan segera beranjak dari kelas Zerin.

__ADS_1


Semua orang saling berbisik. Ada juga yang langsung menggoda Zerin.


"Kayaknya ada orang baru yang mengincar Zerin nih!"


"Zidan itu loh, Rin. Anaknya Wira Dirgantara!"


Zerin hanya tersenyum kecut menerima timpalan dari teman sekelasnya. Dia perlahan melirik ke arah Kinar. Zerin tentu merasa tidak enak dengan temannya tersebut.


Kinar tampak menunduk sendu. Astrid dan Gita juga terdiam. Keduanya tidak tahu harus mendukung kedekatan Zerin atau berada dipihak Kinar. Segalanya begitu rumit.


"Nar, aku..."


"Aku nggak apa-apa, Rin. Lagian Zidan berhak suka sama siapa saja." Kinar memaksakan dirinya tersenyum.


"Eh, tapi setelah dipikir-pikir, Zidan keterlaluan ya. Setelah memacari Kinar, masa dia dekatin Zerin. Dia terkesan tidak tahu malu nggak sih?" cetus Gita.


"Benar juga apa yang Gita bilang. Terlebih kan alasan dia putus sama Kinar kemarin karena ingin fokus kuliah. Lah sekarang apa?" Astrid sependapat dengan Gita.


Zerin membisu. Terlintas dalam pikirannya mengenai rencana yang dibicarakan Zidan tempo hari. Zerin merasa sekarang kalau kekasihnya itu sedang beraksi melakukan rencana.


"Sebenarnya Zidan tadi malam sudah bilang sama aku mengenai semuanya..." ungkap Kinar.


"Dia bilang apa?" tanya Zerin yang sudah tidak sabar.


"Zidan bilang kepadaku, kalau dari awal dia memang suka sama Zerin. Dia dekatin aku karena ingin dekat dengan Zerin. Zidan katanya sengaja mengalah karena Ernest," terang Kinar bercerita.


"Jadi maksudnya Zidan manfaatin kamu?" tukas Gita dalam keadaan mata yang membelalak.


"Zidan sudah minta maaf sama aku berulang kali. Dia bahkan rela aku menamparnya sepuas mungkin. Zidan mengatakan kalau dia menyesal sudah mempermainkanku," ucap Kinar. Dia masih menunjukkan ekspresi seakan dirinya baik-baik saja.


"Tetap saja itu keterlaluan!" ungkap Astrid dengan dahi berkerut. Dia segera menoleh ke arah Zerin dan berkata, "Rin! Kau sebaiknya tolak Zidan. Kasih dia pelajaran untuk membalaskan dendam Kinar!"


"A-apa?" Zerin melebarkan kelopak matanya. Dia merasa rencana Zidan kali ini tidak berjalan lancar.


"Iya, aku setuju!" Gita mengangkat kepalan tinju ke depan wajah. Dia dan Astrid tampak bertekad.


"Nar, kamu setuju kan kalau Zerin membalaskan dendam biar bisa bikin Zidan sakit hati?" tanya Astrid. Meminta persetujuan.


"Aku nggak tahu. Bukankah itu keterlaluan? Balas dendam kan nggak baik." Kinar yang berhati baik merasa ragu dengan rencana yang di usulkan Astrid. "Lagi pula, Zerin belum tentu setuju. Mungkin saja dia juga suka sama Zidan," sambungnya sembari menatap Zerin yang duduk di sebelah.

__ADS_1


"Rin, kamu suka sama Zidan nggak?" Gita lantas memstikan.


Zerin bingung. Bola matanya meliar ke segala arah. Dia mencoba menemukan keputusan yang tepat.


Jika Zerin bilang tidak suka dengan Zidan, maka kemungkinan teman-temannya akan menyuruhnya menolak Zidan. Tetapi andai Zerin mengatakan kalau dirinya menyukai Zidan, maka otomatis Kinar akan semakin sakit hati. Semuanya terasa serba salah bagi Zerin.


"Aku..." Zerin menggigit bibir bawahnya. Dia masih bingung harus memberi keputusan apa.


"Hmmh... Aku kalau jadi Zerin pasti akan bingung juga. Emang susah menolak laki-laki kayak Zidan." Seorang gadis tomboi mendadak masuk ke dalam pembicaraan. Namanya Widya. Sejak awal dia mendengarkan semua pembicaraan Zerin dan kawan-kawan.


Astrid, Gita, dan Kinar sontak terdiam. Mereka sama-sama tidak bisa membantah pernyataan Widya.


"Rin, kalau tertarik sama Zidan jujur saja. Aku nggak apa-apa. Beneran!" Kinar meyakinkan Zerin. Dia tidak mau temannya itu mengalah karena dirinya.


"Soalnya aku tidak mau kau seperti Zidan. Yang rela mengalah dan justru membuat orang lain sakit hati. Kalau kau berbohong, maka aku akan semakin sakit hati," ucap Kinar lagi.


Zerin tersenyum enggan. Meskipun begitu, dia tidak mengatakan apapun.


"Dari diamnya Zerin, aku bisa menyimpulkan kalau dia tertarik sama Zidan," imbuh Astrid dengan lirikan penuh curiga.


"Apaan sih!" Zerin akhirnya angkat suara.


"Benar, Trid. Dia bahkan nggak membantah sama sekali. Ya sudah deh, kalau itu pilihan Zerin dan Kinar. Aku sama Astrid ikut aja," ujar Gita. Dia dan Astrid saling mengangguk.


"Udah, sekarang kamu mending makan kue dari Zidan. Nanti kalau dingin nggak enak," saran Astrid.


"Kita makan bareng ya. Aku nggak habis kalau sendirian." Zerin membagikan kue pemberian Zidan kepada teman-temannya. Mereka bahkan tidak jijik berbagi minuman kepada semua temannya. Pertemanan mereka tetap berlangsung harmonis.


Zerin menikmati kue macaron sambil menatap tiga temannya. Kini dia meyakini satu hal. Rencana Zidan berhasil lagi. Padahal awalnya Zerin sempat ragu kalau semuanya tidak akan berjalan lancar. Dia tidak akan berhasil kalau bukan karena kebaikan hati Kinar.


Perkuliahan telah selesai. Zerin baru saja mendatangi lokasi pemotretan. Di sana Zidan terlihat sedang bersiap. Lelaki itu sudah mengenakan jas almamater kampus.


Senyuman mengembang di wajah Zerin. Dia tidak bisa membantah kalau lelaki yang ditatapnya sekarang sangat tampan.


Zerin sempat terpaku sejenak. Namun itu tidak berlangsung lama. Karena suara beberapa gerombolan mahasiswi terdengar membuat keributan. Mereka tidak bisa mengalihkan perhatian dari sosok Zidan. Salah satu dari mereka sesekali mengajak Zidan bicara.


Zidan sendiri menanggapi mahasiswi yang mengajaknya bicara. Mereka terlihat cukup akrab.


Zerin mendengus kasar. Dia tentu tidak suka melihat Zidan berdekatan dengan wanita lain.

__ADS_1


__ADS_2