Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 30 - Music, Making Love, & Mothers


__ADS_3

Yes, I'd love it if we made it - The 1975.


...༻∅༺...


Musik masih dibiarkan terputar. Lagu Love It If We Made It dari The 1975 menggema. Namun masih dalam volume yang tidak terlalu keras.


Zerin dan Zidan asyik berciuman. Keduanya sama-sama berdiri sembari saling mengekang dengan pelukan serta sentuhan.


Nafas perlahan memburu. Zerin merasa ciumannya dan Zidan terasa berbeda. Dia seolah takluk akan sentuhan Zidan.


Zerin ingin menjatuhkan diri ke ranjang. Akan tetapi Zidan sigap menghentikan.


Dahi Zerin berkerut. Dia melepas tautan bibirnya dari mulut Zidan.


"Kenapa? Kau pikir aku tidak mandi lagi?" tanya Zerin. Tak mengerti.


Zidan hanya diam. Ia malah duduk ke tepi ranjang. Lalu memaksa Zerin naik ke atas pangkuan. Kini perempuan tersebut paham maksud Zidan.


Zerin duduk ke atas pangkuan Zidan. Dalam keadaan kaki yang mengapit pinggul lelaki itu. Tanpa basa-basi, dia kembali memadukan mulutnya dengan bibir Zidan. Suara kecup-mengecup kembali terdengar. Mengiringi suara musik yang masih berbunyi.


Sesekali Zidan dan Zerin memiringkan kepala agar bisa lebih leluasa berciuman. Pergulatan lidah mereka selalu intens.


Sama seperti Zerin, Zidan juga merasa ada yang berbeda dengan kegiatan intim sekarang. Gairahnya lebih cepat memuncak dibanding biasanya. Bahkan saat bibirnya baru saja bersentuhan dengan mulut Zerin.


Tangan Zidan dan Zerin saling melepaskan kancing baju satu sama lain. Hingga Zidan perlahan merebahkan diri ke ranjang.


Zerin otomatis berada di atas badan Zidan. Dia belum sudi mengakhiri sesi ciuman bibir. Saat itulah tangan Zidan melingkar ke punggung Zerin. Lelaki itu melepaskan pengait bra yang dipakai Zerin.


Karena ulah Zidan, Zerin melepaskan ciumannya. Dia merasa bra-nya melonggar.


Zerin dan Zidan saling bertatapan sejenak. Mereka terpaku sambil berusaha mengatur nafas yang memburu.


Zidan segera melepaskan baju atasan Zerin. Dilanjutkan dengan menanggalkan bra perempuan tersebut. Hingga tampilan Zerin tampak bertelanjang dada dan hanya menyisakan celana jeans hitam.


"Sekarang apa?... Kau ingin aku telentang?..." tanya Zerin seraya mengaitkan rambut ke daun telinga. Dia masih dalam posisi di atas badan Zidan.


"Tidak. Tetaplah begitu," sahut Zidan. Dia beringsut lebih ke bawah. Sampai bisa menggapai buah dada Zerin yang tampak menggantung di depan mata. Dia lantas mere-mas keduanya sekaligus. Lelaki itu juga tidak lupa menjamahnya dengan mulut. Melumas bahkan menjilatnya.


Zerin reflek memejamkan mata. Dia juga sedikit mengangakan mulut. Membiarkan Zidan berbuat sesuka hati.


Suara desa-han diperdengarkan Zerin. Begitu pun Zidan yang nampaknya belum puas mencumbu. Wajah keduanya sudah mulai memerah. Mata mereka juga tampak sayu.

__ADS_1


Selepas melakukan pemanasan, Zidan dan Zerin segera melepas celana masing-masing. Mereka langsung melakukan penyatuan.


Zidan membiarkan Zerin telentang. Dia mengambil alih posisi perempuan tersebut.


Suara erangan mulai diperdengarkan Zerin dan Zidan. Keduanya bahkan lupa dengan tempat dimana mereka berada.


Zidan terus memaju mundurkan dirinya. Ulahnya sukses membuat lenguhan Zerin terdengar berangsur-angsur.


Merasa desa-han Zerin terlalu berisik, Zidan mengambil remot alat musik. Lalu meninggikan volume musik dengan maksimal.


Selanjutnya, Zidan kembali fokus bersenggama. Sesekali dia akan mengecup bibir dan leher Zerin secara bergantian.


Zidan mempercepat dan memperdalam pergerakan. Hingga membuat erangan Zerin kian menggila. Perempuan itu tidak bisa berhenti menganga. Wajahnya bahkan menampakkan garis-garis bahwa dirinya sedang merasakan kenikmatan.


Karena pergerakan Zidan menggila, Zerin jadi tidak berhenti mengelukan nama lelaki itu. Nama Zidan disebutnya secara berulang kali. Entah sudah berapa kali Zerin merasakan puncak kenikmatan.


Suasana begitu panas hingga Zerin dan Zidan sama-sama mengeluarkan keringat yang banyak. Tubuh mereka mengkilap akan cairan tersebut. Mesin pendingin ruangan sepertinya tidak mampu mengalahkan adegan panas yang berlangsung.


Musik bertempo cepat yang menggema juga membuat hasrat Zidan berapi-api. Tetapi sayang, musik itu menarik perhatian orang yang ada di luar. Terutama Arni dan Lia yang kebetulan dapat mendengarnya dari dapur.


"Astaga anak itu!" geram Arni sembari mendelikkan mata ke arah tangga. Tepatnya ke jalan menuju kamar Zidan berada.


Arni menggertakkan gigi. Dia segera melangkah cepat ke dekat tangga.


Zidan yang sibuk bersenggama dengan Zerin, tentu tidak mendengar. Volume musik dan rasa nikmat yang menyelimuti membuatnya harus melupakan segala hal. Begitu pun Zerin.


Karena volume musik tidak kunjung dikecilkan, Arni tidak punya pilihan selain mendatangi kamar sang putra. Dia menggedor pintu begitu keras.


"Zidan!! Apa yang kau lakukan?! Kau mendengarku atau tidak?!" teriak Arni.


Zidan mendengar suara sang ibu, tetapi dia masih melakukan pergerakan di atas badan Zerin.


"Zidan! Akh..." Zerin juga mendengar kedatangan Arni. Dia mencoba menghentikan Zidan. Namun pergerakan lelaki tersebut justru semakin menggebu.


"Zidan!" erang Zerin sekali lagi.


"Sedikit lagi, Rin! Sedikit..." Zidan menindih kuat tubuh Zerin. Mulutnya menganga lebar. Dia akhirnya mencapai puncak gairah. Seluruh badan lelaki itu bergetar hebat. Di iringi oleh lenguhan panjang yang sengaja dipelankan agar tidak terdengar Arni.


"ZIDAN!!" panggilan Arni sudah terdengar berkali-kali.


Zidan dan Zerin bergegas saling melepaskan. Mereka segera mengenakan pakaian masing-masing. Merapikannya sampai benar-benar rapi. Zidan juga tidak lupa bercermin. Takut kalau-kalau ada noda lipstik Zerin yang menempel.

__ADS_1


Zerin yang paham harus melakukan apa, langsung bersembunyi ke kolong tempat tidur. Sementara Zidan, mengecilkan volume musik terlebih dahulu. Lalu membuka pintu.


"Kamu ngapain di dalam?!" timpal Arni seraya memperhatikan keadaan kamar Zidan.


"Tadi itu alat musiknya error, Mah. Aku coba perbaikin doang," jelas Zidan seraya tersenyum tipis. Berupaya bersikap normal.


"Terus kenapa pintunya dikunci?" Arni menatap tajam.


"Emang kenapa kalau dikunci? Aku nggak boleh punya privasi?" balas Zidan. Berucap dengan asal. Zerin yang mendengar hanya geleng-geleng kepala.


Arni menepuk jidat Zidan karena kesal. "Pokoknya jangan putar musik dengan volume kencang lagi!" geramnya seraya beranjak dari kamar Zidan.


Tetapi Arni urung pergi saat melihat Lia datang mendekat. Lia menanyakan tentang keberadaan Zerin.


Meski di tempat yang berjauhan, mata Zidan dan Zerin membulat bersamaan. Keduanya mencoba tenang sebisa mungkin.


"Zidan, tadi Zerin mengantarkan kopimu kan?" tanya Arni. Dia kembali mengamati kamar Zidan. Dirinya berhasil melihat kopi yang bertengger di atas nakas. Kopi itu terlihat masih utuh.


"Iya, Mah. Tapi setelah mengantar kopi, dia langsung keluar. Aku nggak tahu dia dimana," imbuh Zidan. Dia menoleh ke arah Lia dan meneruskan, "mungkin pulang duluan, Bi."


"Pulang? Tapi tasnya masih ada di dapur, Tuan."


"Ah, begitu?" Zidan kembali berpikir. Hingga akhirnya mendapat alasan yang tepat. "Mungkin dia lagi di toilet sekarang," ujarnya berkilah.


Lia lantas mengangguk. Dia setuju dengan pendapat Zidan kali ini. Alhasil Lia dan Arni segera kembali ke dapur.


Zidan mendengus lega. Dia menutup pintu dan berbalik menghadap ranjang.


Zerin segera keluar dari tempat persembunyian. Perempuan itu terlihat merapikan rambut pendek sebahunya.


Zidan memperhatikan Zerin. Jantungnya kembali memberikan getaran aneh. Akan tetapi Zidan selalu menepis ketertarikannya terhadap Zerin. Sekarang dia bahkan sedang memikirkan alasan yang jelas mengenai kegiatan intim tadi. Walaupun begitu, dirinya tidak mau Zerin pergi dari sisinya.


Zidan terpikirkan sesuatu hal agar bisa membuat Zerin terus terikat bersamanya. Bahkan tanpa harus menyatakan ketertarikannya. Zidan bukanlah lelaki yang mudah menyimpulkan cinta. Apalagi menyatakan cinta. Bagi Zidan itu sangat norak dan menjijikan.


"Bayaran yang kau lakukan hari ini masih belum cukup," celetuk Zidan.


"Bayaran?" Zerin menuntut penjelasan.


"Ya, kau pikir bantuan yang aku lakukan untukmu gratis?" sahut Zidan lancang. Dia memutuskan untuk bersikap menyebalkan seperti biasanya.


..._____...

__ADS_1


Catatan Author :


Yang penasaran serock apa musiknya Zidan, bisa dengar sendiri di youtube. Judulnya Love it if we made it - The 1975.


__ADS_2