Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 35 - Cemburu?


__ADS_3

Memang benar kata orang. Cemburu itu pertanda cinta - Auraliv.


...༻∅༺...


Setelah melepas kepergian Zidan, Zerin masuk ke rumah. Dia segera mengajak ibunya bicara.


"Bu, tolong rahasiakan hubunganku sama Zidan untuk sementara. Lagi pula kami baru saja berpacaran selama beberapa minggu," tutur Zerin. Duduk tepat di sebelah Lia.


"Baiklah. Apa kau juga ingin merahasiakannya dari Amira?" tanya Lia.


Zerin mengangguk. "Dari semua orang, Bu. Sekarang hanya Ibu saja yang mengetahui hubunganku dan Zidan," jelasnya.


Lia menghela nafas panjang. Dia menggenggam tangan Zerin dengan lembut.


"Tapi kamu harus pintar-pintar jaga diri ya. Kau itu perempuan, Rin. Harus hati-hati. Lelaki baik seperti Tuan Zidan juga bisa khilaf." Lia memberikan wejangan.


Zerin tersenyum dan mengangguk. Namun dalam hatinya menanggapi, 'Andai Ibu tahu, kelakuan Zidan itu melebihi yang namanya khilaf.'


Saat waktu menunjukkan jam delapan malam, Zerin pergi ke gym. Seperti biasa, dia akan berolahraga bersama teman-temannya. Tetapi kali ini Zerin hanya ditemani oleh Astrid. Kinar dan Gita kebetulan tidak bisa ikut karena ada kesibukan.


Kini Zerin dan Astrid baru saja menaiki alat olahraga treadmill. Seperti biasa, mereka mengenakan setelan olahraga ketat. Jujur saja, kehadiran Zerin menjadi pusat perhatian para lelaki yang ada di gym.


Banyak lelaki yang mencoba mendekat, namun Zerin selalu bersikap tak acuh. Tujuannya ke gym memang hanya untuk berolahraga.


"Rin, kau sudah kerjain tugasnya Bu Retno nggak? Sumpah ya. Aku kalau pelajaran mengenai saraf pusing banget," ucap Astrid.


Zerin hanya diam. Sejak tadi sore pengakuan Zidan kepada ibunya terus terbayang. Entah kenapa Zerin merasa terus dihantui Zidan. Dia tidak mau dirinya terus begitu.


"Rin? Zerin?!" panggil Astrid. Karena Zerin tidak kunjung menanggapi ucapannya.


"Eh, iya." Zerin langsung tersadar. Dia mengusap tengkuk karena malu.


"Ngelamunin apa sih? Masih belum move on dari Kak Adi?" tukas Astrid. Melihat Zerin tersenyum kecut, dia memutar bola mata jengah. Lalu meneruskan, "mending kamu coba dekat sama laki-laki lain. Mungkin saja move on-nya bisa lebih cepat."


"Benar juga sih. Tapi aku nggak ketemu lelaki yang bisa dipercaya," tanggap Zerin.


Bertepatan dengan itu, Zidan dan dua temannya terlihat baru saja datang. Astrid menjadi orang pertama yang menyadari kedatangan mereka.

__ADS_1


"Aku tahu siapa. Ernest! Dia selalu baik kepadamu," usul Astrid sembari menunjuk Ernest dengan dagu.


Zerin otomatis menoleh ke arah yang sama dengan Astrid. Bukannya tertuju pada Ernest, atensi Zerin malah terfokus kepada Zidan. Sensasi jantung yang berdebaran kembali dia rasakan. Zerin langsung membuang muka.


"Gimana? Mau gabung sama mereka?" tawar Astrid.


"Kalau sama Ernest saja, aku mau. Agak susah kalau ada Zidan dan Jaka." Zerin beralasan.


"Gimana kalau aku ke sana dan suruh Ernest buat temanin kamu?"


Zerin tampak berpikir sejenak. Di akhir dia tersenyum dan mengangguk setuju. Dirinya memang butuh pengalihan agar berhenti memikirkan Zidan. Sungguh, Zerin tidak mau jatuh cinta kepada Zidan. Hal itu seperti perangkap yang harus dihindarinya sebisa mungkin.


Astrid lantas berlari menghampiri Zidan dan kawan-kawan. Dia juga memberitahukan kalau Zerin ingin bicara dengan Ernest. Hal yang diberitahukan Astrid sontak membuat Ernest senang bukan kepalang. Lelaki itu tersenyum cerah dan bergegas mendekati Zerin.


Berbeda dengan Zidan. Ekspresinya langsung cemberut. Zidan hanya bisa melihat Zerin dan Ernest dari kejauhan. Keduanya terlihat akrab. Mereka juga sesekali tertawa. Seolah ada hal lucu yang sedang mereka bicarakan.


Zidan terus mengamati. Entah kenapa hatinya terasa dangkal. Dia merasa ada sesuatu yang membuatnya marah.


Zidan mencoba menyadarkan diri. Sebab dia sempat terpikir kalau dirinya marah dengan kedekatan Zerin dan Ernest. Lelaki tersebut masih saja menolak untuk menyimpulkan perasaan. Alhasil Zidan melampiaskannya dengan mengangkat barbel seberat 50 kg.


Sementara Astrid yang masih ada di sana, dia justru menikmati kegiatan Zidan. Gadis itu tidak berhenti tersenyum sambil menyatukan tangan ke depan dada.


Astrid bertepuk tangan saat melihat Zidan berhasil mengangkat barbel berukuran 50 kg. Lelaki itu berakhir dengan nafas tersengal-sengal. Dia menghempaskan barbel dengan perasaan kesal.


Mata Zidan melirik tajam ke arah Zerin dan Ernest. Dia lantas mencoba mengangkat barbel berukuran 70 kg. Kini apa yang dilakukannya menjadi bahan tontonan semua orang. Sebab jarang-jarang ada penikmat gym yang nekat mengangkat barbel sampai seberat itu.


Usaha Zidan kembali berhasil. Dia mendapat sorakan dan tepuk tangan sebagai pujian untuknya.


Keributan yang terjadi terdengar sampai ke tempat Ernest dan Zerin. Keduanya menoleh ke arah Zidan berada.


"Gilanya kumat lagi tuh anak. Zidan emang begitu kadang-kadang, Rin. Mau lihat ke sana?" ajak Ernest.


Zerin menggeleng. "Enggak. Kita di sini saja," tanggapnya. Sengaja mengabaikan apa yang dilakukan Zidan. Dia mencoba tidak peduli.


Waktu menunjukan jam sepuluh malam. Zerin berdiri di depan pintu masuk gym. Dia menunggu Ernest. Kebetulan Zerin setuju untuk diantarkan pulang oleh lelaki tersebut.


Selang sekian menit, Ernest akhirnya muncul. Di belakangnya ada Zidan dan Jaka. Zidan terlihat menatap tajam ke arah Zerin. Dia tidak tahu kenapa dirinya sangat ingin marah.

__ADS_1


"Guys, aku sama Zerin duluan!" kata Ernest seraya melambaikan tangan.


"Semoga berhasil, Nest!" pekik Jaka. "Hati-hati, Rin! Ernest kadang-kadang bisa gigit!" lanjutnya. Bermaksud bercanda.


Jaka menoleh ke arah Zidan. Dia sadar temannya itu sejak tadi terus cemberut. Seakan ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran Zidan.


"Dan, kau nggak apa-apa? Lagi ada masalah?" tanya Jaka sembari merangkul Zidan.


"Eh, nggak apa-apa kok. Aku cuman kelelahan kayaknya," jawab Zidan. Memaksakan dirinya tersenyum.


"Sok-sokan angkat barbel segala sih," komentar Jaka. Dia dan Zidan segera pulang.


Saat sendiri, perasaan kesal Zidan kembali. Dia berusaha keras membuang jauh segala hal tentang Zerin. Namun pikiran tentang perempuan tersebut terus menghantui.


'Apa yang akan dilakukan Zerin dengan Ernest? Apakah Zerin menyukai Ernest dan berniat memacari lelaki itu? Apa Zerin tidak pernah peduli kepadaku?' Pertanyaan tersebut bersemayam dan terngiang berulang kali di kepala Zidan.


"Sialan!!!" umpat Zidan. Dia menghentikan mobil ke tepi jalan. Kemudian mengambil ponsel dan menghubungi Zerin.


Panggilan pertama tidak di angkat oleh Zerin. Begitu pun panggilan kedua. Zidan semakin memanas. Wajahnya bahkan memerah padam.


Di saat Zidan melakukan panggilan ketiga, barulah Zerin mengangkat.


"Kenapa--"


"Kau! Aku ingin kau pergi ke hotel tempat kita biasanya! Sekarang!" pekik Zidan. Nafasnya naik turun dalam tempo cepat. Dia yang tidak sabaran, sengaja memotong ucapan Zerin dari seberang telepon.


"Apa?! Sekarang?! Zidan, apa kau tidak lelah? Kita baru saja berolahraga. Lagi pula aku--"


"Jangan banyak alasan! Aku ingin kita bertemu! Apa kau lupa dengan segala yang sudah kulakukan untukmu, hah?!"


"Zidan... Aku benar-benar tidak bisa. Aku kebetulan hari ini baru saja datang bulan."


Pengakuan Zerin membuat Zidan terdiam terdiam seribu bahasa. Tanpa sepatah kata pun, dia mematikan panggilan telepon lebih dulu.


Bruk!


Zidan menghempaskan ponsel ke jok mobil. Dia memukul alat kemudi untuk melampiaskan kekesalan. Zidan berusaha mengeluarkan ledakan amarah yang terasa mengganjal. Akan tetapi perasaan tersebut sangat sulit diredakan.

__ADS_1


__ADS_2