
Seringkali, teman bisa berubah menjadi musuh dalam sekejap. It hurts isn't it? - Auraliv.
...༻∅༺...
Zidan melepas tautan bibirnya dari mulut Zerin sejenak. Dia berusaha mengatur nafas yang sudah memburu. "Ini berarti kau juga memiliki perasaan yang sama denganku kan?" tanya-nya.
"Menurutmu? Bukankah itu sudah jelas? Alasanku dekat dengan Ernest agar aku bisa melupakanmu! Aku berusaha tidak jatuh cinta pada lelaki sepertimu!" sahut Zerin dengan suara cukup lantang.
"Kau pikir aku mau jatuh cinta denganmu?! Tentu saja tidak!" balas Zidan yang tak kalah nyaring. "Sial!" rutuknya. Lalu kembali melum-at dalam mulut Zerin. Mengangkat perempuan itu. Hingga kedua kaki Zerin mengunci erat di pinggulnya.
Zerin memeluk leher Zidan. Membuat lelaki tersebut mendongak dan menerima ciumannya. Suara ciuman yang mendecap memecah kesunyian dalam toilet. Di iringi suara hembusan nafas Zerin dan Zidan yang sudah tak terkontrol.
"Mmph..."
"Mmph..."
Zidan dan Zerin saling bergumam saat berciuman. Keduanya merasakan gairah yang membara. Mengingat mereka sekarang sedang melakukannya dengan perasaan yang sudah saling diakui.
Zerin mendadak melepas ciuman. Kemudian menanggalkan bra sport yang dia kenakan. Zidan yang mengerti segera menurunkan perempuan itu dari gendongan.
"Bukankah kau datang bulan?" tanya Zidan.
"Aku berbohong!" jawab Zerin yang baru saja melepas bra sportnya.
"Mati kau sekarang!" Zidan segera mendorong Zerin sambil membuka pintu bilik toilet. Dia tidak lupa untuk menutup sekaligus mengunci pintu.
Zidan bergegas melepas seluruh pakaian. Begitu pun Zerin. Suara decapan lidah kembali terdengar saat Zidan sibuk bermain dengan buah dada Zerin. Sedangkan jari-jemarinya sibuk meraba alat vital perempuan tersebut.
"Akh..." Zerin hanya bisa melenguh. Sesekali dia akan menggigit bibir bawahnya.
Kecupan Zidan yang diberikan untuk Zerin menimbulkan tanda merah. Kini lelaki itu berjongkok di bawah Zerin yang berdiri. Membiarkan salah satu kaki perempuan tersebut bertengger di atas pundaknya. Di sana Zidan kembali bermain lidah. Hingga membuat des-ahan Zerin kian intens.
"Zidan... Akh..." Zerin merasakan hasratnya semakin memuncak. Dia dalam keadaan menyandar di dinding. Zerin sesekali membelai kepala Zidan. Lelaki itu masih sibuk memberikan cumbuan.
Zidan tidak berhenti sampai mendengar lenguhan panjang Zerin. Yaitu sebuah erangan yang menandakan perempuan itu mencapai puncak.
__ADS_1
Waktu berlalu satu menit. Zerin akhirnya mencapai puncak. Raut wajah perempuan itu memerah dan menampakkan garis-garis tertentu. Mulut Zerin juga menganga lebar. Mengerang sampai membuat tubuhnya menggeliat lemah. Dia mencengkeram erat rambut cepak Zidan. Nikmat, Zerin merasakan kenikmatan tiada tara.
Zidan segera berdiri. Namun Zerin mendorong dan membuatnya terduduk ke atas closet yang terutup.
Sekarang Zerin yang memberikan cumbuan untuk Zidan. Dia mengecup beberapa titik tubuh lelaki tersebut dengan intens. Sampai memberikan tanda merah sama seperti yang dilakukan Zidan.
Puas memberikan kecupan, Zerin duduk berlutut di hadapan Zidan. Lelaki itu lantas tersenyum. Terutama ketika Zerin menundukkan kepala dan memberikan sentuhan ke organ intimnya.
Di akhir, Zidan dan Zerin melakukan penyatuan. Zerin duduk di atas pangkuan Zidan. Ia bergerak naik turun di sana.
Bunyi tepukan daging terdengar. Belum lagi suara desa-han Zidan dan Zerin yang mengikuti. Tubuh keduanya dibanjiri banyak keringat. Bagian pelipis mereka terus melelehkan peluh yang membuat rambut jadi setengah basah. Tetapi hal itu bukan jadi halangan untuk menghentikan aktifitas intim yang terjadi.
"Zerin! Kau sekarang milikku! Jangan dekat dengan lelaki manapun lagi!" ucap Zidan di sela-sela lenguhan serta persenggamaan.
"Ya, aku milikmu! Kau milikku! Akh!" Zerin menjawab sambil menaik turunkan badannya dengan tempo cepat. Dia mulai merasa lemas akibat merasakan puncak berulang kali. Akan tetapi Zerin tidak akan berhenti sebelum Zidan mendapatkan puncaknya.
Di sisi lain, Ernest dan Jaka sedang berolahraga. Keduanya heran kenapa Zidan dan Zerin tak kunjung kembali.
"Zidan beraknya lama banget. Dia keluarin batu kali ya?" ujar Jaka sembari bangkit dari alat olahrga pull up.
"Alah! Itu nggak mungkin, Nest. Zidan sama Zerin aja jarang bicara. Mereka nggak mungkin dekat." Jaka menepuk pundak Ernest. Berusaha menghilangkan prasangka temannya.
"Benar juga sih." Ernest setuju dengan pendapat Jaka. Terlebih Zidan juga pernah membuat pengakuan kalau dia tidak tertarik dengan Zerin. "Eh, tapi kita cari dia ke toilet yuk. Aku mau balas dendam. Soalnya tadi Zidan ngerjain aku," ajaknya seraya mengangkat dua alis secara bersamaan.
"Oke. Kalau perlu rekam aja suara kentutnya." Jaka menanggapi sambil tergelak. Dia dan Ernest melangkah bersama menuju toilet.
Sesampainya di toilet, Ernest dan Jaka tidak mendengar suara kentut. Namun justru suara desa-han dari lelaki dan perempuan di salah satu bilik toilet.
"Anjir! Itu yang di dalam Zidan?" tanya Jaka dalam keadaan mata terbelalak. Atensinya tertuju ke arah bilik toilet dimana Zidan dan Zerin berada.
"Parah tuh anak. Dia main sama wanita mana coba?" tanggap Ernest. Dia tentu tidak mengetahui kalau perempuan yang bersama Zidan adalah Zerin.
"Tapi itu belum tentu Zidan loh," imbuh Jaka.
"Kita tunggu saja." Ernest terlihat mengambil ponsel. Lalu menyalakan mode perekam video.
__ADS_1
Di dalam bilik toilet, Zidan baru saja berhasil mencapai puncak. Sekarang yang tersisa hanyalah nafas yang tersengal-sengal. Meskipun begitu, Zerin masih belum beranjak dari pangkuan Zidan. Mereka menyatukan jidat satu sama lain.
"I love you, Rin..." ungkap Zidan dengan nada berbisik. Memandang lamat-lamat perempuan yang baru saja melakukan hubungan intim dengannya.
Zerin terkekeh. Dia menatap lekat Zidan. Wajah lelaki itu tampak memerah padam. Zerin tidak menyangka akan mendengar kalimat i love you dari Zidan.
"Bisakah kau katakan sekali lagi?" pinta Zerin. Balas berbisik.
Zidan menggeleng dan tersenyum. Entah kenapa dia merasa malu sendiri.
"Ayo katakan..." desis Zerin.
"I love you..." Zidan menurut.
"Lagi. Lebih banyak!" Pengakuan Zidan terasa candu bagi Zerin.
"I love you, i love you, i love you..." Zidan mengucapkan kalimat itu berulang kali. Lalu mencium bibir Zerin. Puas saling memanjakan, mereka segera mengenakan pakaian masing-masing.
Zerin menjadi orang yang keluar lebih dulu dari bilik toilet. Dia berjalan sambil memperbaiki celana legingnya. Hingga keberadaan Ernest dan Jaka belum Zerin sadari. Tetapi belum sempat melangkah jauh, Zidan menghentikan. Lelaki tersebut memeluk Zerin dari belakang.
Gelak tawa diperdengarkan Zerin. Dia memutar tubuhnya menghadap Zidan. Kemudian menerima ciuman bibir dari lelaki itu untuk yang kesekian kali.
Ernest dan Jaka tentu melihat semuanya. Mereka membulatkan mata bersama. Ernest menjadi orang yang paling marah saat menyaksikan kemesraan Zerin dan Zidan.
Ernest reflek membuang ponselnya ke lantai. "ZIDAAAAAN!!!" teriaknya dengan amarah yang membuncah hebat.
Zidan dan Zerin berhenti berciuman. Keduanya kaget melihat kehadiran Ernest dan Jaka. Akibat dimabuk cinta, mereka tidak bisa menyadari dengan cepat.
Belum sempat bicara, Ernest melayangkan bogem ke wajah Zidan. Hingga berhasil membuat Zidan terhuyung dan jatuh ke lantai.
"Teman bangsa-aat!!!" umpat Ernest. Dia lanjut memukuli Zidan. Membenamkan kepalan tinju berkali-kali ke wajah temannya tersebut.
Zidan tampak telentang takberdaya di lantai. Ia tidak melakukan apapun. Zidan seakan pasrah mendapat pukulan dari Ernest.
Di belakang, Jaka mencoba menghentikan tindakan Ernest. Namun dirinya justru malah dapat dorongan kasar dari Ernest.
__ADS_1
Sementara Zerin, dia juga berupaya menghentikan keributan yang terjadi. Perempuan itu mengerahkan seluruh tenaga untuk melerai perkelahian. Zerin melakukannya sambil memohon dan menangis. Bagaimana tidak? Wajah Zidan sudah dipenuhi banyak darah dan luka.