Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 32 - Ketahuan Ibu


__ADS_3

Rahasia memang bisa dijaga. Tetapi pasti ada orang-orang tertentu yang berhasil mengetahuinya sendiri - Auraliv.


...༻∅༺...


Kinar memecahkan tangis. Dia dan Zidan langsung menjadi pusat perhatian semua orang di restoran.


Zidan ingin menenangkan Kinar. Tetapi dia yakin gadis itu pasti akan bertingkah. Mengingat Kinar gadis yang terbilang manja.


"Maafkan aku, Kinar... Sebenarnya alasan utama aku tidak bisa berpacaran karena ayahku..." Zidan menundukkan kepala sambil menekan jidat dengan satu tangan. Dia berbicara dengan nada seperti ingin menangis.


Benar saja, apa yang dilakukan Zidan sukses membuat Kinar berhenti menangis. Gadis itu menatap nanar Zidan.


"Aku sama sekali tidak bermaksud mempermainkanmu. Tapi katanya ayahku ingin aku fokus kuliah dan mempelajari bisnisnya pelan-pelan." Zidan tentu sedang berbohong. Itu hanya akal-akalannya saja agar tidak dianggap sebagai lelaki kurang ajar. Baik menurut orang-orang yang sedang melihat, apalagi oleh Kinar.


"Zidan..." Kinar beralih duduk ke samping Zidan. Dia mengusap lembut pundak lelaki tersebut.


"Aku tidak masalah kita putus. Apa yang dikatakan ayahmu itu memang ada benarnya. Orang tuaku juga sering bilang begitu," tutur Kinar. Keadaan seakan berbalik. Kini gadis itu yang menenangkan Zidan.


"Terima kasih... Aku harap kau bisa menemui lelaki lebih baik dariku." Zidan mengangkat kepala. Lalu menatap lembut Kinar.


"Tapi jujur, kita masih bisa melakukannya secara diam-diam." Kinar masih berharap hubungannya dan Zidan dapat bertahan.


Zidan menggeleng lesu. "Aku tidak bisa melakukan itu. Karena hal begitu malah membuat fokusku semakin buruk. Maaf..." ungkapnya.


Kinar terpaksa tersenyum dan mengangguk. Jika keputusan Zidan sudah bulat. Maka dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


"Aku harap kau bisa sukses, Zidan. Kau lelaki yang baik. Aku juga berharap kita bisa berjodoh," ujar Kinar seraya menggenggam erat jari-jemari Zidan. Ia bersungguh-sungguh terhadap ucapannya.


Zidan tersenyum tipis. "Terima kasih. Kau juga gadis yang baik," sahutnya sambil menggenggam balik tangan Kinar.


Zidan memang sangat pandai membuat tipu daya. Dia memiliki sikap yang tidak jauh dari Zerin.

__ADS_1


Tidak terasa beberapa jam berlalu. Sekarang Zidan berada di gym bersama Enest dan Jaka. Mereka tengah sibuk berlari di treadmill bersama.


"Eh, aku dengar kabar kalau Zerin dan Kak Adi putus!" celetuk Ernest. Wajahnya terlihat lebih ceria.


"Kenapa mereka putus?" tanya Zidan. Berlagak tidak tahu.


"Katanya Kak Adi mau fokus sama masa koasnya," jawab Ernest. Senyumannya belum memudar.


"Agak aneh nggak sih? Padahal Kak Adi itu perjuangannya buat dekatin Zerin luar biasa. Terus dia putus hanya karena ingin fokus sama masa koas?" Jaka mencium adanya keanehan dalam hubungan Zerin dan Adi yang telah kandas.


Zidan reflek melirik Jaka. Meski tidak tertangkap basah, dia merasa terancam. Zidan tentu tidak mau keterlibatannya dengan Zerin diketahui oleh Ernest dan Jaka.


"Sudahlah, Ka! Ngapain mikirin masalah orang. Kita kan bisa ambil positifnya. Teman kita yang satu ini sudah nggak murung lagi," cetus Zidan. Mencoba menghilangkan seluruh kecurigaan Jaka.


"Dih! Emang Zerin mau sama dia?" canda Jaka yang langsung memakan pancingan Zidan. Keduanya tergelak bersama.


"Ya pasti maulah! Aku kan nggak kalah ganteng dari Zidan," balas Ernest. Dia akhirnya ikut terkekeh bersama dua temannya.


...***...


Zerin tidak sendiri. Ada sekitar tiga pembantu lain yang bekerja. Namun kebetulan tiga pembantu tersebut sedang melakukan tugas di tempat berbeda. Ada yang membersihkan kolam renang, menyapu halaman, dan mencuci pakaian.


Sesekali Zerin menoleh ke arah kamar Zidan. Berharap bisa melihat lelaki tersebut. Akan tetapi Zidan belum juga terlihat.


"Dia kemana? Ditelepon berkali-kali juga nggak diangkat," gerutu Zerin dengan kening yang mengernyit. Dia sebenarnya hanya ingin membicarakan perihal Kinar. Temannya itu memang belum memberi kabar apapun. Terutama terkait berakhirnya hubungannya dengan Zidan.


Zerin menghembuskan nafas berat dari mulut. Kemudian melanjutkan kegiatan.


Tak lama kemudian, Zidan muncul dari belakang dengan langkah pelan. Lelaki itu tersenyum miring.


Perlahan tangan Zidan melingkar ke pinggul Zerin. Hal tersebut sontak membuat Zerin kaget. Dia melepas pelukan Zidan dan menoleh ke belakang dengan mata yang terbelalak.

__ADS_1


"Gila ya!" hardik Zerin.


"Nggak apa-apalah. Lagian nggak ada orang juga di sini. CCTV di dapur ini juga kebetulan lagi eror. Jadi aman," pungkas Zidan santai.


Zerin memutar bola mata jengah. Ia memasang mimik wajah serius. "Aku ingin bicara mengenai hubunganmu dengan Kinar. Kau tidak mencintai--"


"Kami sudah putus!" ujar Zidan. Sengaja memotong perkataan Zerin. Perempuan itu tertegun. Dia tidak menyangka Zidan akan mengakhiri hubungannya dengan Kinar tanpa harus disuruh.


"Kinar gadis yang baik dan manja. Aku tidak tega mempermainkan gadis seperti itu," terang Zidan.


Zerin tersenyum remeh. "Oh... Jadi lelaki biadab sepertimu juga punya hati nurani. Aduh... kamu baik banget ya," sarkasnya seraya mengusap salah satu ujung bahu Zidan.


Zerin sengaja mengejek Zidan. Dia menunggu reaksi kesal lelaki tersebut. Akan tetapi Zidan hanya diam dengan tatapan yang belum pernah Zerin lihat sebelumnya.


Tatapan yang diberikan Zidan membuat Zerin memudarkan senyum ejekannya. Matanya mengerjap beberapa kali karena salah tingkah.


Untuk yang kesekian kalinya, Zidan mencium bibir Zerin tanpa aba-aba. Ia mendorong pinggul perempuan itu agar bisa lebih dekat.


Zerin membalas pagutan Zidan. Dia perlahan mengalungkan tangan ke leher lelaki tersebut. Lama-kelamaan ciuman yang mereka lakukan semakin menggebu.


Dari pintu belakang, Lia baru saja datang membawa belanjaan. Dia hendak meletakkan barang belanjaan ke dapur. Tetapi langkahnya harus terhenti saat melihat apa yang dilakukan Zerin dan Zidan.


Mata Lia membulat sempurna. Jantungnya juga berdebam keras. Sebab apa yang dilihatnya sangat sulit dipercaya. Terlebih Zerin dan Zidan tampak terus berciuman. Parahnya aktifitas mereka berlangsung semakin intim.


Lia membekap mulutnya sendiri. Seluruh belanjan terjatuh ke lantai. Hingga kakinya perlahan melangkah mundur. Namun yang ada Lia justru tidak sengaja menabrak meja. Ulahnya membuat tumpukan sendok bergemerincing. Menimbulkan bunyi yang membuat Zidan dan Zerin langsung menoleh ke arah Lia.


"Ibu!" Zerin kaget bukan kepalang ketika melihat Lia. Jantungnya serasa hampir copot. Dia dan Zidan benar-benar tertangkap basah.


Hal serupa juga dirasakan Zidan. Matanya membuncah hebat. Dia dan Zerin sama-sama mematung di tempat.


Lia tidak tahu harus bagaimana. Dia bingung harus memarahi Zidan atau Zerin. Karena keduanya terlihat saling menerima ciuman yang terjadi tadi. Alhasil Lia memilih pergi saja. Ia bergegas mengambil tas. Saat itulah Zerin mendekat.

__ADS_1


"Bu, aku akan jelaskan..." kata Zerin dengan air mata yang sudah berucuran.


"Kita akan bicarakan nanti. Ibu ada keperluan sebentar. Kau tetap di sini dan selesaikan pekerjaanku!" Lia berucap tanpa menoleh sedikit pun ke arah Zerin. Matanya juga tampak berkaca-kaca. Lia berupaya keras menahan tangis.


__ADS_2