
Seseorang akan merasa kehilangan ketika terus diabaikan - Auraliv.
...༻∅༺...
Ernest dan Jaka mencari Zidan. Keduanya bingung kemana perginya lelaki itu. Alhasil mereka memilih untuk mengunjungi kantin saja.
Kinar, Astrid, dan Gita kebetulan juga berada di kantin. Mereka yang sudah cukup akrab dengan Ernest dan Jaka, segera memanggil dua lelaki tersebut untuk bergabung.
"Zidan mana?" tanya Kinar seraya celingak-celingukan ke segala arah. Berusaha menemukan lelaki yang dicarinya.
"Dia galau gara-gara kau, Nar!" tukas Jaka yakin. Dia dan Ernest menyimpulkan kalau kekalutan yang dialami Zidan sekarang itu karena Kinar. Padahal kenyataannya tidak.
"Benarkah?" Kinar percaya begitu saja. Dia sontak merasa cemas.
"Iya, aku juga sudah bilang sama Kinar kalau tingkah Zidan agak beda semenjak putus. Aku bisa melihatnya di gym tadi malam." Astrid sependapat dengan Jaka.
"Emang kalian putus karena apa sih?" tanya Jaka.
"Zidan mau fokus sama kuliah katanya." Lagi-lagi Astrid angkat suara untuk mewakili Kinar.
"Terus aku harus gimana dong?" ujar Kinar yang mendadak mengkhawatirkan Zidan.
"Pacaran diam-diam aja gimana? Kalian--"
"Eh, Zerin mana?" ucapan Jaka terhenti karena dipotong oleh Ernest. Lelaki tersebut sejak tadi menanti kedatangan Zerin.
"Dia dipanggil sama Dekan. Maklum, artisnya kampus sering dapat panggilan kan?" tanggap Gita yang langsung direspon dengan anggukan oleh Ernest.
"Zidan katanya nggak bisa pacaran diam-diam. Menurutnya itu malah semakin mengganggu." Kinar meneruskan pembicaraan tentang Zidan.
"Iya juga sih. Yang namanya backstreet memang sangat mengganggu," sahut Jaka. "Mungkin lebih baik kalian berteman saja dulu. Kalau jodoh kan nggak akan kemana," sambungnya.
__ADS_1
Kinar lantas tersenyum. Dia dan yang lain segera menikmati makan siang.
Di sisi lain, dua orang yang sedang dicari-cari temannya justru asyik bercumbu. Zidan sekarang mende-sah pelan. Dia memejamkan mata sambil sesekali melihat ke bawah. Tepat ke arah dimana Zerin sedang memuaskan hasratnya.
Selang sekian menit, tibalah Zidan mencapai puncak kenikmatan. Zerin bergegas berdiri dan menjauh. Menghindari semprotan cairan tubuh yang mungkin akan mengenai wajahnya.
Zerin sigap mengusap kasar mulutnya. Dia mencoba mengontrol nafas sambil memasukkan kancing kemeja.
Merasa keenakan, Zidan menyandarkan diri ke dinding. Dia memejamkan mata sembari menutup resleting celana.
Zerin menoleh. "Zidan, kenapa kau tidak cari gadis lain saja. Jujur! Aku tidak mau terus-terusan terikat denganmu!" tukasnya.
"Entahlah. Menyenangkan bisa bermain denganmu. Mungkin itu alasannya," jawab Zidan. Bicara dengan mata sayu.
Zerin menarik nafas dalam-dalam. Lalu mengeluarkannya dari mulut. Dia melangkah ke hadapan Zidan. Dua tangannya mencengkeram kerah baju lelaki itu.
"Dengar! Setelah mendapat uang banyak darimu, aku sudah berhenti menjadi sugar baby! Kau tahu kenapa? Karena aku ingin hidup normal seperti orang lain! Tapi kau selalu saja membuatku harus melakukannya di setiap waktu!" geram Zerin dengan dahi yang berkerut dalam.
"Lalu apa?! Apakah tidak boleh?! Aku berhak memiliki kehidupan yang normal bukan?!" perdebatan Zerin dan Zidan berlanjut.
"Tidak! Tidak ada yang normal di dunia ini!"
"Kau yang tidak normal! Apa kau tidak berkaca?!"
Zidan memutar bola mata malas. Dia melepas paksa cengkeraman Zerin dari kerah bajunya. "Jika nanti rahasiamu diketahui oleh Ernest, jangan harap aku akan membantu lagi! Jadi sebaiknya kau jauhi dia saja! Kau fokus saja dengan hutang yang harus kau bayar kepadaku!" tegasnya. Tanpa sadar memberikan aturan untuk Zerin.
"Lakukan saja apa yang kau mau! Aku juga akan melakukan apa yang kumau! Termasuk dekat dengan Ernest. Aku harap minggu ini hubungan gila kita bisa berakhir! Aku tidak bisa menjalani hal begini terus-terusan. Apalagi tanpa hubungan yang jelas!" Zerin menyalangkan mata. Dia menjadi orang yang beranjak lebih dulu. Meninggalkan Zidan sendirian.
Zerin melarikan diri ke toilet. Kini dia tengah berdiri di depan cermin. Menatap pantulan dirinya sambil memikirkan pembicaraannya dengan Zidan tadi.
"Sial! Sia-sia aku berpura-pura sedang datang bulan. Tapi kenapa aku menyinggung perihal hubunganku dengan Zidan? Arrghh... Apa yang kupikirkan. Aku seperti memberi kode saja pada lelaki biadab itu," gumam Zerin seraya memiringkan kepala.
__ADS_1
Zerin menggeleng tegas. Dia segera mencuci tangan dan berkumur dengan air bersih. Kemudian segera menemui ketiga temannya di kantin. Sekarang mereka sudah berada di kelas untuk menunggu kedatangan dosen.
Kabar mengenai Zidan yang katanya galau karena Kinar, sampai ke telinga Zerin. Perempuan itu mengerutkan dahi. Karena setahunya Zidan hanya bermain-main dengan Kinar.
"Galau? Emang sikap Zidan aneh bagaimana?" tanya Zerin penasaran.
"Kata Jaka dia sering cemberut gitu. Kemarin malam kau juga bisa lihat pas di gym kan? Zidan mengangkat barbel seberat 70 kg! Aku rasa begitulah cara dia menghilangkan kegalauan," jelas Astrid. "Semuanya gara-gara gadis ini nih!" candanya yang sekarang bicara dengan Kinar. Mencubit pipi temannya tersebut dengan kekuatan lemah.
"Ish! Jangan bikin aku merasa bersalah dong," tanggap Kinar. Sejak mendengar cerita Jaka, dia jadi merasa tidak enak dengan Zidan. Kinar berharap lelaki itu baik-baik saja.
Zerin mendengus kasar. Dia merasa setengah percaya dengan kabar yang dikatakan teman-temannya. Tetapi Zerin berniat tidak akan memikirkannya berlarut-larut.
...***...
Dua hari terlewat. Zerin dan Ernest semakin dekat. Zerin mulai merasa nyaman bicara dengan lelaki tersebut. Meskipun begitu, hubungan mereka belum sampai ke ranah pacaran.
Zerin butuh waktu lama untuk mengenal Ernest. Dia tidak mau salah langkah seperti saat membangun hubungan dengan Adi dulu. Setidaknya Zerin bisa mengetahui seluk-beluk keluarga Ernest. Berharap tidak ada orang yang mengenalnya sebagai sugar baby.
Selama dua hari lebih Zerin mengabaikan pesan dan telepon dari Zidan. Ia juga berusaha keras untuk menghindar. Zerin bahkan tidak lagi datang ke rumah keluarga Dirgantara. Dengan alasan tugas kuliah yang menumpuk.
Zidan tentu sangat kesal terhadap semua pengabaian Zerin. Ketika dia hendak mengajak Zerin bicara di kampus, perempuan itu selalu saja menggunakan kedekatannya dengan Ernest untuk menghindar.
"Sial!" Zerin melemparkan tas ke ranjang. Dia sangat kesal karena Zerin semakin mengabaikannya. Dirinya merasa seperti sampah yang dibuang begitu saja.
"Apa dia tidak berterima kasih sama sekali kepadaku?" keluh Zidan. Hingga terlintas dalam pikirannya untuk menemui Zerin ke rumah.
Tanpa pikir panjang, Zidan bergegas mendatangi rumah Zerin. Dia tiba saat waktu menunjukkan jam tujuh malam.
Sayangnya Zerin tidak ada di rumah. Hanya ada Lia yang menyambut kedatangan Zidan. Kebetulan juga Amira belum pulang dari kegiatan les.
Zidan sebenarnya tahu kalau Lia akan ada di rumah. Makanya dia membawakan buah tangan berupa martabak dan kue putu. Zidan terpaksa duduk sebentar untuk mengobrol bersama Lia.
__ADS_1
Ketika menunggu Lia membuat minuman, Zidan memeriksa ponsel. Ia berhasil melihat unggahan foto terbaru Zerin. Hatinya sangat hancur saat mengetahui perempuan itu tengah pergi dengan Ernest berduaan. Di foto terbaru tersebut Zerin juga terlihat menggandeng mesra Ernest. Saat itulah Zidan sadar kalau perasaannya untuk Zerin adalah nyata. Dia jelas sudah jatuh cinta!