Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 51 - Amira Menghilang


__ADS_3

Karma akan datang dalam berbagai cara. Mungkin saja musibah yang menimpamu adalah salah satunya - Auraliv.


...༻∅༺...


Zerin tidur dengan perasaan bahagia. Dia tidak berhenti senyum-senyum sendiri sambil mengingat segala hal tentang Zidan.


Kebahagiaan Zerin terhenti ketika melirik ke ranjang Amira. Tidak seperti biasanya ranjang itu kosong. Posisi ranjang Amira sendiri berada di samping kanan Zerin. Berhimpitan dengan tembok.


Zerin merubah posisi menjadi duduk. Dahinya berkerut dalam. Dia jadi khawatir dengan Amira. Takut kalau sesuatu yang buruk menimpa sang adik.


Tanpa berpikir lama, Zerin menghubungi Amira melalui ponsel. Tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Nomor Amira diberitahukan sedang sibuk oleh operator seluler.


Pintu kamar dibuka Zerin dengan pelan. Di luar dia bisa melihat Lia duduk di sofa. Ibunya tersebut sepertinya juga mencemaskan Amira.


Lia terlihat sangat mengantuk. Namun dia memaksakan diri untuk terjaga demi menunggu putri bungsunya.


"Amira belum pulang, Bu?" tanya Zerin.


"Belum, Rin. Ini sudah jam sebelas lewat loh. Nggak biasanya dia begini," sahut Lia yang nampak gelisah.


Zerin sudah menghubungi Amira berkali-kali. Tetapi masih tidak ada jawaban dari sang adik.


"Aku coba cari ke rumah Nadira ya, Bu. Mungkin dia tahu." Zerin beranjak setelah mendapat izin dari Lia. Dia pergi mendatangi rumah temannya Amira yang berada tidak jauh.


Setibanya di rumah Nadira, Zerin juga tidak menemukan Amira. Nadira bahkan tidak ada mendapat kabar dari Amira. Ia jadi ikut-ikutan panik.


"Maaf mengganggu ya, Nad. Aku pergi dulu," ujar Zerin seraya berjalan melewati pagar.


"Kalau ada apa-apa kasih tahu aku ya, Kak!" kata Nadira yang langsung direspon Zerin dengan anggukan


Zerin semakin gelisah. Dia tidak tahu harus mencari Amira kemana. Sekarang Zerin dapat merasakan bagaimana gelisahnya Amira ketika dirinya tidak pulang ke rumah.


"Aku sedang dapat karma. Tapi aku berharap Amira baik-baik saja," gumam Zerin penuh harap.


Saat hendak masuk ke rumah, Zerin mendapatkan telepon dari Anika. Mucikari yang sudah membantunya saat menjadi sugar baby.


Mimik wajah Zerin seketika cemberut. Jujur saja, semenjak dia berhenti menjadi sugar baby, Anika terus menghubungi. Wanita itu terus memohon agar Zerin kembali bekerja bersamanya. Meskipun begitu, Anika tidak pernah memberikan paksaan. Namun permohonannya begitu mengganggu.

__ADS_1


"Bukankah aku sudah bilang? Aku sudah berhenti!" tegas Zerin. Dia berjalan menjauh dari rumah sebentar. Takut Lia akan mendengar pembicaraannya.


"Aku meneleponmu bukan untuk memohon. Tapi ingin memberitahu kalau adikmu sedang membuat ulah! Dia sejak tadi tidak mau keluar dari kamar mandi!" sahut Anika dari seberang telepon.


Deg!


Jantung Zerin bak disambar petir. Bagaimana bisa Anika tahu dengan Amira? Kesimpulannya hanya satu, adiknya itu pasti sudah dijebak.


"Tunggu! Kau bilang adikku? Maksudmu Amira sedang bersamamu?!" Zerin memastikan.


"Iya, dia harusnya melayani Erik malam ini. Tapi dia mengamuk dan mengurung diri di kamar mandi! Petugas hotel jadi protes kepadaku karena ulahnya."


"Beritahu aku dimana hotel dan kamarnya! Aku akan segera ke sana!" Zerin berlari keluar gang. Dia menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Karena tergesak-gesak, Zerin tidak sempat berganti pakaian. Perempuan itu hanya mengenakan kaos yang dibalut jaket berwarna maroon, serta celana jeans selutut. Zerin bahkan tampak mengenakan sendal jepit.


Sesampainya di hotel. Zerin langsung mencari kamar dimana Amira berada. Di sana terlihat ada Anika dan dua pelayan hotel yang kebingungan. Sepertinya mereka sudah berusaha maksimal membujuk Amira keluar. Tetapi tidak ada satu pun yang berhasil.


"Apa yang sudah kau lakukan kepada adikku?!" Zerin langsung menimpali Anika.


"Hei! Adikmu sendiri yang menghubungiku! Aku kira dia ingin menggantikanmu!" balas Anika.


"Aarrghhh!!!" Zerin menggeram kesal. Dia segera mengurus Amira.


"Maafkan aku, Mir... Aku akan ceritakan semuanya kepadamu... Hiks..." rengek Zerin.


"Kak Zerin tega! Kakak sudah bohongin aku sama Ibu! Inikah yang Kak Zerin lakukan selama ini?!" timpal Amira dari kamar mandi.


"Aku terpaksa, Mir. Aku tidak bisa terus mengharapkan uang Ibu untuk biaya kuliah. Kau tidak tahu betapa mahalnya berkuliah di jurusan kedokteran..." ucap Zerin. Dia menyandarkan jidat ke pintu. Berharap Amira sudi membuka pintu. "Maafkan aku... Tapi aku bersumpah, aku sudah tidak lagi melakukan pekerjaan ini..." ungkapnya sambil terisak.


Pintu akhirnya dibuka oleh Amira. Semua orang mendengus lega. Terutama untuk pelayan hotel. Sebab pelanggan berikutnya sudah menunggu untuk menempati kamar.


Amira tampak berantakan. Dia mengenakan dress selutut dengan tali spageti. Rambut panjangnya terurai. Amira juga tidak memakai kacamatanya.


Zerin menghamburkan pelukan kepada Amira. Keduanya sama-sama menangis.


"Aku tahu Kak Zerin sudah berhenti. Tapi aku tetap merasa sakit hati, Kak..." ungkap Amira.


"Maafkan, aku..." hanya kata maaf yang bisa dilantunkan Zerin. Dia benar-benar menyesal.

__ADS_1


"Maaf, bisakah kalian saling menangis di luar saja. Tamu hotel kami harus segera menempati kamar ini," cetus pelayan hotel. Zerin dan Amira lantas berjalan keluar kamar. Mereka duduk di depan gedung hotel. Di sana terdapat taman kecil dengan bangku panjang.


"Mir, kau tidak sempat dipaksa melakukannya kan?" Zerin memegang lembut pundak Amira.


"Tidak. Aku melakukan perlawanan, Kak. Karena Kak Zerin terus memaksaku ikut karate, aku sekarang benar-benar bisa menggunakannya untuk melindungi diri." Amira mendengus kasar. Dia terus mengerjapkan mata berulang kali. Softlens di matanya terasa mengganggu.


"Mana kacamatamu?" tanya Zerin


"Ada di dalam tas," jawab Amira.


"Aku akan lepaskan softlens dari matamu." Zerin menyuruh Amira menghadap ke arahnya. Dia perlahan melepas softlens di mata Amira satu per satu.


"Bagaimana Kakak bisa menghadapi lelaki seperti Erik? Aku yakin Kakak tidak hanya pernah menghadapi satu orang." Amira menuntut jawaban.


"Memang ada banyak. Tapi yang terpenting aku sudah tidak melakukannya lagi sekarang," tanggap Zerin seraya memasangkan kacamata untuk Amira.


"Kenapa Kak Zerin nekat melakukan pekerjaan seperti ini?" Air mata Amira kembali berderai. Mengetahui betapa buruknya apa yang dikerjakan sang kakak, dia merasa sedih.


"Sudah Kakak bilang ini semua demi biaya pendidikan, Mir... Ibu nggak tahu kalau ada banyak biaya yang harus dibayar. Aku nggak mau merepotkan Ibu..." Zerin ikut menangis. Dia segera mendapat pelukan dari Amira.


"Aku kira Kak Zerin itu sempurna! Kakak nggak tahu kalau selama ini aku menjadikanmu panutanku... Aku selalu bermimpi bisa menjadi pintar seperti Kakak! Dan juga bisa secantik Kakak.." isak Amira dalam pelukan Zerin.


"Maafkan Kakak, Mir. Aku nggak bisa memberimu contoh yang baik. Aku berharap kau lebih baik dariku..." Zerin melepas pelukannya. Lalu memegangi wajah Amira. "Percayalah... Kau lebih cantik dariku, Mir. Baik dari dalam atau pun di luar," sambungnya tulus.


"Bohong! Aku jerawatan gini dibilang cantik. Kulit aku juga item," keluh Amira. Menampik pernyataan sang Kakak.


Zerin tersenyum dan membalas, "Kau hanya kurang melakukan perawatan. Mulai sekarang, kamu harus ikut Kakak ke salon. Aku akan tunjukan ke dunia bagaimana cantiknya adikku ini."


Ucapan Zerin berhasil membuat Amira tersenyum. Keduanya segera melenggang bersama sambil berpegangan tangan.


"Apa Kak Zidan tahu pekerjaan Kakak itu?" tanya Amira penasaran.


"Iya. Dia orang pertama yang tahu." Zerin mengangguk. Ia memutuskan untuk jujur saja.


"Dan dia tidak masalah sama sekali?" Amira merasa tidak percaya.


"Tidak. Karena itulah aku berhenti melakukan pekerjaan itu. Semuanya karena Zidan." Zerin melirik Amira. "Apa kau benar-benar jatuh cinta kepadanya?" tanya-nya.

__ADS_1


"Tidak! Aku hanya sebatas kagum." Amira langsung menggeleng. "Mungkin sakit hatiku kepadamu hanya karena iri. Dan bukan karena Kak Zidan," tambahnya.


__ADS_2