
Aku terkagum-kagum melihat desain kamar pengantin yang disiapkan untuk kami. Tempat tidur yang dihias sedemikian rupa dengan berbagai macam hiasan dan bunga berwarna-warni, membuat senyum mengembang. Dinding-dindingnya ditempeli kain warna putih yang biasa dipakai di panggung pengantin, serta beberapa bunga hias yang menambah kesan indahnya. Di atas nakas samping tempat tidur, ada sebuket bunga mawar asli yang terpajang dengan rapi dalam pot kecil.
Aku beranjak mendekati tempat tidur. Lalu duduk di sisi ranjang sambil membaui bunga mawar itu. Aku suka baunya, harum.
“Mandi dulu sana. Tidak gerah?”
Aku menoleh ke arah Mas Farhan yang baru memasuki kamar kami. Dia membuka jasnya, lalu meletakkan jas itu di sofa, menyisakan kemeja putih polos yang masih membalut tubuhnya. Aku menyunggingkan senyum manis mendapat perhatian tersebut. Beginilah aku, mudah baper dengan perhatian-perhatian kecil seperti itu.
Kulihat Mas Farhan kemudian menyingsing lengan kemejanya hingga ke siku. Hal itu membuatku tercenung sebentar menatapnya. Lelaki yang kini sah menjadi suamiku itu terbilang tidak begitu tampan. Namun untukku, dia mempunyai daya pikat tersendiri yang berbeda dengan kedua kakakku. Alis tebal serta lesung yang muncul di pipinya kala tersenyum, itulah yang menjadi pembeda antara dia dengan Mas Reza maupun Mas Gibran. Sehingga harus aku akui, aku mulai jatuh cinta kepadanya. Ya, jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Hei, kok, malah bengong?” tegurnya. Aku gelagapan. Buru-buru aku menundukkan pandangan, lalu beranjak dari sudut tempat tidur untuk mengambil pakaian ganti di koper.
Ya, sehabis acara resepsi tadi aku dan Mas Farhan langsung berangkat ke kediaman baru kami. Keterlaluan, sih, menurutku. Padahal aku masih ingin bercengkerama dengan keluarga, Mas Farhan malah mengatasnamakan pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan di sini. Beruntungnya jarak perjalanan antara rumahku dengan rumahnya tidak terlalu jauh. Hanya menghabiskan sekitar satu jam, itu kalau tidak macet.
Setelah mengambil peralatan mandi di koper itu, aku meletakkannya di sudut tempat tidur terlebih dahulu. Aku berniat membuka kerudung karena merasa gerah.
“Jangan!” Aku tersentak kaget mendengar teriakan Mas Farhan saat kerudung di kepala hampir lepas. Aku menoleh dengan tatapan bertanya-tanya ke arah Mas Farhan. Keningku mengernyit bingung melihat raut wajahnya yang datar.
“Kenapa, Mas?” tanyaku pelan. Aku juga sudah membenarkan posisi kerudungku seperti semula. Mas Farhan terdiam cukup lama, membuatku mulai berspekulasi macam-macam. Apa yang sedang dia pikirkan?
Mas Farhan berdeham kecil sebelum menjawab. “Jangan buka kerudung selama masih ada saya di kamar ini,” katanya.
Mataku membeliak, tidak menyangka kalimat itu keluar dari bibir suamiku sendiri. Lalu tadi, apa? Saya? Kenapa penyebutan itu terasa asing di telingaku? Kalimat itu seperti menyiratkan gap--jarak--di antara kami.
Aku terdiam cukup lama di hadapannya, sambil kutatap lekat wajahnya yang masih terlihat datar.
__ADS_1
"Kenapa malah bengong lagi, Najwa? Ayo mandi. Ini sudah malam, hampir jam delapan. Nanti airnya keburu makin dingin."
Mengabaikan pemikiran aneh yang mulai berkelebat dalam kepala, aku mengangguki kalimat Mas Farhan tanpa mengucapkan apa-apa. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Kepala juga terasa pusing, mungkin dengan mandi aku akan kembali segar.
...***...
Begitu keluar dari kamar mandi, kudapati Mas Farhan sudah berbaring dengan baju santai di atas tempat tidur. Matanya pun sudah terpejam.
Aku menghela napas terlebih dahulu sebelum beranjak menuju tempat tidur. Entah mengapa, seperti ada rasa yang berbeda dengan diriku kali ini. Dengan pelan kulangkahkan kaki mendekati ranjang. Kuedarkan pandangan ke seluruh sisi kamar.
Oh, Tuhan kenapa aku malah risi berada di kamar ini?
Nuansa kamar pengantin ini terasa sirna akibat sikap dingin yang ditunjukkan oleh suamiku tadi. Tidak ada nyawa kenyamanan yang kurasa. Malah, ketakutan-ketakutan yang memenuhi otak sebelum pernikahan ini dilaksanakan, seakan-akan terealisasi mulai hari ini.
Ah, benarkah ketakutan itu akan terealisasi? Tuhan, jika benar begitu, sanggupkah aku menjalaninya? Ketakutan itu perlahan menggerogoti kewarasanku, hingga aku seperti tidak bisa berpikir positif.
Menghela napas lelah sebentar, aku lantas menaiki tempat tidur, memosisikan diri di samping Mas Farhan. Namun, belum sempat kepala menyentuh bantal, aku dibuat terkejut karena Mas Farhan tiba-tiba terduduk. Kutegakkan tubuh dengan mata membulat melihatnya. Debaran jantung pun berpacu lebih cepat dari biasanya, saking syok, bak orang baru bertemu hantu. Keberanian untuk bertanya pun ciut karena tatapan matanya yang memerah dan terlihat gelap, ada amarah di sana. Aku menggigit bibir dalam tundukan kepala karena takut.
“Mau apa?” tanyanya dengan suara serak.
“Mau tidur, Mas,” jawabku pelan.
“Kenapa di sini?” Aku mendongak, menatap Mas Farhan seraya menautkan alis mendengar pertanyaan itu.Tatapan matanya yang tajam masih menyorot netraku. Membuatku sedikit merinding. Apa maksudnya? Belum sempat menjawab, Mas Farhan melanjutkan ucapannya. “Terus, bukannya tadi saya sudah bilang, pakai kerudung kamu selama masih satu kamar dengan saya?”
Aku menggeleng pelan, tidak percaya melihat sikap dingin lelaki yang sekarang menyandang status suamiku ini.
__ADS_1
Di mana sosok lelaki lembut penuh perhatian barusan? Di mana sosok ramah yang selama perjalanan tadi begitu membuatku tersanjung? Di mana sosok lelaki yang berkata mau menerimaku apa adanya di depan Ayah pascaakad tadi? Di mana sosok suami yang berjanji akan menjagaku sebagai adik dari Mas Gibran dan Mas Reza, dan berjanji membuatku bahagia di hadapan kedua adikku--Weny dan Rifka--tadi? Di mana? Di mana dia sekarang? Tuhan, Engkau ke manakan suami hamba yang tadi? Ini bukan Mas Farhan yang pertama kali kukenal.
Meski pertanyaan ini mulai berkecamuk dalam hati, menciptakan nyeri di sana, hingga mendorong air mata untuk jatuh, aku mencoba mengontrol emosi.
“Sekarang kita udah sah, ‘kan, Mas? Kenapa harus ada privasi?” tanyaku dengan suara yang diusahakan setenang mungkin. Tidak mungkin, ‘kan, aku bertengkar dengan suamiku, bahkan di malam pertama kami?
“Pertama dan terakhir, saya ingatkan sama kamu. Meskipun kita sudah terikat bukan berarti kamu bisa seenaknya masuk ke dalam hidup saya. Ikuti aturan main saya jika kamu masih berharap status KTP-mu tidak berubah menjadi janda dalam sesaat.”
Tubuhku bergetar mendengar kalimat itu. Mataku memanas. Bulir-bulir air mata yang sejak tadi menggumpal di pelupuk mata, mulai berjatuhan setitik demi setitik. Pundak pun perlahan bergerak, naik turun, karena tangis yang terus menjadi-jadi. Dada juga terasa sesak seketika, bak ditimbun besi berton-ton hingga membuat kesulitan bernapas. Kupegang erat-erat dada yang terus berdenyut nyeri karena luka tidak berdarah ini.
Apa ini? Kenapa awal pernikahanku menyakitkan seperti ini? Asa yang semula terpupuk dalam benak seolah-olah lebur, tidak tersisa sekarang.
Ingatanku perlahan memutar memori beberapa jam yang lalu saat aku masih bersama dengan keluargaku, di rumah Ayah.
“Saya terima nikah dan kawinnya Najwa Azzahra binti Ahmad Sya’roni dengan mas kawin tersebut, tunai.”
...***...
As-salamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Perkenalkan, aku author baru di sini. Mohon dukungannya, ya, Teman-teman. Like, vote, komentar. Share untuk rekomendasi bacaan, boleh.
Semoga apa yang kutulis ini bisa dipetik manfaatnya, dan dapat menghibur kalian. Semoga suka dengan ceritanya.
Salam manis dari orang manis. Haha.
Khairotin Najmah.
__ADS_1
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Jumat, 11 Mei 2021