
"Kenapa ngumpetnya malah di belakang Ayah, sih, Yang. Mas cemburu ini, lo." Bukan air mata bahagia yang tiba-tiba merebak di sudut mata mendengar kalimat itu. Emosi yang meluap di balik dada ini bukan karena gembira akan ucapan manis suamiku. Namun, sebaliknya.
Kenapa rasanya begitu menyakitkan? Pada saat seharusnya aku tersenyum malu-malu, bahkan menangis haru, aku malah menangis karena sedih. Kenapa sulit sekali untuk sekadar menerimanya meski sebatas akting belaka demi pria yang sedang kupeluk ini? Ya Allah, Mas. Mau sampai kapan kamu menyiksaku begini?
Makin kubenamkan wajah di sana, dua tanganku juga sudah melilit leher Ayah. Mencoba menahan lesakan emosi yang mendorong untuk kembali menangis. Bagaimanapun, meski sulit, perasaan Ayah harus benar-benar aku jaga.
"Tuh, Wa. Suamimu cemburu. Kok malah makin meluk Ayah, sih?" Walaupun Ayah berkelakar, tetapi aku tidak bisa tersenyum. Hati yang sudah telanjur sakit, membuatku enggan mengangkat kepala. Aku benar-benar tidak ingin melihat wajah Mas Farhan kali ini.
Ingin rasanya aku segera pergi dari sini. Tapi, bagaimana caranya?
"Sayang, maaf deh soal yang tadi. Mas sama Ayah 'kan cuma bercanda."
Dada tiba-tiba sesak sesaat setelah Mas Farhan bersuara. Ya Tuhan, aku tidak kuat. Aku harus segera meluapkannya. Aku tidak bisa terus-terusan menjebak diri dalam kesakitan seperti ini.
Perlahan, kuangkat kepala dengan masih menyembunyikan wajah di balik kerudung. Hal itu kumanfaatkan untuk menyamarkan air mata yang sempat merebak tadi. Baru setelah merasa cukup tenang, aku membuka penutup wajahku.
Kutatap sebentar wajah Mas Farhan. "Najwa tahu kok, Mas. Enggak usah khawatir."
"Beneran?"
Rasanya dadaku mau meledak. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Mas Farhan bak bom waktu yang siap meluluhlantakkan aku dalam sesaat.
Aku terdiam dalam beberapa waktu, kemudian mengangguk kecil meski ragu-ragu.
"Em, Najwa pamit ke toilet sebentar, ya, Yah, Mas?"
Segera, aku bangkit dari sisi Ayah, bersiap meninggalkan kamar itu. Bahkan tanpa menunggu jawaban keduanya, aku langsung melangkah. Aku sudah tidak tahan dengan sesak dan nyeri di dada. Ini sepertinya lebih parah daripada orang terkena asma.
"Ini bukan untuk menghindari kami, 'kan?"
Suara Mas Farhan menginterupsi. Kutarik napas dalam-dalam, kemudian menoleh ke arah mereka dengan tatapan kesal.
Niat banget ya mereka buat usilin aku?
"Enggak, Mas. Najwa kebelet ini."
Kebelet menumpahkan semua emosi dalam dada.
"Ya sudah sana. Keburu buang air di sini, bisa bahaya."
Masih sempat-sempatnya melawak, Yah?
Mengabaikan kalimat itu, cepat kulangkahkan kaki menuju pintu.
"Oh, iya, Wa."
Lagi, Yah?
Padahal sebelah kaki sudah ada di luar kamar, lo. Dengan kesabaran yang terus kutekankan dalam hati, aku kembali menoleh.
"Balik ke sini, bawakan minum untuk suamimu, ya."
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, aku meletakkan sebelah tangan di dekat dahi bak anak sekolahan sedang hormat pada bendera Merah Putih. Lalu, buru-buru kubawa langkahku keluar dari kamar Ayah. Aku tidak sanggup menahannya lebih lama lagi. Aku berlari cukup kencang menuju kamar mandi. Tidak begitu jauh dari kamar Ayah, sih. Hanya melintasi ruang tamu yang cukup lebar, kemudian kamar Mas Reza, dan dapur.
Begitu tiba di sana, kuputar keran air cukup kencang, kemudian duduk di salah satu sudut kamar mandi seraya bersandar ke dinding. Persetan dengan bajuku yang basah. Sesak di dada menuntut untuk meluapkan emosi dengan tangis. Kubiarkan buliran-buliran cairan bening itu mengucur dengan deras dari kelopakku. Hanya dengan ini aku bisa melepaskan beban yang terasa terus mengimpit dada. Saat reka ulang kejadian yang baru saja kualami kembali terputar di memori, tangis itu makin pecah. Perasaan kesal, marah dan sedih yang bercampur menjadi satu membuat tubuh bergetar hebat.
"Kamu jahat ... Mas." Luapan emosi negatif itu kian melesak terus menghadirkan nyeri di dada. Napas terasa sesak. Kutadahkan wajah yang masih basah oleh air mata untuk mencoba bernapas dengan mulut. Kedua tangan ini sudah bergerak memukul-mukul dada saking sakitnya.
Najwa masih sama, Yah. Najwa masih suka memendam apa-apa sendiri itu juga demi Ayah.
Tangisku makin menjadi-jadi.
Ya Tuhan, kuatkan hamba.
"Najwa?"
Seketika, aku tersentak mendengar panggilan dari luar kamar mandi. Suara gahar itu ... Ya Allah, itu suara Mas Reza. Sontak, aku bangkit dari dudukku dengan perasaan panik. Jangan sampai dia curiga. Segera kubasuh wajah untuk menyamarkan raut sembap di sana. Begitu sadar keadaan baju yang sebagian besar basah kuyup dan kotor, terlebih tidak suci ... duh, aku lupa tidak membawa pakaian ganti.
Ceroboh sekali aku, ya? Eh, tapi tadi niat buat ngelepas beban saja, 'kan? Hm, bagaimana ini? Ya kali aku keluar dengan baju basah? Tapi, aku minta tolong siapa? Masa Mas Reza?
"Dek? Kamu di dalam?"
Aku menggeragap sebentar. Hingga Mas Reza mengulangi pertanyaannya, baru aku menjawab, "I-iya, Mas."
"Buruan dong. Mas mau ganti ini."
Aku harus apa? Daripada keluar dengan baju basah, sementara kamarku berada agak jauh dari kamar mandi, pasti akan mengotori rumah, baiklah.
"Mas, bisa minta tolong bentar enggak?"
Aku meringis pelan mendengar jawabannya.
"Ambilkan aku baju ganti, bisa? Aku enggak sengaja kebasahan ini, Mas."
"Hadeh, adikku yang satu ini. Untung masmu baik. Bentar."
Aku menghela napas lega seraya bersandar pada dinding lagi. Untung Mas Reza tidak banyak tanya.
...***...
"Kenapa bisa basah bajunya?"
Aku mengernyit begitu membuka pintu kamar, Mas Farhan tiba-tiba bertanya begitu.
Kenapa bisa tahu?
Seolah-olah paham dengan kebingunganku, Mas Farhan berkata, "Mas Reza tadi ke sini, bilang minta baju ganti kamu. Saya yang ambilkan."
Bola mataku membeliak. Serius? Mas Reza, ih. Kenapa malah minta bantuan Mas Farhan, sih? Eh, tapi ... dia bilang ke kamar tadi, 'kan? Berarti Mas Reza datang pas dia sudah ada di kamar dong?
"Oh, makasih, Mas."
"Begitu saja?"
__ADS_1
Keningku makin berkerut. Suamiku ini misterius sekali, Ya Tuhan. Apa coba yang ada di pikirannya? Aku cerewet, salah. Jawab seadanya pun salah. Maunya apa?
"Kamu belum jawab pertanyaan saya. Kenapa bisa basah bajunya?"
"Penting, ya, Mas?" Karena yang kutahu, sesuai pengalaman yang sudah-sudah dia tidak akan bertanya, jika hal itu tidak penting. Jangankan bertanya, aku saja yang bertanya kadang tidak mendapat jawaban. Ini bahkan masalah sepele menurutku. Hanya karena Mas Reza minta bantuan dia untuk mengambilkan pakaianku, lo.
"Tinggal jawab apa susahnya?"
"Mas Farhan sakit? Tumben banget." Tanganku bergerak untuk menyentuh keningnya dan memastikan keadaannya. Aku takut saja jika seandainya suamiku ini mulai 'agak-agak'. Paham-pahami saja, ya.
"Najwa." Oke, aku angkat tangan. Mas Farhan sudah mengeluarkan jurus andalan, suara super dingin dan tatapan tajam.
"Jatuh tadi, Mas."
Aku memang jatuh, 'kan?
"Kenapa bisa jatuh?"
Kepalaku rasanya ingin pecah. Memikirkan berbagai macam spekulasi karena sikap suamiku yang satu ini membuat otak panas. Bingung juga sih. Aku yang--katakanlah--terbiasa hidup dengan keadaan tidak baik-baik saja bersama dia selama ini, merasa aneh dan asing dengan sikap Mas Farhan. Di samping itu, ketakutan-ketakutan kalau aku akan kembali dijatuhkan lagi saat aku mulai mengawang-awang ikut andil menciptakan keganjilan di hati.
"Diam lagi," desis Mas Farhan.
"Sudahlah, Mas. Ngapain ngurusi aku? Aku enggak apa-apa."
Dan ... suamiku itu malah menatapku tajam. Membuatku jemu dengan tingkahnya yang sangat-sangat menyebalkan. Dia mencengkeram kedua lenganku tiba-tiba. Perlakuan tidak biasanya ini mengingatkanku pada insiden dalam mimpiku pada malam pertama aku beristirahat di rumahnya. Tidak mungkin itu memang karakter Mas Farhan, 'kan?
"Mas, jangan begini."
Karena aku lelah terus-terusan hidup di bawah tekanan.
"Oh, iya. Maaf aku lupa mengambilkan minum. Bentar, ya. Aku ambilkan."
Saat tanganku bergerak untuk melepaskan cengkeramannya di lenganku, dia malah makin mengeratkan. Harapan bahwa suamiku ini akan luluh ternyata menguap begitu saja. Membuatku harus menarik napas panjang kembali.
"Mas, berhenti pura-pura peduli sama aku. Lagian di sini enggak ada Mas Reza, kok. Enggak ada Ayah pun." Kubalas tatapan tajamnya. "Akting kamu tadi sudah totalitas. Enggak akan ada yang curiga."
"Bagus kalau begitu."
Lagi? Ini siapa, sih? Yang ngomong sama aku ini siapa? Benarkah Mas Farhan punya kepribadian ganda? Kenapa sikapnya benar-benar membingungkan?
Apalagi setelah dia menghempas kasar lenganku, sehingga membuatku mundur beberapa langkah. Untung tidak sampai jatuh. Kutatap punggung lelaki yang sudah meninggalkanku itu dengan tatapan kosong.
...***...
Aku update lagi. Senang enggak? Senang dong. Ya kali enggak? Canda. Aku berusaha nulis buat gantiin yang bolong update kemarin demi kalian, lo. So, jangan lupa kasih aku suntikan semangat buatku dengan like, vote dan komentari, ya. Aku senang banget kalau kalian mau apresiasi karyaku.
Salam manis dari author manis.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Selasa, 29 Juni 2021
__ADS_1