Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Makin Sulit Dipahami


__ADS_3

Benar-benar hari yang melelahkan. Usai berbicara dengan Rifka, aku langsung kembali ke kamar. Intinya, karena kepala makin pusing, aku memutuskan untuk beristirahat. Aku juga meminta kepada siapa pun itu, entah Mas Reza atau Mas Gibran untuk tidak menganggangguku. Beruntungnya, aku tiba-tiba datang bulan. Jadi bisa benar-benar istirahat. Mas Farhan pun diam saja. Alhamdulillah, dia tidak bertingkah.


Aku menggeliat kecil, kemudian menguap seraya bangkit dari tempat tidur. Satu hal yang harus kusyukuri adalah saat bangun tidur sudah merasa lebih baik. Kepala juga sudah tidak pening. Alhamdulillah.


“Kamu sudah bangun?” Segera kutolehkan kepala ke sumber suara. Ternyata Mas Farhan masih memegang Al-Qur’an seraya duduk di atas sajadahnya. Kulirik jam dinding, ternyata sudah jam 04.35. Pantas saja.


“Iya,” jawabku singkat, kemudian menurunkan kaki ke lantai. Untung tidak telat bangun.


“Tadinya saya mau bangunin kamu jam limaan, biar bisa istirahat lebih lama.”


Sok akrab banget.


Aku hanya menoleh sekilas ke arahnya tanpa menjawab. Entah mengapa, aku kembali kesal sama Mas Farhan, padahal aku baru bangun tidur.


Mungkin karena tidak mendapat respons dariku, dia meneruskan mengaji, dan aku langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


***


“Saya mau keluar, beli-beli isi toko,” ucap Mas Farhan tiba-tiba. Aku yang masih sibuk merapikan tempat tidur, hanya menatapnya sebentar, lalu fokus kembali pada pekerjaan. Bingung juga mau merespons apa. Buat apa juga dia mengatakan itu kepadaku? “Kamu mau ikut enggak? Sekalian ke dokter buat meriksa kamu.”


“Aku udah sembuh,” jawabku tanpa menoleh ke arahnya.


“Ya sudah, kita jalan-jalan pagi saja. Bagaimana?”


Mendengar kata jalan-jalan tangan yang sibuk melipat selimut langsung berhenti. Jiwa traveling-ku jadi meronta-ronta. Semenjak menikah, aku memang sudah jarang keluar rumah, kan? Bahkan ke rumah Ayah baru kali ini. Aku mau, Mas.

__ADS_1


Namun, teringat pada hari kemarin, aku jadi kurang bersemangat untuk mengiyakan. Rasa enggan untuk berinteraksi dengan Mas Farhan, kembali menghampiri. Apalagi belum ada kepastian apa pun yang diberikan olehnya dan cerita Rifka yang masih menggantung, padahal hari sudah berganti. Yang aku butuhkan itu kepastian dari dia, tetapi dia seperti memang tidak niat untuk memberikannya. Jadi untuk apa terus bersikap sok baik seperti sekarang?


Mengabaikan keinginan untuk jalan, aku meneruskan kegiatan beres-beres kamar. Usai membereskan tempat tidur, aku langsung mengambil sapu di belakang pintu, dan Mas Farhan ... tanpa kusangka dia tiba-tiba meraih kedua tanganku, menyingkirkan sapu tadi, lalu bersimpuh di hadapan. Jelas, aku kaget. Bahkan saat dia menggenggam tanganku dengan cukup erat, aku masih diam saja menatap wajahnya yang mendongak, menatapku.


“Saya tahu sulit buat kamu memaafkan saya. Tapi tolong percaya, saya tulus melakukan ini,” katanya. Entah aku yang salah lihat atau bagaimana, mata Mas Farhan berkaca-kaca.


Bohong jika aku tidak terusik oleh tatapan tidak biasa itu. Aku masih terus mematung. Pikiran mulai berkecamuk antara harus memercayai Mas Farhan atau tidak.


“Jangan diam, Najwa. Ayo bicara.”


Ingin rasanya aku tertawa mendengar kata-kata itu. Namun entah mengapa, tubuhku seperti kesulitan melakukan apa-apa. Aku masih mematung, hingga satu kalimat yang terucap dari bibir ini mungkin tidak hanya membuatnya terkejut, aku pun ikut kaget.


“Enak dicuekin, Mas?”


Dia hanya terdiam, entah maih syok dengan pertanyaan itu atau memang dia merasakannya. Kucoba untuk melepaskan tautan tangannya. “Udahlah. Mas Farhan saja enggak tahu dengan maunya Mas Farhan sendiri apa. Berhenti berpura-pura seperti ini, Mas. Aku sudah bilang kemarin, kan?”


Ya Allah, apa yang sebenarnya suami hamba rasakan? Kenapa dia terlihat sesedih itu? dia tidak lagi berusaha mengelabui hamba, kan?


“Kasih saya kesempatan untuk berbicara berdua denganmu.”


“Maksudnya?”


Mas Farhan tampak menarik napas sejenak. “Mau, ya, ikut? Kita bicara di luar. Tadinya saya mau bahas ini di rumah, tapi sepertinya harus secepatnya saya menjelaskan sama kamu.”


Makin ke sini, sikap Mas Farhan makin wah, tidak mudah dipahami. Kutatap lekat wajahnya yang masih menyiratkan permohonan itu. Baiklah, lupakan masalah kemarin.

__ADS_1


“Ya udah, oke. Aku ikut.” Lagipula aku penasaran juga dengan apa yang ingin dijelaskan sama Mas Farhan. Aku juga tidak bisa terus-terusan meninggikan ego dengan tidak mau mendengar penjelasan apa pun dari suamiku. Karena kata Ayah dan Ibu, kunci dari sebuah pernikahan itu langgeng adalah komunikasi dan keterbukaan antarpasangan. Mungkin ini saatnya. Mas Farhan sudah mau membuka diri, jadi untuk apa aku terus-terusan meladeni *****?


Setelah itu, tanpa diminta, Mas Farhan bangkit, dan satu hal lagi yang sukses membuat bola mataku membulat. Mas Farhan menyempatkan diri mengecup kedua tanganku dan berkata, “Terima kasih.”


Itu beneran Mas Farhan, kan?


Mengabaikan hal itu, Mas Farhan pun sudah keluar dari kamar, mungkin mau memanaskan mobil, aku langsung melanjutkan acara beres-beres kamar, kemudian bersiap-siap untuk pergi.


***


Setelah berpamitan kepada Ayah dan Mas Reza, serta Mas Gibran, kami langsung berangkat. Tempat yang pertama Mas Farhan kunjungi adalah tempatnya mengulak barang untuk isi tokonya. Ternyata tempat itu di daerah Surabaya, malah agak jauh dari rumah Ayah. Sempat terlintas rasa heran, sih. Kenapa tidak beli pas kami pulang saja? Toh ini jalan menuju rumah, dan rencananya nanti sore kami akan pulang. Apa dia takut kemalaman, makanya beli sekarang? Em ... mungkin saja, ya. Namun ... aku menggelengkan kepala pelan, tidak habis pikir dengan sikap suamiku yang sulit ditebak ini. Apa sih yang ada di pikirannya?


Usai itu, Mas Farhan membawaku ke suatu taman indah dekat jalan raya tidak jauh dari tempatnya mengulak tadi. Dia memarkir mobilnya di pinggir jalan itu--tentunya di tempat yang aman--kemudian mengajakku berjalan kaki ke taman tersebut. Dia bahkan menggandeng lenganku ke sana, seperti tidak ada rasa canggung sedikit pun. Lalu entah mengapa, aku malah tidak menolak perlakuan itu. Aku malah mengeratkan genggagamn di tangannya. Perjalanan yang romantis, kan?


Pada saat Mas Farhan mulai bersikap baik kepadaku, harusnya aku merasa bahagia dengan ini, karena ini yang aku inginkan, bukan? Namun entah mengapa, di sisi lain ada rasa khawatir yang terus menghantui. Dari tadi aku hanya diam saja, mengekor ke mana pun dia pergi, karena memikirkan perihal apa yang akan disampaikan oleh Mas Farhan hingga harus membawaku pergi jauh dari rumah Ayah. Tidak bisa kuelak, spekulasi terus bertebaran dalam benak.


Kami sudah duduk bersisian di salah satu kursi taman itu. “Kamu suka pemandangannya?” tanya Mas Farhan. Pandangan yang semula tertuju pada pemandangan indah di sekitar taman itu, kemudian beralih menghadap ke arahnya. Detak jantung selalu tidak baik-baik saja jika berhadapan dengan suamiku ini. Wajahnya yang selalu tampil menawan di mataku, menciptakan debaran cinta ini terus menggila.


"Kenapa diam?"


***


Hai. Siapa yang kangen Mas Farhan? Komen, kuy. Gimana? Mas Farhan udah mulai baik tuh. Maunya Najwa langsung peecaya gitu saja sama Mas Farhan apa enggak? Komen dong. He-he.


Maaf, ya. Aku lagi susah banget buat nulis ini. Entahlah. Doakan semiga aktif kembali menulis. Besik pagi aku up lanjutannya. Terima kasih buat i yang masih bertahan di lapak ini. Ini udah menjelang konflik utama, lo.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. See you.


Minggu, 12 September 2021


__ADS_2