Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Hampa


__ADS_3

Aku menarik napas panjang. Tidak mau makin terbakar emosi, kuteguk minuman yang tadi dipesan oleh Mas Gibran. Bahkan hingga minuman itu habis, perasaan ini tidak kunjung tenang.


“Tapi terlepas dari itu semua, akui kesalahan kamu di depan semua keluarga, selebihnya keputusan pasti akan ada di tangan Najwa dan Ayah. Untuk masalah dengan Rifka juga, katakan di depan mereka. Nanti saya juga akan menyuruh dia pulang saat kamu siap mengakui kesalahan kamu. Kamu paham maksud saya, Farhan?”


Pelan, kuanggukkan kepala. “Iya, Mas. Saya paham.”


Mas Gibran mengangguk. “Oke. Saya mau bahas itu saja.” Kakak iparku itu lantas bangkit dari tempat duduknya, bersiap pergi.


“Mas,” panggilku dengan suara tertahan.


“Kenapa?”


“Kalau boleh tahu, Najwa sedang ada di mana?”


“Di rumah saya. Dia lagi sakit, diinfus sejak kemarin siang karena drop. Setelah kamu buat dia hampir mati gara-gara alerginya kumat, kamu juga tidak memberikan obatnya ke dia, kan?”


Parah! Aku bahkan baru ingat dengan obat itu!


“Say—”


“Jangan temui Najwa sebelum kamu jujur kepada orang tuamu dan Ayah, serta mengambil keputusan.”


“Tapi, Mas.”


“Apa lagi? Sudah untung saya memberimu kesempatan seperti ini. Andai saya biarkan Reza saja yang menemui kamu, mungkin dia akan langsung menyuruhmu mengurus surat cerai.”


Skakmat! Apa yang bisa kulakukan kalau sudah begini selain mengalah?


“Harusnya Mas enggak usah beri kesempatan kepada laki-laki macam dia!”


Panjang umur! Baru saja namanya disebut, dia malah menampakkan batang hidung di hadapan kami. Raut wajahnya yang merah padam, jelas menyiratkan kemarahan.


“Brengsek kamu, Farhan!”

__ADS_1


“Agh!” teriakku bersamaan dengan satu bogem yang berhasil mendarat tepat di hidung. Asli, efek dari bogeman itu sangat menyakitkan. Karena itu tiba-tiba, aku tidak bisa menyeimbangkan tubuh, hingga berakhir terjungkal ke belakang. Astaga. Kuat banget pukulannya Mas Reza, ya Tuhan.


“Reza, kamu ngapain di sini?” tanya Mas Gibran. “Tadi Mas sudah bilang buat jagain Najwa di rumah, kan?”


Dua lelaki bersaudara itu saling tatap, sedangkan aku berusaha bangkit seraya memegangi bekas bogeman Mas Reza tadi.


Kenapa sakit banget, sih?


“Kenapa Mas enggak bilang kalau Mas keluar itu untuk menemui laki-laki ini? Harusnya Mas kasih tahu. Aku sudah geregetan sama dia. Dia harus diberi pelajaran!” Nada suara Mas Reza menggebu-gebu. Mungkin saking emosi denganku.


“Sudah. Jangan buat keributan di sini. Mas sudah beri peringatan sama Farhan. Sudah diberi pelajaran juga. Kamu diam.”


“Tapi, Mas?”


Sorot emosi itu belum mau pudar dari mata Mas Reza. Tapi, Mas Gibran tidak menyerah untuk menghentikannya.


“Sudah. Tadi kamu juga sudah pukul dia, kan? Ayo pulang. Kamu ini, disuruh jagain Najwa malah keluyuran.”


“Najwa dirujuk ke klinik. Makanya aku ke sini. Tadi nelponin Mas enggak diangkat.”


Mas Gibran kemudian melangkah keluar dari kafe, sedangkan Mas Reza masih menyempatkan menoleh ke arahku. “Urusan kita belum selesai,” desisnya.


Mengerikan sekali dua kakak iparku ya Tuhan. Mereka punya caranya masing-masing untuk membuatku gentar.


Mas Reza lantas pergi, menyusul Mas Gibran. Sedangkan aku kembali terduduk lemas di kursi kafe seraya memegangi bagian wajah yang masih terasa nyeri. Mendengar Najwa dirawat dan sekarang dirujuk ke klinik, aku jadi makin bersalah. Itu semua gara-gara aku.


Kugerakkan tangan untuk mengusap wajah. “Ah, sialan! Kenapa pakai lupa kalau wajahnya kena bogem tadi, sih. Jadi makin sakit, kan.”


Dasar Farhan dodol!


***


Setelah pertemuan dengan Mas Gibran dan Mas Reza waktu itu, dan mendapat peringatan keras untuk tidak menemui Najwa oleh kedua kakaknya saat aku tepergok diam-diam pergi ke klinik tempat Najwa dirawat, aku menutup akses komunikasi dengan siapa pun. HP kumatikan agar tidak ada yang mengganggu, sengaja tidak keluar rumah juga. Untuk urusan toko dan studio aku pasrahkan ke Kinan. Makan pun beli yang instan di dekat rumah. Entah sudah berapa lama aku mengurung diri di sini, kamar yang semula ditempati Najwa untuk beristirahat. Perasaan hampa yang akhir-akhir ini melanda hati, membuatku enggan melakukan apa-apa.

__ADS_1


Pengecut! Harusnya aku melakukan sesuatu untuk meluluhkan hati kedua kakak Najwa itu. Tapi aku malah begini.


Seperti pagi ini. Sehabis salat Subuh, aku langsung stand by di kamar Najwa, bersiap merebahkan diri di tempat tidur ini. Untung di sini juga difasilitasi ranjang, meskipun tidak sebagus di kamarku. Bunda yang merancanakan isi rumah ini dulu. Ternyata berguna, ya.


“Kamu apa kabar, Najwa?” Aku mulai bermonolog sambil menelentangkan tubuh dengan menjadikan sebelah lengan sebagai bantalan kepala. Kutatap lekat langit-langit kamar itu. “Maaf buat kesalahan-kesalahan yang pernah saya perbuat.”


Parah, sih. Harusnya aku ada di samping dia sekarang. Menemani dia melewati masa-masa sulitnya menghadapi rasa sakit. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Baru sebentar berada di kamar Najwa dan kebetulan dia sedang tertidur waktu itu, Mas Reza dan Mas Gibran kompak menggiring aku keluar dan mengusirku. Astaga.


Aku tiba-tiba teringat sesuatu. Segera aku bangkit dari tempat tidur dan meraih buku diary milik Najwa yang masih tersimpan rapi sana.


My Hot-Tempered and Hot Husband


Sekali lagi aku tersenyum getir membaca judul diary Najwa.


Pertama kali bertemu, aku sudah terpesona denganmu, Mas. Aku seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Ingin kucurahkan semua kasih sayangku kepadamu. Kamu ramah, penyayang, baik, kelihatannya bertanggung jawab dan cukup memikat. Sekalipun kamu tidak tampan, tetapi ada daya tersendiri yang menarikku untuk menyukaimu.


Perlahan, senyum getir tadi berganti senyum bahagia. Ya, entah apa alasannya, aku merasa bahagia dan begitu didambakan oleh Najwa. Apalagi setelah membaca lanjutan kalimatnya.


Sudah kurangkai mimpi-mimpi indah bersamamu, bahkan sebelum pernikahan kita dilaksanakan. Saat Ayah mengatakan kalau aku dijodohkan saja, aku sudah menyusun rencana yang ingin kurealisasi bersamamu. Kamu tahu? Kamu seberharga itu untukku, Mas. Kamu sangat kuharapkan sejak awal. Meskipun, ketakutan itu selalu ada. Namun, aku selalu mencoba berpikir positif dan tidak mau berprasangka terhadapmu.


Ternyata aku begitu berkesan dalam hidup seorang Najwa, bahkan sebelum kami saling mengenal.


Namun, apa yang kamu tunjukkan di hari pertama kita sampai di rumah baru kita, semuanya lenyap seketika bak ditelan bumi. Hilang tanpa jejak. Kamu menghancurkan impianku, meleburkan perasaanku sejak awal ikatan pernikahan ini terjalin. Kamu yang kuharapkan, malah kamu yang menghancurkan. Hebat sekali kamu, Mas.


"Kamu begitu rapi menyimpan semua kenangan tentang saya, Najwa. Saya benar-benar tidak menyangka kamu akan sebegitu terlukanya karena saya."


Dan, yang lebih membuatku tidak habis pikir terhadap diriku sendiri adalah saat aku malah makin jatuh cinta kepadamu. Penderitaan dan kesakitan yang kamu berikan untukku malah berubah menjadi pelecut semangat untuk terus berjuang. Meskipun, putus asa dan rasa pesimis selalu berlomba-lomba untuk merasuki pikiran agar aku memilih mundur.


"Hari ini saya mengakui ketangguhanmu, Najwa."


***


Komen, yuk. Mas Farhan mulai merana ditinggal Najwa tuh. 😂😂😂

__ADS_1


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Selasa, 21 September 2021


__ADS_2