Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Rindu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Bapak sama Bunda diam saja. Sepertinya masih marah kepadaku, makanya tidak ada yang mau mengajak bicara. Huft. Suasana jalan nasional dari Bangkalan ke Surabaya yang memang jarang tidak macet, makin terasa pengap. Mana kami pulang saat hari menjelang siang begini. Berasa dipanggang aku tuh. Keadaan hati panas, ditambah suasana di mobil yang panas bikin emosi. Berulang kali menggerak-gerakkan badan—enggak betah—tangan tidak berhenti mengipas-ngipas badan. AC bahkan tidak mempan. Bikin pikiran makin stres saja.


Dengan tubuh yang kembali bersandar di sandaran kursi, kugerakkan kepala menoleh ke jendela mobil. Pemandangan di luar sana malah makin bikin puyeng. Bagaimana tidak? Berbagai macam kendaraan mulai dari yang beroda dua sampai roda enam antre di sepanjang jalan. Hanya berjalan sedikit, mandek lagi. Begitu seterusnya. Sampai-sampai seluruh badan terasa pegal linu. Belum lagi pemandangan saling teriak antarpengendara yang tidak sabaran. Mereka pikir hanya mereka apa yang buru-buru? Astaghfirullah, ujung-ujungnya malah menggerutu begini, kan?


Aku menghela napas, dan mengalihkan pandang lagi ke depan. Takut makin emosi kalau lihat ke luar terus. Namun, baru saja aka berbalik tiba-tiba aku dikejutkan dengan pengendara mobil Avanza yang berada tepat di samping mobil Bapak.


Aku mengucek-ngucek mata untuk memastikan bahwa aku tidak salah mengenali orang. Beberapa kali aku melakukan itu, tetap sama. Seorang perempuan yang duduk di bagian depan mobil Avanza itu perawakannya hampir sama dengan Najwa. Atau jangan-jangan itu memang Najwa?


Sekali lagi aku meneliti perempuan itu. Ah, aku yakin kalau itu Najwa. Lihatlah, wajahnya yang bundar dengan warna kulit kuning langsat, bulu mata lentik dan alis tipisnya itu memang milik Najwa. Oh, satu lagi, bibir itu ... ya, aku yakin itu istriku.


Aku sudah menurunkan kaca jendela mobil, bersiap memanggilnya. Namun, belum juga terealisasi, Bunda tiba-tiba menginterupsi. "Mau apa kamu?"


Sontak, aku menoleh kepada Bunda dengan gelagapan. Sebelah tangan juga sudah mulai bergerak menggaruk-garuk kepala, padahal tidak terasa gatal.


"Enggak ada apa-apa, Bunda. Gerah. Biar agak adem, makanya aku buka kacanya."


"Kalau mau macam-macam lagi, turun saja sekalian di sini," ucap Bapak dengan suara dingin. Maksud Bapak apa, sih? Kenapa seolah-olah aku ini biang keburukan? Perasaan selalu jadi sasaran prasangka.


Aku hanya bisa menghela napas berat. Malas menyahut. Takutnya nanti malah bikin keadaan makin kacau.


Kupejamkan mata sebentar, lalu kembali membukanya. Saat mencoba mengamati sekitar lagi, ternyata mobil yang dikendarai perempuan yang mirip Najwa tadi sudah tidak ada. Ah, atau aku hanya berhalusinasi karena sejak tadi kepikiran Najwa?


Najwa sedang apa, ya? Apa dia memikirkan aku juga? Dia khawatir enggak, ya, sama aku?


Ah, memang aku siapa? Aku kan hanya orang asing yang bisanya menyakiti dia, kan? Untuk apa dipikirkan?

__ADS_1


Aku mengusap wajah kasar akibat pikiran-pikiran yang berseliweran dalam otak.


Kacau! Padahal belum sehari saja berpisah dengannya, aku sudah mulai rindu. Bagaimana aku akan menghadapi hari-hari tanpa dia nantinya?


Kusandarkan lagi punggung ke sandaran kursi. Mencoba memejamkan mata, siapa tahu bisa tertidur barang sebentar. Namun, rasa gerah yang mendera tubuh terasa makin membakar. Kubuka mata, melirik Bunda yang duduk di samping Bapak. Orang tuaku itu tampak tidak terganggu sama sekali. Atau aku saja yang lebay?


"Bunda?"


Wanita di sebelah Bapak itu menoleh ke belakang dengan raut yang sedikit berbeda. Membuatku urung untuk berkata-kata.


"Tidur saja dulu. Nanti Bunda bangunkan kalau sudah sampai."


Ternyata bundaku masih perhatian. Ah, jadi malu. Aku hanya bisa mengangguk, kemudian kembali mencari posisi yang nyaman agar bisa tidur.


"Jangan terlalu memanjakan dia, Rahma." Sayup-sayup kudengar suara Bapak, masih dengan suara dingin. Ah, Bapak benar-benar marah kepadaku. Setelah itu, aku tidak lagi mendengar suara beliau. Suara Bunda pun tidak terdengar.


Segera kubuka mata. Tidak mungkin juga kan kalau aku tinggal di sini selamanya.


Saat kubuka pintu mobil dan turun, aku baru sadar kalau aku tidak berada di rumahku sendiri. Ini rumah Bunda dan Bapak. Aku termangu sejenak. Entah apa yang ada dalam pikiran kedua orang tuaku kenapa aku malah dibawa ke sini? Apa Bapak dan Bunda hendak menginterogasiku? Ah, sudah pasti begitu. Mengingat aku sudah melakukan hal besar yang membuat mereka murka.


"Ayo turun. Mau sampai kapan di sana?" Aku berjingkat sekaligus meringis mendengar ucapan Bunda yang ternyata masih berdiri di samping mobil.


"Mau Bapak kunciin sekalian di sana? Biar otak kamu yang entah tertinggal di mana itu bisa balik?"


Jleb!

__ADS_1


Aku makin tidak karuan. Ternuata Bapak juga masih ada di sini. Mana kata-katanya lebih sadis daripada Bunda. Bunda mah main fisik. Bapak main psikis.


Tanpa banyak bicara, aku mengekor Bunda. Sekalipun sudah tidak tahan, pengin segera mandi karena gerah, aku harus tetap mengedepankan Bunda. Enggak boleh menyalip. Aku kan sedikit-banyak tahu soal menghormati orang tua. He-he-he. Yang sebelum-sebelumnya itu khilaf.


Saat sudah berada di dalam rumah, Bunda tiba-tiba berbalik ke arahku. "Kalau mau mandi, keringkan dulu keringatnya, Han. Enggak baik kalau langsung mandi."


Aku mengangguk. "Iya, Bunda."


"Istirahat. Tapi sebelum itu, jangan lupa salat dan makan."


Ah, ya Allah. Terbuat dari apa sih hati bundaku ini? Padahal dari pertama tahu tentang kebenaran pernikahanku dengan Najwa, beliau sangat marah dan meledak-ledak. Lalu sekarang? Beliau malah kembali perhatian sama aku.


"Jangan kebanyakan melamun, Han. Sana ke kamar."


Eh? Sepertinya aku ketularan Najwa nih. Suka melamun.


Tersenyum tipis ke arah Bunda, aku langsung berpamitan dan beranjak menuju kamar yang dulu aku tempati di sini. Malas mengamati sekitar karena tidak ada yang berubah, membuatku langsung merebahkan tubuh di tempat tidur. Niat hati untuk mandi sepertinya tidak akan terlaksana. Keduluan capek dan ngantuknya. Aku langsung memejamkan mata.


Beberapa waktu berlalu, mataku terasa makin berat. Kesadaran pun perlahan menguap. Namun, satu hal yang tiba-tiba melintas di otak, membuatku seketika membuka mata. Rasa kantuk dan lelah seolah-olah menguap begitu saja.


Dalam sesaat, aku masih terdiam dengan posisi tidur telentang. Kupandangi langit-langit kamar cukup lama. Setelah itu, bangkit dan menelisik barang yang sedang kujadikan tempat beristirahat ini. Dipan khas Madura. Kalian sudah pasti tahu, kan, siapa yang sedang kupikirkan saat ini?


...***...


Halo, maaf, ya karena aku ngilang lagi. Dari kemarin tuh banyak kendala. Doakan semoga bisa istikamah melanjutkan novel ini sampai tamat. Terima kasih untuk yang masih bertahan sampai detik ini. 🙏

__ADS_1


__ADS_2