Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Rifka Berulah


__ADS_3

"Ya Allah, kenapa harus ada masalah seperti ini dalam keluarga hamba?" rintih Ayah, menambah kadar penyesalanku.


Beliau berbalik ke arah Najwa yang duduk di samping kirinya, memaksa putrinya itu untuk menghadap ke arahnya. "Najwa ... ya Allah, pantas kamu makin kurus, Nak. Pasti setiap harinya kamu selalu memberatkan pikiran hingga lupa memperhatikan kesehatanmu." Ayah menarik tubuh Najwa kemudian memeluknya. "Kenapa kamu tidak pernah bercerita kepada Ayah? Padahal kamu tahu Ayah selalu mengkhawatirkan kamu."


Hatiku terasa makin nyeri mendengarnya. Teringat bagaimana kata-kata Ayah kemarin, aku ... ah, aku tidak tahu mau bilang apa lagi. Aku makin kacau, apalagi belum ada sepatah kata pun yang terucap dari lisan Najwa. Dia hanya menangis di pelukan Ayah.


Mas Gibran yang sudah berpindah ke sisi kanan Ayah, menggantikan posisi Rifka tadi, dengan sabar berusaha menenangkan beliau dengan mengelus punggungnya.


Mas Reza? Dia diam saja, entah apa yang ada dalam pikirannya. Padahal sejak rahasia kami terungkap, dia yang paling marah dan sangat ekspresif. Atau mungkin dia tidak ingin lepas kendali yang nantinya akan berakhir memperkeruh suasana dan keadaan Ayah makin memburuk. Ah, aku jadi teringat kalau sebelum kami pulang, Ayah memang sedang tidak baik-baik saja.


Ya Allah, betapa berdosanya aku kepada beliau.


"Kenapa harus Rifka, Farhan? Kenapa? Apa kamu tidak memikirkan perasaan Najwa? Dari dulu dia selalu mengalah kepada adiknya yang satu itu, dan sekarang kalian malah ...."


Aku tidak kuat mendengar rintihan Ayah dan tangis pilu Najwa yang makin terdengar jelas. Entah apa alasan sebenarnya dia menangis. Aku langsung berpindah dari tempat dudukku, menurunkan tubuh dan bersimpuh di hadapan Ayah.


"Aku minta maaf, Ayah. Aku tidak pernah tahu kalau ternyata Rifka bukan satu-satunya anak Ayah. Makanya aku mengajukan syarat begitu kepada Bapak dan Bunda karena kupikir dia adalah Rifka."


Ya Tuhan, betapa buruknya perilakuku selama ini.


"Sebelum menikah kan masih ada pertemuan antara kalian? Harusnya kamu tahu dengan siapa kamu akan menikah! Kenapa tidak membatalkan pernikahan saja kalau akhirnya akan begini?!"


Itulah salahku yang terlalu mengedepankan ego dan terlalu mendengarkan Rifka pada waktu itu. Harusnya aku langsung mundur, tapi aku malah maju dengan membawa niat membalas dendam kepada Najwa. Argh!


Ayah mengurai pelukannya dari Najwa, lalu menoleh ke arahku lagi. Lalu, tanpa diduga, tangan Ayah sudah menyambar pipi kananku, meninggalkan rasa panas dan perih yang menjalari pipi. Dengan spontan, para perempuan yang ada di sana berteriak syok.

__ADS_1


"Keterlaluan!" geramnya. Aku bahkan sampai hampir terjungkal akibat kuatnya tamparan Ayah tadi. Aku hanya bisa memperbaiki posisi duduk seraya memegangi pipi. "Saya kecewa sama kamu, Farhan!"


"Ayah, sudah. Ayah tenang, ya. Biar Gibran bantu Ayah yang urus masalah ini," kata Mas Gibran sambil menarik tubuh Ayah yang terlihat belum puas memukuliku.


"Bagaimana Ayah bisa tenang? Dia telah menyakiti putri Ayah, Gibran. Adikmu disakiti oleh laki-laki tidak bertanggung jawab ini!" tunjuknya dengan kilat kemarahan yang terlihat jelas dari sorot matanya.


Aku baru tahu kalau Ayah bisa semarah ini. Tapi bagaimana lagi? Setiap orang pasti mempunyai sisi ini. Orang tua mana yang tidak murka melihat anaknya disakiti?


"Jangan salahkan Mas Farhan, Ayah."


Alamat perang dunia bakal terjadi!


Aku mendesah berat saat mendengar Rifka ikut bersuara. Firasatku mengatakan kalau itu tidak akan membantu menyelesaikan masalahku.


Benar saja. Sesaat setelah itu, kulihat pergerakan Ayah yang berbalik ke arah putri keempatnya terduduk.


Ah, apa yang sebenarnya Rifka inginkan dengan berkata begitu kepada Ayah?


Kulihat raut wajah Ayah menggelap. Beliau menatap putrinya itu dengan tajam.


"Rifka, apa yang ada di otakmu?"


"Aku enggak rela membiarkan Mbak Najwa bahagia sama Mas Farhan, sementara aku menderita dengan pernikahan aku."


Kulihat Ayah, Mas Gibran dan Mas Reza memejamkan mata. Aku yakin mereka pasti syok. Jangankan mereka, aku saja sangat syok melihat sisi lain dari orang yang pernah aku suka itu. Aku ....

__ADS_1


"Setan apa yang sudah merusak pikiranmu, Nak? Ayah tidak menyangka kalau kamu akan berbuat sejauh itu kepada saudaramu sendiri."


Tuhan, aku enggak kuat melihat mertuaku itu. Beliau terlihat sangat terpukul, air mata pun terus mengucur deras dari sudut matanya. Suaranya yang bergetar di sela-sela tangisnya itu membuatku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi.


"Apa salah Najwa kepadamu? Kenapa kamu selalu menaruh iri kepadanya? Apa kamu tidak sadar kalau mbakmu selama ini banyak mengalah demi kamu? Ayah kecewa sama kamu, Rifka."


Hari ini, aku baru sadar siapa Rifka dan Najwa sebenarnya. Meski bersaudara, mereka adalah dua orang yang berbanding terbalik dari segi kepribadiannya.


"Justru itu. Karena Mbak Najwa selalu mengalah, Ayah lebih perhatian sama Mbak Najwa dan sialnya dia selalu mendapatkan apa yang aku inginkan tanpa harus berjuang keras. Takdir baik selalu memihak kepadanya, sementara kepadaku enggak. Takdir enggak pernah adil."


Lihatlah responsnya. Jika Najwa hanya bisa menangis, dia berani melawan tatapan kemarahan ayahnya, bahkan sampai berani mendebatnya. Mendengar kata-katanya itu aku bisa menyimpulkan bahwa dia kurang bersyukur dengan apa yang dimilikinya selama ini. Ya Allah, kenapa aku baru menyadari siapa Rifka saat ini?


"Ayah pikir aku nerima Mas Rifki dari hati? Enggak. Itu semua karena Mbak Najwa. Dia memang selalu mengalah sama aku, tapi apa yang dia dapat? Yang dia dapat selalu lebih baik dari aku. Perhatian Mas Reza, Mas Gibran, Ayah, perhatian Bu Rahma sampai dia menginginkan dia untuk jadi istrinya Mas Farhan. Aku sakit, Yah, karena orang tua Mas Farhan—yang notabene orang pertama yang aku suka—malah enggak menginginkan aku."


Satu hal yang membuat aku salut sama Rifka, dari caranya yang berani mengungkapkan perasaannya. Meski dengan kondisi menangis, dia bisa mengutarakan semua isi hatinya tanpa terkendala sedikit pun.


"Memangnya saya pernah bilang kalau tidak suka kamu, Rifka? Terus dari mana kamu tahu kalau saya menginginkan Najwa yang menjadi menantu saya?" cecar Bunda tiba-tiba.


Aku mengalihkan perhatian kepada bundaku itu sebentar. Entah apa yang melandasi Bunda untuk ikut buka suara. Setelah itu, kualihkan pandang ke arah Rifka. Ajaib! Dia yang tampak emosi sedari tadi, langsung diam mendengar suara Bunda.


"Kalaupun memang benar karena masalah itu kamu tidak suka, apakah harus dengan menyakiti mbakmu? Menghancurkan rumah tangga anak saya? Selama ini Farhan tidak pernah cerita kalau dia suka sama kamu. Kamu juga tidak terlihat berusaha mengambil hati saya kalau kamu memang menyukai anak saya."


Aku hanya diam.


"Beruntung bukan kamu yang dinikahi Farhan. Saya tidak tahu apa jadinya hubungan saya dengan Farhan jika berakhir menikah denganmu. Kamu pandai sekali menghasut orang rupanya. Saya jadi ingat kelakuan aneh Farhan setelah pulang dari acara lamarannya waktu itu. Itu pasti karena sudah bertemu kamu."

__ADS_1


"Bunda, sudah," lerai Bapak.


"Pokoknya aku enggak akan rela lihat Mbak Najwa bahagia. Kalau aku sendiri enggak bahagia sama Mas Rifki, itu artinya mereka juga enggak boleh bahagia."


__ADS_2