
“Memang benar, Han. Tapi bukan berarti enggak bisa diubah. Kamu aja yang enggak mau berusaha mandang Najwa dari sisi yang lain,” sanggah Kinan.
Aku langsung mendengkus keras mendengarnya. “Jangan nyanggah dulu bisa enggak? Aku belum selesai.”
Kinan tergelak. “Oke, oke, Pak Farhan Fuadi. Silakan dilanjutkan story telling-nya,” katanya.
Mengabaikan kekesalan karena ulah Kinan barusan, aku kembali terdiam, memikirkan apa yang akan aku katakan setelah ini. Rasanya masih ragu, tapi lagi dan lagi, Kinan berusaha meyakinkanku untuk tetap bercerita kepadanya. “Tapi ... setelah itu, apalagi saat Bunda tiba-tiba datang ke rumah tiga hari yang lalu, dan nginap di sana sehingga mengharuskan kami bertingkah layaknya suami istri pada biasanya, aku mulai terusik dengan keberadaan Najwa. Melihat bagaimana dia berusaha menjaga sikap di depan Bunda dan benar-benar memperhatikan perasaan Bunda—meski aku tahu dia pasti lelah karena harus bersandiwara—aku jadi berpikir kalau Najwa sebenarnya adalah perempuan baik."
Aku terdiam sejenak, membiarkan kenangan tentang tingkah laku Najwa selama berada Bunda di rumah. Semuanya terputar dengan jelas di otak. Bahkan di hadapan Bapak pun, Najwa tetap mengikuti panggung sandiwara yang kuciptakan.
"Waktu kami tinggal satu kamar pas Bunda nginap--bahkan di satu tempat tidur--malam-malam aku dikejutkan dengan suara isakan kecil. Ternyata Najwa nangis, tapi matanya masih terpejam.” Aku masih ingat betul bagaimana ekspresi sendu yang tercetak di wajah Najwa dan air mata yang sempat aku usap malam itu. Entah apa yang terjadi, ada sedikit rasa tidak tega dalam hati, padahal sebelum-sebelumnya aku sering melihat Najwa diam-diam nangis di kamar sebelah ketika usai kumarahi.
Lagi, kuusap pelan wajah. “Ketika Najwa tiba-tiba berubah cuek—terutama selama di rumahnya, sama itu ... dia dekat-dekat terus dengan Mas Reza—aku merasa ada yang terus berubah sama aku. Sampai hari kemarin dia ngancam enggak mau ngomong sama aku sebelum aku tegasin mauku apa, aku malah jadi kepikiran terus."
Mungkin kalian yang tidak pernah tahu berada di posisiku, akan dengan seenaknya menghakimi, bahkan menghujatku karena tidak tegas dengan perasaan sendiri. Namun, kalian tidak tahu saja bagaimana sulitnya aku melawan kebimbangan dan kebingungan yang terus melanda. Its okay, seperti kataku tadi, aku tidak akan ambil pusing hujatan kalian.
Balik lagi ke pembahasan. Dalam waktu yang bersamaan aku dituntut oleh dua perempuan bersaudara yang entah mengapa malah terjerat dalam kamus hidupku. Rifka dengan perasaannya yang masih sama kepadaku, selalu menuntut agar aku mau membawanya keluar dari rumah tangganya dengan Rifki yang katanya tidak bahagia—meskipun sempat terlintas pemikiran, kalau dia memang tidak bahagia dengan Rifki, kenapa bisa ada Rizqun?
Lalu di sisi lain, Najwa menuntutku untuk segera mengambil keputusan. Sedikit banyak aku paham, sih, dengan alasan kenapa dia akhir-akhir ini sering menuntut begitu. Bahkan pernyataan gamblangnya ketika masih di rumah Ayah saat meminta kepastian dariku, entah kenapa memunculkan sedikit getaran di hati. Raut sendu yang tampak di wajah Najwa dan mata beningnya yang selalu berkaca-kaca itulah yang paling membuatku merasa kacau, padahal pada kesempatan yang sama, Rifka juga menampakkan ekspresi seperti itu.
Takut dikecewakan lagi oleh ekspektasi, itu kata-kata Najwa yang masih kuingat sampai detik ini.
__ADS_1
Andai tidak ada yang berubah dan hatiku tidak pernah terusik oleh tangis pilu serta perubahan sikapnya dan semua yang kuceritakan tadi, sudah pasti aku memilih untuk mengakhiri pernikahan kami. Lama-lama aku lelah juga harus bersikap sok baik dan sok romantis di depan keluarga besar kami. Atau kalau tidak, aku akan terus menyiksanya melalui perasaan. Katakanlah aku egois karena masih menginginkan Rifka dan tidak mau menceraikan Najwa. Tapi ... ah, perasaan ini sungguh sulit didefinisikan.
"Hebat, dong."
Dua kata yang terucap dari bibir Kinan itu mengalihkanku dari pemikiran-pemikiran yang saling berkecamuk sejak tadi. Kepala yang semula sedikit menunduk, kini mendongak, menatap wajah Kinan yang masih terlihat tenang dengan kening mengerut.
“Apa yang hebat?” tanyaku. Namun, yang buat aku kesal, bukan segera menjawab, Kinan malah tertawa.
"Nan, aku lagi serius."
"Iya, iya. Aku juga serius kali. Tapi jangan serius-serius amat kenapa? Wajah kamu terlihat lebih tuaan tuh gara-gara terlalu seius," kata Kinan, masih menyebalkan ternyata. Ini orang ketularan Najwa atau bagaimana, sih?
Mungkin menyadari kekesalanku, Kinan kemudian menghentikan tawanya dengan membekap mulut beberapa saat. Setelah itu, barulah dia berkata, "Kamu sadar enggak, sih, kalau sebenarnya hatimu mulai terketuk oleh Najwa, Han?"
"Jangan ngawur kalau ngomong, Nan."
Aku enggak yakin kalau sudah ada rasa sama Najwa. Di mataku dia tetaplah orang menyebalkan. Namun ....
"Terserah kamu, Han. Mau membohongi perasaan kamu, silakan. Mau jujur, monggo. Gini deh. Selama di rumah Najwa, Rifka pasti ada di sana, kan?” Aku tidak bisa mengelak dari pertanyaan itu, hingga anggukan yang menjadi jawaban.
“Seperti yang kutahu dari awal, pasti kalian suka ngobrol seperti biasanya.” Aku masih bergeming karena memang tebakan Kinan benar. “Perasaan kamu selama berada di sisi Rifka gimana? Ada yang berubah enggak? Masih sama seperti dulu?”
__ADS_1
Aku terdiam mendengar pertanyaan itu, dan malah bingung mau menjawab apa. Kinan tiba-tiba terkekeh. “Han, Han. Sebenarnya kamu sudah tahu dengan apa yang mau kamu pilih, tapi ... masa lalu akan tetap berada di belakang, Han. Dia enggak akan bisa kamu dapatkan sekuat apa pun kamu berusaha. Jangan lupa kalau ada hal yang lebih penting, yaitu masa depan.”
Di mana otak kamu, Han? Sudah berapa lama kamu membuang waktu menjadi sia-sia karena mengusahakan apa yang tidak mungkin terjadi?
“Sekarang aku tanya, kamu sampai sekacau ini kenapa? Ah, maaf. Aku lupa kalau kamu bilang Najwa udah tahu semuanya. Aku ganti pertanyaannya. Gimana bisa Najwa tahu?"
"Tadi pagi aku ngajak dia jalan-jalan."
"Seriusan?"
Aku berdecak pelan mendengar pertanyaan itu. "Memang muka aku enggak meyakinkan, ya?"
Kinan mengubah posisinya lagi, dari yang duduk tegak, sekarang sedikit menunduk dan menumpu dagu di meja. "Enggak, sih. Aku penasaran gimana ketika kamu ngajak Najwa keluar. Secara kan sebelum-sebelumnya—”
"Udah, Nan. Kita lanjut bahas yang lain aja." Aku malas mereka ulang kejadian itu. Jika mengingat hal itu, aku jadi merasa malu sendiri. Bisa-bisanya aku bertingkah seperti tadi pagi, padahal sebelumnya aku selalu pasang mode datar di hadapan Najwa. Eh, tapi bukan tadi pagi saja, sih. Sejak datang ke rumah ayah Najwa, aku memang sudah berubah. Aku bukan lagi Farhan yang pertama kali menantang Najwa di malam pertama kami.
“Jadi gimana ceritanya?”
***
Gimana? Penasaran sama pilihannya Mas Farhan enggak? Komen kuy. Wkwk. Part versi Mas Farhan masih belum usai. Nikmati aja ceritanya. Tenang, karma pasti berlaku. Ha-ha.
__ADS_1
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Kamis, 16 September 2021