
“Kamu tuh yang kesambet setan.” Mas Farhan menghempas tanganku cukup kasar. “Terserah, deh. Mau tidur atau tidak. Dikasih perhatian, banyak protes. Giliran diketusin mewek-mewek.”
Bibir ini hanya bisa mangap, tanpa ada sepatah kata pun yang terucap. Tidak tahu lagi respons seperti apa yang harus kuberikan untuk menanggapi kalimat-kalimat Mas Farhan. Yang buat aku heran, kenapa selalu saja ada kalimat menohok bin nyelekit dari lisan suamiku itu? Dia punya banyak tabungan kata-kata seperti itukah?
Duh, otakku juga sepertinya sudah mulai geser akibat kebanyakan disuguhi teka-teki oleh Mas Farhan.
Perlahan, kuhela napas untuk merilekskan diri. Kupijat-pijat pelipis yang tiba-tiba merasa pening. Entah sampai kapan aku akan bertahan dengan sikap Mas Farhan yang begini.
Mata ini hanya bisa menatap nanar tubuh lelaki bertubuh tinggi tegap yang bangkit dari tempat tidur, kemudian melangkah keluar kamar, entah akan ke mana. Rasanya memilukan, sangat memilukan.
Ya Allah, sabarkanlah hamba untuk menghadapi makhluk-Mu yang satu itu.
Mendapat kalimat-kalimat seperti tadi seolah-olah mematikan semangat. Membuat diri ini malas untuk melakukan apa-apa. Bahkan untuk bergerak dari tempatku berdiri saja, rasanya enggan. Mas Farhan pandai sekali bikin aku badmood.
Namun, ini tidak bisa dibiarkan. Lupakan sejenak perihal perubahan sikap Mas Farhan kali ini. Lagipula kalau dipikir-pikir aku memang masih mengantuk dan lelah juga. Pening akibat memikirkan tingkah tidak terduganya pun makin menyiksa. Tidak salah juga Mas Farhan menyuruhku tidur. Tadi saja saat menyambut Mas Gibran dan Mbak Diva aku sudah kliyengan. Apalagi sebelum itu, ketika baru saja sampai, aku sudah menyuguhkan drama menangis di pelukan Mas Reza tadi, menangis di samping Ayah dengan segala sandiwara Mas Farhan yang kembali tersuguh di depan keluargaku, hingga berujung menangis kejer di kamar mandi.
Itu semua ternyata menguras tenaga, dan aku membutuhkan istirahat.
Yang menyebalkan adalah saat kinerja otak seolah-olah bertentangan dengan tindakan yang kulakukan. Baru saja beranjak satu langkah, pikiran seakan-akan mencegah untuk merealisasi hal itu. Aku kembali berhenti melangkah kemudian mematung di tempatku berdiri.
Sekali lagi kuhela napas berat, mencoba memikirkan hal-hal positif agar diri ini tenang.
Cukup lama aku terdiam dengan perasaan lelah yang terus menyelinap ke dalam diri, hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali beranjak. Mengabaikan pemikiran yang selalu bertanya ke mana perginya Mas Farhan, cepat-cepat aku berganti pakaian. Selagi tidak ada dia di sini, jadi aku bisa leluasa bergerak, ‘kan? Belum lagi aku takut nanti Mas Farhan malah marah lagi kalau tahu aku masih belum bergerak dari posisi semula.
Usai membereskan mukena dan berpakaian lengkap—layaknya di rumah kami—karena masih ragu antara mau membuka kerudung atau tidak, perlahan kubaringkan telentang tubuh kurusku ini. Kutatap lekat-lekat langit-langit kamar yang sengaja kuhias dengan stiker berbentuk bintang berwarna-warni yang cukup banyak. Kedua tangan ini bergerak meraba-raba pipi yang terasa makin tirus.
Ah, bicara soal fisik, jangankan orang lain yang akan berkata aku makin kurus. Aku sendiri pun sebenarnya merasa bahwa bobot tubuhku ini kian ringan setiap harinya. Bahkan mungkin andai ada angin besar, aku akan dengan mudah diterbangkan olehnya, layaknya debu, saking kurusnya.
__ADS_1
Enggan rasanya untuk memedulikan keadaan fisik. Karena yang lebih sakit itu psikisku. Ia yang lebih butuh penanganan. Percuma aku melakukan aktivitas latihan fisik dan program kesehatan lainnya, jika pikiranku masih bermasalah. Ya, aku menyadari betul akan hal itu. Aku pun sebenarnya sadar, terlalu membebani pikiran dan memaksa otak menerima semua informasi, baik yang positif maupun negatif tanpa filter sedikit pun, sangat tidak baik untuk diriku sendiri.
Namun, bagaimana? Sedari dahulu aku tipe pemikir, dan susah untuk mengontrolnya. Saat aku berusaha menanamkan hal-hal positif agar otak tidak terlalu terbebani, hal-hal negatifnya pun tanpa diminta ikut-ikutan memengaruhi. Memang sudah seperti hal yang mesti, ketika ada niatan berbuat positif, hal negatif datang sebagai tantangannya.
Misal kalian berkata, “Dasar kamunya saja yang enggak mau berusaha untuk melawan pikiran negatif itu.” Maka aku akan bertanya balik, “Pada saat kalian sedang ada masalah, sedang kalut, bisakah kalian mengontrol berbagai informasi yang masuk ke otak kalian?”
Mungkin sebagian ada yang bisa. Namun itu hanya beberapa, menurutku, ya. Aku pun bisa, kalau lagi mood baik. Setiap orang, siapa pun itu, aku yakin pasti ada usaha mereka agar tidak terlalu larut dalam hal-hal negatif. Akan tetapi balik lagi kepada setiap personalnya.
Ah, apa yang kubahas tadi? Malah merembet ke mana-mana. Abaikan saja!
Kembali pada kegiatan menatap langit-langit kamar.
Berada di rumah yang selama dua puluh tiga tahun kutinggali ini, rasanya begitu menenteramkan. Meski ada begitu banyak rasa berkecamuk di balik dada dan menuntut untuk dilampiaskan—terutama emosi negatif—aku berusaha sebisaku untuk mengontrolnya. Pastinya demi keluargaku.
Dua bulan hidup bersama Mas Farhan dengan segala macam urusan pelik yang selalu saja berhasil menguras tenaga dan pikiran, rasanya seperti dua tahun berada dalam penjara. Jadi, ketika aku bisa keluar dari kubangan duka yang tercipta dan kurasa di sana, rasanya begitu nikmat. Rasa bahagia terus membuncah dalam dada saat aku bisa merasakan kembali yang namanya kasih sayang dari orang yang kukasihi, keluargaku.
Terlepas dari sikap suamiku yang belum bisa memberikan kebahagiaan untukku, karena sikapnya terlampau dingin, bahkan terkesan seperti musuh, aku bahagia dengan semua kegiatanku. Kenapa aku pakai kata belum bisa memberi kebahagiaan? Karena dalam hati yang paling dalam, ada keyakinan kalau suatu saat nanti aku bisa menaklukkannya. Doakan, doakan agar aku kuat dalam perjuangan ini, dan aku bisa memetik hasil perjuangan yang sesuai dengan impianku.
Perlahan, tatapan mata ini mengedar, mengabsen setiap sesuatu yang ada dalam kamar ini. Nuansa kamar yang kuciptakan sesuai kemauanku sendiri, masih sama. Tidak berubah sedikit pun. Dinding berwarna biru langit dengan peralatan rumah tangga seperti lemari, meja berhias, dan laimnya, semua berwarna putih.
Beriringan dengan terus beredarnya pandangan, semua kenangan yang pernah kuciptakan di rumah ini bersama orang tua dan saudara-saudaraku, perlahan mengisi ruang ingatan. Kubiarkan otakku kembali berkelana, mengitari kenangan yang tercipta di masa lalu.
“Ibu, masa Rifka terus yang disuruh-suruh? Kan ada Mbak Najwa, ada Weny.” Seperti biasa, adik pertamaku yang suka usil itu pasti akan memprotes kala Ibu memintanya melakukan sesuatu. Ibu menyuruh membelikan gula ke toko samping rumah saja, ia sudah memanyunkan bibir dengan kalimat protesan tadi, padahal dia hanya rebahan cantik di kasur, sementara aku melipat baju-baju cucian yang sudah kering di lantai.
“Mbak Najwa lagi Ibu suruh-suruh juga, Nak. Kamu enggak tahu?”
Masih memegang pakaian yang hendak kulipat, aku menatap Ibu sejenak. Suara lembut dan pelan sepertinya memang ciri khas Ibu. Padahal Rifka begitu menyebalkan di mataku. Namun, Ibu tetap bisa memelankan suara.
__ADS_1
Sungguh penyabar ibuku ini, ya Tuhan.
Setelah menatap Ibu cukup lama, aku beralih menatap Rifka. Adik pertamaku itu mendengkus cukup keras. Aku yakin dia mengetahui kegiatanku sejak tadi. Memang dianya saja yang tidak mau membantu.
Masih mengusutkan wajah, Rifka bangkit dari tempat tidur, lalu menatap Ibu dengan tatapan yang jelas menyiratkan kekesalan. Kepalaku bergerak pelan—menggeleng—tidak habis pikir dengan tingkah adikku itu.
“Ibu, Rifka capek. Kenapa enggak Weny aja?”
Hadeh. Adikku, ya Tuhan. Dia capek kenapa coba? Dari tadi kan cuma tiduran saja di kasur. Ya kali bikin capek?
“Rifka, kalau Ibu sudah enggak ada, enggak akan ada lagi yang nyuruh-nyuruh kamu.”
Seketika aku tersadar dari bayangan masa lalu itu saat ia memutar memori ucapan Ibu. Kuusap kasar seluruh sisi wajah yang ternyata sudah berkeringat. Mengingat soal Ibu, bayangan saat detik-detik terakhir aku melihatnya di dunia ini pun ikut menyambangi otak.
Setitik air mata juga ikut melintas. Masih kuingat betul kalimat yang Ibu katakan tadi terucap tepat satu minggu sebelum beliau wafat. Dan hal itulah yang menimbulkan rasa bersaah begitu besar dalam hati Rifka. Saat Ibu meninggal, dia yang paling kejer menangis. Ya karena itu. Ah, memutar kembali memori masa lalu ternyata tidak terlepas dari yang namanya kesedihan.
Aku jadi kangen Ibu.
“Dari tadi kamu enggak tidur?”
...***...
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Salam manis dariku, author manis berdarah Madura asli. Hehe.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
__ADS_1
Rabu, 21 Juli 2021