Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Pagi Pertama


__ADS_3

Pagi pertama dengan status menjadi seorang istri, seharusnya menyenangkan, bukan? Malah, mungkin sampai sebulan dari hari pernikahan dilangsungkan, kebahagiaan akan status itu masih terasa, hingga tanpa sadar semburat rona merah tampak di wajah. Masa-masa awal merupakan masa hangat-hangatnya kebersaman bersama pasangan. Masih semangat-semangatnya memupuk rasa sayang hanya untuk dia seorang. Bukankah begitu yang dirasakan pasangan yang baru menikah?


Aku jadi teringat saat kakak pertamaku--Mas Gibran--awal-awal menjadi pengantin baru. Dahulu, dia seperti enggan untuk keluar dari kamar, ingin bersama pasangan terus. Sampai-sampai Mas Reza meledek keduanya seperti ayam mengeram telur. Lalu Mas Gibran dan Mbak Diva hanya menanggapi ledekan Mas Reza dengan senyum malu-malu. Ke mana-mana Mas Gibran pasti dengan istrinya. Menyenangkan, ya.


Namun, nyatanya apa yang dialami orang lain belum tentu terjadi kepada kita. Saat ini aku seperti dibangunkan dari mimpi indahku. Aku dibangunkan oleh realitas yang seolah-olah menegur untuk tidak terlalu tinggi dalam berekspektasi.


Pagi pertama yang seharusnya mengesankan dengan perasaan bahagia yang terus membuncah, malah berganti pagi yang mengenaskan dengan perasaan nyeri serta sedih yang terus mencuat menimbulkan sesak dalam dada. Pagi di mana seharusnya aku betah berlama-lama berada dalam kamar pengantin kami, tetapi malah membuatku tidak ingin ada di dalamnya. Membuatku harus mencari kesibukan lain demi mengalihkan rasa bosan, sedih, marah dan kecewa yang bersatu padu dalam hati.


Masih kuingat betul sikap yang dia tunjukkan tadi pagi kepadaku.


"Mas, tungguin. Aku mau berjemaah," ucapku saat melihatnya keluar dari kamar mandi. Kamar mandi di rumah ini hanya satu. Jadi, harus bergantian. Ternyata dia sudah berbusana lengkap, memakai baju koko putih, peci hitam dan sarung berwarna senada, tetapi ada kombinasi liris putihnya. Jujur, aku terpesona akannya.


Persetan dengan bahasa yang kugunakan. Karena bagiku Mas Farhan bukan orang lain. Tidak masalah, 'kan, aku menggunakan bahasa tidak begitu resmi seperti dirinya? Ah, kenapa malah membahas bahasa, sih. Abaikan.


Bukan lantas menjawab, Mas Farhan malah menatapku cukup lama. Tentunya dengan tatapan yang masih tajam. "Salat sendiri 'kan bisa?" Suaranya terdengar datar.


Aku mendesah pelan. "Mas, terserah kalau kamu enggak mau anggap aku ada, aku pasrah. Tapi tolong, izinkan aku untuk menjadi makmum salatmu." Kuberanikan diri menatapnya dengan penuh harap. Sungguh, ini adalah salah satu keinginan yang sudah lama kuimpikan setelah memiliki pasangan. "Lagipula pahala salat berje--"


"Lima menit belum selesai saya tinggal."


Aku sempat melongo mendengar responsnya. Kutatap punggungnya yang telah pergi meninggalkanku dengan tatapan sendu. Tidak bisakah dia bersikap lebih cair kepadaku?

__ADS_1


Tidak ingin hilang kesempatan salat bersamanya, aku segera memasuki kamar mandi dan menyucikan diri. Sungguh, nikmat yang lagi-lagi harus kusyukuri saat bisa berdiri di bekakangnya, beribadah bersama dengan orang yang diam-diam sudah menempati sudut hati. Senyum mengembang saat keinginanku yang satu ini dapat terwujud pagi ini.


Usai melaksanakan salat Subuh, membaca zikir dan surah Yasin serta meletakkan Al-Qur'an di tempatnya, kuulurkan tangan untuk menyalami Mas Farhan seperti pasangan suami istri yang biasa kulihat di televisi. Namun, sadar kalau hidupku jelas berbeda dengan yang ditayangkan di benda elektronik itu, aku harus menelan kekecewaan kembali. Aku harus meratapi nasib tidak beruntung lagi, saat di mana tanganku mengambang begitu saja, tidak tersambut oleh orang yang ingin kusalami. Dia bangkit dari tempat salatnya, lalu melipat sajadah seolah-olah tidak melihat apa yang kulakukan, lalu berganti pakaian dan buru-buru keluar dari kamar.


Karena Mas Farhan kembali sibuk dengan pekerjaannya di laptop, entah apa itu, aku memutuskan untuk membersihkan rumah. Mau mencoba mengajak mengobrol pun kuyakin tidak akan ditanggapi. Dia sudah menyibukkan diri dengan dunianya sendiri pasti untuk menghindari perbincangan di antara kami, 'kan?


Kumulai dari membersihkan kamar yang kutempati tadi malam, dua kamar yang belum ditempati, ruang depan serta teras rumah, bahkan halaman. Begitu menyelesaikan semua pekerjaan itu, aku kembali ke dalam rumah.


"Mas Farhan kalau pagi biasanya sarapan apa? Biasa ngopi, ngeteh dulu atau gimana?" tanyaku kepada Mas Farhan yang ternyata masih berkutat di depan laptopnya. Sesekali kulihat dia mendengkus, kemudian meracau tidak jelas dan mengacak rambutnya. Dia tampak frustrasi. Andai hubungan kami baik-baik saja, sudah pasti kutemani dia dan menghiburnya, mencoba membuatnya tenang agar rileks melaksanakan pekerjaannya. Namun, ... mengingat hal-hal yang sudah terjadi, asa itu hanya mengundang rasa sakit lagi.


Mengembuskan napas sejenak, kumajukan langkah mendekati Mas Farhan. Mungkin saja karena terlalu fokus dengan pekerjaannya dia tidak menyadari kehadiranku.


"Mas, mau dibuatkan teh apa kopi?" tawarku lagi. Namun, tetap tidak mendapat jawaban. Kuulangi sekali lagi pertanyaanku.


Aku menggeragap. "Ma-maaf, Mas. Tapi 'kan memang sudah kewajiban aku untuk merawat dan melayani keperluan Mas Farhan."


Dia meletakkan mouse laptop, kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu mendekat ke arahku. Kutundukkan kepala saat tatapannya makin menyorot tajam mataku. Niat hati menghindar, dia malah mengangkat wajahku, kemudian menghadapkan ke arahnya.


"Bermimpilah untuk hal itu, Najwa. Saya tegaskan dan ingat baik-baik, saya izinkan kamu berjemaah dengan saya, tapi tidak dengan urusan yang lain." Kupejamkan mata erat-erat saat merasakan nyeri di dagu. Kukunya melukaiku. Ingin menangis, tetapi yang ada dia akan makin semena-mena terhadapku. "Mau saya makan apa dan di mana, tidur di mana dan mau ke mana, terserah saya. Sudah untung saya mau menampungmu di rumah saya. Jadi, tahu diri. Paham?"


Dia melepas kasar cengkeraman di daguku kemudian beranjak keluar rumah.

__ADS_1


"Mas, mau ke mana?" Aku sedikit berteriak, tetapi tidak ada sahutan dari orang yang kupanggil. Aku terduduk lemas di sofa ruang depan seraya menangis dalam diam. Kuusap bulir air mata yang entah kapan menetes itu cukup kasar.


Sanggupkah aku menjalani kehidupan seperti ini dalam jangka waktu lebih lama? Bahkan tidak sampai sehari saja rasanya aku sudah hancur. Akan seperti apa aku nantinya jika terus bertahan? Ya Tuhan, Najwa. Apa yang kamu pikirkan?


Segera aku beristigfar saat pikiran pesimis itu mulai merasuki otakku. Kumantapkan kembali tekatku agar aku tidak mudah goyah dengan apa yang sedang kujalani.


...***...


Seharian ini kuhabiskan waktuku dengan berdiam diri di rumah. Mau menghubungi keluarga--Ayah atau Mas Reza, takut mereka malah bertanya macam-macam, dan ujung-ujungnya aku bingung mau menjawab apa. Mau menghubungi Mas Farhan, aku tidak punya kontaknya. Payah banget, ya. Seatap tetapi tidak sehati, diikat tetapi seperti tidak terikat. Sangat menyedihkan. Mau menonton televisi pun, tidak ada tontonan yang mampu menarik perhatian. Mau memasak pun jadi enggan karena Mas Farhan belum pulang sejak tadi pagi. Tidak akan ada yang memakan juga. Aku sendiri hanya merebus mie instan tadi. Entah di mana Mas Farhan sekarang. Untung aku tidak mati kebosanan di rumah ini. Saat berkeliling sekitar rumah, halaman depan dan belakang, aku menemukan sarana pengalihan bosan itu dengan menyiram dan merawat tanaman yang ada di pot-pot mulai dari yang berukuran kecil, sedang, hingga besar.


Setelah cukup lelah dan bosan dengan kegiatan itu, aku masuk rumah, kemudian menyucikan diri karena azan Magrib sudah berkumandang. Aku mulai resah karena Mas Farhan belum juga menampakkan diri. Bahkan setelah aku menyelesaikan ritual ibadah Magrib dan zikir, tidak ada petunjuk kalau Mas Farhan akan datang.


Aku beranjak ke ruang depan, berniat menunggunya di sana. Namun, hingga azan Isya bekumandang, dia belum datang juga. Kekhawatiran yang juga dipengaruhi oleh spekulasi-spekulasi membuatku makin gelisah. Sesekali aku mondar-mandir di depan pintu seraya menautkan jemari satu dan lainnya.


"Kamu di mana sih, Mas? Kenapa belum pulang juga?" monologku seraya menatap penuh harap ke pintu utama.


...***...


Salam manis dari orang manis. Wkwk.


Sumenep, Madura, Jawa Timur

__ADS_1


Senin, 14 Juni 2021


__ADS_2