
Sebulan lebih tidak bertemu Ayah dan Mas Reza secara langsung, membuatku sangat bersemangat untuk mengarungi perjalanan menuju kota kelahiranku itu. Tidak butuh waktu lama, Mas Farhan sudah siap. Aku juga karena terbiasa tidak memakai kosmetik apa pun, tidak ribet. Baju-baju sudah kusiapkan sejak kemarin. Jadi, kami bisa segera meluncur.
Setelah mengunci pintu rumah, memastikan semuanya aman untuk ditinggal, aku beranjak mendekati mobil Mas Farhan. Karena dia sudah menunggu di sana.
Ingat bagaimana hubungan kami sebelum-sebelumnya, aku mencoba untuk sadar diri. Diizinkan menumpangi kendaraannya saja sudah bersyukur. Meski keinginan hati duduk di sampingnya, tetapi itu terasa tidak mungkin. Aku juga takut disangka terlalu percaya diri dengan statusku sebagai istrinya. Tidak tahulah, kenapa tiba-tiba terlintas pemikiran seperti itu. Aku juga tidak bisa menghalaunya.
"Jangan duduk di belakang."
Baru saja mau membuka pintu belakang, Mas Farhan sudah memperingati. Dia melongok ke sisi kanan pintu depan karena aku hendak membuka pintu kanan.
"Kenapa, Mas?"
"Jangan banyak tanya. Duduk di depan, dan cepat masuk. Nanti keburu macet."
Mas Farhan langsung berpindah ke belakang kemudi lagi. Meski masih bingung, aku menutup pelan pintu belakang, kemudian beranjak ke pintu depan, lalu masuk dan memasang sealt belt. Mobil mewah suamiku pun perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah, mengitari jalanan kompleks perumahan sekitar rumah Mas Farhan yang cukup padat, hingga membelah jalanan kota Surabaya yang selalu dipadati kendaraan bermotor, mulai dari ukuran kecil; sedang; dan besar, serta sederhana; menengah; hingga mewah.
"Enak banget, ya, sekarang sudah ada Suramadu." Aku mulai bermonolog saat mobil mewah suamiku ini perlahan memasuki gerbang tol Jembatan Suramadu.
Keadaan sunyi yang sejak tadi menemani perjalanan kami dari Kecamatan Tegalsari, membuatku bosan. Jadi, alternatif pilihanku adalah berbicara dengan diri sendiri. Mau tidur, aku baru bangun. Belum lagi, kantukku sepertinya sudah lenyap, sebab tidak ingin melewatkan pemandangan indah jembatan ini. Tadi kami terjebak macet cukup lama di jalan nasional. Karena gabut dan tidak menemukan sarana pelampiasan kegabutan, aku pun memilih memejamkan mata dan baru bangun saat akan memasuki gerbang tol ini.
Jangan tanya kenapa tidak mengajak ngobrol Mas Farhan! Aku malas menjelaskannya. Kalian sudah tahu dan pasti bosan jika kujelaskan ulang, 'kan?
"Dulu saja, kalau mau ke Surabaya pas ikut Ayah, pasti naik kapal dari Kamal. Mana kadang lokasi rekan bisnis Ayah jauh dari Tanjung Perak." Celotehanku terus berlanjut seiring beredarnya pandangan menyaksikan suguhan pemandangan indah jembatan ini dari kaca depan. Sesekali dari kaca samping kanan.
Sungguh, setiap kali melewati jembatan yang melintasi Selat Madura dan menjadi penghubung antara pulau Madura dan pulau Jawa ini, aku selalu merasa takjub--sama sekali tidak pernah bosan, meski sudah berkali-kali melewatinya--sekaligus heran. Banyak pertanyaan yang berkelebat dalam otak mengenai jembatan ini. Bagaimana caranya agar cor itu bisa ditanam dalam air? Bahkan ini di tengah-tengah laut, lo. Kalau di daratan, aku masih bisa membayangkan. Cara kerjanya seperti apa? Bagaimana dulu perjuangan para pekerja infrastruktur membangun jembatan ini dengan ketinggian mencapai 146 meter? Lebarnya pun cukup luas, hingga tiga puluh meter.
Namun, perkembangan teknologi makin canggih, 'kan? Apa yang tidak bisa dilakukan saat ini? Tentunya hal ini seiring dengan takdir Sang Mahakuasa. Tidak akan ada jembatan ini, jika Dia tidak menakdirkan.
"Tahu kapan Suramadu dibangun?"
Tiba-tiba terdengar suara Mas Farhan memasuki ruang monologku. Kutolehkan kepala ke arahnya, ternyata dia juga menoleh ke arahku. Alhasil, tatapan kami saling bertemu dalam sesaat. Segera kupalingkan wajah seraya berdeham pelan untuk menetralkan perasaan gugup yang ternyata masih kurasakan saat tidak sengaja beradu pandang dengannya.
__ADS_1
Aku membenarkan posisi sandaranku terlebih dahulu. "Tahun berapa, ya? Lupa. Kayaknya 2007, deh, Mas," raguku. Aku rada lupa juga, sih. Lagi pula, dahulu aku hanya membaca sekilas informasinya, serta mendengar kabar dari telinga ke telinga. Termasuk cerita dari Ayah.
"Payah. Orang Madura, tinggal di Bangkalan lagi, enggak tahu kapan Suramadu dibangun."
Aku memutar bola mata mendengar sahutan Mas Farhan.
Ternyata ... ngomong sama Mas Farhan tetap menyebalkan. Seperti memang tidak bisa ngomong baik-baik. Kenapa juga harus mencibir coba? Tadi aku sudah antusias dan senang juga, sih, saat dia tiba-tiba bersuara. Itu artinya dia mau mengajakku mengobrol. Namun, melihat responsnya begini ... hadeh. Tidak tahulah harus apa lagi aku.
Kukatupkan lagi bibirku rapat-rapat. Sudah kehilangan mood untuk melanjutkan obrolan. Kusandarkan kembali punggung yang tadi sempat menegak, ke sandaran kursi. Pandangan pun mulai mengitari pemandangan jembatan ini. Tanpa terasa, ternyata kami sudah berada di tengah-tengah jembatan. Mood-ku seperti langsung membaik kala itu. Kuedarkan pandanganku menyaksikan pemandangan di sana.
"Jembatan ini dibangun sejak Agustus 2003, pas pemerintahannya Bu Megawati." Lagi-lagi suara Mas Farhan terdengar, mengisi keheningan di mobil ini. Namun, aku tidak begitu menanggapi. "Tapi baru diresmikan tahun 2009, tepat 10 Juni. Pas pemerintahannya Pak Susilo."
Aku tetap diam. Hanya melirik sekilas ke arahnya, lalu beralih lagi ke pemandangan Suramadu yang terus tersuguh seiring berputarnya roda kendaraannya.
Mungkin karena aku tidak menanggapi apa pun, Mas Farhan tiba-tiba diam. Saat kutolehkan wajahku untuk melihatnya, ternyata dia sudah fokus ke depan, membawa mobilnya yang sudah keluar dari gerbang tol Jembatan Suramadu.
Ah, perjalanan melalui jembatan ini sangat cepat. Bagaimana tidak? Dengan lebar jembatan seluas tiga puluh meter itu, bisa meminimalisir kemacetan. Jadi, setiap pengendara bisa tancap gas lebih cepat daripada di jalan biasa. Sebentar lagi aku akan bertemu Ayah dan Mas Reza. Tidak sabar rasanya untuk segera tiba. Membayangkan senyum keduanya saja sudah membuatku senang. Apalagi saat kami dipertemukan nanti?
"Marah?"
"Marah? Siapa yang marah?" tanyaku memastikan.
"Kamu. Siapa lagi?"
Hah? Benarkah ini Mas Farhan yang bertanya? Suamiku yang tidak pernah peduli denganku selama ini tiba-tiba bertanya seperti ini?
"Kenapa aku harus marah, Mas? Soal Suramadu? Ngapain marah? Aku 'kan memang salah jawab tadi. Lagian enggak penting juga sih bahas itu."
Benaran, deh. Aku heran banget. Kenapa Mas Farhan tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Memang bukan Suramadu-nya yang saya bahas, Najwa."
__ADS_1
Aku makin cengo, dong. Maksudnya apa coba? Mas Farhan irit banget kalau ngomong. Saking iritnya, sampai membuatku tidak paham sama sekali dengan maksud pembicaraannya. Eh.
"Terus kalau bukan soal Suramadu-nya, apa lagi Mas Farhanku yang ganteng?"
Astaga. Segera kupalingkan wajah dari Mas Farhan, dan kubekap mulut dengan kedua tangan. Kalimat apa yang sudah kuucapkan barusan? Kenapa bisa keceplosan begitu? Duh, ini mulut tidak bisa dibiarkan, nih. Sungguh meresahkan. 'Kan seram. Apalagi saat tadi melihat Mas Farhan memelototkan mata. Membuat detak jantung berdebar tidak normal saja. Jangan sampai dia marah dan berakhir mengamuk di dalam mobil yang sedang melaju ini. Atau, jangan sampai karena emosi, Mas Farhan tiba-tiba lepas kendali sehingga menyetir ugal-ugalan. Aku masih belum mau mati, ya. Misal kita tabrakan bagaimana? Ya Allah, nauzu billah.
Apa-apaan kamu, Najwa! Mikir jangan jauh-jauh!
"Soal tadi yang mengatakan kamu payah."
Tuhan, kuatkan jantung hamba.
Kali ini detak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya bukan karena sorot menyeramkan dari Mas Farhan. Namun, dari jawaban yang dia susulkan ini. Ini benar-benar Mas Farhan yang mengatakan, 'kan? Benar-benar Mas Farhan Fuadi putranya Pak Faridzi, 'kan?
Kutarik napasku kuat-kuat, lalu kuembuskan perlahan untuk menenangkan diri. Setelah cukup rileks, aku menatap Mas Farhan.
"Kenapa aku harus marah, Mas? Lagian sudah biasa, kan, kamu kayak gitu sama aku? Kalau kamu tanya aku marah, sudah dari awal aku bilang begitu. Tapi kamu cuek-cuek saja, kan, selama ini?"
Entah keberanian dari mana aku melontarkan pertanyaan itu. Lagipula benar, 'kan, apa yang kutanyakan? Kenapa baru peduli sekarang? Dan aku penasaran dengan responsnya. Aku ingin tahu, apakah pertanyaan itu murni dari hatinya atau tidak.
Cukup lama aku menunggu, tetapi Mas Farhan malah diam. Seperti tidak ada apa-apa yang terjadi sebelumnya. Menyebalkan sekali kamu, Mas.
"Lupakan soal yang tadi."
Baiklah. Lagi-lagi aku harus menekankan pada diri sendiri untuk tidak menaruh harapan kepadanya. Sepertinya, Mas Farhan memang tidak berniat membuka hatinya untukku. Apa ada perempuan lain di sana?
...***...
Aku update. Ada yang nungguin enggak? Jangan lupa like, vote dan komentar. Rekomendasikan ke teman, boleh.
Salam manis dari orang manis.
__ADS_1
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Senin, 21 Mei 2021