
“Kamu mau ke mana, Farhan?” Suara Ayah tiba-tiba menginterupsi.
Langkahku langsung terhenti. Rutukan dalam hati pun tak terelakkan. Ayah mertuaku ternyata bisa bikin aku deg-degan juga, ya. Bisa mati mendadak kalau aku terus-terusan dapat kejutan seperti ini. Sudah seperti bertemu siapa saja aku tuh. Debar jantungnya masyaallah. Sampai bikin kepala pening. Belum lagi tangan yang diam-diam gemetar. Ternyata, aku lelaki brengsek bermental perempuan, ya. Begini saja deg-degan. Parah. Terserah kalian kalau mau komentar soal aku. Aku tidak peduli.
Dengan hati terus ketar-ketir, aku berbalik ke arah pria berkemeja batik Madura selengan itu, kemudian menjawab, “Mau jengukin Najwa juga, Yah.”
“Tidak usah. Kamu di sini saja. Takutnya Najwa malah enggak mau keluar kamar kalau tahu ada kamu di sini.”
Kepalaku terasa panas mendadak. Apa-apaan ini? Larangan secara halus, atau?
"Lagian dari kemarin kamu ke mana saja? Kenapa mau jengukin Najwa baru sekarang? Suaminya, bukan, sih?"
Astaga. Ini satu keluarga kenapa samaan, sih? Tidak Mas Gibran atau Mas Reza saja yang pandai menyudutkan orang dengan kata-kata. Ayahnya pun sama. Eh, mereka berdua pasti sifat turunan dari ayahnya, 'kan?
"Ayo duduk, Han. Sini, enggak mau cerita-cerita apa gitu sama Ayah?"
Aku melirik ke arah Bunda yang ternyata tidak jadi melangkah, kemudian melirik Bapak yang hanya diam saja. Mereka tidak ada niat membelaku sedikit pun?
"Duduk, Farhan. Kamu tidak mendengar apa yang mertuamu katakan?" Setelah sekian lama bungkam, akhirya bapakku itu bersuara. Tapi, sekalinya bersuara, malah begitu.
Aku langsung gelagapan. “Ta-tapi, A—”
“Eh, Bunda udah datang?”
Suara itu tiba-tiba menginterupsi aksi saling tatap antara aku, Bapak dan Ayah. Kami serempak menoleh ke arah sumber suara. Aku langsung tertegun menyadari kehadiran seorang perempuan yang berjubah hitam dengan kerudung sederhana berwarna senada.
Ya Tuhan, perempuan ini ... tatapan yang tak sengaja kulihat saat tak sengaja bersirobok, tampak meneduhkan. Ada keinginan besar dalam diri untuk menyapa, bahkan mungkin memeluknya. Namun, entah apa yang terjadi, aku malah seperti berubah jadi patung. Aku hanya bisa melihat interaksi antara dia dengan Bunda. Dia langsung memeluk Bunda usai mencium tangannya dengan takzim, lalu memeluknya.
“Kamu apa kabar, Nak? Sudah sehatan? Kenapa enggak kasih tahu Bunda kalau sakit? Untung Mas Reza-mu kasih tahu Bunda. Kalau enggak, Bunda pasti akan tetap berburuk sangka sama kamu.”
Niat sekali manas-manasi ayah mertuaku dengan kalimat itu, ya, Bun?
Aku menatap tak habis pikir kepada Bunda yang masih memeluk Najwa. Geraman tertahan mulai aku lakukan.
“Najwa udah mulai membaik kok, Bun. Sejak sakit, Najwa memang udah enggak tahu ponsel ada di siapa. Jadi ya gitu.”
__ADS_1
Lagian mana mau fokus pegang ponsel kalau orangnya sakit?
“Duduk dulu, Wa.” Suara Bapak kembali terdengar. Istriku itu mengurai pelukan dari Bunda, kemudian beralih menatap Bapak. Senyum yang terpatri di wajahnya itu ternyata masih sama. Sama-sama membuatnya terlihat manis meski rautnya pucat. Perlahan, ada rasa bahagia dalam hati begitu melihatnya mulai bisa tersenyum. Meskipun yang menjadi alasannya bukan aku. Karena setelah tatapan kami tak sengaja kembali bersirobok, senyum itu pudar seketika.
“Kamu udah bahagia, ‘kan, Mas, sejak aku pergi?” Bola mataku melotot. Alih-alih menanyakan kabar, Najwa malah
bertanya begitu. Tak sadarkah dia dengan perubahan penampilanku karena kekacauan yang dirinya cipatakan setelah pergi? Ah, salah. Kekacauan itu memang aku yang secara tidak langsung merencanakannya.
“Santai aja kali, Mas,” kata Najwa lagi. “Duduk dulu. Aku pengin ngobrol-ngobrol di sini, mumpung ada Bapak dan
Bunda juga, ‘kan?”
Mau tidak mau, aku hanya mengangguk kaku, kemudian kembali ke tempat duduk. Dia juga kemudian mengambil posisi duduk di samping kiri Ayah, di sebelah utara ruangan.
"Kata Ayah Bapak masih di Sumenep. Kok sudah ada di sini saja? Kapan Bapak pulang?"
Niat sekali mengabaikan suaminya, ya, Wa?
Aku hanya bisa mengembuskan napas kasar di tempat duduk. Mau menyapa Najwa, orangnya bahkan seperti tidak sudi berhadapan denganku.
Perempuan itu lantas menoleh ke arah Bunda. “Mas Farhan ada cerita apa gitu sama Bunda selama aku enggak di rumah?”
Seperti punya dendam kesumat, Bunda sama sekali tak berpihak kepadaku pagi ini. lihatlah responsnya. “Jangankan cerita, ditanya ini enggak nyahut, ditanya itu enggak jawab. Penampilan sudah mengalahi gembel di kolong jembatan juga, Wa.”
Aku mendesah berat. Sepertinya Bunda tidak bisa untuk tidak mengikutkan kata-kata yang sarat akan kemarahannya kepadaku.
"Bunda tuh sampai bingung, Wa. Tanya Kinan dan Reyhan, mereka bilang suruh tanya Farhan saja. Tapi Farhannya malah diam saja kayak orang bisu."
“Bunda." Aku melayangkan tatapan permohonan agar beliau tidak makin menjatuhkanku di hadapan Ayah. "Saya bisa jelaskan soal semuanya, Najwa. Tolong beri saya kesempatan untuk menjelaskan.”
Astaga. Mati aku kalau sekarang. Aku salah menyebutkan kata ganti di depan semua orang. Aku langsung memalingkan wajah untuk menghindari tatapan menginterupsi dari mereka semua.
Bukan menuruti kemauanku, Najwa malah berkata, “Mas, jangan menyela dulu. Aku mau ngomong duluan. Nanti terserah kamu mau ngomong sebanyak apa pun kalau aku sudah selesai. Boleh, kan?”
Baiklah, baiklah. Kita ikuti saja apa maunya tuan putri yang satu ini. Aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi, pasrah.
__ADS_1
Najwa beralih menatap Bapak dan Bunda yang duduk bersebelahan. “Em, aku boleh tanya sesuatu kepada Bapak dan Bunda?”
Kedua orang tuaku saling tatap sebentar, kemudian mengangguki permintaan Najwa hampir bersamaan. Jodoh.
“Waktu Bapak sama Bunda berniat melamar Najwa dulu, Mas Farhan sempat ngajuin syarat atau apa gitu? Atau pernah cerita kalau dia suka sama seorang perempuan?”
Bunda dan Bapak saling tatap. “Seingat Bunda enggak ada. Waktu Bunda bilang mau dijodohkan dengan anaknya Pak Ahmad, dia hanya bilang kalau kamu setuju, maka dia setuju.”
Ah, masa sih? Aku bahkan tidak ingat apa-apa. Mungkin karena waktu itu aku lagi kalangkabut mencari kabar Rifka yang tiba-tiba menghilang kali, ya?
Kulihat Najwa melirik ke arahku sebentar, kemudian kembali beralih menatap Bunda. “Bunda pernah cerita
sebelumnya soal Najwa ke Mas Farhan? Dia tahu enggak kalau perempuan yang Bunda lamar adalah aku?”
Tidak langsung menjawab, mungkin karena bingung juga kenapa menantu kesayangan Bunda itu tiba-tiba bertanya
begitu kepadanya, wanita yang telah melahirkanku itu masih terdiam. Beliau menoleh ke arah Bapak seolah-olah memberi kode. Pria paruh baya yang duduk di sampingnya itu kemudian berdeham pelan, dan membantu Bunda.
“Seingat Bapak, Farhan langsung setuju-setuju saja saat bundanya bilang anaknya Pak Ahmad menerima. Ya setelah itu langsung proses lamaran itu. Bukan begitu, Pak Ahmad?”
"Benar. Setelah kamu dan Farhan sama-sama bilang setuju, kami lantas menjadwalkan lamaran itu.
Fix, aku yang salah dari awal. Selamat menunggu hari kehancuranmu, Farhan. Ini bahkan baru tahap awal, tapi rasanya sudah tak sanggup untuk melanjutkan.
Astaga. Lirikan sinis yang kemudian diam-diam dilayangkan istriku kepadaku itu membuat rasa malu kian membuncah. Bagaimana tidak? Secara tidak langsung dia mencibirku yang lebih mengedepankan ego selama ini. Aku buru-buru memalingkan pandangan darinya. Untung setelah itu, Ayah yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba menyela, “Tapi, tunggu. Ini maksudnya apa, sih?” beliau menoleh ke arah putrinya.“Najwa, jelaskan sama Ayah. Apa yang terjadi?”
“Aku—”
“Biar Farhan saja yang menjelaskan, Najwa. Tugas kamu sudah selesai.”
***
Hayo, tebak. Siapa yang datang, tuh? Komen, kuy. Aku usahakan update cepat, ya. Untuk sementara dua chapter dulu. Terima kasih buat yang masih setia di lapak ini.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
__ADS_1
Minggu, 10 Oktober 2021