
Aku langsung bangkit dan berdiri tegap di hadapan Najwa. Menatapnya dengan lekat, bahkan hampir tak berkedip selama beberapa detik. Kucoba untuk memindai raut yang tercipta di wajahnya yang masih tampak pucat. Seperti tadi, dia memalingkan wajah. Membiarkanku menatap pelipisnya saja. Bagaimana aku tidak kesal saat diabaikan seperti ini?
"Najwa, apa pan—" Kata-kataku refleks terhenti saat bayangan pelakuanku kepada Najwa terputar secara tiba-tiba. Bagaimana saat aku mengabaikannya, menatapnya dengan tajam karena emosi negatif yang mendominasi, lalu saat dia mulai berani mencibirku saat di rumah ayahnya.
"Bagaimana, Mas? Enak enggak dicuekin?" Itu kalimat yang diresponskan Najwa yang masih kuingat sampai detik ini.
Tanganku spontan mengepal di kedua sisi tubuh. Aku masih mematung, menatap Najwa yang sama sekali tidak mau menoleh ke arahku lagi.
Ternyata rasanya diabaikan begitu menyakitkan. Lalu bagaimana bisa Najwa melalui hari-hari yang pasti menyakitkan karena ulahku itu?
Dengan emosi yang bercampur aduk, tetapi selalu berusaha kutahan, perlahan kugerakkan tangan dan mengangkatnya untuk meraih kembali bahu Najwa. Perlahan, kutarik tubuhnya, dan meraih wajahnya dan menghadapkannya kepadaku. Kupaksa dirinya untuk menatap mataku dengan menangkup wajahnya. Katanya, untuk tahu seseorang itu bohong atau tidak, lihat dari matanya. Lalu kejadian seperti tadi terulang, dia berusaha untuk melepaskan diri. Tapi aku enggak akan menyerah.
"Tatap saya, Najwa. Bilang sama saya kalau kamu memang sudah tidak lagi mencintai saya," ucapku seraya menyelami kedua bola matanya yang bening itu. Meski samar, aku melihat mata itu berembun. "Katakan dengan jujur melalui matamu itu, bilang sama saya kalau kamu memang menginginkan perpisahan di antara kita."
Ah, aku tidak tahu harus mendeskripsikan perasaanku seperti apa saat ini. Aku bingung. Saat aku mencoba menyelami lautan mata Najwa dan tak berhasil memahami apa pun selain air mata itu, aku merasa makin kalut. Sepanjang aku hidup, baru kali ini aku merasa sangat putus asa.
Siapa pun, tolong katakan kepada istriku ini bahwa aku sangat tidak ingin berpisah darinya! Aku sungguh telah jatuh cinta kepadanya!
Tubuhku terasa lemas menanti detik-detik Najwa membuka suara. Namun, aku berusaha untuk bertahan demi sifat naifku. Dan Najwa, apakah dia tidak tahu bahwa sikap diam serta tatapannya tidak mengarah kepadaku itu benar-benat menyiksaku?
Cukup lama aku menunggu, sampai kakiku terasa pegal karena terlalu lama berdiri, Najwa tidak kunjung bicara.
__ADS_1
Akhirnya aku kembali buka suara, "Ayo bilang, Najwa. Kenapa kamu malah diam? Kalau kamu memang sudah tidak lagi mau berjuang untuk hubungan kita, kamu tidak akan memalingkan pandang seperti ini."
Mungkin aku akan terkesan terlalu percaya diri di hadapan semua orang karena menyimpulkan sikap Najwa yang tidak mau bertatap muka denganku saat ini adalah sebuah bentuk penyangkalan kalimat keputusannya tadi. Tapi aku yakin Najwa masih mencintaiku—bahkan mungkin sangat mencintai. Orang yang sudah jatuh cinta kepada seseorang, akan sulit menghapusnya, sehingga untuk berpisah, itu akan terasa sulit baginya.
"Mas, berhenti. Aku rasa sudah tidak ada lagi hal yang harus kita bahas."
Aku menggeram tertahan. Dia malah mematahkan harapanku dengan kalimat itu. Kepala dengan refleks menggeleng melihat perubahan sikap istriku ini.
Kenapa Najwa-ku berubah menjadi orang yang keras kepala begini? Di mana Najwa-ku yang baik? Di mana dia sekarang? Apa yang telah aku lewatkan tentangnya sehingga aku begitu merasa kehilangan Najwa-ku? Sudah berapa lama aku melewatkan hari-hari tanpanya?
Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini?
Ah, benar kata pepatah, tak ada ceritanya buah betis ada di depan. Pasti akan selalu ada di belakang. Mungkinkah ini adalah bentuk karma yang harus kuterima atas sikapku pada masa lalu kepada istriku?
Aku mengerang frustrasi. "Najwa, bagaimana bisa tidak ada lagi hal yang harus dibahas?"
"Aku sudah bilang kan, Mas? Untuk apa memaksakan diri untuk melangkah bersama jika tujuan kita sudah berbeda?" Kali ini dia dengan berani menatap mataku. Tidak seperti tadi. Sepertinya dia sudah berhasil mengumpulkan kepingan-kepingan keberanian untuk menantangku.
"Ya Tuhan, Najwa!" Aku menurunkan kedua tangan dari wajahnya, lalu beralih mengacak-acak rambut. "Bagaimana caranya membuat kamu mengerti kalau saya sudah memutuskan untuk berjalan di arah yang sama dengan kamu? Bahkan saya sudah mempertimbangkan hal itu jauh sebelum kita datang ke rumah ayahmu."
"Tapi aku sudah tidak mau lagi berjalan berdampingan denganmu, Mas? Kenapa kamu selalu menyudutkanku dengan kata-kata yang seolah-olah kamu memang berarti buatku?"
__ADS_1
Kata-kata macam apa itu?
"Karena saya tahu kamu masih mencintai saya, Najwa. Sumber kebahagiaan kamu adalah saya." Dengan percaya diri yang begitu tinggi aku berlagak seolah-olah memang benar begitu adanya. Padahal itu tidak lebih dari sekadar hiburan untuk diri sendiri yang mulai kehilangan arah.
"Berhenti berbicara omong kosong, Mas. Aku memilih untuk mundur karena aku tidak bahagia bersamamu dan itu memang keinginan hatiku, bahkan dari lama."
Aku menatapnya dengan lekat diikuti senyum yang lebih tepat dibilang seringai.
"Rupanya istriku sudah bisa belajar bersandiwara, ya?" Aku tidak bisa menahan diri untuk diam dan tidak mengapresiasi perkembangan sikap Najwa saat ini. Dia mlah menatapku tajam. "Kalau itu memang keinginan dari hati kamu, kenapa harus ada air mata yang melintas di pipi tirusmu ini, Najwa sayang?"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!" Aku sedikit terkesiap saat mendengar Najwa meninggikan suara. Ini adalah kali pertama aku melihatnya sampai berani meninggikan suara.
Ah, siapa yang tidak akan marah jika berada dalam keadaan begini? Baiklah, sepertinya aku memang harus mengalah terlebih dahulu.
Kumajukan langkah untuk mendekat ke arah Najwa yang malah melangkah mundur. Dia seperti menghindari kejaran penjahat saja. Padahal aku ini ....
"Najwa, awas!" Beruntung aku bergerak cepat untuk menangkapnya yang tersandung bebatuan di belakangnya. Beruntung juga aku cukup kuat menahan tubuh kami sehingga berhasil tidak jatuh. Diam-diam aku mengagumi kecantikan perempuan yang sudah sah menjadi istriku ini. Bahkan dalam keadaan apa pun, wajahnya yang selalu tampak natural—karena kuperhatikan dia tidak menyukai kosmetik, berbeda dengan Rifka—dia selalu tampak cantik. Kenapa aku baru menyadari kalau istriku ini sangat menawan?
"Mas, pinggangku kram, nih. Mau sampai kapan kayak gini?" Suara Najwa yang terdengar merajuk itu menyadarkanku bahwa posisi kami masih saling memeluk dengan posisi tidak tegak. "Ayolah, Mas. Ini bukan drama sinetron. Aku bisa patah tulang kalau begini terus."
Ya Tuhan, sudah berapa lama aku tidak mendengar celotehan perempuan ini? Rasanya aku begitu bahagia mendengar istriku ini merajuk. Dia seperti kembali menjadi Najwa-ku, istriku yang awal-awal kukenal.
__ADS_1
***
Hai, aku update pagi-pagi. Ramaikan, yuk.