Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Keputusan


__ADS_3

"Astaghfirullah, Rifka!"


Bukan hanya Ayah yang beristighfar. Kudengar suara Mas Gibran, Mas Reza, dan ... ya Allah, ingin rasanya aku beringsut mendekati perempuan yang sudah membekap lisannya dengan kedua tangan untuk meredam tangis. Dialah Najwa, istriku yang malang. Kepalanya menggeleng—mungkin tidak habis pikir dengan tingkah adiknya.


Mas Reza bangkit dari tempat duduknya. Kupikir dia akan mendekat ke arah Najwa, seperti biasanya. Ternyata aku salah. Dia melangkah ke arah Rifka.


"Sadar, Dek. Apa yang kamu katakan tadi? Apa kamu lupa, kamu sendiri yang menerima Rifki waktu itu, dan sekarang kamu menyesalinya? Di mana otakmu? Apa kamu tidak memikirkan perasaan suami kamu?"


Mas Reza meraih bahu adiknya dan memaksanya untuk menoleh ke arah Rifki yang duduk di sampingnya. "Lihat, Rifka. Laki-laki yang selama ini sangat menyayangi kamu dan anak kalian ... ah!"


Mas Reza tampak sangat frustrasi. Dia menarik tangannya dari bahu Rifka dan terduduk di dekatnya.


Memang, jika melihat keadaan Rifki saat ini, aku ikut merasa bersalah. Dia orang baik, tapi aku malah ikut andil menyakitinya. Dia adalah orang kedua yang hanya diam pada saat semua orang mengekspresikan kekecewaannya setelah Bapak.


"Kalau kamu tidak bahagia dengan Rifki, tidak mungkin ada Rizqun. Tidak sadarkah kamu bahwa kamu hanya terobsesi dengan Farhan?"


Ah, obsesi. Benar. Perlahan-lahan aku mulai menyadari kalau apa yang dikatakan Mas Reza memang benar.


Kulihat Mas Reza meraih kedua tangan Rifka dan menatapnya dalam. "Sadar, Sayang. Maaf kalau selama ini Mas terkesan tidak peduli sama kamu. Asal kamu tahu, Mas sayang sama semua adik-adik Mas. Tolong pikir baik-baik, Rifka."


Dari sisi mananya Rifka berpikir kalau Mas Reza pilih kasih? Jika melihat sikapnya kali ini, dia tidak terlihat begitu. Tapi bagaimana? Terkait persepsi, seseorang mempunyai pandangannya masing-masing.


Mbak Diva tampak memperhatikan Rifka dan Najwa secara bergantian. Mungkin bingung mau menenangkan siapa. Rifki juga masih tampak diam saja—seperti tidak berniat menenangkan istrinya. Mungkin dia masih kecewa.


Setelah beberapa waktu, Mbak Diva beranjak mendekati Najwa. Mungkin karena di samping Rifka sudah ada Mas Reza. Ah, melihat hal itu membuat sebagian hatiku seperti dicubit. Saat seharusnya aku yang menenangkan istriku, malah orang lain yang ada di sisinya.


"Ya Allah, Rifka. Najwa mbakmu, Nak. Masih kurang bagaimana perhatian yang kamu dapat?" Ayah kembali bersuara. "Bahkan sejak punya dua adik, dia tidak pernah lagi menuntut macam-macam sama Ayah dan Ibu. Dia mengedepankan kamu dan Weny. Kamu cemburu sama Mas Reza-mu tanpa berpikir, apakah mbakmu tidak cemburu kepadamu yang selalu dimanja oleh Gibran?"


Sepertinya Ayah juga sudah tidak kuat menghadapi putrinya yang satu itu.

__ADS_1


"Kamu bilang iri kepada mbakmu karena perhatian dari Gibran, padahal Gibran lebih memanjakanmu daripada dia. Apa kamu sudah lupa itu? Saat Gibran mau membelikan mbakmu sesuatu, dia kerap menolak karena takut kamu tahu dan berakhir marah.


Dia bahkan sangat menjaga perasaan kamu. Mau sampai kapan kamu akan iri terhadap saudaramu, Nak? Dan sekarang, lihat, Rifka. Siapa yang ada di samping kamu itu?" Ayah menunjuk Mas Reza.


"Sebagai seorang kakak, dia dituntut untuk bisa menjaga adik-adiknya, membantu Gibran. Kalau dia tidak perhatian sama kamu, dia tidak akan ada di samping kamu sekarang. Kamu lupa? Saat kamu merengek minta dibelikan HP baru saat mau masuk SMA, itu uang siapa? Uang Reza yang mau dibayarkan SPP mbakmu. Tapi mbakmu memilih mengalah agar kebutuhan kamu terpenuhi terlebih dahulu."


Kulihat Rifka bangkit dari tempat duduknya, kemudian mendekat ke hadapan Ayah. Dengan cepat, aku menyingkir.


"Itu yang aku benci dari diri aku sendiri, Ayah. Aku minta maaf."


Rifka mulai histeris di pangkuan Ayah, mertuaku itu bergeming.


"Sudah, sudah. Rifka, bangun," kata Mas Gibran. Tapi dia tidak mau bangun. Akhirnya, kakak tertua Najwa itu sedikit menurunkan tubuh untuk membantu adiknya bangkit. "Ayo bangun. Jangan makin buat Ayah kecewa sama kamu."


"Mas, aku minta maaf." Rifka menghambur ke pelukan Mas Gibran. Semoga dia benar-benar mau berubah.


"Za, ayo balik ke tempatmu. Kamu juga Farhan."


Dengan gontai, laki-laki itu beranjak kembali ke kursinya, dan aku pun segera bangkit, beranjak menuju kursi di samping kanan Bunda.


"Ayah, Pak Rahmat, dan Bu Rahma, izinkan saya berbicara di sini."


Ayah diam, Bunda mengiakan, sementara Bapak hanya mengangguk pelan.


"Saya mewakili ayah saya, meminta maaf atas kekacauan yang diperbuat oleh Rifka. Mungkin juga selama Farhan tinggal bersama Najwa, adik saya itu ada salah, mohon dimaafkan juga. Kami—mewakili diri saya dan Reza, adik saya—juga mohon maaf atas perlakuan kami kepada Farhan sejak rahasia dia dengan Najwa tidak sengaja diketahui oleh kami."


Mas Gibran sangat bijaksana.


"Sekarang, masalahnya sudah jelas. Rifka dan Farhan punya hubungan yang tidak selesai di masa lalu. Saya berharap kalian berdua mau menyelesaikannya hari ini dengan bicara baik-baik." Suami Mbak Diva itu menoleh ke arahku, kemudian ke arah Rifka. "Setelah itu, mungkin kita bisa mendengar pendapat dari Rifki dan Najwa tentang hubungan yang telah terjalin di antara mereka."

__ADS_1


Semua orang masih terdiam, Mas Gibran melanjutkan pembicaraan. "Sebelum ini saya sudah bertemu dengan Farhan, meminta dia untuk jujur kepada Ayah dan kedua orang tuanya, dan memberi keputusan. Jadi, apa keputusan kamu, Farhan?"


Aku menggigit bibir sebentar karena kegugupan melanda. "Sebenarnya pagi hari saat HP saya ditemukan oleh Rifka, saya sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, Mas. Saya mengajaknya bicara di taman samping rumah, ya untuk itu. Tapi Rifka bilang enggak bisa.


Dia tetap mau saya yang mendampinginya, padahal semenjak tiba di rumah Ayah, saya sadar kalau ada hati yang harus saya jaga, yaitu istri saya. Rifka, maafkan aku. Hubungan kita sudah salah dari awal. Aku harap kamu bisa menerimanya."


Kualihkan pandang darinya yang terlihat tidak menyetujui keputusanku. Biarlah, aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, dan tekadku sudah bulat. Aku akan beranjak dari angan-angan di masa lalu.


"Oke." Mas Gibran beralih menatap suami Rifka. Dia menghela napas sejenak, kemudian berkata, "Rifki, saya minta maaf, atas diri saya dan semua keluarga—terlebih Rifka."


Suami Rifka hanya mengangguk.


"Silakan kalau ada yang mau disampaikan, Ki."


Dia menarik napas panjang terlebih dahulu. "Sebagai suami Rifka, jujur saya kecewa karena baru tahu kalau ternyata dia menerima saya atas dasar keterpaksaan, Mas. Saya merasa seperti tempat sampah yang digunakan sebagai tempat terakhir persinggahan barang-barang setelah orang-orang tidak menginginkannya. Apalagi hari ini, tepat di depan mata, istri saya malah membela orang lain, itu sangat menyakitkan."


Ah, Rifki dengan terang-terangan bilang begitu. Dia menoleh ke arah istrinya yang duduk di samping Mas Gibran.


"Rifka, aku minta maaf karena sudah menjadi penyebab kamu tidak bisa sama-sama dengan Mas Farhan. Mungkin aku juga yang salah karena tidak peka kenapa kamu tiba-tiba mau menikah denganku padahal kita dulu tidak dekat sama sekali."


Bagaimana perasaan Rifka saat panggilan kesayangan dari suaminya tidak lagi terdengar saat ini? Apakah dia akan merasa kehilangan? Semoga saja dengan begitu Rifka akan sadar dan mau menerima keputusan aku.


"Aku ingin kita sendiri-sendiri dulu biar bisa menenangkan diri. Sementara waktu aku akan tinggal di rumah Ibu. Kalau sekiranya Rizqun akan kamu telantarkan aku siap membawanya ke rumah Ibu. Dan Mbak Najwa, maaf karena istriku Mbak kena batunya juga."


Najwa hanya mengangguk. Wajahnya sudah sangat kacau. Isak kecil masih sesekali terdengar dari bibirnya. Bersyukur Mbak Diva ada di sampingnya.


"Sekarang, bagaimana sama kamu, Najwa?"


Ini yang paling menegangkan. Tokoh utama dalam cerita ini ... aku mulai harap-harap cemas. Dari tadi dia tidak berbicara sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2