Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Jangan Insecure


__ADS_3

"Aku enggak akan balik kalau Mas Reza enggak jujur." Raut yang tercetak di wajah tampan kakakku kali ini berubah kesal. Namun, aku tidak peduli. Mas Reza dan Mas Farhan jelas berbeda. Dia tidak akan bertindak seperti Mas Farhan tadi. Jadi aku tidak takut.


Yang menjadi pertanyaan besar dalam otakku sekarang adalah, ada apa sih antara Mas Reza dan Mas Farhan? Kenapa mereka berdua seperti menyimpan sesuatu yang tidak kuketahui?


“Mas enggak bilang apa-apa." Dia mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya ke hadapanku. Akan tetapi, aku belum percaya karena aku menyadari masih ada hal yang janggal dengan jawaban Mas Reza. "Ya Allah, Dek. Kamu diajari keras kepala sama siapa, sih? Udah dibilangi juga dari tadi."


Aku menyengir lebar menanggapi gerutuan Mas Reza.


"Mas, susah banget, ya, ngasih tahunya? Sejak kapan ada rahasia di antara kita?"


Decakan cukup keras kudengar dari lisan Mas Reza. "Mas tadi hanya mengingatkan Farhan biar dia tidak bertingkah yang nantinya buat dia menyesal, juga soal kedekatannya dengan Rifka.” Bola mataku membulat mendengar kata-kata Mas Reza yang ini. Bibirku hanya bisa mangap, bingung harus menanggapi bagaimana.


“Mas memang enggak tahu di antara mereka ada apa. Karena ya, dari dulu, bahkan sampai sekarang, Rifka jarang cerita-cerita sama Mas." Mas Reza menghadapkan tubuhku ke arahnya. Dua tangannya bergerak menangkup pipiku. "Mas tahu, kamu kepikiran soal kejadian tadi sore, ‘kan, sampai tidak keluar makan?”


Apa yang harus kujawabkan, sementara Mas Reza hafal betul sikap aku?


"Mas diam saja, bukan berarti Mas enggak tahu. Gayanya aja Mas fokus ke ponsel dan pakai headset, tapi telinga Mas enggak fokus ke tontonan Mas."


Ternyata begitu. Niatnya aku tidak mau bercerita apa pun ke Mas Reza, karena kupikir dia tidak tahu-menahu soal kejadian itu. Namun ternyata dia malah sudah tahu. Aku masih terdiam.


"Kamu adalah tipe orang pendiam dan suka enggak mau bicara kalau enggak diajak bicara duluan. Dan Mas rasa tebakan Mas kalau kalian enggak begitu sering berinteraksi karena sikap pendiam kamu itu, kan?”


Kepalaku tertunduk seketika. Itulah sebabnya kenapa aku seringnya bersama Mas Reza. Dia yang paling paham soal aku.


“Makanya pas kamu lihat suami kamu bisa akrab dengan orang lain--yang dalam hal ini adalah adik kamu sendiri--kamu insecure. Benar?"


Aku hanya bisa mengangguk pelan. Malah, rasa cemburu itu seolah-olah makin bertambah seiring kembalinya ingatan itu ke dalam benak. Lagi, Mas Reza mengangkat wajahku. Dia tatap mata ini dengan penuh kelembutan.


“Sebagai seorang kakak, tugas Mas adalah mengingatkan adik-adiknya, termasuk kalian berdua." Mas Reza menjeda kalimatnya sebentar dengan menarik napas, kemudian mengembuskannya. "Oke, Mas tidak akan ikut campur masalah kalian, karena memang Mas sadar, Mas enggak ada hak. Mas hargai privasi kamu sebagai istrinya Farhan. Mas juga yakin, adik Mas ini bisa menyelesaikan masalahnya sendiri." Bibirku tidak lagi bisa menahan senyum saat Mas Reza juga tersenyum ke arahku seraya menjepit pelan hidungku.

__ADS_1


"Kamu itu lebih cantik kalau lagi senyum, Dek."


"Dih, Mas Reza belajar gombal dari siapa, sih?" Tumben sekali kakakku yang satu ini gombal. Biasanya juga tidak.


"Ada, deh."


Suasana kamar Mas Reza yang semula sepi, kini ramai dengan suara tawa kami yang tiba-tiba pecah. Rasanya begitu nikmat saat aku bisa kembali tertawa seperti ini. Setelah dua bulan berada di rumah Mas Farhan, yang secara tidak langsung menjadi penjara buatku, akhirnya aku bisa tertawa seperti sekarang lagi.


"Udah ketawanya, Dek. Ayo lanjutkan pembahasan tadi."


Mas Reza kenapa keburuan sekali, ya? Baru juga tertawa, bahagia, dalam beberapa menit, dia malah kembali mengingatkanku soal itu. Aku memanyunkan bibir. Bikin badmood saja.


"Hei, ingat. Ada suami yang menunggu kamu di kamar. Mas juga enggak mau ditegur Ayah atau Mas Gibran dengan membiarkanmu di sini, sementara Farhan sendirian di sana."


Duh, ribet amat ya punya suami. Eh, astaghfirullahal azim. Menjauhlah, Setan. Berhenti meracuni pikiranku.


"Iya, iya. Ayo, Mas mau bilang apa? Aku mau pasang telinga nih buat dengerin Mas."


"Sulit, Mas." Mataku kembali berkaca-kaca. Kalau ingat kejadian tadi, aku pasti tidak bisa mengontrol emosi.


"Bisa, Dek. Kamu bisa lawan rasa insecure kamu, asal ada kemauan untuk memberantasnya. Coba deh, jangan biasakan bilang enggak duluan. Kamu tahu, terkadang keinginan kita sulit terwujud, karena ada mindset negatif terlebih dahulu."


Entah respons apa yang harus kuberikan kepada Mas Reza sekarang. Sulit sekali rasanya.


"Kamu bilang sulit untuk enggak insecure, padahal kamu pun belum melakukan apa-apa. Andai kamu usaha dulu sebisamu, apakah akan berakhir sia-sia? Enggak, 'kan?"


Air mataku perlahan menetes sebulir demi sebulir. Apa yang dikatakan Mas Reza memang benar.


"Hei, insecure itu ada karena kamu selalu membanding-bandingkan diri kamu dengan orang lain. Padahal harusnya kamu tahu, setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan tentunya berbeda-beda, Dek."

__ADS_1


Itu juga yang masih sangat sulit untuk kuhindari. Akhirnya pertahanan untuk tidak menangis di hadapan Mas Reza lagi pun tidak terelakkan. Kemauan air mata berbanding terbalik dengan kemauan pikiran. Tubuhku kembali bergetar saat emosi negatif kembali membuncah di balik dada, dan tangis kembali berderai-derai. Aku menangis juga karena kesal dengan diriku sendiri yang masih suka sekali maladeni hal-hal negatif.


Seperti biasa, Mas Reza mendekapku, membiarkanku meluapkan emosi dengan tangisan terlebih dahulu.


"Sudah tenang, Dek?" tanya Mas Reza setelah beberapa waktu kami lalui dengan keheningan dan suara isak tangisku.


Sesaat setelah aku mengangguki ucapan Mas Reza, dia pun mengurai pelukan kami. "Kunci utama agar kamu tidak insecure, bersyukurlah, Dek." Dia usap air mataku dengan lembut. "Lagipula masih banyak hal yang bisa kamu syukuri, dan itu tidak dimiliki orang lain, yang bisa kamu jadikan alat ampuh melawan insecure itu. Farhan suami kamu, kamu ada hak atasnya. Jadi, apa yang harus buat kamu insecure?”


Ya Allah, kenapa juga itu enggak terpikirkan sama aku, ya?


"Pada saat orang lain hanya bisa berinteraksi dalam beberapa waktu saja, kamu bisa berinteraksi kapan pun dengan dia. Kamu bisa tinggal dengannya, melalui hari-hari bersamanya dalam jangka waktu yang panjang. Kenapa harus insecure dengan hal-hal kecil?"


Mas Reza tersenyum lembut ke arahku. “Sudah, ah. Kamu harus kuat, dan Mas yakin kamu kuat, Dek. Apa pun masalah kamu sama Farhan, semoga lekas kelar, ya.”


Setitik air mata kembali melintas. Mas Reza bukan hanya tempat curhat buat aku, tetapi tempat menemukan solusi dan motivasi. Dia yang selalu berhasil membuatku semangat untuk menjalani kehidupan dengan sejuta cobaan. Segera kulabuhkan kembali tubuhku ke dalam dekapannya diikuti kata terima kasih banyak atas kebaikan-kebaikannya.


“Sudah lega, ‘kan?” Mas Reza menatapku penuh kasih setelah pelukan kami terurai. Aku menyunggingkan senyum, lalu mengangguk mantap karena memang itu yang aku rasakan sekarang. “Karena kamu sudah baik-baik saja, sekarang kamu balik ke kamar, ya?”


Kuputar bola mataku. “Mas ngusir aku?”


...***...


Hai, aku update pagi-pagi, nih. Senang enggak?


Jangan lupa tinggalkan jejak apresiasi kalian, ya. Terima kasih buat kalian semua yang sudah setia membersamai langkah Mas Farhan dan Najwa sampai titik ini. Jangan bosan menunggu. Sekali lagi, terima kasih. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian. Aamiin.


Kalau bisa, kasih tahu teman-teman atau orang-orang terdekat kalian dong, buat baca novelku. He-he.


Salam manis dariku.💙

__ADS_1


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Kamis, 5 Agustus 2021


__ADS_2