Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Mencoba Baik-baik Saja


__ADS_3

“Mau ke mana, Dek?” tanya Mas Reza. Lirikan matanya mengikuti arah gerak tubuhku yang perlahan bangkit dari tempat duduk.


“Mau salat Maghrib, Mas. Tuh, sudah azan.” Beruntung sekali bertepatan dengan azan. Jadi, aku tidak usah repot-repot putar otak untuk cari alasan pergi dari tempat itu. Kulirik Mas Farhan. “Ayo, Mas.”


Dia pun ikut bangkit setelah berpamitan kepada Mas Reza dan Rifka.


Kilas kejadian tentang interaksi Mas Farhan dan Rifka di ruang depan rumah tadi, kembali tersaji dalam ingatan, membuat perasaan dongkol tidak terelakkan. Ya, aku tidak akan menutupi hal itu. Aku benar-benar sadar, kalau aku kesal dengan mereka. Akan tetapi yang membuatku lebih kesal adalah diriku sendiri. Hati seperti tidak bisa mengendalikan pikiran negatif yang terus berkelindan, bahkan pada saat melaksanakan salat pun, bayangan itu terus mengikuti.


Aku lelah begini terus. Memang, secara lahir aku tidak apa-apa. Namun, keadaan batin yang terus seperti ditempa dengan berbagai konflik tidak kasatmata, membuatku lelah juga. Aku bahkan malas berbuat apa-apa, padahal di luar masih ada Weny dan Mbak Diva juga. Mereka semua memutuskan untuk menginap malam ini.


“Kamu tidak makan?” Kuedarkan pandangan ke arah Mas Farhan yang baru masuk kamar. Ya, sedari usai melaksanakan salat Isya’ tadi, aku malas sekali untuk keluar kamar. Entah apa yang akan saudara-saudaraku proteskan nanti jika aku keluar. “Mas Reza tanyain kamu mau makan apa tidak, soalnya saudara-saudara yang lain, lagi makan bareng sama Ayah.”


Aku menggeleng. “Lagi enggak pengin makan aja, Mas.” Padahal, aku ingin sekali makan sama-sama Ayah. Namun— “Ya Allah, Mas Farhan enggak makan, kan?” Aku mulai heboh.


“Kamu tidak makan, jadi saya tidak ikut. Tadi pamitnya mau manggil kamu buat makan.”


Aku mengusap seluruh sisi wajah. Cepat, kuturunkan kaki ke lantai, meraih kerudung lalu memasangnya dengan cekatan, kemudian menarik lengan Mas Farhan untuk keluar kamar.


“Tunggu. Kamu mau bawa saya ke mana?”


Karena Mas Farhan tiba-tiba berhenti, otomatis aku ikut berhenti. Kubalikkan badan ke arahnya. “Mas Farhan hanya makan tadi pagi itu, ‘kan? Kenapa enggak ikut makan aja, sih, tadi pas ditawari?”


“Ya karena kamu tidak makan—”


“Mas, aku lagi enggak pengin makan. Ayo aku antar Mas Farhan ke dapur kalau memang Mas tadi malu untuk ikut makan karena enggak ada aku.” Kutarik kembali lengannya untuk segera ke dapur. “Mas Farhan harus makan, Mas. Sudah seharian, lo, Mas enggak makan. Entar sakit gimana?”


Namun, suamiku tercinta itu malah seperti sengaja menegakkan tubuh agar tidak bisa ditarik olehku. Menghela napas cukup kasar, aku kembali menoleh ke arah Mas Farhan. Dia masih bergeming dari tempatnya berdiri—dekat tempat tidur.


“Kalau kamu bisa memikirkan kesehatan saya, kenapa tidak dengan diri kamu sendiri?” Bibirku mengatup rapat. “Apa bedanya saya dan kamu? Kita sama-sama makan pagi tadi juga, kan? Kenapa tidak mau makan? Niat sakit?”


Ya Allah, Mas. Kutundukkan kepala lagi karena tiba-tiba ada air mata yang terasa ingin menetes mendengar kalimat Mas Farhan yang menyiratkan kepedulian. Ah, benarkah Mas Farhan mulai peduli kepadaku?

__ADS_1


Kutarik napas dalam-dalam, kemudian setelah merasa cukup tenang, aku kembali mendongak. Kusunggingkan sedikit senyum di bibir ini. “Makasih, Mas. Tapi aku benar-benar lagi enggak pengin makan. Aku sudah kenyang.” Kenyang makan hati!


Mas Farhan malah tetap diam. Maunya Mas Farhan ini apa, sih?


Kulepaskan tanganku di lengannya seraya memundurkan langkah. Kutatap kembali wajah hitam manisnya lekat-lekat. Ingin protes, tetapi ....


“Aku ambilkan saja makanan buat Mas, ya? Maaf kalau aku kepedean. Mas enggak usah pikirin aku. Aku bisa makan kapan aja, Mas.”


Melihat anggukan yang diberikan Mas Farhan aku langsung beranjak untuk mengambilkan makanan untuknya.


Semoga para saudaraku sudah selesai makan semua, ya Allah. Aku malas diinterogasi ini-itu.


Aku menghela napas pelan—cukup lega rasanya—saat pertama memasuki dapur, di sana sudah sepi. Buru-buru kuambilkan makanan untuk Mas Farhan karena takut ada yang memergoki.


Baru selesai mengambil nasi dan lauk yang kupikir cukup untuk Mas Farhan, aku dikejutkan oleh kehadiran Mbak Diva. Untung aku masih ingat kalau sedang memegang piring. Jadi, tidak akan ada drama piring pecah dan sebagainya. Mendengar panggilan kakak iparku itu, aku lantas berbalik. “Kamu mau makan, Dik?”


Aku mengangguk kaku seraya tersenyum.


Pernyataan Mbak Diva membuatku menggigit bibir. Ada rasa bersalah yang tercipta dalam hati karena aku tidak bisa menemani Ayah dan saudara-saudaraku yang lain.


Ya Allah, karena terlalu mementingkan ego, tanpa sadar aku melukai hati mereka. Ampuni hamba, Tuhan. Pasti Ayah kepikiran kenapa aku tidak keluar kamar tadi.


“Enggak apa-apa kok, Mbak. Tadi aku merasa kelelahan gitu. Jadi ya ketiduran abis salat Isya’.” Dalam hati terus kulanggengkan istighfar karena jawaban yang kuberikan bukanlah yang sebenarnya. “Ya sudah, Mbak. Aku pamit mau ke kamar. Kasihan Mas Farhan, takut nungguin.”


Mbak Diva tiba-tiba meledek, “Pantas saja Farhan tadi ditawari makan bareng enggak mau. Jadi mau mabar sama istri tercinta ternyata.”


Ah, aku jadi kikuk sendiri. Bingung mau menanggapi seperti apa. Aku lantas buru-buru pamit, takut diledek atau ditanya-tanya lagi.


...***...


Begitu tiba di kamar, kulihat Mas Farhan duduk bersandar pada sandaran dipan dengan kaki berselonjor. Tatapannya terlihat fokus ke depan. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Pelan, kulangkahkan kaki menuju ke arahnya.

__ADS_1


“Mas, ini makanannya.” Dia mengalihkan pandangan ke arahku, kemudian meraih piring yang kusodorkan. “Ada menu yang enggak disukai enggak, Mas?”


“Tidak. Saya bisa makan ini semua, kok.”


Syukurlah. Aku tidak mau kejadian tadi pagi terulang lagi.


Mas Farhan mulai menyuapkan sesendok demi sesendok makanan itu. Sungguh, begitu bahagia rasanya saat aku bisa melayani suamiku begini.


“Kamu benar tidak mau makan?” Mas Farhan melirikku yang masih berdiri di sampingnya.


Aku hanya menggeleng pelan diikuti senyum yang terus berusaha kupaksakan. Aku harus tampak baik-baik saja di mata Mas Farhan. Aku merasa akan lebih mengenaskan lagi hidupku jika mengharapkan pengibaan darinya.


“Ini minumnya, ya, Mas.” Kutunjukkan posisi gelas yang kuletakkan di nakas samping tempat tidur. “Kalau Mas sudah selesai, piringnya taruh di dekat pintu aja. Biar aku yang bawa ke dapur nanti.”


“Kamu mau ke mana?”


Mas Farhan peka sekali, ya? Bisa-bisanya dia menyadari gelagatku yang memang akan pergi dari kamar ini.


“Aku mau ke kamar Ayah dulu, Mas. Aku kepikiran, soalnya Mbak Diva barusan bilang beliau nyariin aku. Sekalian mau ke kamar Mas Reza juga.”


Aku sedikit kaget saat Mas Farhan tiba-tiba meletakkan piringnya di nakas samping gelas barusan, padahal makanannya masih tersisa separuh. Apalagi saat dia kembali menatapku tajam, seperti menginterupsi.


“Kenapa berhenti makannya, Mas?”


“Mau apa ke kamar Mas Reza?”


...***...


Aku update. Silakan tinggalkan jejak jika berkenan. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, ya. Jazākumullah khairal jazā' wa ahsanah. Aamiin.


Sumenep, Madura, Jawa Timur

__ADS_1


Selasa, 3 Agustus 2021-------


__ADS_2