Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Dimarahi Bunda


__ADS_3

"Farhan." Panggilan itu mengalihkan perhatianku. Aku langsung menoleh untuk melihat siapa yang memanggil. Ternyata Bapak.


"Pulang."


Aku tergagap mendengarnya. Pulang? Apa aku harus berjauhan lagi dengan Najwa? Enggak, itu enggak benar, kan?


Aku menoleh ke arah Najwa yang ternyata berhenti di pintu rumah karena berpapasan dengan Bunda. Entah apa yang mereka bicarakan, Bunda maupun Najwa sama-sama mengusap pipi masing-masing, lalu berpelukan. Setelah itu, aku melihat Najwa melirik ke arahku yang juga diikuti Bunda. Lagi, aku hanya bisa mengernyitkan kening ketika melihat interaksi antara ibu dan istriku itu.


"Apa telingamu sudah tidak berfungsi dengan baik sehingga panggilan Bapak terabaikan?" Aku tertegun saat melihat Bapak sudah berdiri di hadapanku. Aku kembali melirik ke arah Bunda dan Najwa, ternyata dia sudah tidak ada di sana. Bunda juga sudah melangkah ke arahku dan Bapak.


"Pulang," ajak Bunda juga. Kali ini dengan suara dingin bercampur serak. Ah, itu pasti karena Bunda terlalu lama menangis.


Dalam sesaat, aku bertingkah layaknya orang linglung. "Pak, Bun, kok aku diajak pulang? Aku kan—"


"Mau apa lagi?" Tatapan Bapak menajam.


Belum juga menjawab pertanyaan Bapak, Bunda menyela, "Apa kamu sudah tidak punya muka? Bagaimana bisa kamu akan tinggal bersama Najwa pada saat di antara kalian tidak sedang baik-baik saja?"


Ah, Bunda. Aku kan jadi bingung harus menanggapi apa.


"Tapi kan ... perbincangannya sudah? Begitu saja?" Aku tidak mengerti kenapa mereka sudah keluar.


"Kamu mau mengumpankan dirimu kepada mertuamu sebagai samsak pelampiasan kemarahannya?" Kata-kata Bapak nyelekit banget, ya? Ah, aku jadi ingat saat mengata-ngatai Najwa. Apa dia juga merasakan hal ini?


"Ayo pulang, Pak. Katanya anak itu sudah dewasa. Pastinya bisa membedakan mana yang benar dan tidak. Anak yang sudah tidak mau dikasihani orang tua, biarkan saja."


Ya Allah. Bapak sama bundaku ini kenapa begini amat, ya? Bukannya menenangkan aku dengan kalimat-kalimat yang baik, malah begitu.

__ADS_1


Aku hanya bisa menatap nanar kedua orang tuaku yang sudah melenggang meninggalkanku yang masih enggan beranjak dari rumah ini. Jujur, berat banget rasanya untuk pergi dari sini.


Ah, bagaimana bisa aku akan berjauhan lagi dengan Najwa? Apa aku akan baik-baik saja? Bahkan, belum genap seminggu Najwa tidak ada di rumah, itu membuat suasana di sana tampak sunyi. Padahal aku tidak benar-benar merasakan keramaian di sana—terkecuali kebawelan Najwa. Itu pun hanya dalam waktu-waktu tertentu karena aku sangat jarang ada di rumah.


Kutatap lekat seluruh bagian dari rumah Ayah, memindai setiap bagian dan kenangan yang tercipta di beberapa sudut rumah ini bersama Najwa. Baru berpisah beberapa meter saja, aku sudah sangat berat untuk berpisah dengan Najwa, apalagi jika pulang ke rumah?


Najwa, keluarlah, Sayang. Jemputlah suamimu ini.


Entah sial atau bagaimana, Najwa yang kuharapkan datang, malah orang lain yang muncul di hadapan dengan raut wajah yang masih sembap. Sungguh, aku begitu enggan untuk kembali bersitatap dengannya.


"Mas—"


"Rifka, apa belum jelas kata-kataku tadi?" Aku tidak mau berbasa-basi lagi dan tidak ingin terlalu berlebihan menanggapi Rifka saat ini. Aku sudah benar-benar kehilangan mood baik hari ini. Di samping itu, hati mulai ketar-ketir dengan keberadaan Rifka di sini.


Sesekali aku celingak-celinguk untuk memastikan keadaan taman samping rumah ini benar-benar aman.


Semoga memang tidak ada yang melihat kami di sini. Soalnya baru beberapa jam menit yang lalu kami terlibat masalah besar, dan sekarang orang yang merupakan sumber masalah ini datang menemuiku. Bisa-bisa mati aku kalau ketahuan. Di rumah ini ada empat orang lelaki yang siap menggebuki aku kalau sampai tepergok. Ayah, Mas Reza, Mas Gibran, dan Rifki. Bukan, bukan aku takut mati. Tapi kalau aku mati dan belum bisa mendapat maaf dari Najwa itu ....


"Kalau kamu mau minta maaf, harusnya bukan ke saya. Tapi ke mbakmu. Dia yang banyak merasakan kesakitan akibat ulah kamu."


Dia terdiam.


Jujur, aku kadang heran dengan Rifka. Kenapa bisa Rifka menaruh iri kepada kakaknya. Kupikir orang punya saudara itu menyenangkan. Karena punya banyak teman dan ... pokoknya seru kayaknya punya saudara. Dulu aku bahkan sampai terang-terangan bilang ke Bunda dan Bapak untuk punya adik. Tapi Bapak dan Bunda dengan sangat sedih mengatakan kalau mereka tidak lagi bisa mempunyai keturunan karena ada masalah dengan rahim Bunda.


Dari pengalaman Rifka dan Najwa, aku bisa belajar, sedekat apa pun hubungan seseorang, pasti ada celah untuk iri, merasa tidak suka, dan lain-lain. Karena memang kodratnya manusia yang penuh kekurangan.


"Farhan, baru tadi mertuamu sangat marah akibat perbuatan kamu, sekarang mau berulah lagi?" Suara yang begitu familier itu tiba-tiba menginterupsi kegiatanku.

__ADS_1


Aduh, Bunda!


"Aw, aw, Bunda, lepas dong." Aku tidak bisa menahan rintihan itu saat Bunda mulai memelintir telingaku layaknya tali rafia. Bundaku sadis banget, ya Tuhan.


"Apa? Kamu ini kapan insafnya sih, Farhan?" Bunda sama sekali tidak mengindahkan rintihan aku.


"Bunda, Bunda dengarkan aku dulu. Aku sama sekali enggak ada niat nemuin Rifka. Dia yang datang sendiri barusan."


"Iya, Tante. Saya hanya minta maaf sama Mas Farhan tadi."


Dengan tangan masih belum melepas jeweran di telingaku, Bunda menoleh ke arah Rifka.


"Rifka, Tante tidak mau bermasalah denganmu. Tadi Tante sudah minta maaf sama kamu atas nama diri Tante, Farhan dan bapaknya. Tante mohon jauhi Farhan kalau kamu memang sayang sama dia."


Aku melotot mendengar kata-kata Bunda.


"Tapi sebaiknya kamu mulai berhenti untuk menyayangi Farhan karena ada yang lebih berhak kamu sayangi. Tolong, ya, Nak. Kamu itu baik, cantik, dan tentunya sama-sama dibanggakan oleh ayah kalian. Pikirkan lagi kata-kata Tante barusan."


Bunda lantas menarikku. "Kami permisi."


Entah bagaimana respons Rifka, aku tidak tahu. Bundaku sudah melepaskan jewerannya, berganti menarik lenganku menuju mobil. Sudah begitu, beliau malah menarikku layaknya kambing peliharaan. Ngenes banget hidupku.


Sesampainya di mobil, Bunda langsung marah-marah, "Kamu jadi cowok harus tegas dong, Han. Jangan diam aja."


Aku mendesah berat. Kapan bundaku ini tidak akan marah-marah? Dari awal beliau terlihat sangat dendam sekali kepadaku. Tapi untung sih kalau beliau berekspresi. Daripada Bapak yang masih cuek bebek. Lihatlah apa yang dilakukan bapakku itu. Saat anaknya dijewer-jewer sama ibunya, dia diam saja.


"Kalau Bunda ngomong tuh dengerin. Kapan kamu akan diterima sama Najwa kalau kamunya tidak tegas seperti itu?"

__ADS_1


"Aduh, iya, Bunda."


__ADS_2