
"Tapi Mas?" Aku mulai memasang raut melas di depannya. Kali saja dia masih dalam mode baik sehingga mengizinkanku untuk ke kamar Mas Reza sebentar.
“Kamu mau apa, sih, ke kamar Mas Reza? Masa belum puas kumpul sama dia?" Mas Farhan tampak tidak suka. Eh, atau aku hanya salah menebak. "Tadi sore aja kamu sudah menghabiskan waktu sama dia, ‘kan? Sudah begitu, tidak melirik sisi kanan-kiri, fokus saja sama Mas Reza.”
Kenapa lagi ini?
Ya Tuhan, andai kepala ini bukan ciptaan-Mu. Sudah pasti ia meledak karena setiap kejutan yang diberikan Mas Farhan mampu memporakporandakan ia. Sikap Mas Farhan makin tidak tertebak. Baru saja dia bersikap manis, sekarang kembali jutek lagi. Mau terus berpikir positif pun rasanya sangat sulit, karena selalu saja ada hal-hal negatif yang mengiringi, dan terus menciptakan kebimbangan dengan hal yang sebenarnya.
“Mas Farhan kenapa, sih? Apa salahnya aku ke kamar Mas Reza? Dia kakakku. Aku kangen sama dia.”
Mas Farhan balik menatapku dengan tatapan tajam seperti biasanya. “Kenapa hanya sama Mas Reza? Kakak kamu bukan dia saja, 'kan?”
“Karena dari dulu, aku paling dekat dengan Mas Reza.”
“Terus kamu mau curhat ini-itu sama mas kamu?”
Mas Farhan takut banget, ya, sama Mas Reza? Kenapa? Terus, kenapa juga dia hanya sensitif sama kakak keduaku? Kenapa tidak dengan Mas Gibran? Apa Mas Reza sudah sempat berbicara sama Mas Farhan soal keadaanku yang tadi pagi, sehingga Mas Farhan sengaja menjaga sikap? Ah, kalau begini, aku malah jadi makin ingin bertemu dengan Mas Reza. Aku ingin memastikan kalau kakak tersayangku itu tidak berkata yang macam-macam kepada suamiku ini.
"Kenapa diam?"
Aku masih diam, tidak tahu harus menanggapi apa. Ketakutan demi ketakutan terus menyelinap ke dalam hati, memunculkan kepanikan yang makin tidak terkendali. Aku takut terjadi hal-hal yang di luar ekspektasiku. Di samping itu, aku juga takut ketika terlalu berekspektasi akan perubahan Mas Farhan, malah kembali dijatuhkan oleh realitas. Terlalu sering dijatuhkan oleh kenyataan itu sudah seperti menjadi trauma batin bagi diriku, dan masih sangat sulit aku kendalikan, makanya aku rentan sensitif.
Kuangkat kembali kepala yang tertunduk setelah mendengar pertanyaan Mas Farhan tadi. Sejenak, kubiarkan tatapan kami saling bertemu. Persetan dengan rasa kikuk dan canggung yang kemudian hadir setelahnya.
“Mas Farhan ini sebenarnya kenapa? Mas Farhan marah karena aku sering menghabiskan waktu sama Mas Reza, sedangkan sama Mas enggak?” Makin kutatap lurus mata pekatnya, mencoba mencari-cari hal-hal yang bisa menjawab rasa penasaranku.
Namun, jawaban yang dia berikan lagi-lagi membuyarkan semua harapku.
“Selain suka melamun, sekarang hobi kamu nambah jadi suka halu.”
Nah, ‘kan? Lihatlah respons suamiku.
“Sudah begitu, halunya overdosis. Jangan terlalu tinggi kalau mengkhayal, nanti stres atau bahkan gila, baru tahu rasa.”
Ya Allah, Mas. Kata-katamu nyelekit amat. Sudah mengalahi sakitnya ditikam dengan pedang tajam rasanya.
Kucoba mengedip-ngedipkan mata sebentar untuk menghalau bulir-bulir air mata yang kembali ingin menetes dari kelopakku. Siapa yang tidak sakit hati kalau selalu disuguhi kata-kata kasar seperti itu?
__ADS_1
Aku tersenyum tipis, meski dalam hati ingin tertawa lebar, mentertawakan nasib diri yang makin ironis.
“Terima kasih sudah mengingatkan aku, Mas. Iya. Aku akan selalu ingat kata-katamu ini.”
Jangan terlalu berharap jika kamu tidak mau mati penasaran saat apa yang kauharapkan tidak terwujud.
Suaraku mulai bergetar. "Aku memang sering cerita sama Mas Reza, tapi sekali pun, aku tidak pernah cerita soal masalah kita, Mas." Kuhela napas perlahan, sebelum akhirnya melanjutkan. "Aku ingin ketemu Mas Reza, karena aku memang benar-benar kangen sama dia. Bukan aku enggak kangen sama saudara-saudaraku yang lain. Tapi--" Kuusap air mata yang tiba-tiba menetes begitu saja. Padahal sudah mati-matian menahannya sejak tadi.
Cengeng banget aku, kan?
“Maaf, aku jadi ngomong hal-hal yang sama sekali enggak berfaedah sama kamu, Mas. Aku izin ke kamar Ayah.”
Kuputar balik tubuhku, tanpa menunggu sahutan lagi darinya.
“Kalau mau ke kamar Mas Reza, boleh. Asal jangan lama-lama.”
Aku hanya menyahut, “Iya.” Meski aku tidak bisa menjamin kalau akan sebentar beneran di sana.
...***...
“Mas,” panggilku seraya mengetuk pintu kamar Mas Reza. Cukup lama menunggu, tidak lupa memanggilnya, akhirnya terdengar suara Mas Reza menyuruhku masuk.
“Belum tidur, Dek? Ada apa?” tanya Mas Reza seraya mengalihkan pandangan dari layar laptop di hadapannya. Entah apa yang kakakku itu lakukan. Dia terlihat santai sembari menelungkupkan badan di tempat tidur dan menatap laptop.
“Belum, Mas. Tadi katanya Mas Reza nyariin aku, ya?”
Mas Reza memindah laptop dari hadapannya. “Masuklah, Dek. Jangan di depan pintu kayak gitu, kayak pengemis aja.”
Astaga, sungguh menyebalkan kakakku ini, ya. Bisa-bisanya dia bilang adiknya kayak gembel?
Kucebikkan bibir seraya melangkah ke arahnya, kemudian duduk di sampingnya. Aku kemudian menjelaskan kenapa tadi aku tidak ikut makan, tentunya tidak keseluruhan.
Usai membahas hal itu, aku pun memindahkan topik pembicaraan kami. Sebenarnya, aku ingin egois dengan berlama-lama di tempat Mas Reza, tetapi pesan Mas Farhan agar aku tidak berlama-lama dan peringatan Mas Gibran untuk tidak berani kepada suami, selalu berhasil mengalahkan keinginan itu. Alhamdulillah, deh. Setidaknya, aku mulai bisa mengontrol diri untuk tidak berlarut-larut dalam hal-hal negatif.
“Mas?”
Mas Reza menoleh. “Apa?”
__ADS_1
“Mas Reza bilang apa tadi sama Mas Farhan?”
Aku menggerutu dalam hati saat menyadari kalau pertanyaanku sepertinya terlalu to the point. Tidak ada basa-basi terlebih dahulu, astaga.
Kening masku itu mengerut, dia menatapku cukup lama, kemudian bertanya, “Ngomong apa, Dek?”
“Soal aku yang nangis di pelukan Mas tadi pagi.”
Kedua tangan Mas Reza tiba-tiba saling bertaut. Keterdiaman yang cukup lama dilakukan oleh kakak keduaku ini menimbulkan keyakinan kalau dia sudah sempat berbicara berdua dengan Mas Farhan. Entah kapan.
“Mas?”
Sebelum menjawab pertanyaanku, Mas Farhan tampak menarik napas terlebih dahulu. Dia lantas berdeham pelan. “Mas enggak bilang apa-apa. Cuma nitipin kamu ke dia, dan ....” Kalimat Mas Reza yang digantungkan itu membuatku yakin kalau ucapan itu yang membuat Mas Farhan sensitif kepadanya.
“Dan apa, Mas?”
“Mas bilang, enggak rela kalau terjadi apa-apa sama kamu. Udah, itu aja.”
Kutajamkan pandangan menatap mata Mas Reza. Rasa-rasanya aku menangkap hal lain yang tidak diucapkan oleh kakak keduaku itu. Saat mencoba terus menyelami lautan mata pekat milik Mas Reza, dia malah mengalihkan pandangan. “Apaan, sih, Dek. Udah, sana. Balik ke kamar kamu. Kasihan suami kamu nungguin.”
Decakan pelan kugunakan sebagai respons dari kalimat Mas Reza.
“Dek, ini sudah malam, lo. Mas mau tidur.”
“Aku enggak akan balik kalau Mas enggak jujur sama aku.”
...***...
Hai, aku datang lagi. Pasti senang dong. He-he.
Jangan bosan menunggu kisah Mas Farhan dan Najwa, ya. Bentar lagi, semua rahasia Mas Farhan akan terungkap. Hi-hi. Selamat dan semangat menunggu. Jangan lupa tinggalkan jejak apresiasi kalian. Terima kasih, ya. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua. Aamiin. 💙
Salam manis dariku.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Rabu, 4 Agustus 2021
__ADS_1