Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Hobi Baru


__ADS_3

“Memangnya mau ke mana, Mas?” tanyaku masih dalam tundukan kepala.


“Kamu tidak mau ziarah ke makam ibu kamu?”


Kepala yang semula menunduk, dengan cepat menengadah. Tatapan mata ini menyorot tatapan tajam Mas Farhan yang masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Bedanya, raut yang terpatri di wajahnya saat ini sedikit berbeda. Tidak ada raut kekesalan di sana, yang ada hanya raut meneduhkan. Mungkin itu juga efek dari selesai ibadah, jadi kelihatannya fresh.


Jika dipikir-pikir, benar juga apa yang Mas Farhan katakan. Ya Allah, kali ini aku ada di rumah, dan bisa-bisanya aku malah lupa? Duh, anak apaan aku ini. Untung suamiku yang baik hati ini ingat. Karena memang selama hampir dua bulan, aku bersilaturrahim kepada wanita yang melahirkanku itu hanya lewat doa dan fatihah yang kurutinkan setiap selesai salat.


“Najwa, sekarang melamun sudah jadi hobi baru kamu, ya?”


Nah, ‘kan. Aku ketahuan melamun lagi. Duh, ya Allah, meresahkan sekali hobi baruku ini. Hobi kok melamun, Wa.


“Mau tidak?”


“I-iya pasti mau dong, Mas.”


“La iya. Buruan sana, siap-siap. Jangan lama-lama. Saya mau manasin mobil dulu.”


Mas Farhan segera berbalik untuk meninggalkanku.


“Tapi, Mas?”


Mas Farhan yang sudah memegang gagang pintu, dengan cepat menoleh ke arahku. Dia terlihat mengetatkan rahang. “Apa lagi, Najwa?” tekannya.


Meski takut untuk mengutarakan kejanggalan yang masih terus menuntut jawaban dalam hati ini, kuberanikan diri membuka bibir, kemudian bertanya, “Kenapa Mas Farhan tiba-tiba ngajakin aku ke makam Ibu?”


Dia terdiam sebelum menjawab pertanyaanku, entah apa yang sedang dia pikirkan. Kulekatkan tatapan, meneliti ekspresi yang tampak di wajah ovalnya. Yang membuat alisku menukik adalah saat aku menangkap raut kebingungan di wajah Mas Farhan.


Ah, benarkah dia bingung mau jawab apa? Tapi kenapa?


“Ada yang salah kalau saya ke makam ibu kamu?”


Aku menggaruk tengkuk. “Enggak, enggak ada yang salah, sih.”


“Terus kenapa ekspresinya masih seperti itu?”


Mas Farhan memutar balik tubuhnya menghadapku. Dia juga sudah melangkah, bahkan berdiri tepat di hadapanku.


“Seperti itu gimana, Mas?”

__ADS_1


“Ada yang mau kamu tanyakan lagi?”


Ya Allah, ingin rasanya kupeluk lelaki yang kini berada di hadapanku ini. Aku benar-benar tidak menyangka jika dia bisa sepeka ini. Aku jadi bimbang dan mendadak ragu kalau selama ini Mas Farhan tidak tahu apa-apa soal aku selama tinggal di rumahnya. Dia seperti bisa membaca raut yang tercetak di wajahku ini.


“Ke makamnya dekat, kok, Mas. Enggak usah pakai mobil segala. Enggak masuk juga mobilnya. Jalanannya enggak bisa dilewati sepeda, apalagi mobil.”


Karena lokasi pemakamannya ada di tengah ladang. Kebayang, 'kan? Rumah aku di desa yang terletak di Kecamatan Bangkalan, bukan di kotanya.


“Oh. Ya sudah, kita jalan kaki saja.”


Aku mengangguk, tetapi masih bergeming di tempatku berdiri. Karena bukan itu yang sebenarnya ingin kutanyakan kepada Mas Farhan.


“Tadi mau bilang itu saja, ‘kan? Kenapa masih diam?”


Aku mengembuskan napas. “Kenapa Mas Farhan masih manggil Ibu dengan sebutan ibu kamu? Enggak enak banget dengarnya. Sejak menikah, ibu aku ibu kamu juga, Mas. Oke, enggak apa-apa ka—”


“Iya. Udah sana siap-siap. Kita ke makam Ibu sekarang, Najwa sayang. Oke?”


Lagi-lagi bibirku mangap seraya menatap tidak percaya ke arah Mas Farhan. Kedua tangannya juga tiba-tiba bertengger di pundakku. Kedua tangan itu kemudian berusaha mendorong kecil pundakku agar berbalik dan segera maju ke tempat lemari baju. Jelas saja hal itu membuatku makin bingung. Sudah telanjur penasaran, aku berusaha menegakkan tubuh, agar tidak bisa didorong olehnya. Mas Farhan langsung menatap horor, dan aku tidak peduli.


“Apa?" Dia berdecak sebentar. "Kamu ini kenapa bandel banget, sih? Disuruh ini, masih banyak protes itu dan segala macam.”


Ah, sepertinya mengusili Mas Farhan dengan kebawelanku ini menyenangkan juga, ya. Ha-ha-ha. Aku bisa lebih banyak ngomong sama dia, bahkan sekarang kami kontak fisik, lo. Mas Farhan yang dulu-dulunya seperti tidak mau bersentuhan denganku—menatapku seperti bakteri yang ketika disentuh akan menularkan penyakit—tiba-tiba seperti sekarang. Baiklah, sepertinya aku mau menambah daftar hobi baru, yaitu mengusili Mas Farhan.


Eh, astaghfirullahal azim. Bisa-bisanya aku berpikiran seperti itu kepada suamiku sendiri.


Maafkan aku, Mas.


Akan tetapi, aku benar-benar penasaran sama kata-kata terakhir Mas Farhan tadi. Aku hanya mau memastikan kalau aku tidak salah dengar.


“Tadi Mas Farhan bilang apa? Najwa apa?”


Ini kita lagi di kamar, lo. Berdua saja. Tidak ada Ayah, Mas Reza ataupun Mas Gibran. Kalau itu refleks saja diucapkan, apa Mas Farhan terbawa suasana yang tadi?


“Bisa tidak, sih, kamu tidak banyak tanya? Kamu itu cerewet banget. Tahu?”


Aku memutar bola mata. “Iya, Mas. Aku tahu aku cerewet. Tapi terserah deh, aku enggak peduli, mau dibilang suka protes, bandel, bawel atau apa pun. Aku maunya Mas Farhan jawab pertanyaan aku yang tadi. Janji deh aku cepet ganti baju, asal Mas Farhan jawab pertanyaan aku." Aku menunjukkan dua jari--telunjuk dan tengah--ke hadapannya. "Bilang Najwa apa barusan?”


Kubuat raut wajah ini semeyakinkan mungkin. Kali saja ada keajaiban lagi dan Mas Farhan mau mengulangi panggilannya barusan, ‘kan? Meskipun kecil kemungkinannya, tetapi tidak apa-apa.

__ADS_1


Kutatap wajah Mas Farhan yang masih menyiratkan kekesalan. Rahangnya terlihat mengetat, kentara sekali kalau dia mulai geram. Namun, entah mengapa, terbiasa dengan sikap Mas Farhan yang begitu, aku malah merasa tidak takut.


“Apa, Mas? Aku pengin denger, nih.” Kudekatkan wajah—telingaku—ke hadapannya. Meski tipis, senyumku mengembang melihat ekspresi Mas Farhan. Dia mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya, gemeretak giginya cukup bisa kudengar. Dia seperti ingin marah, tetapi tidak bisa.


Karena belum juga mendengar suara Mas Farhan, kutadahkan wajah, menatap matanya seraya menunggu dengan harap-harap cemas. Kalau Mas Farhan tidak mau mengulanginya, berarti aku harus siap dikecewakan kembali oleh harapanku.


“Iya, Najwa sayang. Sudah, ‘kan? Buruan ganti baju. Keburu malam, kamu ‘kan penakut.”


Dih, pakai bawa-bawa sifat penakutku segala. Tetapi, kalau begini ceritanya, mending aku tinggal sama Ayah dan Mas Reza saja kali, ya? Aku takut Mas Farhan malah berubah lagi kalau kami pulang.


Mas Farhan kemudian mengalihkan pandangan dariku. Apa dia tidak mau aku melihat tatapannya? Lalu kenapa? Katanya kalau ingin tahu perasaan seseorang, lihat dari tatapannya. Apa iya Mas Farhan tidak mau aku mengenali perwakilan perasaannya yang pasti terpancar dari tatapannya? Ah, pemikiran apa yang muncul di kepalaku ini, ya Tuhan.


“Itu kata-kata dari hati Mas Farhan, 'kan? Mas Farhan udah mulai nerima aku, ya?”


“Tuh, ‘kan. Dasar ibu-ibu, rempong banget, sih. Satu kata saja jadi panjang.”


Tulikan kata-kata Mas Farhan yang ini. Aku tetap menuntut jawaban dari pertanyaanku barusan, tetapi tidak kunjung terjawab. Mas Farhan malah makin menatapku horor.


Baiklah, sebaiknya mengalah. Mungkin memang belum waktunya aku mendengar pengakuan itu terlontar dari lisannya.


“Iya, iya, Mas. Aku ganti baju dulu.”


Mendengkus cukup keras, Mas Farhan lantas menjauhkan kedua tangannya yang baru kusadari bertahan di pundakku sejak tadi. Dia kemudian beranjak keluar kamar. Jangan lupakan pesannya, “Buruan. Jangan lama-lama, atau saya tinggal.


Dih, memang situ tahu makam Ibu ada di pemakaman mana, Mas?


...***...


“Kamu mau ke mana, Wa?” Begitu keluar kamar, pertanyaan Ayah yang menyambutku.


...***...


Hai, aku update lagi. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya.


Salam manis dariku.


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Kamis, 29 Juli 2021

__ADS_1


__ADS_2