
Keningku mengerut ketika pertama memasuki kamar, kulihat Mas Farhan seperti sedang kebingungan mencari-cari sesuatu. Mulai dari membongkar isi nakas samping tempat tidur, mengangkat bantal-bantal dan guling di ranjang, menyingkap selimut dan membongkar beberapa pakaian yang terlipat di sisi ranjang, kemudian ke tempat charger HP di samping kiri meja hias.
“Mas, cari apa?”
Aku mendekati suamiku itu. Dia kemudian menghentikan aksi pencariannya, lalu menoleh ke arahku. Yang membuatku makin heran, saat melihat raut wajahnya tampak kesal.
“Kamu dari mana? Saya cari-cari dari tadi tidak ada.”
Mas Farhan cari aku? Tumben.
Baru saja terheran-heran karena sikap tidak biasa Mas Farhan lagi kali ini, lantunan istighfar pelan mulai terucap dari bibirku saat menyadari kesalahan apa yang sudah kuperbuat tadi.
“Maaf, Mas. Tadi aku habis ikut Mas Reza. Aku mau pamit sama kamu, tapi kamu enggak tahu di mana.”
“Mas Reza lagi, Mas Reza lagi.”
Aku yang semula prihatin dengan keadaan Mas Farhan yang seperti frustrasi karena kehilangan sesuatu, mendadak kembali dongkol mendengar desisannya. Ingin berdecak keras untuk menunjukkan kekesalan, tetapi sadar tidak boleh begitu kepada suami sendiri. Nanti kena karma karena durhaka sama suami.
Kutatap lekat-lekat wajahnya. “Mas. Udah, deh. Kenapa sih, dari kemarin kamu tuh sensitif banget sama Mas Reza?” Kuusahakan suaraku ini terdengar pelan, meskipun dongkol sekali rasanya.
"Iya, maaf. Saya tidak bermaksud begitu, kok." Mas Farhan kembali mengalihkan pandangan ke arah lain usai mengatakan itu.
"Mas Farhan cari apa, sih?"
Mas Farhan kembali menoleh. “HP saya mana?”
"HP apa, Mas?"
"HP. Ponsel, gawai--"
__ADS_1
"Iya, tahu. Apa bedanya HP, gawai dan ponsel? Enggak sekalian Handphone?" Sabar, Najwa. Jangan ngegas sama suami. "Em, maaf, Mas. Maksud aku, kenapa kamu tanya ke aku? Gitu, Mas. Aku enggak tahu."
“Tadi pagi saya suruh chas-kan HP saya, ‘kan, sebelum saya keluar? Kamu tidak dengar?”
Astaghfirullah.
Aku menepuk jidat. “Duh, maaf, Mas. Aku dengar kok tadi. Tapi lupa.” Aku tersenyum tipis, tidak enak hati dengannya. Apalagi saat mendapati Mas Farhan menghela napas. Dia kemudian duduk bersandar di kursi dekat meja hias, dan memejamkan mata sebentar.
Duh, kasihan sekali sih. Pasti Mas Farhan sangat kelelahan.
“Terus sekarang di mana HP-nya?” Suara Mas Farhan terdengar pelan.
“Nah, itu dia. Tadi aku cari enggak ketemu, Mas. Keburu dipanggil Mbak Diva, minta bantu belikan bahan masakan ke pasar. Jadi langsung berangkat sama Mas Reza.”
Mas Farhan mengusap wajahnya, kemudian kembali menghela napas. Raut lelah makin tercetak jelas di wajahnya. Sudah seberapa lama, sih, Mas Farhan mencari ponselnya? Dia menegakkan tubuh, kemudian kembali bangkit dan beranjak ke beberapa tempat di sekitar kamar. Sesekali dia diam, sepertinya mengingat-ingat di mana dia meletakkan ponselnya terakhir kali. Cukup lama dia mematung, sebelah tangannya bergerak—berkacak pinggang. Membuatku malah gagal fokus karena posenya membuat dia terlihat makin tampan.
Astaga, istri macam apa aku ini? Suaminya kebingungan malah berasyik ria menatap posenya. Tidak ada niat mau membantu menacri atau apa. Sepertinya Mas Farhan juga lelah kali, ya. Makanya tidak minat marah-marah.
“A-ada, Mas.”
“Mana itu maksudnya saya mau pinjam HP kamu. Saya mau misscall HP saya.”
Duh, otakku traveling ke mana, ya? Kenapa tidak konsentrasi begini?
Segera kurogoh saku rokku kemudian menyerahkannya ke arah Mas Farhan, karena ponselku tidak ber-password. Jadi mudah aksesnya.
“Kenapa, Mas?” tanyaku saat melihat Mas Farhan membatu saat pertama kali melihat ponselku. Ada yang salah, ya? Namun, dia hanya menoleh tanpa menjawab apa pun. Membuatku penasaran saja kenapa dia tiba-tiba berhenti. Kubiarkan dia, karena sudah mulai kembali menggulir-gulir layar ponselku. Hingga satu ingatan menyentakku.
Aduh, wallpaper HP-ku pakai foto Mas Farhan. Mati aku. Pasti itu yang buat Mas Farhan mematung tadi. Tapi kenapa Mas Farhan enggak protes, ya?
__ADS_1
Dalam diam kugigit bibir. Meski ketar-ketir, takut Mas Farhan tiba-tiba berbicara apa, lebih baik diam saja. Anggap tidak tahu apa-apa. Sepertinya dia juga mulai menelepon nomornya, terdengar dari bunyi sambungan telepon yang terhubung. Aku terus diam saja, menatapnya yang masih bolak-balik mengetik di layar ponsel, mendengarkan suara sambungan telepon terhubung atau tidak, tetapi tidak terdengar suara dering ponsel di sekitar kamar.
“Mas, kamu tadi ke mana aja, sih? Di sini enggak ada kayaknya, Mas.”
Dia menempelkan ponsel di telinganya, kemudian menggeleng.
“Sini aku bantu cari, Mas.” Kupinta ponselku kepadanya, tetapi dia masih sibuk menatapku cukup lekat. “Sudah, Mas. Kamu istirahat saja dulu. kamu pasti capek dari tadi nyari ponsel kamu. Biar aku bantu.” Dia lantas menyerahkan ponselku kembali. Kubantu dia mengistirahatkan diri di tempat tidur, lalu setelah itu aku beranjak keluar kamar untuk mencari ponselnya. Siapa tahu tadi dia sedang duduk-duduk di teras depan, atau ruang depan rumah.
Begitu sampai di ruang depan dengan ponsel menempel di telinga dan masih mencoba menghubungi nomor Mas Farhan, ternyata tidak ada. Aku mulai frustrasi mencarinya ke mana. Bahkan aku sampai ke dapur dan dekat kamar mandi, siapa tahu dia lupa meninggalkannya pas ke cuci muka atau apa tadi. Namun, tetap saja tidak ada. Hingga pada entah panggilan keberapa, ada yang mengangkat teleponku. Aku tersenyum sekaligus menghela napas lega mengetahui.
“Halo, ini siapa, ya?” Aku tertegun saat mendengar suara perempuan yang mengangkat telepon Mas Farhan. Hampir saja ponsel ini terjatuh, jika saja aku tidak ingat kalau ponsel ini, ponsel berharga pemberian Mas Reza.
“Maaf, Mbak. Ini ponsel suami saya kok bisa ada di Mbak, ya? Mbak siapa?”
Meski perasaan ini sudah campur aduk, suara rasanya sudah terasa tidak bisa keluar karena leher tiba-tiba tercekat, kucoba untuk menyabarkan diri. Siapa yang tidak akan kaget saat menelepon suaminya, tetapi yang mengangkat malah seorang perempuan. Bukan niat suuzan, tetapi kecemasan pasti tidak terelakkan. Kuhirup napas kuat-kuat, kemudian mengembuskannya perlahan untuk merelaksasi diri.
“Lah, ini Mbak Najwa?”
Keningku mengerut. Perempuan itu siapa, sih? Kenapa dia tahu namaku?
“Itu, tadi Mas Farhan sempat ngobrol sama aku, Mbak. Mungkin dia lupa kalau HP-nya tertinggal di taman samping rumah. Jadi aku bawa, deh. Rencananya mau aku kasih langsung ke Mas Farhan.”
Derai air mata tanpa diminta perlahan mengalir, membasahi pipi. Tangan yang memegang ponsel ini pun bergetar akibat tangis yang mulai membuncah. Kali ini aku tahu siapa perempuan yang sedang berbicara denganku ini.
...***...
Tebak, siapa yang angkat telepon Mas Farhan.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
__ADS_1
Senin, 9 Agustus 2021