Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Melepas Rindu


__ADS_3

"Di dalam ada siapa? Ramai sekali?" Mas Farhan menoleh ke arahku seraya mengerutkan kening.


“Ah, itu pasti Weny dan Rifka, Mas.”


Aku sempat tertegun saat tiba-tiba Mas Farhan berhenti melangkah. Tautan tangannya di tanganku juga tiba-tiba terlepas. Membuatku sedikit kecewa. Ah, tetapi ya sudahlah.


“Adik-adik kamu?”


“Iya, dong, Mas. Siapa lagi?” Meski bingung dengan pertanyaan Mas Farhan, aku memilih tidak melanjutkan topik karena rasa rindu kepada dua adikku itu menyuruh untuk segera masuk.


Mendengar tidak ada derap langkah kaki yang mengikuti, aku lantas kembali berbalik. Yang membuatku tercengang-cengang adalah saat melihat Mas Farhan masih mematung di tempatnya berdiri tadi.


Mas Farhan kenapa, sih? Kenapa aneh gitu dengar ada adik-adikku di dalam.


“Mas, ayo masuk.”


Kulihat dia sempat menjengit kaget. Sepertinya dia melamun. Akan tetapi apa yang dia lamunkan?


Ya Tuhan, misterius sekali, sih, suamiku itu. Ada begitu banyak rahasia yang belum kutahu tentangnya.


“Kamu duluan saja.”


Malas berpikir lebih jauh, akhirnya aku memilih mengalah saja. Kuanggukkan pelan kepalaku. “Aku duluan, ya, Mas. Mas jangan lama-lama di luar.”


Dugaanku kalau suara keramaian di dalam adalah ulah kedua adikku yang sudah tiba di sini, benar. Dua adik perempuanku itu sudah berkumpul dengan Mas Reza dan Mas Gibran di ruang depan rumah. Termasuk di antaranya suami masing-masing.


“As-salamu ‘alaikum,” ucapku ketika tiba di ambang pintu.


Orang-orang yang duduk di lantai beralas tikar di ruang depan rumahku itu lantas menjawab serempak. Mereka juga kompak menoleh ke arahku. Sesaat kemudian, Weny dan Rifka bangkit.


“Mbak Najwa!” Weny yang berteriak seraya melabuhkan tubuhnya ke dalam dekapanku. Hampir saja aku terjatuh karena perlakuan tiba-tiba adik bungsuku itu. Untung aku masih bisa menahan bobot tubuhku ini.


Mengabaikan telinga yang terasa berdenging-denging akibat teriakan adikku itu, kedua tanganku bergerak merangkul tubuhnya.


“Wen, kayak setahun enggak ketemu Mbak aja. Teriaknya sudah dari jauh pula,” ujarku.


“Tahu nih anak, udah punya suami juga, masih suka teriak-teriak.” Rifka menimpali dengan bibir yang kemudian manyun.


Namun, boro-boro kesal, Weny malah mencibir, “Kayak udah insyaf aja teriak-teriak.”


Adikku yang dua ini memang wow sekali, ya. Tidak malu apa dilihat pasangan masing-masing? Kalau hanya dilihat Mas Reza dan Mas Gibran, mah, biasa saja.


“Kalian ini, bertengkar melulu kerjaannya. Tuh, dilihatin anak-anak. Enggak malu?” kataku. Syeila dan Nayla hanya mematung, mungkin heran kali, ya, saat melihat sikap tantenya yang dua ini. Anak perempuan Rifka yang berumur sekitar tujuh bulanan itu pun ikut menatap ke arah kami.


“Dari dulu, Mbak Rifka tuh nyebelin, Mbak,” sungut Weny seraya mengurai pelukan kami. Kini berganti Rifka yang menyalami, kemudian memelukku sebentar.

__ADS_1


“Kamu juga nyebelin,” balas Rifka setelah pelukan kami terurai.


“Udah-udah. Mau sampai kapan kalian tengkar terus?” leraiku.


Mas Reza dan Mas Gibran sedari tadi hanya asyik menyaksikan, seperti tidak ada niatan untuk melerai.


Hadeh.


“Udah, Dek. Masuk, yuk.”


Kami bertiga pun melangkah masuk, kemudian duduk di sana.


"Kamu memang baru pulang dari makam Ibu, Dek?" tanya Mas Gibran.


"Eh, iya, Mas."


"Farhan mana?" Mas Reza yang bertanya.


"Masih di luar, Mas. Ada sesuatu katanya."


Tidak ingin topik soal Mas Farhan makin panjang, aku menggiring topik baru. Berbagai macam hal mulai masuk ke dalam ruang obrolan kami. Mulai dari membahas masa lalu kami masing-masing, seperti aku yang sukanya nempel-nempel Mas Reza, dan Mas Gibran yang selalu saja menjadi pembela Rifka, bahkan sampai keusilan dua adikku itu. Rasanya begitu membahagiakan saat aku bisa berkumpul lagi dengan saudara-saudaraku ini. Bahagia juga karena rindu yang lama terpendam dalam hati sudah bersambut temu.


“Ternyata Weny memang suka usil dari dulu, ya, Mbak?” tanya Rifki, suaminya Rifka.


Aku menoleh ke arahnya yang menggendong sang anak—Rizqun—dan mengangguk antusias, sedangkan orang yang sekarang dijadikan topik mulai mengerucutkan bibir.


“Tapi ....” Mereka semua menatapku lekat-lekat. “Nungguin, ya?” Sengaja, sih. Tidak tahu pemikiran dari mana, aku malah ingin mengusili mereka.


“Mbak Najwa ternyata sudah bisa usil juga sekarang, ya?” celetuk Rifka, dan aku hanya bisa menyengir lebar.


“Kamu kira hanya kamu aja yang boleh usil, Ka.” Mas Reza menimpali.


“Em, kayaknya Kesatria Baja-nya Mbak Najwa enggak terima, nih,” goda Weny.


“Kenapa gitu, Yang?” tanya Wildan, suami Weny.


“Dari dulu tuh, Mas, kalau ada apa-apa sama Mbak Najwa, Mas Reza pasti yang heboh. Mbak Najwa tuh, adik kesayangannya Mas Reza.”


“Mana ada? Semua adik-adik Mas Reza itu kesayangan,” bela kakak keduaku itu.


“Udah-udah. Kalian ini berantem terus kerjaannya.” Mas Gibran menengahi.


“Mas Reza kapan nih nyusul kita-kita?” canda Rifka tiba-tiba.


Kulihat Mas Reza gelagapan. Sebelah tangannya menggaruk pelipis, entah gatal atau bagaimana.

__ADS_1


“Punya istri enak lo, Za. Mau apa-apa ada yang ngurusin.” Mas Gibran ikut menimpali.


Ah, kalau mau berkumpul, pasti ada saja yang akan menjadi topik pembicaraan. Tapi seru, sih.


Kakak keduaku itu hanya senyam-senyum tidak jelas, tanpa menanggapi gurauan kami.


“Enak banget punya istri, Za. Pekerjaan rumah, ngurus anak semuanya istri yang ngerjakan, ayahnya enak-enakan tidur.”


Kami sontak berbalik ke arah kakak iparku yang baru datang seraya menenteng toples sedang berisi cemilan dengan satu ceret, entah apa isinya.


“Sini aku bantu, Mbak.” Aku meraih ceret yang dibawa Mbak Diva.


“Nih, Za. Enak banget, 'kan? Malah orang lain yang bantuin, suaminya asyik duduk santai aja,” cibir Mbak Diva seraya melirik Mas Gibran yang masih setia di tempat duduknya, seperti tidak terusik sama sekali dengan ucapan istrinya.


“Apa, sih, Yang. Aku enggak bantuin kamu kalau lagi capek aja, kok,” elak Mas Gibran yang kemudian dihadiahi cibiran lagi oleh sang istri. Membuat suasana ruang depan rumah kami terasa menghangat. Kami tahu, cibiran Mbak Diva pasti tidak sampai hati. Hanya sebatas candaan saja.


“Tapi, Za, terlepas dari itu semua, masmu ini istimewa buat Mbak. Dia baik banget, perhatian, dewasa, mengayomi banget.”


Lihatlah reaksi kakak iparku itu sekarang. Setelah mencibir suaminya tadi, dia mengatakan hal itu, masih meluk-meluk Mas Gibran segala lagi. Tatapannya menyiratkan kasih sayang dan cinta yang begitu besar.


Ah, Mbak Diva. Membuatku iri saja. Btw, Mas Farhan ke mana, ya? Kok belum masuk juga?


Kutolehkan kepala ke sisi kanan dan kiri rumah, tidak ada tanda-tanda dia akan datang. Membuatku makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi sama dia.


“Ini dimakan cemilannya, dong. Ini Mbak bawa dari rumah.”


Rifka dan Weny yang memang suka ngemil dari dahulu, langsung mencomot kue kering yang disodorkan oleh Mbak Diva.


"Najwa, kamu kok enggak ikut makan?" tanya Mas Gibran.


"Eh, itu--"


"Kamu cari siapa, Dek?" tanya Mas Reza.


Sejenak aku menggaruk belakang kepala. Bingung juga, sih. Nanti kalau aku bilang cari Mas Farhan, Mas Reza malah banyak tanya lagi.


"Mas Farhan!"


...***...


Aku update lagi. Yeay! Jangan bosan menunggu kelanjutan ceritanya, ya. Mas Farhan makin baik tuh sama Najwa. Coba tebak, dia sudah terima Najwa apa belum? Hihi. Jawab di komentar, boleh.


Salam manis dari author manis. Jangan lupa tinggalkan jejak apresiasi kalian. Dada.


Sumenep, Madura, Jawa Timur

__ADS_1


Sabtu, 31 Juli 2021


__ADS_2