Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Ternyata ....


__ADS_3

Cuaca pagi ini begitu dingin. Segera kuusap sisa air wudu dengan handuk agar tidak makin kedinginan. Azan Subuh sudah berkumandang lima menit yang lalu. Segera kubangunkan Mas Farhan untuk salat berjemaah. Seraya menunggunya bersuci, aku keluar dari kamar untuk membangunkan Bunda. Ternyata Bunda sudah siap dengan mukenanya. Menunggu Mas Farhan untuk salat berjemaah. Ritual ibadah kami berjalan khidmat. Satu hal yang membuatku begitu terharu pagi ini adalah saat kuulurkan tangan untuk mencium tangan Mas Farhan, dia mengizinkan. Meski tidak secara gamblang, tetapi dengan dia menerima uluran tanganku, berarti dia mengizinkan, 'kan?


Semoga ini bisa kulakukan selamanya, Mas.


Usai salat, Mas Farhan yang biasanya keluar entah ke mana, baru balik saat akan berangkat kerja, kali ini tidak. Dia hanya rebahan di tempat tidur, seraya menatap layar ponsel, sedangkan aku, berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suami dan mertuaku.


Setelah persiapan sarapan beres, aku kembali ke kamar.


"Mas, Bunda sarapan. Enggak mau gabung?"


Mas Farhan mengalihkan pandangan ke arahku. Namun, selang beberapa waktu dia belum juga merespons.


"Ayolah, Mas. Bangun. Kamu mau bundamu curiga lagi sama kita?"


Lelaki beralis tebal itu bangkit dari tempat tidur, meletakkan ponsel, kemudian mengikutiku menuju ruang makan.


Saat kami sudah tiba di ruang makan, ternyata Bunda sudah selesai sarapan. Wanita itu sudah membereskan piring kotornya.


"Lo, baru saja Bunda mau manggil kalian ke kamar."


Aku tersenyum ke arah Bunda. "Maaf, ya, Bunda. Najwa jadi enggak nemenin Bunda sarapan tadi."


"Enggak apa-apa, kok. Sudah, kalian sarapan sana. Bunda mau ke depan, enggak mau ganggu sarapan romantis kalian."


Aku hanya bisa mendesah pelan mendengar kalimat Bunda yang diikuti kikikan setelahnya. Romantis dari Hongkong?


Begitu Bunda keluar dari ruang makan, kutarik satu kursi untuk Mas Farhan, lalu menyiapkan sarapannya. Bersyukur Bunda memberi tahu apa saja yang tidak dimakan oleh Mas Farhan. Jadi, aku bisa langsung memasakkan makanan yang sekiranya dia mau.


Kami pun makan dalam diam. Tidak ada suara yang mengisi keheningan ruangan kecil yang dibuat khusus ruang makan ini. Melihat Mas Farhan memakan masakanku, entah mengapa rasanya bahagia sekali. Rasa laparku seolah-olah sirna begitu saja dengan melihat Mas Farhan yang terlihat tidak begitu lahap, tetapi menikmati sarapannya. Aku bahkan melupakan sarapan di piringku, malah beralih memandangi Mas Farhan.


"Kenapa tidak makan?"


Aku menggeragap, sehingga yang bisa kulakukan hanya menggeleng disertai senyum tipis. Seperti biasa, lelaki yang berstatus suamiku ini tidak memperpanjang pembahasan.


"Aku senang, lo, Mas. Ini pagi pertama kita sarapan bareng setelah sebulan menikah."


Meski tahu tidak akan mendapat respons baik, bahkan mungkin tidak ditanggapi, aku tidak peduli. Tujuanku bercerita hanya agar dia tahu betapa berartinya hal-hal yang berkaitan dengannya.


"Makasih untuk hari ini, ya, Mas. Aku harap kita bisa--"


"Waktunya sarapan, jangan ngoceh."


Mulutku seperti dibungkam oleh lakban seketika. Kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Mas Farhan sangat ampuh membuatku tidak bisa berkutik lagi. Kali ini ***** makanku lenyap karena sikap menyebalkan suamiku kembali. Aku tidak berminat sarapan, dan Mas Farhan malah melanjutkan makan. Benar-benar batu. Keras sekali. Ingin pergi dari ruang makan, nanti Bunda malah curiga kenapa putranya ditinggal sendiri. Alhasil, kusingkirkan makananku ke sisi kiri, kemudian berdiam di samping Mas Farhan sambil menumpu dagu di meja. Mengamati wajah suami tidak haram, 'kan? Aku terus fokus memandangi Mas Farhan, hingga tiba-tiba dia terbatuk-batuk. Segera kusodorkan gelas yang sudah kuisi air untuknya.


"Kenapa, Mas? Keselek, ya?" Jujur, aku panik.

__ADS_1


"Kamu pakai cabe di tumis kangkungnya?" Dia bertanya setelah batuknya reda.


"I-iya, Mas. Dikit doang, kok. Kenapa? Mas Farhan enggak bisa makan cabe, ya? Duh, maaf, Mas," hebohku. Duh, cerewet banget aku, ya? Aku meringis pelan saat Mas Farhan malah menatap tajam ke arahku.


"Jangan pakai cabe kalau buat makanan saya."


"Iya. Maaf, Mas. Aku enggak tahu, 'kan? Bunda juga enggak bilang soal itu tadi. Janji deh, abis ini enggak bakal masak pakai cabe lagi." Aku mengangkat dua jari--jari telunjuk dan tengahku ke atas.


Coba saja dari kemarin-kemarin kamu ngomong, Mas. Enggak akan begini kejadiannya. Nasib punya suami enggak mau diajak berinteraksi seperti ini.


"Duh, aku buatkan tumis kangkungnya lagi, ya, Mas?" Aku merasa bersalah saat melihat makanan Mas Farhan masih tersisa separuh. Gara-gara makanannya tercampur cabai, sarapannya malah terhenti.


Aku sudah beranjak untuk ke dapur lagi. Namun, Mas Farhan menghentikan.


"Sudah, tidak usah. Saya makan ini saja."


"Tapi Mas Farhan enggak bisa makanan bercabai, 'kan?"


"Kata siapa?"


Aku mengerjap mendengar jawaban Mas Farhan. Mulutku sedikit terbuka saat melihat Mas Farhan kembali menyantap makanan tadi.


Aku segera mendekat ke arahnya. "Mas, kok dimakan? Daripada berbahaya sama kesehatan kamu, sudah. Jangan dimakan lagi, Mas. Biar kubuatkan yang baru saja." Aku menarik piring Mas Farhan agar sarapannya tidak dilanjut. Namun, tangannya bergerak hendak menarik piringnya lagi.


"Saya tidak menyangka kamu ternyata bawel sekali, ya?"


Kutatap lekat wajah Mas Farhan yang kelihatan kesal sekali. Sebelah tangannya masih memegang piring yang kutarik barusan.


"Lagian kalau makanan ini tidak dimakan, mau diapain?"


"Bisa dikasih ke ayam, Mas."


Karena semasa di rumah, aku suka begitu kalau ada makanan sisa. Kata Ayah tidak apa-apa, daripada dibuang begitu saja.


"Saya tidak punya ayam."


"Tapi, Mas?"


"Saya tidak bilang saya punya penyakit yang berpantangan cabe, Najwa. Saya hanya tidak suka, dan tadi keselek karena tidak tahu kalau ada campuran cabenya."


Sontak, bibirku membulat.


"Siniin, deh. Daripada mubazir, tidak ada yang makan. Cari uang tuh susah, jangan sembarangan buang makanan. Kalau masih bisa dimakan, kenapa harus dibuang?"


Haruskah aku bahagia pagi ini? Ini kali pertama aku berinteraksi dengan cukup panjang sama Mas Farhan. Aku tidak menyangka, lo, dia bisa ngomong panjang kali lebar denganku. Meskipun bahasanya masih seperti biasa, dingin plus formal sama menancap di hati. Yang lebih tidak kusangka lagi, saat dia sudi menghabiskan masakanku yang jelas tidak sesuai dengan seleranya.

__ADS_1


Ya Tuhan, apa ini pertanda awal kalau sikap Mas Farhan akan membaik setelah ini?


Aku jadi seperti mendapat suntikan semangat juang kalau begini ceritanya. Batu yang setiap hari kutetesi air perlahan memiliki celah untuk lebur. Ternyata, sisi baik dalam diri suamiku itu tidak serta-merta pergi meninggalkan jati dirinya. Tidak bisa kumungkiri kalau aku sangat bahagia pagi ini. Mataku pun sampai basah karena terharu.


“Lagi ngomong apaan sih? Bunda kok kepo.”


Segera kuusap air mata yang menggenang di pelupuk mata. Kami serempak menoleh ke arah wanita itu. Bersyukur sekali Bunda masuk ke ruang makan setelah perdebatan dengan Mas Farhan usai. Jika tidak, aku tidak tahu seperti apa kehidupan kami setelahnya.


"Tidak ada kok, Bun," jawab Mas Farhan.


"Kalian ini sarapan yang dari tadi itu belum kelar?" Bunda menatap kami bergantian. "Kalian ngapain saja? Ya Allah, kelakuan pasutri zaman sekarang. Aneh-aneh saja, makan kok lama banget."


Aku mendesah pelan. Aneh apanya coba? Bunda tidak tahu saja kalau kami habis perang dunia. Eh.


"Buruan makan. Bapak sudah di perjalanan menuju ke sini. Jemput Bunda."


Kami kompak mengangguki ucapan Bunda, kemudian segera menyelesaikan makan kami.


Serempat jam kemudian Pak Faridzi, ayahnya Mas Farhan yang biasa disapa 'bapak' itu tiba di rumah kami.


"Sehat, Wa?" sapa Bapak kepadaku. Aku jadi kikuk karena yang pertama disapa Bapak ketika baru turun dari mobil malah bukan anak kandungnya. Paham, 'kan sama perasaanku?


Aku beranjak menyalami Bapak. "Alhamdulillah, Najwa sehat, Pak. Mas Farhan juga." Siapa tahu Bapak tidak menyadari keberadaan putra semata wayangnya yang berdiri di sampingku bak patung.


Bapak kemudian menepuk pundak Mas Farhan. "Gimana? Sudah ada kabar dari cucu Bapak?" tanya lelaki paruh baya itu kepada suamiku.


Tidak habis pikir, sih. Kenapa pertanyaan soal anak selalu diungkit? Tidak Bapak, Bunda dan Ayah saat menelepon, yang ditanyakan cucu.


"Belum, Pak." Mas Farhan menjawab singkat.


"Gimana, sih, Han? 'Kan sudah Bapak ajari cara cepatnya?" Apaan coba si Bapak? Dasar lelaki.


"Mari ke dalam dulu, Pak," ajakku.


"Tidak usah, Najwa. Panggilkan bundamu saja. Bapak lagi buru-buru. Ada janji temu sama rekan bisnis."


Tidak mau memaksa, aku pun memanggil Bunda dan memberi tahu kalau Bapak sudah di depan. Kami mengantar Bapak dan Bunda sampai di pintu gerbang rumah. Begitu mobil yang membawa kedua mertuaku hilang di belokan depan jalan, Mas Farhan langsung duduk di kursi kayu depan rumah seraya menyandarkan punggung. Helaan napasnya terdengar keras, kentara sekali kalau dia sangat lega karena penjaranya sudah berakhir.


"Mas, hari ini aku izin mau ke Bangkalan, ya. Mas Reza sudah janji mau jemput tadi pagi."


...***...


Salam manis dari orang manis.


Jangan lupa vote, like dan komentarnya. Share pun boleh.

__ADS_1


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Rabu, 16 Juni 2021


__ADS_2