Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Semua Kecewa


__ADS_3

“Biar Farhan saja yang menjelaskan, Najwa. Tugas kamu sudah selesai.”


Aku menelan ludah mendengar suara gahar yang bersumber dari luar ruangan. Itu suara Mas Gibran. Benar saja. Saat semua orang yang ada di ruang tengah rumah Ayah menoleh ke arah pintu, termasuk aku, kulihat kakak pertama Najwa itu sudah berdiri dengan raut wajah datar di sana. Apalagi ketika tatapannya beradu tepat denganku, tatapannya sangat tajam dan menciutkan nyaliku. Perlahan tapi pasti, aku mulai berkeringat dingin, ditambah melihat kakak kedua Najwa yang berdiri bersisian dengan Mas Gibran di sana.


Tamatlah riwayatmu saat ini, Farhan.


Bukan hanya itu, yang lebih mengejutkan adalah, Rifka bersama suaminya juga ada di belakang mereka. Oh, masih satu lagi. Mbak iparku juga ikut. Anak-anak mereka tidak ada yang dibawa, itu artinya memang sengaja agar pembicaraan antarorang dewasa ini tidak terkendala.


"Maaf, Farhan. Semua orang harus terlibat di sini, karena kami berhak tahu," kata Mas Gibran, yang entah kenapa seperti paham dengan apa yang kupikirkan—sudah seperti orang mau diadili saja. Tapi baiklah, ini konsekuensi yang memang harus aku terima.


"Mas, kenapa ada mas dan mbakmu?" tanya Ayah kepada ... Mas Reza. Iya, pasti Mas Reza karena Mas Gibran adalah kakaknya. Beliau menatap anak-anaknya yang masih berdiri di depan pintu—layaknya anak sekolah mau upacara. Ketika pendangannya mengarah kepada putri keempatnya, beliau lantas bertanya, "Terus Rifka sama Rifki, ada apa? Kenapa pulang enggak bilang sama Ayah?"


Kulihat Mas Gibran menyuruh sepasang suami istri itu untuk masuk dan menyalami Ayah terlebih dahulu. Mereka berempat pun masuk. Mas Reza, Mas Gibran, dan Rifki, juga menjabat tangan Bapak. Mbak Diva dan Rifka, menjabat tangan Bunda. Mas Gibran, Mas Reza, dan Mbak Diva lantas duduk di kursi yang masih kosong di sebelah timur. Sementara Rifka dan Rifki duduk di samping kanan Ayah.


"Jadi, ini ada apa? Reza, kenapa semua saudaramu ada di sini, Nak?"


Kecuali Weny dan Wildan, Ayah.


"Dia ada kaitannya sama Najwa dan Farhan. Aku minta maaf karena tidak segera memberi tahu Ayah tentang masalah ini," jawab Mas Gibran. "Niatnya kemarin biar masalah mereka bisa diselesaikan berdua saja tanpa melibatkan orang lain. Tapi, masalahnya cukup kompleks dan memang perlu melibatkan banyak orang. Termasuk di antaranya Rifka."


Ayah menggangguk untuk jawaban Mas Gibran. Lalu beliau beralih menatap Rifka dan Rifki. Meski tanpa suara, lirikan itu jelas menunjukkan isyarat permintaan jawaban dari mereka.

__ADS_1


"Saya tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi, Ayah." Bukan, bukan Rifka yang menjawab, tapi suaminya. "Tapi saat Mas Gibran bilang saya harus membawa Rifka ke sini untuk menyelesaikan masalah yang belum tuntas di masa lalu, saya pikir memang ada hal penting. Jadi saya langsung membawa Rifka ke sini."


Tindakan Mas Gibran patut diacungi jempol. Dia sangat cepat mengatur pertemuan ini, padahal aku belum memberi tahu dirinya bahwa akan ke sini hari ini.


Tatapanku tidak lagi tertuju kepada Rifki, melainkan kepada Rifka. Perempuan yang pernah mengisi hatiku di masa lalu itu tampak diam saja, dan kalau kuperhatikan lebih detail, matanya basah; wajahnya sembap. Apa dia habis menangis? Tapi karena apa? Apa karena kedua kakaknya sudah menginterogasinya? Atau karena suaminya—seperti biasa? Oh, aku baru sadar kalau anaknya tidak dibawa.


"Di sini masih ada orang, Mas. Kalau mau ngobrol nanti saja, ya, setelah masalah kita selesai."


Ah, konyol sekali perbuatanku. Bisa-bisanya aku malah memperhatikan perempuan lain pada saat genting seperti ini? Tapi tunggu, aku langsung menoleh kepada orang yang menegurku barusan. Bola mataku membulat saat menyadari tatapan berkaca-kaca Najwa.


Astaghfirullah, maafkan saya, Najwa.


Lagi-lagi aku berbuat kesalahan. Parahnya di depan para keluarga, tentunya istriku. Apa yang akan dia pikirkan tentang sikap aku tadi? Pasti aku terlihat masih peduli kepada adiknya. Padahal itu refleks saja. Aku yakin dia pasti sakit hati, meskipun luarnya tampak tidak peduli. Ingin aku menjelaskan bahwa aku lebih terusik dengan matanya yang berembun, bukan soal Rifka. Tapi, ada hal yang lebih penting yang harus kuselesaikan terlebih dahulu, dan sudah diingatkan kembali oleh kakak iparku.


"Kalau kamu memang laki-laki, katakan yang sejujurnya kepada ayah saya, Farhan." Mas Gibran ikut-ikutan membuatku makin kalut.


Ayo, Farhan. Kamu bisa.


Beberapa waktu berlalu dengan keheningan, aku menunduk dengan dua tangan mengepal di kedua sisi tubuh—menyiapkan diri untuk membuka semuanya saat ini.


Setelah merasa cukup siap, aku mulai bicara, "Ayah, a-aku tidak tahu apakah Ayah akan memaafkanku setelah ini atau tidak. Tapi, dengan kesadaran penuh dan tulus dari hati, aku minta maaf karena telah menzalimi anak Ayah selama kami tinggal bersama. Aku telah menyiksanya dengan mengabaikan dia."

__ADS_1


Aku memejamkan mata erat-erat setelah mengatakan hal itu. Ternyata aku masih belum siap untuk menerima konsekuensi dari perbuatanku sendiri.


"Kamu—" Entah apa yang terjadi kepada Ayah, yang kudengar setelah kalimat beliau belum selesai, adalah suara Mas Reza yang menyuruh beliau untuk tenang dengan menarik napas kuat-kuat lalu mengembuskannya perlahan.


Cukup lama waktu kembali hening, aku monoleh ke arah kedua orang tuaku. "Bapak, Bunda, aku juga minta maaf karena secara tidak langsung telah mempermalukan kalian di hadapan sahabat kalian. Karena sejak menikah, aku kembali berhubungan dengan Rifka."


Tangis Bunda langsung pecah sesaat setelah aku berkata begitu. Sungguh, rasanya begitu menyakitkan mendengar tangis pilu Bunda yang diikuti rintihan. Rasa panas yang menjalar di pipi karena tamparan spontan Bunda tadi, tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit karena tangisan Bunda. Aku seperti sudah kehilangan keberanian mengangkat wajah untuk mengiba kepada mereka, apalagi saat tanganku yang hendak meraih tangan Bunda, ditepis dengan kasar.


"Pantas saja kalian terlihat aneh saat Bunda menginap di rumah kalian," ucap Bunda dengan suara tersendat-sendat. "Kenapa kamu tega melakukan itu, Farhan? Dari sisi mana kamu punya pikiran untuk zalim sama istrimu itu?!"


Enggak ada. Untuk saat ini—setelah kebenarannya terungkap—tidak ada alasan untuk memperlakukan Najwa seperti itu.


"Kenapa kamu enggak pernah cerita sama Bunda, Najwa? Kamu malah ikut-ikutan membela anak enggak tahu diri ini?" cecar Bunda kepada Najwa. Namun, perempuan iti tidak menjawab.


"Bunda kecewa sama kamu, Farhan."


Sakit. Itu yang aku rasakan. Tapi yang lebih menyakitkan lagi adalah saat aku melihat bapakku hanya diam. Wajah rentanya terlihat muram, kepalanya langsung menunduk. Jika Bunda akan dengan langsung mengekspresikan perasaannya, Bapak malah diam. Itu malah lebih mengkhawatirkan. Aku takut Bapak malah down, atau yang lebih parah sampai depresi karena begitu tertekan. Oh, Tuhan, jangan sampai itu terjadi.


Belum juga selesai dengan kesakitan melihat respons kedua orang tua, suara mertuaku yang kembali terdengar setelah beberapa waktu terdiam, makin menambah rasa sakit dalam dada.


"Di mana otakmu, Farhan?" Suaranya kentara penuh penekanan—sarat akan amarah. "Saya pikir anak saya benar-benar bahagia hidup bersama kamu. Tapi ini apa?"

__ADS_1


Sungguh, inilah kehancuran yang nyata—saat aku melihat semua wajah diliputi dengan air mata, raut kekecewaan, dan amarah yang menjadi satu. Aku hanya bisa meratap sendirian, menikmati hasil yang sangat menyedihkan karena memang akulah yang menjadi dalang semua kekacauan ini.


__ADS_2