
"Mas Farhan!" Teriakan Rifka yang tiba-tiba itu membuat kami mengalihkan pandangan ke pintu.
"Ya Allah, adik-adikku kenapa suka teriak-teriak, sih," gerutu Mas Reza seraya mengusap telinganya. Maklum, dia duduk di sebelah kanan Rifka. "Eh, enggak. Kecuali Najwa," susul Mas Reza.
Adik pertamaku itu menyengir lebar, seolah-olah tidak bersalah. Namun, terlepas dari keterkejutan akan teriakan tiba-tiba Rifka, entah mengapa, terlintas satu pertanyaan dalam otak ini.
Kenapa Rifka terlihat sangat antusias melihat kedatangan Mas Farhan?
"Masuk, Mas. Sini gabung sama kita-kita," ucap Rifka lagi. Saudara-saudaraku yang lain sepertinya tidak merasakan apa yang kurasa. Buktinya mereka baik-baik saja. Tidak menunjukkan respons berbeda atas ucapan Rifka barusan.
"Kamu nyangkut di mana tadi, Mas?" Kulirik Mas Farhan yang mengambil posisi duduk di samping kiriku.
"Najwa, ke suaminya kok bilang gitu," tegur Mas Gibran. Ah, Mas Gibran membuatku sedikit kikuk saja. Kutundukkan kepala karena tiba-tiba merasa malu.
Istri macam apa aku ini, hah?
Mulutku suka tidak terkontrol akhir-akhir. Astaghfirullahal azim.
"Maaf, Mas," lirihku kepada Mas Gibran dan Mas Farhan.
Mas Gibran yang duduk di sebelah kananku menoleh. Dia elus lembut kepalaku, kemudian berkata, "Jangan diulangi. Ngomong sama suami yang sopan." Aku mendongak terlebih dahulu, kemudian mengangguk kecil.
"Ini juga berlaku buat kalian berdua." Mas Gibran menatap Weny dan Rifka bergantian. "Paham, Wen, Ka?" lanjutnya.
Kakakku ini memang the best. Kudengar Rifka dan Weny menjawab, "Iya."
“Ayo, Mas Farhan. Ini dimakan cemilannya. Ini cemilan buatan kakak ipar kita-kita yang cantik jelita, lo, Mas.” Rifka menyodorkan toples berisi kue kering yang biasa disebut Cantik Manis oleh keluargaku. Entah apa alasannya, padahal camilan itu semacam kacang telur, tetapi bentuknya agak panjang dan luarnya itu dilumuri gula pasir yang dilelehkan terlebih dahulu. Aku tidak tahu nama lainnya.
Mas Farhan menarik toples itu, kemudian mengambil beberapa biji cemilan itu. “Wah, ini cemilan enak, tapi saya tidak tahu namanya. Bunda juga sering bawa oleh-oleh kayak gini kalau abis ketemu sama Pa—Ayah.”
“Nah, itu pasti dikasih Ibu, Mas. Soalnya kalau mau ketemu Bu Rasti, Ibu pasti buat itu.”
“Oh, iya?” Mas Farhan tampak antusias sekali menanggapi kalimat-kalimat Rifka. Mereka berbicara seolah-olah yang ada di sekitarnya adalah patung.
Bagaimana aku tidak berkesimpulan begitu? Sejak masuk ke dalam rumah, Rifka yang paling banyak ngomong dan Mas Farhan dengan santai mengimbangi obrolan adikku itu. Weny dan Wildan pun asyik bercanda tawa sendiri. Entah topik apa yang mereka bahas. Mas Reza tampak khusyuk dengan ponselnya. Mas Gibran pun hanya sesekali menimpali. Dia sibuk dengan dua putrinya yang dititipkan Mbak Diva. Usai memberi camilan, kemudian ngobrol sebentar dengan kami, Mbak Diva langsung kembali ke dapur. Katanya, mau membereskan sesuatu. Lalu Rifki, kulihat dia sibuk bercengkerama dengan Rizqun.
Apakah tidak ada rasa cemburu dalam hati adik iparku itu, ya? Ah, apa hanya perasaanku yang sensitif?
__ADS_1
Bosan dengan keadaan yang terus-terusan begini—merasa sepi dalam keramaian—aku bangkit dari tempat duduk. Mas Reza yang pertama kali menyadari pergerakanku mengalihkan atensi dari layar ponselnya. “Mau ke mana, Dek?” tanyanya.
Aku sempat menggeragap sebentar, karena setelah pertanyaan Mas Reza terucap, semua pasang mata memandang ke arahku. “Itu, Mas. Aku mau ke Mbak Diva sebentar.”
“Ngapain, Dek?” tanya Mas Gibran.
“Ya bantu-bantu apalah, Mas. Kasihan dia sendirian di dapur.”
“Pasti Mbak Najwa bakalan diusir sama Mbak Diva. Tadi aku niat mau bantuin dia juga, tapi enggak diizinan. Suruh duduk manis di sini aja sama saudara-saudara,” kata Rifka.
Duh, aku harus menggunakan alasan apa ini? Karena enggak tahu kenapa, aku jadi malas berada di ruangan ini.
“Iya, Mbak Naj. Mbak Najwa enggak kangen sama aku apa?” tambah Weny.
“Kamunya saja sibuk sama suami kamu, Dek.”
“Dih, Mbak Najwa cemburu, ya?” Weny tertawa pelan.
Aku memutar bola mata saat Weny mulai usil. “Cemburu apa, Dek? Siapa yang cemburu?”
“Ya Mbak dong. Siapa lagi?” Rasanya aku ingin muntah melihat Weny tiba-tiba mengerling nakal usai berkata demikian. Adikku yang satu itu tingkat narsisnya masyaallah, ya. Makin dewasa, makin parah.
“Enggak, ah. Aku mau sama Mas Reza aja.” Tanpa memedulikan ekspresi Weny yang sekarang mulai memanyunkan bibir, aku lantas melangkah ke sisi Mas Reza. Begitu tiba di sisinya aku langsung duduk, kemudian meletakkan dagu di pundaknya.
“Mas Reza nonton apa, sih? Khusyuk banget.”
Mas Reza menoleh, menatapku. “Seperti biasa.”
“Ikutan dong, Mas.”
Mas Reza tertawa sebentar. “Dih, kangen nonton sama Mas Reza, ya?”
“Iya, dong. Udah, ah, Mas. Mari kita menonton dengan khidmat.” Kutundukkan kepala ke arah ponsel Mas Reza, mencoba fokus, meskipun tontonan yang kali ini Mas Reza saksikan kurang cocok dengan selera film-ku. “Yang lain jangan ngerusuh, ya,” tambahku.
Kami berdua pun mulai fokus menonton. Sampai sejauh ini, aku tidak lagi mendengar suara Mas Farhan dan Rifka.
“Mbak Najwa, awas ada yang cemburu, lo.” Aku mengembuskan napas saat mendengar suara Weny kembali. Benar-benar merusak suasana.
__ADS_1
“Enggak akan ada yang cemburu, Dek. Toh ini masku. Ya enggak, Mas?”
Mas Reza berdecak. “Berisik amat, sih, ini ibu-ibu rempong.” Seketika, kalimat sahutan dari Mas Reza itu mendapat sorak sorai kami bertiga—adik-adiknya—hingga terciptalah kembali kehangatan di ruangan ini.
“Kalau mau ikut nonton, diam,” pungkas Mas Reza. Karena ada misi rahasia yang ingin kulakukan sekarang, jadi aku berusaha menyabarkan diri dalam ruangan ini.
Beberapa saat kemudian, Mas Gibran pamit membawa Nayla dan Syeila ke ibunya. Begitu juga Weny dan Wildan. Mereka pamit untuk mandi, katanya. Rifki juga keluar, membawa Rizqun jalan-jalan. Alhasil, tinggallah aku, Mas Reza, Rifka dan Mas Farhan.
Karena posisiku dan Mas Reza duduk berseberangan dengan Mas Farhan dan Rifka, diam-diam aku mencuri-curi pandang ke arah mereka. Bukan maksud suuzan kepada suami dan adikku sendiri. Namun, sebagai seorang istri, jelas aku akan sedikit bertanya-tanya mengenai hubungan mereka. Karena dari segi interaksi, mereka sudah seperti kenal lama dan akrab sekali.
“Gimana studionya, Mas?” Suara Rifka kembali terdengar.
“Alhamdulillah, lancar.”
“Kak Kinan sama Kak Reyhan masih di sana?”
“Iya, dong. Mereka masih di sana. Padahal baru seminggu yang lalu, lo, kamu datang ke studio, ‘kan?”
Mendengar pertanyaan Mas Farhan tersebut, kepalaku refleks menoleh ke arah Rifka. “Kamu pernah ke studionya Mas Farhan, Dek?”
Anggukan antusias yang diberikan oleh Rifka menciptakan sedikit rasa berbeda dalam hati ini.
“Bukan pernah lagi, Mbak. Tapi sering.” Rifka tersenyum. “Foto-foto hasil percetakan studionya Mas Farhan bagus-bagus, Mbak. Makanya aku sering nyetak foto di sana.”
“Serius, Dek? Dari Tuban ‘kan jauh ke Surabaya?”
“Iya, sih, Mbak. Awal-awal aku tuh kalau ikut Ayah ketemu bapaknya Mas Farhan, aku pasti nungguin di studionya Mas Farhan, Mbak.”
Kenapa aku baru tahu fakta ini? Apa hanya aku saja yang tidak tahu? Siapa yang tidak cemburu kalau begini ceritanya?
...***...
Yeay, update lagi. Jangan bosan menunggu kelanjutan kisah Mas Farhan dan Najwa, ya. Selangkah demi selangkah, semuanya akan terungkap. Hi-hi-hi.
Salam manis dari author manis. Jangan lupa tinggalkan jejak.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
__ADS_1
Ahad, 1 Agustus 2021