
"Oh, iya, Mas. Tadi nomornya Mbak Najwa kok nomor baru, ya? Mas Farhan enggak save nomor Mbak Najwa?"
Emosi dalam dada kian membuncah. Mendorong air mata berteriak ingin menetes. Ingin marah, tetapi ... ah, aku kecewa juga kenapa Rifka harus membahas masalah itu di sini. Namun, tidak. Aku sudah bertekat untuk tidak cengeng lagi. Jadi, kuusahakan air mata itu tidak menetes.
Kutatap lekat-lekat wajah adikku yang masih tampak biasa-biasa saja. Apa dia tidak sadar kalau tindakannya ini pasti menciptakan masalah baru? Aku tidak habis pikir dengan Rifka kali ini. Maunya apa coba? Padahal tiga pria terkasihku masih berada di sini. Dia mau ada perang dunia ketiga?
"Kenapa bisa begitu, Han?"
Kepalaku tertunduk sejenak saat suara Ayah mulai terdengar. Bibir ini mulai bergetar, serta keringat-keringat dingin mulai membasahi setiap bagian tubuh, terutama kedua tangan yang sejak tadi mengepal. Akan tetapi segera kuangkat agar tidak menimbulkan kecurigaan lagi.
Apa yang harus kulakukan?
Tatapan Ayah makin mengintimidasi ke arah Mas Farhan. Begitu pun Mas Reza dan Mas Gibran yang malah seperti niat sekali menunggu jawaban suamiku.
Enggak. Ayah dan semuanya enggak boleh curiga.
Sebelum Mas Farhan menjawab, buru-buru kujawab pertanyaan Ayah. "Itu, kemarin Najwa ganti nomor baru, Yah. Najwa belum kasih tahu Mas Farhan, makanya tidak tersimpan." Daripada masalahnya akan rumit nantinya, 'kan.
Sejenak, kulirik Mas Farhan, kemudian memberi kode untuk mengiyakan kalimatku barusan.
"Kenapa tidak bilang ke Mas, sih, Yang?"
Aku menyengir lebar. "Maaf, Mas. Kelupaan kemarin."
Kuharap masalah ini selesai, dan aku akan segera menindaklanjutinya tanpa campur tangan keluarga yang lain. Aku juga mulai bisa menghela napas lega saat Ayah, Mas Reza dan Mas Gibran tidak lagi membahas masalah itu. Karena mereka kemudian mencari topik obrolan baru.
"Dek, Dek. Kelupaan terus," seloroh Mas Reza kemudian, tetapi aku menanggapinya hanya dengan senyuman.
__ADS_1
Aku sudah berniat pergi saja dari sana. Namun, Rifka sepertinya niat sekali mengusikku. Dia kembali mengeluarkan kata-kata yang kembali berhasil membuat darahku seolah-olah mendidih.
"Perasaan nomor Mbak Najwa yang tadi nelepon itu masih nomor Mbak yang lama, deh. Atau hanya aku yang salah lihat?"
Tensi darahku seolah-olah terus naik. Rasa kesal dan marah mengalirkan desiran panas sampai ke ubun-ubun. Niat untuk bangkit dari tempat duduk, kuurungkan. Aku lantas menoleh ke arahnya dan menatap tajam.
Ya Tuhan, andai aku tidak ingat dia adikku, sudah aku omeli dia habis-habisan seraya mencakar-cakar wajahnya. Apa hal ini dia anggap lucu, sehingga menjadikannya lelucon? Jangan kira karena sering diam saja sejak dahulu, aku tidak bisa berbuat semacam itu. Katanya, orang pendiam kalau diusik dan sudah diambang batas kesabarannya, bisa-bisa lebih menakutkan daripada orang yang terang-terangan bar-bar.
Beruntungnya, kewarasan otakku masih tersisa. Meski aku makin tidak paham dengan alur pemikiran Rifka, kucoba untuk menahan diri dan mengontrol emosi dalam dada. Meski pada akhirnya, kendaliku lepas juga.
"Ka, kenapa kamu kepo sekali, sih? Kamu 'kan cuma nemuin HP Mas Farhan. Tinggal balikin lagi Hp-nya. Udah, beres. Kenapa masih tanya ini-itu?" Dan kalimat itu yang keluar dari bibirku. Lagipula jika sesekali tidak tegas, bukan tidak mungkin Rifka akan makin menjadi-jadi.
"Mbak Najwa ini kenapa, sih? Aku 'kan cuma tanya. Tanyanya juga baik-baik. Lagian apa enggak aneh kalau ada seorang suami yang enggak simpan nomor istrinya?"
Kepalaku menggeleng pelan mendengar jawaban Rifka. Apa dia tidak sadar dengan apa yang ditanyakannya barusan? Dia tidak tahu dengan keadaan rumah tanggaku, tetapi dia sok mau ikut campur. Siapa yang tidak akan marah kalau begitu? Dan satu lagi, apa dia tidak sadar jika suaminya sendiri sudah berdiri di depan pintu ruang makan seraya menggendong Rizqun dari tadi? Apa dia tidak berpikir bagaimana dengan perasaan suaminya yang hanya diam saja, bak orang linglung?
Menyebalkannya lagi, Mas Farhan malah diam saja. Astaga. Ingin sekali kuceburkan dia ke laut saja. Pada saat istrinya merasa terpojok seperti ini, dia malah diam saja seperti patung. Apa sih yang ada dalam otaknya?
"Mbak, kenapa Mbak malah sensi begini, sih? Harusnya Mbak enggak marah kalau memang antara Mbak dan Mas Farhan tidak ada apa-apa."
Aku melekatkan tatapan ke arah adikku itu. "Oh, gitu?" Aku tersenyum sekilas ke arahnya. "Sekarang aku tanya balik, apa yang akan kamu lakukan jika ada yang mencampuri urusan kamu dan Rifki? Kamu terima enggak, kalau kamu disangka tidak memperlakukan Rifki dengan baik?"
"Kenapa Mbak malah bawa-bawa Mas Rifki?"
"Jawab saja, Rifka! Kamu marah apa enggak kalau ada di posisi Mbak? Dan ... apa kamu tahu kalau Rifki sudah dari tadi ada di depan pintu, menyaksikan apa yang dilakukan istrinya?"
Rifka sontak menoleh ke arah pintu ruang makan, dan entah apa alasannya, Rifki tiba-tiba mengajak Rizqun untuk main ke luar. Dia seperti menghindari topik bahasan kali ini.
__ADS_1
Aku sudah siap melayangkan balasan saat Rifka terdiam. Namun, seperti de javu. Mas Reza segera mendekat ke sisiku. Dia rangkul pundakku, kemudian mengusapnya pelan. Dia berbisik, "Jangan bertengkar di depan Ayah."
Seketika aku mengucap istighfar dalam hati. Ya Allah, padahal tadi sudah niat tidak mau terpancing, dan berniat memberi ketegasan kepada Rifka, malah terbawa perasaan beneran dan buat suasana tidak mengenakkan.
"Ini kenapa, sih? Apa yang Ayah tidak tahu? Kenapa malah jadi bertengkar seperti ini? HP Farhan tiba-tiba ada di Rifka, tadi 'kan sudah dijelaskan kenapa. Terus Farhan tidak simpan nomor Najwa di ponselnya juga sudah dijelaskan. Ini ada apa? Kenapa malah panjang?"
Dasar ceroboh kamu, Najwa!
"Najwa lagi mens, kali, Yah. Makanya sensitif. Enggak ada masalah serius, kok." Sepertinya Mas Gibran juga mulai paham dengan gelagat Mas Reza barusan, makanya dia berkata begitu.
Menarik napas panjang sebentar, aku lantas menoleh ke arah Ayah. "Maaf, Ayah. Enggak ada apa-apa, kok. Ayah tenang, ya. Benar kata Mas Gibran, tidak ada masalah yang serius."
Kuusap wajah sebentar, lalu mengembuskan napas sejenak. Aku menoleh ke arah Mas Gibran, Mas Reza dan Mbak Diva secara bergantian. "Aku minta maaf udah buat keributan pagi ini." Aku lantas menoleh ke arah Ayah. "Aku temenin Ayah ke kamar Ayah lagi, ya?"
Aku langsung bangkit, dan mendekati Ayah. Kalau diteruskan, masalahnya akan jadi makin panjang. Nanti juga aku akan ngomong dengan Rifka. Aku tidak mau berterus-terusan hidup dalam prasangka terhadap adikku sendiri.
"Apa benar tidak apa-apa?" tanya Ayah saat sudah bersandar di sandaran dipan kamarnya.
...***...
Hai, aku datang lagi. Senang, enggak? Ya pasti dong. Iya, kan? Selamat bergereget ria kepada Rifka. Ha-ha-ha.😂😂😂
Jangan lupa like, vote, komentar dan share, ya. Terima kasih.💙
Salam manis dariku. Jangan bosan menunggu. Kisah Mas Farhan dan Najwa masih panjang. He-he.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
__ADS_1
Rabu, 11 Agustus 2021