
"Nah, 'kan. Perekat hubungan suami istri itu, ya, hal-hal kecil seperti ini. Seperti tadi malam juga, Wen. Mbakmu pakai acara ketiduran di kamarnya Mas Reza lagi. Kode minta digendong."
Ya Tuhan, Mas Farhanku sayang. Aku hanya bisa pura-pura memalingkan wajah dan diam-diam tersenyum malu-malu. Meskipun setelahnya aku kembali dibuat dongkol karena Weny mulai mengusiliku lagi.
"Cie, yang malu-malu. Enggak apa-apa kali, Mbak. Orang yang gendong suami Mbak sendiri."
Ah, si Weny bisa saja.
"Apa, sih."
Bukan terganggu dengan gerutuanku, Weny malah tertawa lebar. Senang sekali mengusili mbaknya.
Siapa sih yang tidak senang jika diperhatikan dan dipedulikan oleh suami sendiri? Aku tidak akan munafik dengan mengatakan hal itu tidak menyenangkan. Apalagi melihat rekam jejak hubunganku dengannya sebelum ini. Hal-hal seperti ini bisa dibilang suatu progress yang sangat baik. Aku sangat senang dan bahagia malah.
Namun, secuil keraguan yang kemudian ikut mengisi hati setelah kebahagiaan itu, seolah-olah mengingatkanku pada hal sebenarnya. Ketakutan akan dikecewakan lagi oleh realitas, membuatku tidak bisa serta merta menerima perlakuan manis dari Mas Farhan. Penangkalan itu seperti sudah otomatis terjadi saat aku mendapatkan perlakuan begitu. Itu merupakan salah satu bentuk pertahanan diriku, jika sewaktu-waktu kembali terjatuh, aku tidak terlalu sakit.
Coba deh, bayangkan kalian memupuk asa hingga setinggi langit ketujuh. Namun tiba-tiba kenyataan menjatuhkan kalian ke dasar bumi paling bawah. Ah, mungkin itu perandaian yang terlalu tinggi. Bayangkan kalian melihat banner iklan makanan--katakanlah bakso--yang ketika dilihat dari gambarnya makanan tersebut sangat menggoda dan ingin sekali menyantapnya dengan lahap. Akan tetapi saat dimakan ternyata cita rasanya berbanding terbalik dengan yang dielu-elukan di banner. Apa yang kalian rasakan? Kecewa pasti, 'kan? Nah, itulah fase yang kualami sekarang.
"Jadi tadi malam Mbak Najwa ketiduran di kamarnya Mas Reza, Mas?" Suara Weny yang kembali terdengar mengalihkanku dari pemikiran yang tiba-tiba terlintas di otak. Dalam pangamatan diam-diamku, kulihat Mas Farhan langsung mengangguki.
"Kok bisa, sih, Mas?"
Aku menepuk jidat seraya menghela napas pelan ketika mereka berdua malah makin asyik mengobrol dengan menjadikanku topik bahasan. Benar-benar masyaallah, ya, mereka. Si Weny juga, kenapa dia terlihat sangat kepo?
"Wen." Niatnya, ingin menghentikan obrolan mereka. Namun, adik bungsuku itu malah seperti sengaja mengabaikanku. Ya Allah.
Akan tetapi, tunggu ... sepertinya aku menyadari sesuatu. Mas Farhan tidak hanya akrab dengan Rifka. Dia pun akrab dengan Weny ternyata. Apa aku sudah salah sangka terhadap adik pertama dan suamiku?
Namun, tetap saja aku merasa ada yang janggal dengan kedekatan mereka.
Ah, kenapa malah jadi memikirkan Rifka lagi, sih. Lupakan itu, Najwa. Sekarang, syukuri apa yang tersuguh di hadapanmu. Mas Farhan-mu saat ini ada di sisimu, bukan di sisi Rifka. Berhenti insecure.
Baiklah. Aku mulai kembali fokus menikmati suguhan interaksi antara Mas Farhan dan Weny. Mari dengarkan kisah mengapa aku bisa tiba-tiba tidur di kamar sendiri. Siapa tahu Mas Farhan menceritakannya, 'kan?
"Tadi malam mbakmu izin ke kamar Mas Reza bentar. Nah, Mas Reza chat Mas, Wen. Dia bilang ketika mbakmu sampai di sana, dia malah enggak mau balik kamar. Katanya masih kangen sama Mas Reza."
Oh, jadi yang dihubungi Mas Reza tadi malam itu Mas Farhan.
Aku hanya manggut-manggut sendiri, masih belum ada niatan memasuki ruang obrolan keduanya. Tidak lupa kutelisik ekspresi yang muncul di wajah suamiku itu. Jika dilihat-lihat, tidak ada aura kekesalan di sana, padahal saat aku izin untuk ke kamar Mas Reza tadi malam, dia terlihat begitu tidak suka.
__ADS_1
"Kamu tahu apa yang bikin Mas gemas sama mbakmu ini, Wen?"
Sontak aku menajamkan pandangan ke arah Mas Farhan. Aku jadi ikutan kepo. Gemas yang dimaksud Mas Farhan itu dalam artian positif apa negatif, ya? Melihat senyum yang lebih pantas disebut seringai yang tersungging dari bibir Mas Farhan, perlahan, kudekatkan diri ke arahnya yang masih berdiri dengan berbalutkan handuk tadi. Aku sudah bersiap-siap memberi sedikit pelajaran kalau dia bicara macam-macam sama Weny.
"Apa itu, Mas? Aku kok kepo," sahut Weny.
"Udah, deh. Kenapa malah jadi bahas aku, sih."
"Enggak apa-apa, lo, Mbak. Itung-itung ini sarana biar enggak ngantuk lagi."
Benar juga, sih, kata Weny. Orang bangun tidur, kalau tidak diajak langsung beraksi--seperti berbicara contohnya--bisa mengantuk lagi.
Weny menoleh ke arah pintu kamar mandi tunggal di rumahku ini. "Tapi, ini orang di dalam kok lama banget, ya? Padahal dari tadi kita ngobrol sampai ke mana-mana, 'kan, Mas, Mbak?"
Waduh.
"Iya, ya. Mas sampai pegal-pegal nih berdiri dari tadi." Mas Farhan ikut menyahut. Sepertinya kedua betisnya benar-benar pegal. Buktinya dia mencoba menggerak-gerakkan kakinya ke depan dan belakang secara bergantian, sambil sesekali memijat-mijatnya perlahan.
"Tapi, Wen. Ini malah bagus."
Kutolehkan wajah ke arah Mas Farhan yang kembali berdiri tegak, dengan alis menukik--penasaran. Weny pun sepertinya sama penasarannya denganku, terlihat dari kerutan halus yang muncul di keningnya.
Seketika, adikku itu menjentikkan jari dan tersenyum lebar. "Mas Farhan ternyata pandai juga, ya." Alisku makin menukik. Aku belum paham dengan arah pembicaraan mereka. "Mari kita gunakan kesempatan menunggu ini dengan kembali mengusili mbak tersayangku ini, Mas."
Astaghfirullahal azim. Aku menepuk jidat kembali mendengar ide nakal Weny. Yang lebih menyebalkannya lagi, Mas Farhan malah meladeni dia. Baiklah. Biarkan dua makhluk tersayangku ini kembali menjadikanku bahan ledekan mereka.
“Kalian ini apa, sih, yang dibicarakan?” Sengaja, agar mereka tidak meneruskan candaan tidak berfaedah seperti ini. Aku juga takut baper lagi.
“Mbak Najwa enggak asyik.”
“Mbakmu malu, Weny,” ledek Mas Farhan, kemudian terkekeh. “Tuh, pipinya merah.”
Refleks, aku memelototkan mata ke arahnya. “Mas Farhaaan!”
"Apa?"
"Mas Farhan nyebelin, ish."
Adik dan suamiku ini malah kompak tergelak. Apa yang lucu coba? Makin kumanyunkan bibirku karena begitu kesal akibat ulah mereka.
__ADS_1
"Jadi apa jawabannya, Mas? Aku beneran kepo, lo, ini," kejar Weny.
Ya Allah, Weny!
"Mas Reza chat Mas lagi, 'kan, Wen. Mbakmu bilang mau balik kamar, asal dikasih izin nonton sebentar sama Mas Reza. Sampai merengek-rengek, katanya."
"Mas Farhaaan! Aku bukan anak kecil, ya. Aku enggak ngerengek."
Bukan berhenti usil, Mas Farhan malah terus tertawa, diikuti Weny.
"Aduh, kenapa dicubit, Yang? Sakit nih," gerutu Mas Farhan.
Lebay banget, sih, suamiku?
"Ya Allah, Mas. Belum juga berhasil mencubit, kamu sudah protes." Aku mengusutkan wajah karena kesal.
"Kan tangan kamu sudah nyentuh kulit Mas."
"Dih, mana ada? Orang tadi kena ke handuknya doang."
“Kalian ini pasangan yang lucu tahu. Satunya pengin romantis, satunya malu-malu.”
“Heh, kalian ini masih pagi-pagi banget sudah berisik,” tegur Mas Gibran yang baru keluar dari kamar mandi. Niatnya, kami ingin pura-pura mencibir masku yang satu itu karena terlalu lama di kamar mandi. Namun, mendengar teguran itu, kami langsung bungkam.
“Buruan wudhu’. Itu sudah azan.”
...***...
Hai, maaf ya. Aku kemarin susah masuk ke aplikasi gara-gara sinyal tidak lancar. Pas sudah masuk dan bersiap nulis, tiba-tiba ada something sampai aku tidak bisa update.
Jangan bosan menunggu. Sampai jumpa di part selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak apresiasinya juga, dan rekomendasikan ke teman-teman kalian dong, biar lapak cerita ini makin ramai. He-he.
Pokoknya terima kasih buat kalian semua. Mau pembaca lama, atau baru, terima kasih banyak sudah membersamai langkah Mas Farhab dan Najwa sampai detik ini, ya. 💙
Salam manis dari author manis.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Sabtu, 7 Agustus 2021
__ADS_1