
"Dek? Najwa?"
Tepukan di pundak dari tangan Mas Reza membuatku terperanjat. Entah seperti apa raut yang tercetak di wajah ini. Kulirik Mas Reza yang sudah berdiri tepat di sampingku. Detak jantung masih berpacu tidak normal bak selesai lari maraton. Diriku membisu dalam beberapa saat, berusaha menetralkan kekagetan akibat panggilan tiba-tibanya. Kulihat kakak keduaku itu mendudukkan dirinya di sampingku, kemudian bergerak menangkup pipi.
"Kamu kenapa, sih, Dek? Mas lihat-lihat kamu bengong aja dari tadi." Bibirku masih mengatup, bingung mau memberi jawaban apa kepadanya. Meski wajah kami berhadapan langsung, aku malah berusaha menghindari tatapan kakakku ini. "Masa Mas panggil-panggil enggak sadar-sadar?"
Aku hanya meringis pelan mendengar pertanyaannya.
Mau jawab apa aku?
Kugerakkan kedua tangan untuk menurunkan tangan Mas Reza di pipi. Baru setelahnya, kuedarkan pandangan ke seluruh sisi ruang depan. Seketika, kalimat istigfar terucap pelan dari bibir. Bahkan, aku baru menyadari kalau Ayah sudah tidak di sampingku lagi. Dan Mas Farhan ... di mana dia? Suamiku itu pun tidak ada di ruang depan.
Kutolehkan kepala ke arah Mas Reza dengan kerutan di kening. "Ayah ke mana, Mas?"
Kudengar Mas Reza mendengkus keras. Dia kemudian menatapku cukup intens. Buru-buru kupalingkan pandangan, karena Mas Reza peka banget.
"Ini anak, ditanya apa, jawabnya apa."
Sekali lagi aku meringis pelan seraya menggaruk pelipis di depan Mas Reza. Aku yang tidak terbiasa dengan sandiwara-sandiwara layaknya Mas Farhan, malah makin bingung kalau ada yang kepo.
"Aku enggak apa-apa, Mas. Serius." Aku berusaha menampakkan raut meyakinkan di wajahku ke arah Mas Reza. "Sekarang jawab pertanyaanku tadi. Ayah di mana, Mas?"
"Ayah di kamar. Istirahat."
Bola mataku membeliak. "Memang Ayah sakit, Mas?"
Segera kusingkirkan tangan Mas Reza yang tiba-tiba menempel di keningku. Maksudnya apa coba? Apa hubungannya pertanyaanku dengan meraba kening? Masku yang satu ini, masyaallah. Ada-ada saja tingkahnya.
Kutatap tajam Mas Reza. "Mas, ih. Kenapa sih?" kesalku.
Bukan langsung menjawab, Mas Reza malah makin menjadi-jadi. Dia malah beralih meraba pipiku berkali-kali, menggerak-gerakkannya ke samping kiri dan kanan seraya ditelisik. Menjengkelkan sekali. Untung sayang.
Apa Mas Reza menyadari perubahan fisikku, ya?
"Dek, kamu tidak panas, tapi kenapa Mas merasa kamu sakit, ya? Tatapan kamu kosong. Pipi kamu ini juga keliatan makin tirus. Kulitmu kusam--"
"Astagfirullah, Mas. Mas Reza ngatain aku jelek?"
Mas Reza tidak mengindahkan kalimat protesanku. Sungguh menyebalkan. Bukan menjawab, dia malah kembali menelisik wajahku seperti ada sesuatu yang mencurigakan saja di sana. Membuatku risi. Kedua tangannya pun kembali menangkup wajahku agar tidak bisa berpaling. Bahkan dia memberi ultimatum agar aku tidak memalingkan pandangan.
Apa-apaan, sih?
Setelah cukup lama menatap dan menyelami lautan mataku, Mas Reza bersuara. "Najwa, Mas Reza tahu siapa kamu. Sedari kecil, Mas Reza yang paling dekat denganmu."
__ADS_1
Nah, 'kan. Lihat sendiri bagaimana pekanya kakakku yang satu ini. Padahal ini pertemuan pertama kami dan aku juga sudah berusaha membuat wajahku terlihat biasa-biasa saja. Namun, Mas Reza masih bisa menyadari. Hebat, 'kan, kakakku ini?
"Kita hidup bersama tidak hanya satu hari dua hari. Bertahun-tahun malah. Sampai kini kamu berusia 23 tahun." Mas Reza menjeda kalimatnya. Lelaki berparas rupawan dengan ciri khas kulitnya yang putih bersih dengan mata agak sipit itu terlihat mengambil napas sejenak. Raut kekhawatiran pun mulai tercetak di wajah itu. "Mas yakin kamu paham dengan keluhan Mas soal wajahmu." Aku mendadak bungkam. Bingung harus menjawab apa. "Karena dari dulu, kamu tidak peduli apakah kamu cantik atau tidak."
Bibirku makin mengatup rapat bak diolesi lem G. Sekali oles langsung rekat. Apa yang dikatakan Mas Reza memang benar. Sebenarnya aku sudah menangkap arah tujuan keluhan lelaki itu mengenai wajahku. Namun, aku berusaha menyangkal. Meskipun pada kenyataannya, Mas Reza sulit dikelabui.
"Kamu tampak seperti orang yang kehilangan arah di tempat tidak sesak."
Perlahan, engsel leherku seperti tiba-tiba patah. Kepala menunduk tanpa aba-aba. Rasa nyeri di dada pun kembali terasa, seiring munculnya genangan cairan bening di sudut mata.
Mas, bagaimana caraku mengatakan semuanya sama kamu?
Ingin kuluapkan semuanya di hadapan Mas Reza. Namun, ketakutan tentang apa yang akan terjadi setelah ini, membuatku tidak ingin berbicara.
"Bagaimana bisa kamu tidak menyadari raut wajah Ayah yang sangat kentara kalau beliau sakit tadi? Kecuali fokusmu memang terpecah, fisikmu ada di sini, tapi pikiranmu di mana-mana."
"Mas, tadi aku 'kan sudah bilang. Aku tidak apa-apa, Mas. Mas Reza tidak perlu khawatir."
"Bagaimana Mas bisa tenang kalau ngelihat kondisi kamu kayak gini?" Kedua tangan Mas Reza kini beralih memegangi pundakku. Sorot matanya jelas menyiratkan kekhawatiran yang cukup besar akanku.
Kucoba tenangkan diriku dengan mendesah pelan terlebih dahulu. "Najwa sudah dewasa, Mas. Najwa yang cengeng, adik Mas yang manja, sudah enggak ada, Mas." Tanpa kuduga, suaraku malah bergetar kala mengucapkannya. Tangis yang ingin tumpah ruah membuatku tidak bisa mengontrol nada suara.
Mas Reza menguatkan pegangannya di pundakku. Tatapan matanya menajam. "Tapi ini apa? Kamu bisa membohongi Mas dengan ucapan. Tapi tindakan kamu tidak bisa, Dek. Najwa yang dulu dan sekarang masih tetap sama."
"Ma-Mas ...."
"Ngomong, Najwa. Jangan buat Mas khawatir sama kamu."
Namun, lidahku terasa begitu kelu, hingga tidak bisa mengucapkan apa-apa. Hanya isakan yang makin terdengar keras menjelma tangis, memenuhi ruang depan rumah Ayah. Pundakku makin bergetar hebat akibat luapan emosi dari balik dada.
"Najwa, cerita sama Mas, Dek, kalau kamu memang butuh teman cerita. Mas masih masmu yang dulu."
Ah, Mas Reza. Kata-katamu bukan membuatku berhenti menangis, Mas. Aku malah ingin menangis kejer seperti masa-masa yang sudah kita lewati bersama.
Dan pada akhirnya, kubiarkan juga air mataku menetes dengan deras tanpa khawatir menimbulkan kecurigaan Mas Reza lagi. Aku benar-benar sudah tidak kuat menahannya. Kubiarkan ia bercucuran membasahi pundak Mas Reza yang terus mendekapku erat. Tangannya bergerak mengusap punggungku.
"Biarkan begini dulu, Mas." Aku menyahut setelah merasa cukup tenang sambil mengusap cairan di hidungku, kemudian kembali menenggelamkannya di pundak Mas Reza.
Kakakku itu pun diam, membiarkanku meluapkan semua emosi melalui tangisan itu. Cukup lama aku menangis di pundak Mas Reza, aku pun mengangkat kepala perlahan. Kuurai pelukan dari Mas Reza, sambil kuusap sisa-sisa air mata di pipiku. Rasanya sangat lega saat aku bisa menumpahkan tangis yang selalu tertahan. Dada yang serasa ditimpa beban berton-ton pun terasa sangat ringan.
"Sudah mulai tenang?" Aku mengangguki pertanyaan Mas Reza.
"Apa ini ada hubungannya sama Farhan, Dek? Kalian ada masalah?"
__ADS_1
Aku menggeragap mendapat pertanyaan seperti itu dari Mas Reza. Buah simalakama pun membuatku kebingungan harus menjawab apa. Dua-duanya sama-sama tidak menguntungkan aku.
"Mas, sudah. Terima kasih sudah memberi pundak Mas buatku tadi. Tapi, maaf. Aku tidak bisa cerita. Ini urusan rumah tanggaku. Biar jadi urusan kami."
Ini keputusanku. Aku tetap dengan pendirian berjuang tanpa membongkar apa pun soal Mas Farhan.
Mas Reza kembali menyorot tajam mataku. Dua matanya yang pekat, jelas menyiratkan kemarahan. Aku meyakini hal itu. Dilihat dari kedua tangannya juga yang mengepal erat. Rahangnya juga mengeras, gemelatuk giginya terdengar jelas.
"Mas tidak akan tinggal diam kalau Farhan sampai lewat batas, Dek."
Benar, 'kan? Nada suara Mas Reza pun menyiratkan amarah. Kupaksa diriku untuk menyunggingkan senyum. "Mas Farhan baik, kok, Mas. Mas Reza tenang saja."
"Bagaimana bisa Mas tenang? Ini belum sampai dua bulan, kamu sudah kurus begini. Tangisan kamu tadi pun menyiratkan banyak luka, Dek. Apa yang Farhan lakukan sama kamu?"
Mas, kenapa kamu sepeka ini, sih? Kenapa Mas Farhan seperti tidak bisa peka? Ah, benarkah dia tidak peka? Ataukah dia hanya berpura-pura tidak peka?
Kuembuskan napas sejenak. Kemudian meraih kedua tangan Mas Reza. Kuenggam tangan kakakku itu cukup erat. Di samping itu, kutatap matanya dengan sorot kelembutan. Berharap dia luluh, dan mau berusaha untuk sedikit tenang.
"Mas, dukungan positif dari Mas sangat aku butuhkan. Doakan saja, semoga aku bisa melalui masalah kami. Lagipula, kata Ibu, kalau seseorang sudah berumah tangga, ketika ada masalah apa pun, usahakan tidak melibatkan orang lain. Sekalipun itu keluarga. Kecuali memang sangat dibutuhkan."
Meski terlihat belum puas, Mas Reza lantas mengakhiri sesi interogasi itu dengan berkata, "Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, Dek."
Ah, rasanya sungguh menenangkan. Perlahan, kegundahan di hati soal ketakutan akan tindakan Mas Reza jika sewaktu-waktu tahu aku tidak baik-baik saja dengan Mas Farhan, berangsur ringan.
"Lagipula, masa Mas tidak bisa melihat bagaimana perhatiannya Mas Farhan tadi sama aku?"
Mas Reza mengangguk. "Mas tahu. Cuma, ketakutan itu selalu ada, Dek."
"Semuanya akan baik-baik saja, Mas." Semoga.
"Ya sudah, kamu istirahat sana. Farhan sudah Mas suruh istirahat. Dia terlihat lelah banget."
"Aku ke kamar Ayah saja, Mas."
"Jangan lupa cuci muka. Kondisi Ayah belum stabil."
...***...
Hohoho, akhirnya setelah melewati serangkaian ujian, mulai dari sinyal buruk sampai tidak bisa update tepat waktu, bab 13 rilis.
Jangan lupa like, vote dan komentar, ya. Rekomendasikan ke teman buat bacaan, boleh sekali.
Salam manis dari orang manis.
__ADS_1
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Rabu, 23 Juni 2021