Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Optimislah, Najwa


__ADS_3

“Mas ngusir aku?”


Mas Reza kembali menjepit hidungku. Parahnya, kali ini lebih kencang dari yang tadi, sehingga aku kesulitan bernapas. Sontak, kupukul punggung tangannya itu hingga jepitan jarinya terlepas. Mengesalkannya kakakku, dia malah tertawa terbahak-bahak.


"Senang banget ngusilin adiknya, Mas," keluhku seraya mengusap-usap pelan hidung yang tadi dijepitnya.


“Lagian, kamu bandel, sih. Bukannya Mas mau ngusir kamu, Dek. Tapi ini sudah malam. Sudah jam sembilan. Farhan nungguin kamu pasti.”


Aku menggeleng tegas. "Biasanya juga kita sampai larut malam nonton bareng, main bareng."


"Tadi Mas Reza bilang apa, hem? Kamu sudah bersuami. Kondisi kita sudah beda, Dek. Ada hal-hal yang mesti dibatasi. Lagian tadi kamu bilang sudah lega, 'kan?"


Aku mencebikkan bibir. "Aku masih kangen sama Mas Reza."


Kakakku tergelak sebentar, membuat kedongkolan kembali memenuhi hati. Aku memang sudah sedikit lega, tetapi aku malas berada dalam satu kamar dengan Mas Farhan.


"Besok lagi, ya?"


Lagi, aku menggeleng tegas sebagai respons dari pertanyaan Mas Reza.


“Oke, kamu maunya apa?”


“Tidur di sini.”


Mas Reza sontak bangkit dari tempat tidurnya, lalu meraih lenganku, kemudian sedikit menariknya. Paham dengan apa yang akan dilakukan Mas Reza, sengaja kubuat tubuh ini seperti batu, agar tidak bisa berpindah.


“Mas Reza, please?”


Kakakku itu menggemeretakkan gigi. “Kenapa sekarang kamu jadi manja, sih, Dek? Ayo balik.”


"Enggak, Mas. Please, ya?"


Mas Reza tampak menarik napas panjang. Mungkin dia sangat kesal kali, ya, dengan sikapku sekarang. Cukup lama waktu berlalu dengan keheningan. Mas Reza masih berdiam tanpa satu suara pun yang terucap. Dia lantas mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas samping tempat tidur, kemudian fokus memandangi benda persegi panjang itu dalam waktu yang cukup lama. Jemarinya juga sibuk mengetik, entah apa yang dia ketik, dan entah siapa yang dia hubungi.


“Ya udah, aku akan balik, tapi kita nonton dulu, yuk. Sepuluh menit aja.”

__ADS_1


"Lima menit."


Baiklah. Daripada tidak diizinkan, lebih baik begitu. Lagipula, aku punya rencana bagus agar bisa tidur di kamar ini.


...***...


Sayup-sayup kudengar qir’oah menjelang azan Subuh berkumandang dari musala dekat rumah. Kubuka perlahan mataku, kemudian mencoba untuk bangkit. Namun, pergerakanku terasa sulit, seperti ada yang melilit pinggangku. Kutolehkan kepala ke samping, betapa terkejutnya aku ketika melihat Mas Farhan tertidur di sampingku—menghadap ke arahku. Untung tangan ini segera kugunakan untuk membekap mulut agar tidak berteriak. Kalau tidak, kasihan Mas Farhan kalau dia kaget. Kutelisik seluruh sisi kamar, ternyata aku sudah berada di kamarku sendiri.


“Siapa yang mindahin aku ke sini?” Aku mulai bermonolog. Padahal yang kuingat tadi malam aku masih menonton dengan Mas Reza. Ah, aku benar-benar ketiduran, tetapi kenapa masih dipindah ke sini segala, sih?


Akan tetapi, di balik kekesalan itu ada satu kebahagiaan lagi yang perlahan menyusup ke dalam hati. Benar kata Mas Reza, untuk apa aku insecure hanya karena satu hal, sementara masih lebih banyak hal yang bisa kusyukuri atas kehadiran Mas Farhan? Pada saat orang lain tidak bisa tidur satu kamar dengannya, aku bisa, bahkan satu tempat tidur. Memandang wajah teduhnya pun berpahala.


Perlahan, bibirku bergerak--menyunggingkan senyum. "Alhamdulillah. Aku bahagia bisa melihatmu dari jarak sedekat ini, Mas."


Makin dipandang, wajah Mas Farhan itu tidak membuat bosan. Malah, dalam keadaan tertidur pun, dia masih terlihat tampan.


"Semoga ini menjadi awal yang baik untuk hubungan kita, Mas. Aku sayang banget sama kamu."


Entah ide dan keberanian dari mana, kuangkat sebelah tangannya yang melingkar di pinggangku, kemudian mengecupnya begitu lama. "Aku yakin suatu saat kamu bisa menerimaku, Mas. Dan aku enggak akan berhenti berjuang sebelum sampai pada titik itu."


Pelan, kupindahkan tangan Mas Farhan ke sisi tempat tidur, kemudian bangkit. Niatnya akan kubangunkan dia usai aku bersuci.


“Kamu sudah bangun?” Langkah kaki yang hendak beranjak dari sisi tempat tidur, seketika terhenti. Aku lantas menoleh ke arah Mas Farhan yang juga mulai bangkit, lalu menggeliat sebentar, kemudian menguap. “Kenapa tidak bangunkan saya?” tanyanya lagi dengan suara yang masih khas orang bangun tidur—serak.


“Ini aku juga baru bangun, Mas. Baru aja mau ke kamar mandi.”


“Ikut.”


Aku mengangguki. Segera kuambilkan handuk dan pakaian ganti untuknya, kemudian keluar kamar dengan langkah beriringan.


"Kenapa kalau subuh-subuh begini udara dingin sekali, sih." Mas Farhan bersedekap dada seraya berdiri di depan kamar mandi, menunggu orang yang di dalam keluar. "Ini yang di dalam siapa, sih? Lama sekali. Tidak dingin apa lama-lama dalam kamar mandi?"


Aku terkekeh melihat ekspresi yang ditampakkan Mas Farhan. Ternyata dia bisa juga menggerutu. Lucu.


"Jangan ngomong gitu. Siapa tahu di dalam itu Ayah. Mas mau jawab apa nanti kalau ternyata Ayah dengar? Lagian 'kan memang gitu biasanya, Mas." Dia hanya menoleh tanpa bersuara apa pun. Sesekali dia melepas kedua tangan yang bersedekap di depan dadanya itu, kemudian mengusap-usap wajahnya.

__ADS_1


Kudekati dirinya yang masih berdiri tanpa bersandar pada dinding, karena katanya bersandar di dinding malah menambah dingin. "Pakai ini, Mas, biar enggak kedinginan."


Kulihat bola matanya sedikit membeliak saat aku memasangkan handuk yang kupegang untuknya.


"Te-terima kasih."


"Sama-sama, Mas. Sudah enggak dingin, 'kan?"


Dia mengangguk pelan. Dalam hati ini serasa ada bunga-bunga yang terus bermekaran seiring membuncahnya rasa bahagia di sana. Alhamdulillah, ya, Allah.


Optimis, Najwa. Semoga ini benar-benar awal dari semua kebahagiaan kamu bersama suamimu. Begitu kata satu sisi dari diriku.


“Duh, pengantin baru ke mana-mana gandengan terus, ya. Ke kamar mandi aja mesti bareng-bareng.”


Ya Tuhan, hampir saja aku jantungan saat Weny tiba-tiba muncul di hadapanku. Aku berdecak kesal saat adikku yang satu ini mulai usil. Apa-apaan coba?


“Iya, dong, Wen. Kamu dulu sama Wildan juga gitu, 'kan, pas masih baru nikah?” sahut Mas Farhan tiba-tiba. Sontak aku menoleh ke arahnya. Yang lebih mengejutkan, saat Mas Farhan malah meladeni kelakuan usil Weny.


“Bukan dulu aja, Mas. Sampai sekarang pun masih sama, sih.”


"Nah, 'kan. Perekat hubungan suami istri itu, ya, hal-hal kecil seperti ini. Seperti tadi malam juga, Wen. Mbakmu pakai acara ketiduran di kamarnya Mas Reza lagi. Kode minta digendong."


Ya Tuhan, Mas Farhanku sayang. Aku hanya bisa pura-pura memalingkan wajah dan diam-diam tersenyum malu-malu. Meskipun setelahnya aku kembali dibuat dongkol karena Weny mulai mengusiliku lagi.


...***...


Hai, aku update lagi. Semoga ada yang senang. Ha-ha.


Jangan lupa tinggalkan jejak apresiasi kalian. Tapi aku enggak maksa, lo, ya. Yang berkenan, kok. Oh, iya. Kalau berkenan juga, bolehlah rekomendasikan novel aku ke teman-teman, tetangga, keluarga atau siapa gitu. Biar makin banyak yang baca novel aku.


Terima kasih buat kalian yang sudah membersamai langkah Mas Farhan dan Najwa sampai sejauh ini. Kontribusi kalian terhadap karya ini sangat berarti buat aku. Jangan bosan menunggu, ya. Terima kasih buat kalian semua pokoknya. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua dengan paling bagusnya kebaikan. Aamiin.


Salam manis dariku.💙


Sumenep, Madura, Jawa Timur

__ADS_1


Kamis, 5 Agustus 2021


__ADS_2