Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Kacau


__ADS_3

“Kenapa bisa begini?” Samar-samar kudengar suara Mas Reza di luar ruang pemeriksaan.


“Tadi saya ajak makan Najwa di warung itu, Mas. Saya tidak tahu kalau dia alergi ayam, dan ternyata kata penjaga warungnya makannya bercampur ayam.” Itu sahutan dari Mas Farhan.


“Satu bulan lebih kalian hidup bersama, tapi kamu enggak tahu tentang istrimu?” Aku memejamkan mata sebentar saat Mas Reza mulai meninggikan suara. “Kamu ini suaminya Najwa apa bukan, sih? Untung saya ada di dekat sini dan bisa langsung ke sana setelah kamu telepon. Kalau enggak? Kamu mau buat adik saya meninggal?”


Mas Reza.


“Saya minta maaf, Mas. Saya benar-benar tidak tahu.”


Tidak ingin perdebatan antara kedua lelaki terkasihku itu berkelanjutan, kupaksakan diri untuk bangkit dari brankar. Kuturunkan kaki dan duduk sebentar untuk menetralkan pening. Baru setelah merasa enakan, aku berjalan dengan tertatih-tatih.


“Benar-benar meragukan. Dari awal saya curiga sama kamu, tapi adik saya selalu berusaha menahan saya agar tidak mencampuri urusan kalian. Saya diam bukan enggak tahu. Tapi saya menghargai kamu sebagai suami adik saya, dan ini sudah sangat keterlaluan, Farhan!”


Aku berpegangan pada pintu ruangan dan bersandar di sana karena syok akibat bentakan Mas Reza. Detak jantung yang semula mulai teratur, kini kembali gusar karena suguhan pemandangan tidak mengenakkan antara suami dan kakakku itu. Masih bersandar di pintu, kulihat Mas Farhan menundukkan kepala.


"Saya benar-benar minta maaf, Mas."


"Kamu pikir dengan meminta maaf kayak gitu, bisa buat Najwa baik-baik saja?"


Ini enggak bisa dibiarkan.


Menarik napas kuat-kuat kemudian mengembuskannya perlahan, aku mencoba untuk melangkah menghampiri Mas Reza dan Mas Farhan.


“Dek, kenapa kamu keluar?” tanya Mas Reza yang pertama kali menyadari kedatanganku.


Mas Farhan juga ikut menoleh dengan cepat. “Sayang, kamu masih perlu istirahat,” katanya lembut, penuh perhatian.


Kedua lelaki itu dengan cepat menghampiriku dan seperti saling berebutan untuk merangkulku. Namun, segera kuhentikan keduanya agar tidak timbul perdebatan lagi.


“Aku udah enggak apa-apa, Mas. Aku mau pulang aja." Aku menatap mereka bergantian. "Mas Reza enggak usah nyalahin Mas Farhan. Dia enggak salah, Mas. Akunya aja yang enggak tanya, dan langsung makan gitu aja.”


"Tapi masa kamu enggak ngenalin kakau yang kamu makan itu daging ayam?"

__ADS_1


"Udahlah, Mas. Berhenti, ya."


“Terus aja belain suami kamu itu.”


Aku mengeratkan gigi, menekan diri agar tidak ikutan emosi. Jujur aku sedikit tidak nyaman dengan kata-kata Mas Reza. Kutatap kakakku itu dengan cukup lama. “Mas, udah. Tadi Mas Farhan kan udah bilang minta maaf karena dia enggak tahu.”


“Tapi ini keterlaluan, Najwa. Kalau kamu kenapa-kenapa memang dia mau tanggung jawab?”


“Tapi buktinya sekarang aku sudah mulai membaik, Mas." Mas Reza terlihat membuka lisan, masih tidak mau mengalah. Cepat, aku mengangkat tangan ke hadapannya. "Udah, Mas Reza. Aku mohon jangan panjangkan masalah ini, apalagi didengar Ayah. Aku enggak mau nambah masalah lagi kalau sampai Ayah tahu masalah ini.”


Mas Reza terdiam sebentar, sepertinya mempertimbangkan penjelasanku. Sebelum dia merespons permohonanku, dia melirik Mas Farhan dengan tatapan tajam layaknya musuh yang berkata, ‘urusan kita belum selesai.’ Membuatku tidak bisa untuk menghela napas lega.


“Udah, Mas Reza. Mending kita pulang. Mas udah beli obatnya, kan?”


Mas Reza mengangguk. “Ya udah, kamu pulang sama Mas aja," katanya. Hadeuh, Mas Reza susah amat dibilangi. "Entar ada apa-apa lagi kalau bareng dia.” Masih saja nyindir-nyindir Mas Farhan.


Kakak keduaku itu lantas menarik lenganku, tetapi aku mencoba menolaknya secara halus.


Mas Reza mendengkus. “Iya, oke.” Aku menghela napas lega mendengarnya. Aku juga sudah mulai berpegangan ke lengan Mas Farhan dan bersiap untuk pulang. Namun, Mas Reza sudah seperti punya dendam kesumat saja ke Mas Farhan. Dia kembali menoleh ke arah suamiku dengan raut marahnya, dan menatap tajam. “Ini obatnya Najwa. Awas aja kalau terjadi apa-apa lagi sama adik saya. Saya tidak main-main dengan ucapan saya, Farhan.”


Mas Farhan mengambil obat itu. “Iya, Mas. Saya akan jaga Najwa.”


Mas Reza pun pergi meninggalkan kami. Aku menghela napas lega karena berhasil melerai perdebatan antara Mas Farhan dan Mas Reza. Kalau tidak, akan lebih malu lagi aku dilihati banyak orang di sekitar sini.


"Ayo kita pulang, Mas." Aku terlonjak saat dia tiba-tiba menghenpas lenganku. Dia langsung pergi begitu saja tanpa mengajakku. Kenapa lagi ini? Agak-agaknya sikap Mas Farhan kembali seperti semula, soalnya dia kembali dingin. Menyeka sebulir air mata yang melintasi pipi, aku lantas cepat-cepat membuntuti langkahnya.


“Kita pulang saja abis ini,” ucap Mas Farhan saat pertama aku duduk di sampingnya.


"Kok mendadak, Mas? Kemarin kan kesepakatannya--"


"Ya sudah, terserah. Silakan buat aturan sendiri." Dan aku tidak bisa lagi melawan titah suamiku jika sudah begini. Aku menyandarkan punggung ke kursi, memejamkan mata dan diam-diam terus beristigfar dalam hati untuk merelaksasi diri. Tidak ada perbincangan yang tercipta, kami menikmati perjalanan ke rumah Ayah dengan keheningan. Entahlah. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Acara makan-makan romantisnya kacau, dan penjelasan yang dijanjikan Mas Farhan tidak jadi kudengar hari ini.


Kenapa selalu begini sih ujungnya? Kapan aku bisa tahu dengan apa yang sebenarnya Mas Farhan sembunyikan dariku?

__ADS_1


"Sudah selesai jalan-jalannya?" Aku terkejut saat Ayah tiba-tiba muncul di depan pintu.


"Ya Allah, Ayah. Najwa kira siapa." Ayah hanya terkekeh menanggapi gerutuanku. "Iya. Ini baru balik."


"Sayang, Mas ke kamar duluan buat beres-beres, ya," kata Mas Farhan tiba-tiba. Aku dan Ayah sontak menoleh ke arahnya.


"Beres-beres buat pulang?" tanya Ayah.


"Iya, Ayah. Aku minta maaf. Dadakan gini. Ada hal yang harus kuurus di rumah."


Aku hanya bisa menggigit bibir. Mas Farhan kalau sudah ada maunya, tidak bisa bilang tunggu dulu.


"Iya, Han. Enggak apa-apa. Ayah paham kok."


"Terima kasih, Ayah. Aku ke kamar dulu, Yah." Aku pun ikut pamit ke Ayah untuk membantu Mas Farhan. Aku tidak mau membuat dia makin marah kalau aku berlama-lama.


Setelah semua perlengkapan selesai dikemas, aku lantas pamitan kepada Ayah. Ternyata Mas Gibran dan Mbak Diva sudah pulang dan Mas Reza belum datang.


***


Entah setan apa yang merasuki suamiku ini. Aku merasa ngeri sendiri sama dia. Apalagi selama perjalanan, dia menyetir mobil dengan ugal-ugalan. Dia niat mati mau ngajak aku?


Bagaimana aku tidak berpikir begitu? Dia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perjalanan ke rumah kami yang biasanya menghabiskan waktu satu jam, terkadang lebih, karena kami pulang saat ramai-ramainya jalan nasional, kali ini tidak sampai satu jam. Paling ada sekitar empat puluh lima menit. Gila. Tidak mati jantungan di atas mobil, alhamdulillah.


***


Hallo. Senang enggak, aku update lagi? Senang dong? Iya, kan? Setelah ini rahasia bakal terungkap, lo. Ayo kira-kira tebakan siapa yang bener. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Teirma kasih


Selamat menunggu jawabannya. Wkwk.


Salam manis dariku.


Minggu, 12 September 2021

__ADS_1


__ADS_2