
“Jadi gimana ceritanya?”
Menatap lekat wajah Kinan, berusaha memantapkan pilihan yang sebenarnya sudah lama terpikir di otak, aku menjawab, “Sebenarnya aku ngajak dia keluar, bukan mau jelasin soal perasaanku sama Rifka aja. Tapi ... aku enggak sengaja buat dia hampir mati gara-gara makanan yang buat dia alergi. Dari sana aku marah sama diriku sendiri karena merasa enggak bisa jagain Najwa, ditambah lagi Mas Reza marah-marah juga.”
“Dan kamu makin emosi, sementara Najwa mencoba menenangkan kamu. Tapi karena waktunya enggak tepat, kamu makin emosi dan berakhirlah pertengkaran kalian. Gitu, kan?”
“Dia mancing amarahku duluan, Nan. Jadi ya gitu, sampai—”
“Najwa menyimpulkan sendiri bahwa kamu memang enggak ada niat berubah? Kamu makin marah karena dengan begitu, kamu merasa Najwa terus menuntutmu, sementara kamu belum mantap dengan pilihan kamu?”
Kinan memang cerdas. Bisa-bisanya dia menebak dengan benar apa yang aku pikirkan? Sikap diam dengan gurat frustrasi yang tercetak di wajah Kinan itu turut membuatku bernapas lelah. Komunikasi antara aku dan Najwa benar-benar kacau, sehingga banyak kesalahpahaman yang tercipta. Aku juga sih yang salah. Dari awal aku yang memilih akses komunikasi dengan dia.
Astaga. Ternyata aku ini benar-benar lelaki brengsek.
Pada saat masih asyik dalam keheningan, dering ponsel mengalihkan atensi. Buru-buru kuraih benda elektronik itu di saku. Keningku mengerut begitu membaca nama Bapak yang tertera di pop up notifikasi WhatsApp.
Bapak
Bapak lagi di Sumenep, Han. Kenapa tiba-tiba tanya soal awal pernikahan kalian bermula?
Aku sedikit kaget membaca pesan tersebut, karena seingatku tidak pernah mengirim pesan kepada ayahku itu. Namun, ketika aku menggulir pesan-pesan di atasnya, aku tertegun begitu membaca pesanku yang terketik di roomchat Bapak. Memang benar aku mengiriminya pesan yang berisi pertanyaan bagaimana kesepakatan mereka dengan orang tua Najwa dulu. Aku mendesah pelan sebentar.
Pasti ini ketika aku masih emosi-emosinya. Sampai tidak sadar, ya Tuhan.
Kepalang basah, mending nyebur sekalian. Aku segera mengetikkan balasan kepada Bapak.
Me_Fuadi Farhan
Enggak, Pak. Pengin tahu aja bagaimana Bapak dan Bunda waktu melamar Najwa dulu. Maksudnya kata-katanya itu.
"Pesan dari siapa?" Suara Kinan kembali terdengar.
Aku mengalihkan perhatian ke arah Kinan sebentar. "Bapak. Bentar, jangan ngomong dulu." Karena aku mau memfokuskan diri pada jawaban Bapak.
Beruntungnya Kinan langsung diam. Mungkin juga melanjutkan pekerjaannya, karena memang ini jam kerja. Aku menunggu balasan pesan dari Bapak dengan harap-harap cemas. Sesekali kuketuk-ketukkan jari di layar ponsel.
Bapak lama sekali balasnya, padahal beliau online, lo.
Beberapa menit kemudian, satu pesan baru dari Bapak masuk. Langsung kubaca pesan itu.
Bapak
Bukannya Bunda yang ngomong sama kamu, Han? Bunda bilang kamu setuju waktu itu. Ya sudah Bapak langsung buat janji temu dengan Pak Ahmad dan langsung melamar Najwa. Pak Ahmad juga bilang mau tunggu Najwa jawab dulu sebelum menerima. Ternyata Najwa terima, akhirnya kalian menikah. Ada apa sebenarnya?
__ADS_1
Kalian tahu rasanya sudah koar-koar dengan heboh menyampaikan sebuah argumentasi dan keukeh dengan argumentasi itu, tapi ternyata argumentasi itu salah? Sudah salah, pakai nada angkuh dan menyalahkan orang lain lagi. Itu yang aku rasakan sekarang.
Bagai ada aliran setrum menjalari tangan yang memegang ponsel, hingga ia bergetar cukup kuat. Hampir saja benda elektronik itu jatuh dari genggaman andai sudah benar-benar hilang kesadaran. Sekali lagi kubaca pesan Bapak, hasilnya sama. Namun, rasa tidak percaya masih saja ada, hingga kuulangi sekali lagi membacanya. Tidak ada yang berubah.
Meski masih gemetar, kupaksakan tangan untuk mengetik balasan untuk Ayah. Aku butuh kepastian sekali lagi jika apa yang aku baca adalah benar.
Me_Fuadi Farhan
Ja-jadi Bapak sama Bunda enggak menawarkan perjodohan terlebih dahulu?
Sial! Kegugupanku sampai terbawa pada penulisan pesan kepada Bapak. Kalau dihapus, bisa-bisa Bapak makin kepo dan urusan jadi panjang.
Semoga Bapak tidak curiga kenapa tiba-tiba tulisanku begitu.
Menunggu jawaban dari Bapak, membuat suasana terasa makin menegangkan. Keringat-keringat dingin mulai bercucuran membasahi bagian-bagian tubuh. Sedari tadi tatapan ini terus fokus menatap layar ponsel, mengabaikan keadaan sekitar. Jika saja jawaban yang Bapak beri merupakan hal yang tidak aku inginkan---
Tangan ini makin bergetar kala pesan balasan dari Bapak masuk dalam waktu beberapa detik saja. Pelan, aku membacanya baik-baik.
Bapak
Kamu ini gimana, sih, Han? Ya enggaklah. Bapak sama Bunda kan mastikan ke kamu dulu setuju atau enggak. Kamu bilang setuju waktu itu, baru Bapak maju. Bukannya Bunda bilang juga kalau anaknya Pak Ahmad yang dimaksud kami itu adalah Najwa?
Tidak menjawab pesan dari Bapak lagi, kuletakkan ponsel itu di meja. Kutenggelamkan wajah di balik dua tangan yang kuletakkan di atas meja. Lantunan istighfar mulai kulanggengkan berulang kali. Kecewa. Itu yang aku rasakan sekarang. Ya, kecewa dengan diri sendiri karena sudah menenggelamkan diri pada kesalahpahaman. Saking kecewanya, mata ini sampai terasa basah.
"Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah," lirihku.
"Han, Farhan?"
Masih menutup wajah, aku berkata lirih, “Aku salah, Nan. Aku salah menilai Najwa selama ini. Aku berdosa karena sudah menyiksa orang yang tidak bersalah.”
Kilas kejadian sejak awal kami menikah, sudah tidak terhitung seberapa banyak air mata yang tumpah dari kelopak perempuan itu, hingga berujung kemarahan dan kalimat-kalimat panjangnya tadi mulai terputar.
Ya Allah, Najwa. Maafkan saya.
Semua bayangan itu terus terputar bagai kaset rekaman otomatis, menciptakan rasa bersalah yang terus membesar dalam dada.
“Maksud kamu apa, Han?”
“Najwa benar-benar enggak tahu apa-apa soal perjodohan kami. Apa yang Najwa katakan sepertinya memang benar. Aku yang baru sadar.”
"Aku enggak ngerti, Han. Maksudnya gimana?"
"Aku pernah bilang kalau aku benci sama Najwa itu gara-gara dia nerima tawaran perjodohan dari orang tuaku, kan?" Kinan mengangguk. "Aku yang salah, Nan."
__ADS_1
"Han, aku enggak paham. Tunggu, kamu tahu kalau Rifka suka sama kamu dan ternyata dia menerima lamaran Rifki itu sejak kapan?"
Aku menghela napas berat. Ini hal yang baru kusadari. Sejak awal Bunda menanyakan bagaimana kalau aku menikah dengan anaknya Pak Ahmad saja, aku tidak pernah tanya soal siapa dia, karena yang kutahu anaknya Pak Ahmad hanya Rifka. Orang yang kumaksud dan yang Bunda maksud ternyata beda orang.
Ya Tuhan.
Saat pertama melihat Najwa pas lamaran, jelas, aku kaget. Apalagi setelah itu Rifka datang bersama seorang lelaki dan bayi mungil yang dia akui sebagai suami dan anaknya. Rasa kaget tidak terelakkan lagi.
Aku masih ingat betul saat kembali berbicara dengan Rifka sebelum acara lamaran selesai. Sengaja ngacir dengan alasan mau ke kamar mandi sebentar, padahal mau menemui Rifka untuk meminta penjelasan atas semuanya.
"Jadi setahun hilang kabar, kamu ninggalin aku dengan memilih orang lain, Ka?"
Perempuan yang duduk di taman samping rumahnya itu segera menoleh. Bola mataku membelalak begitu mendapatinya menangis. Segera kudekati dia, dan begitu aku tiba di dekatnya, dia langsung merangsek ke dekapanku.
"Maafin aku, Mas. Aku terpaksa memilih Mas Rifki karena---"
"Karena apa, Rifka? Padahal sebelum-sebelumnya kamu yakin dan optimis untuk mengatakan soal kelanjutan hubungan kita kepada orang tua masing-masing."
Lalu mengalirlah cerita Rifka setelah itu. Sejak itu pula, rasa benci mulai tumbuh. Ingin rasanya langsung membatalkan, tapi begitu kembali ke ruang tamu rumah Najwa dan melihat Bunda begitu bahagia, aku jadi tidak tega. Di sanalah muncul ide jahat dan licik untuk membuat Najwa menderita.
Dan sekarang, ketika semua kebenarannya terungkap .... "Aku salah, Nan. Aku sudah menzalimi Najwa."
Kabar yang diberikan Bapak, serta ******* napas gusar yang dilakukan Kinan membuatku kembali kacau, padahal sejak pertama mulai bercerita, beban perasaanku sudah mulai ringan.
"Dan ... mungkin apa yang kamu katakan benar, Nan. Aku enggak akan sekacau ini setelah bertengkar dengan Najwa kalau perasaan aku masih sama dengan sebelumnya.”
Benar. Mau tidak mau, secara tidak sadar, hatiku mulai respect dengan keberadaan Najwa. Ah, sial. Kalau begini ceritanya, aku yang kalah. Bukan Najwa.
“Terus kenapa masih diam di sini?” Seketika aku seolah-olah menjelma orang linglung saat mendapat pertanyaan itu dari Kinan.
“Ayolah, Han. Jangan kebanyakan mikir. Sekarang pulang, minta maaf sama Najwa dan jelasin semuanya dengan sejelas-jelasnya biar enggak ada lagi kesalahpahaman di antara kalian.”
Aku tidak lantas bangkit dari tempat duduk, karena perasaan khawatir dan takut ditolak tiba-tiba menyergap dada. Aku tidak yakin kalau Najwa akan memercayaiku lagi.
“Han, ayo pulang. Awas nyesal kalau enggak gercep, lo.”
Aku langsung menyambar kunci mobil dan menitip laptop untuk dimatikan, kemudian segera membawa mobil untuk pulang.
Najwa, maafin saya. Saya menyesal sudah buat kamu menderita.
***
Hayo. Maunya Mas Farhan digimanain? Bentar lagi Mas Farhan nyampe rumahnya lagi, lo. 🙊 Komen, yuk.
__ADS_1
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Jumat, 17 September 2021