
“Lo, Mas Gibran sudah sampai?”
Aku yang semula fokus memperhatikan kegiatan Mbak Diva dan Mas Gibran yang sedang berkompromi untuk membangunkan kedua putrinya yang masih tidak mau keluar dari mobil, perlahan mengalihkan atensi. Aku sedikit menggeragap saat menyadari siapa si pengucap.
Mas Gibran melongok keluar sebentar. “Iya, Han. Baru saja sampai, kok. Ini lagi bujuk Nayla dan Syeila buat pindah ke dalam aja.”
Setelah itu, kakakku itu kembali masuk ke dalam mobil untuk membangunkan kedua putrinya.
“Mas, mending digendong aja, deh. Mereka kayaknya masih ngantuk,” usul Mbak Diva. Sigap, Mas Gibran menggendong Nayla. Sementara Mbak Diva bersiap menggendong Syeila.
“Biar aku aja yang gendong Syeila, Mbak.”
Aku menatap Mas Farhan tidak percaya.
Baik sekali, sih.
Mungkin karena memang kelelahan, Mbak Diva langsung menggeser posisinya kemudian memberi celah untuk Mas Farhan. Lelaki bertubuh tinggi tegap dengan alis tebal itu pun menggendong ponakanku itu, lalu membawanya ke dalam rumah. Kubantu Mbak Diva untuk membawa barang-barangnya, kemudian mempersilakannya untuk beristirahat.
“Sudah salat Zuhur?”
Aku yang menumpu dagu di jendela kamar seraya menyaksikan pemandangan luar rumah, menoleh. Setelah menyerahkan barang-barang Mbak Diva tadi, aku memang langsung kembali ke kamar, tanpa menunggu Mas Farhan yang masih menidurkan Syeila di kamar Mas Gibran.
Kulihat suamiku itu melangkah seraya membuka kemeja yang membalut tubuhnya. Menyisakan kaus putih polos lengan pendek. Membuatku kembali teringat pada saat pertama kali aku tiba di rumahnya.
Mau berpakaian jenis apa pun, Mas Farhan tetap terlihat tampan di mataku. Bahkan makin bertambahnya hari, dia terlihat makin tampan. Dan entah mengapa, setiap kali menatapnya aku selalu merasa jatuh cinta kepada lelaki yang sudah berdiri di hadapanku ini. Padahal jika melihat rekam jejak tingkahnya selama hidup bersama selama hampir dua bulan ini, tidak ada yang bisa kujadikan alasan untuk mencintainya. Mungkin benar kalau mencintai itu tidak perlu beralasan. Ia akan muncul dengan sendirinya jika orang itulah yang dituju.
Satu hal yang kutahu serta menjadi alasan satu-satunya aku mencintainya adalah karena dia suamiku. Memang sudah sepantasnya seorang istri mencintai suaminya, bukan?
Lagipula, benar kata Ayah. Hidup bersama Mas Farhan membuatku bisa lebih banyak berinteraksi secara verbal. Meskipun tidak terlalu sih perubahannya. Dan, aku baru menyadari bahwa setiap sesuatu pasti punya sisi positif dan negatifnya masing-masing. Em, bagaimana mendeskripsikannya, ya. Karena aku lebih mengedepankan perasaan dan lebih memberi celah untuk pikiran negatif merasuki otak, aku sampai lupa bahwa di samping sisi negatif itu pasti bersanding sisi positif.
Eh ... aku kalau lagi berada di luar keadaan yang memaksa melibatkan hati, pasti bisa berpikir begini. Coba saja pas Mas Farhan marah atau sedang menghadapi tingkah tidak baiknya, mana bisa? Keburu nangis duluan.
Memang, hal-hal yang berbau negatif lebih sering melekat di otak daripada hal-hal positif. Ibarat gedung bercat putih seluas lima meter, lalu ada setitik noda hitam di sana, maka yang pertama kali akan tampak di mata, adalah noda itu. Padahal jika dibandingkan dengan bagian yang bercat putih, noda itu tidak ada apa-apanya. Seperti halnya Mas Farhan. Hidup bersamanya dengan masalah yang datang silih berganti, secara tidak langsung melatihku untuk lebih bersikap sabar, teguh pendirian dan lebih giat untuk memperjuangkan mimpi apa yang kuinginkan.
Mas Farhan baik, kok. Buktinya dia bisa bersikap baik kepadaku, seperti saat ini, dan juga kepada keluargaku.
Namun .... Seketika kutundukkan pandangan saat tiba-tiba Mas Farhan menatapku dengan tatapan tajam khas dirinya. Bisa-bisanya aku membiarkan pikiranku berkelana pada saat aku masih berhadapan dengannya?
Hadeh. Parah kamu, Najwa.
__ADS_1
“Sekarang kebiasaan kamu sudah berubah cosplay jadi keong, ya?”
Sungguh ‘menakjubkan’ makhluk-Mu yang satu ini, ya Tuhan. Istrinya disamakan dengan keong.
Cepat, kutadahkan wajah menatap Mas Farhan yang kembali menatapku datar. Saking speechless-nya, bibir ini hanya bisa mangap tanpa ada sepatah kata pun yang terucap. Hanya kepala yang bergerak—menggeleng-geleng—sebentar, mewakili rasa tidak habis pikir dalam benak.
Selalu saja ada kata-kata Mas Farhan yang langsung jleb ke dalam hati. Bahkan itu sudah seperti ciri khas yang sangat melekat dalam dirinya. Suaranya pelan, tetapi sangat menusuk. Diam-diam menghanyutkan.
Bisa banget bikin aku sakit hati, Mas.
Kuhela perlahan napas ini, memberi pasokan oksigen pada paru-paru yang tiba-tiba terasa kehabisan udara, hingga menghadirkan sesak kembali dalam dada.
“Apa? Mau protes?”
Malas meladeni sikap Mas Farhan yang jelas menjengkelkan kalau sedang begini, aku menggeleng pelan. Yang ada urusannya panjang dan berujung ribut. Tidak, aku tidak mau ribut pada saat aku masih berada di lingkungan keluargaku.
“Sudah salat, belum?” ulang Mas Farhan.
“Belum, Mas.”
Kudengar Mas Farhan berdecak cukup keras. “Wudu’, kita salat bareng.”
Untaian kalimat tasbih dan tahmid terus terucap dalam hati ini saat aku benar-benar bisa berdiri di belakang Mas Farhan sebagai makmum salat Zuhurnya. Mencoba menyatukan pikiran untuk bermunajat kepada-Nya, aku pun mulai melantunkan takbir saat Mas Farhan memulai salatnya.
Ya Allah, jika ini adalah pertanda awal akan berubahnya Mas Farhan ke arah yang lebih baik, mudahkanlah jalannya. Karena jujur, ketakutan-ketakutan selalu ada. Rasanya melelahkan sekali saat aku sudah diterbangkan sampai ke awang-awang lalu dijatuhkan ke dasar bumi dalam sesaat.
Perasaanku kembali dibuat campur aduk saat Mas Farhan tiba-tiba berbalik ke arahku usai memanjatkan doa-doa pascasalat kami selesai. Tatapannya kali ini berbeda, terasa menyejukkan mata. Ada sorot kasih yang terpancar dari bola mata pekat yang biasanya menatap tajam itu. Cukup lama kami bersitatap, dan aku seperti tanpa sadar terperangkap oleh tatapan itu, hingga akhirnya suara dehaman Mas Farhan mengalihkan atensiku. Buru-buru aku mencari fokus lain untuk kutatap. Aku juga segera bangkit untuk berganti pakaian.
Jantungku tidak sehat jika terus-terusan begini. Tatapan Mas Farhan selalu berhasil membuatku seperti habis lari maraton.
Baru saja akan mengambil baju di lemari, satu panggilan Mas Farhan menghentikan aksiku. Aku lantas menoleh menyambut panggilannya. “Kenapa, Mas?”
“Istirahat. Nanti kalau sudah Asar, akan saya bangunkan.”
Kulirik jam yang tergantung di dinding sebelah barat. Memang masih lama untuk masuk waktu Asar. Baru jam setengah dua.
“Tapi aku mau ketemu Mas Gibran, Mas. Sudah lama juga aku enggak ketemu dia.”
Mas Farhan bangkit dari tempat salatnya, melipat sajadah, kemudian meletakkannya di sudut tempat tidur.
__ADS_1
“Kamu enggak capek apa abis perjalanan?”
Ini Mas Farhan kenapa, ya? Kenapa akhir-akhir ini dia seperti makin menunjukkan perhatian kepadaku? Beneran Mas Farhan mulai menerimaku? Ya Tuhan, ini pertanda baik apa buruk?
Kuurungkan niatku untuk mengambil baju, kemudian membalik badan menghadap ke arah suamiku yang sudah duduk di sudut tempat tidur.
“Tadi ‘kan udah tidur di mobil, Mas.”
“Bisa nurut sama perintah suami kamu, Najwa?”
Aku mengerjap.
“Lagian Mas Gibran juga pasti beristirahat. Kamu tidak lihat tadi Mbak Diva terlihat kelelahan? Apalagi Mas Gibran? Dia yang nyetir, lo.”
“Mas, kamu ini kenapa, sih?”
Entahlah, aku tidak tahu mengapa saat Mas Farhan bersikap baik, diriku seolah-olah menangkal. Sisi lain dari diri ini tidak berhenti memperingati agar aku lebih berhati-hati.
“Apanya?”
“Mas Farhan enggak lagi sakit, 'kan?”
Aku beranjak mendekati Mas Farhan, kemudian mengangkat tangan untuk meraba keningnya. Siapa tahu dia memang benar-benar sudah ‘agak-agak’. Eh, masyaallah.
“Apaan, sih,” ketus Mas Farhan, membuatku lagi-lagi menarik napas dalam. “Kamu pikir saya sakit? Saya baik-baik saja.”
“Tapi Mas Farhan aneh, lo. Mas Farhan enggak kesambet setan di jalanan menuju ke sini, kan?”
“Kamu tuh yang kesambet setan.” Mas Farhan menghempas tanganku cukup kasar. “Terserah, deh. Mau tidur atau tidak. Dikasih perhatian, banyak protes. Giliran diketusin mewek-mewek.”
......***......
Hayo, siapa yang kangen Mas Farhan? Maaf, ya. Aku belum bisa aktif update. Hiks.
Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar kalian.
Salam manis dariku. Author manis berdarah Madura asli. Hehe.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
__ADS_1
Ahad, 18 Juli 2021