Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Berziarah


__ADS_3

“Kamu mau ke mana, Wa?” Begitu keluar kamar, pertanyaan Ayah yang menyambutku.


Menutup pintu kamar rapat-rapat, aku lantas menoleh ke arah Ayah. “Najwa sama Mas Farhan mau ke makam Ibu, Yah.”


Sesaat setelah aku menjawab, raut wajah Ayah terlihat sedikit berubah. Aku tahu, Ayah pasti masih menyimpan kesedihan akan kepergian Ibu.


"Ayah baik-baik saja?"


Ayahku itu mengangkat wajah yang sempat tertunduk, kemudian menyunggingkan senyum terbaiknya ke arahku.


Ayah mengangguk. “Ayah tidak apa-apa, Nak. Kamu sama Farhan hati-hati, ya."


"Atau Ayah mau ikut kita ke sana?"


Siapa tahu Ayah mau. Meski sudah lima tahun Ibu pergi, Ayah jarang sekali pergi ke makam beliau. Ayah selalu bilang tidak kuat menahan kesedihan jika harus dihadapkan dengan kuburan Ibu. Ayah sempat berkata, ketika teringat Ibu, maka rasa bersalah akan kepergiannya pun ikut mengisi pikirannya. Semacam trauma, begitu. Jadi, satu-satunya cara yang beliau gunakan untuk menyalurkan kerinduan kepada wanita terkasihnya itu lewat doa dari rumah.


Aku dan saudara-saudaraku yang lain tidak memaksa. Karena kami mengerti dengan perasaan Ayah. Juga, daripada menimbulkan masalah lain, mending menghindari, 'kan? Lagipula aku yakin Ayah tidak akan mrpelupakan Ibu. Ayah pasti selalu mendoakan Ibu, meski beliau jarang menemui Ibu secara langsung ke makamnya.


"Enggak usah, Najwa. Kamu sama Farhan saja."


Dan jawaban yang sama kembali kudengar dari Ayah. Bedanya, kali ini aku sama Mas Farhan. Bukan dengan Mas Reza--yang paling sering--atau Mas Gibran, Weny dan Rifka.


Aku menunduk sejenak, mengambil napas kuat-kuat lalu mengembuskannya perlahan, kemudian kembali menatap wajah Ayah.


"Ayah masih sering merasa bersalah sama Ibu?"


Lagi-lagi Ayah tersenyum menanggapi pertanyaanku, kemudian mengalihkan topik pembicaraan.


"Sudah, sana berangkat. Kalau sudah selesai cepat pulang, ya. Adikmu mau datang juga katanya.”


“Weny apa Rifka, Yah?”


“Dua-duanya.” Raut wajahku pun berbinar bahagia. Mendengar kedua adikku yang dahulu suka usil kepadaku itu rasanya bahagia sekali. Uh, jadi tidak sabar ingin bertemu sama mereka lagi. Sudah lama juga tidak berkumpul dengan mereka.


“Sayang, sudah belum?”

__ADS_1


Ah, aku jadi terlupa kalau Mas Farhan sudah menunggu di luar. Siap-siap diceramahi nanti aku nih. Lama banget.


“Dek, kamu mau ke mana? Tuh, dipanggil suamimu.” Mas Gibran datang seraya menggendong Syeila yang tidur.


“Iya, Dik. Farhan kayaknya sudah dari tadi duduk di kursi teras depan. Nungguin kamu, ya?” imbuh Mbak Diva yang datang setelah Mas Gibran.


Aku menyengir lebar. “Eh, iya, Mbak. Kami mau ke makam Ibu, Mbak, Mas.”


“Udah buruan, sana. Kasihan suami kamu.” Setelah mengatakan itu, Mas Gibran pamit ke kamarnya untuk menidurkan Syeila, diikuti Mbak Diva di belakangnya. Kakak iparku itu mengatakan mau menyiapkan air hangat untuk anak-anaknya mandi setelah bangun tidur nanti.


Melupakan perihal Mbak Diva dan Mas Gibran yang lagi-lagi mampu membuatku cemburu karena keharmonisan keduanya, aku menoleh ke arah Ayah, kemudian menyalaminya. “Najwa pamit, Yah.”


“Titip salam buat Ibu, ya, Wa.” Aku tersenyum dengan menatap sendu Ayah yang mengatakannya. Raut kerinduan terpancar di mata ayahku tersebut. "Bilang, maaf Ayah belum siap."


Mengangguk terlebih dahulu, aku menjawab, “Iya, Yah. Akan Najwa sampaikan salam rindu dari belahan jiwanya.”


...***...


“Maaf lama, Mas. Tadi masih ditanya-tanya sama Ayah.”


Lelaki bertubuh tinggi tegap yang duduk di kursi kayu teras depan rumahku itu menoleh. Tanpa menjawab dengan ucapan, dia kemudian bangkit dan beranjak.


“Oh. Kamu di depan, saya ikut.”


Aku menggeleng tegas.


“Kalau kamu di belakang, bagaimana caranya, Najwa? Saya tidak tahu jalannya ke mana saja. Ayolah, jangan biasakan diri jadi orang ribet. Kita enggak berangkat-berangkat karena kamu banyak protes terus.”


Hadeh, Mas.


"Ini bukan protes, Mas. Tapi ngasih tahu. Please, ya. Bedakan, beda."


"Iya, iya."


“Seorang istri itu posisinya kalau tidak di belakang suami, itu di sampingnya, Mas.” Aku lantas menyejajarkan langkah tepat di sampingnya. “Nah, kayak gini.”

__ADS_1


“Ya sudah, terserahlah. Oke.”


Kusunggingkan senyum manis di bibir ini melihatnya hanya pasrah.


Ya Allah, aku benar-benar bahagia dengan semua ini. Kalau saja setiap hari sikapmu seperti ini, aku pasti akan jadi perempuan paling bahagia, Mas. Bisa merasakan perhatian dari kamu kayak gini. Kamu juga tidak marah-marah sama aku, itu bikin hidupku tenteram, Mas.


Seperti yang kukatakan tadi, lokasi pemakaman di sekitar tempat tinggalku tidak seperti pemakaman umum kota yang ada di pinggir jalan raya dan bisa ditempuh menggunakan kendaraan, kami pun berjalan beriringan menuju lokasi pemakaman di sudut utara rumahku.


Sepanjang jalan kami lalui dengan diam, melewati jalan-jalan setapak di tengah ladang yang ditumbuhi berbagai macam tumbuhan, mulai dari jagung, pohon pisang, pohon pepaya dan lainnya. Mas Farhan dengan kebiasaannya yang begitu, dan aku ... entah mengapa rasanya malas sekali mengajak ngobrol Mas Farhan. Dalam hati, tidak henti-hentinya juga aku bertasbih karena bisa menikmati suasana alam yang asri seperti ini. Udaranya segar, dedaunan yang menghijau, tidak hanya menyejukkan mata, tetapi menyejukkan hati. Ada ketenangan yang merasuk ke dalam hati, meski perjalanan kami tidak diwarnai obrolan.


Begitu tiba di makam Ibu, aku lantas memanggil salam, kemudian mengambil posisi untuk duduk di arah timur makam Ibu. Ternyata Mas Farhan juga menyusul duduk di sampingku. Kami duduk bersisian menghadap kiblat, kemudian menyatukan pikiran untuk menyampaikan doa-doa dan salam rindu untuk Ibu. Mas Farhan yang memimpin fatihah, yang kemudian diikuti pembacaan surah Yasin dan tahlil.


Sekitar lima belas menit kemudian, kami menyelesaikan panjatan doa kami. Aku masih duduk menatap makam Ibu lekat-lekat.


Hari ini Najwa datang bersama Mas Farhan, Bu. Aku yakin Ibu tahu siapa dia, 'kan?


Tundukan kepalaku makin dalam. Bulir-bulir air mata juga sudah menggenang di kelopak mata.


Doakan Najwa, Bu. Doakan Najwa agar dikuatkan menghadapi sikap Mas Farhan yang masih sering berubah-ubah. Doakan Najwa agar bisa meluluhkan hatinya, Bu. Karena jujur, Najwa sangat mencintainya.


Kuusap air mata yang mulai dengan deras menetes membasahi pipi.


Oh, iya. Ayah titip salam buat Ibu. Kata Ayah, maaf beliau belum siap. Tapi Najwa yakin Ayah pasti kangen sekali sama Ibu.


Perlahan, ingatan masa lalu tentangnya kembali menghampiri otak. Kubiarkan ia terputar otomatis di sana. Bagaimana lembutnya ibuku ini mendidik anak-anaknya, kasih sayang yang beliau berikan untuk kami, bagaimana beliau mencintai Ayah sebagai pasangannya mulai tergambar. Beliau adalah sosok perempuan tangguh yang menjadi sumber inspirasi dan panutanku. Beliau tidak pernah kenal lelah, apa pun beliau lakukan demi kami. Tidak kalah dengan apa yang Ayah lakukan untuk kami. Pokoknya, Ayah dan Ibu adalah orang tua terhebat bagi kami.


Semua memori yang mengingatkanku kepadanya menghadirkan berbagai macam rasa, mulai dari bahagia, merasa beruntung sekali memilikinya, merasa bersalah karena selama beliau hidup aku kerap tanpa sadar melukai perasaannya, hingga pada hal yang masih sangat kuingat sampai detik ini, saat beliau akan pergi untuk selamanya. Rasa rindu akan sosoknya juga mulai menggebu dalam dada. Andai waktu bisa diulang, ingin rasanya kembali pada masa-masa kami masih bersama.


“Ibu dan Ayah mau ke Surabaya lagi?”


...***...


Yuhu, aku update lagi. Ha-ha. Senang enggak? Senang dong. Masa enggak? Eh.


Salam manis dariku. Jangan lupa tinggalkan jejak apresiasi kalian, biar aku semangat lagi update-nya, ya. See you.

__ADS_1


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Kamis, 29 Juli 2021


__ADS_2