Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Tidak Mungkin Mundur, 'Kan?


__ADS_3

“Saya terima nikah dan kawinnya Najwa Az-zahra binti Ahmad Sya’roni dengan mas kawin tersebut, tunai.” Aku yang semula menunggu dengan gelisah di kamar, perlahan menghela napas lega begitu mendengar ucapan kabul Mas Farhan terselesaikan dari suara sound system. Jujur, aku lega karena dia dapat menyelesaikan akad nikah kami tanpa hambatan. Namun, ada perasaan sedih yang kemudian hadir setelah embusan napas lega itu. Sedih karena sekarang statusku sudah berbeda, dan tidak bisa sama-sama Ayah serta kedua kakak dan kedua adikku lagi.


“Ayah,” gumamku dengan suara lirih saat melihat lelaki paruh baya yang baru saja memasuki kamar di mana aku menunggu kedatangan suamiku. Lelaki tangguh yang selama dua puluh tiga tahun aku hidup selalu menjagaku itu tersenyum manis kepadaku. Apalagi setelah kepergian Ibu, lima tahun yang lalu. Beliau mendekat ke arahku seraya menatap dengan tatapan teduh. Entah apa yang terjadi dengan diriku saat ini, ketika Ayah sudah berdiri tepat di hadapan, aku langsung melabuhkan tubuh di pelukannya. Aku mendekapnya begitu erat, serta membiarkan air mata berjatuhan membasahi kemejanya.


“Kenapa menangis, Nak?” tanya Ayah pelan sambil mengelus punggung. Bukan berhenti menangis, aku malah makin terisak. Rasa sedih karena setelah hari ini aku akan tinggal di tempat berbeda dengan Ayah, seolah-olah terus membuatku tidak ingin berhenti meneteskan air mata. Aku akan tinggal di rumah suamiku, di Surabaya. Aku tidak bisa membayangkan hidup terpisah dengan jarak yang jauh dengan Ayah. Tidak begitu jauh, sih. Tempat tinggalku di Bangkalan, itu pun sudah di wilayah agak dekat perbatasan antara Madura-Surabaya.


“Lo, adik Mas yang cantik, kenapa nangis, Yah?” Aku mengurai pelukan dari Ayah ketika mendengar suara itu. Aku kemudian menoleh ke sumber suara. Ternyata sudah ada Mas Gibran dan Mas Reza yang sudah berdiri bersisian menatapku dengan tatapan khawatir yang tampak jelas di sorot mata keduanya. Terutama Mas Reza. Aku mengusap pelan sisa air mata di pipi, kemudian beranjak mendekati Mas Reza. Makin lama aku menatapnya, air mata makin tidak terkendali untuk menetes. Aku langsung memeluk tubuh kakak keduaku itu dengan erat sekali. Kubiarkan air mata ini membasahi kemejanya. Di punggung, aku merasakan ada tangan lain yang mengusap, dan aku yakin itu pasti Mas Gibran.


Di antara empat saudaraku yang lain, Mas Rezalah yang paling dekat denganku. Dia yang sering mendengar cerita-ceritaku. Dia yang menjadi tempat berkeluh kesah dan berkonsultasi. Untuk Mas Gibran, aku tidak terlalu dekat. Di samping usia kami yang terpaut cukup jauh, lima tahun, Mas Gibran sudah menikah. Jadi, kami tidak bisa leluasa bercerita. Sedangkan Mas Reza, di samping dia masih lajang dan masih tinggal denganku bersama Ayah, selisih usia kami hanya dua tahun.


“Mas sering-sering ke rumah Mas Farhan, ya, habis ini,” kataku pelan sambil terisak. Aku benar-benar masih tidak rela untuk berpisah dengan mereka. Mas Reza hanya menanggapi ucapanku dengan kekehan kecil diikuti ledekan.


“Katanya udah siap? Mana? Kok nangis? Enggak rela pisah sama kakak gantengmu ini, ya?” goda Mas Reza. Refleks, aku melepaskan pelukan kami, lalu memukul kecil lengan Mas Reza yang selalu saja berhasil membuatku tersenyum. "Tuh, adik Mas Reza ini lebih cantik kalau senyum,” imbuhnya. Dia merangkul pundakku seraya terus terkekeh.


"Baik-baik, ya, sama Farhan, Dek. Jangan bandel sama suamimu. Mas Gibran sama Mbak Diva insyaallah main ke rumah kalian kalau sudah libur kerja." Aku mengangguki ucapan Mas Gibran, masih dalam rangkulan Mas Reza. Makin ke sini, rasa tidak ingin berpisah seolah-olah terus memenuhi hati. Ada bulir-bulir air mata yang terasa ingin menetes kembali. Namun, sengaja kutahan, demi mereka yang terlihat bahagia atas pernikahanku.


“Za, kurang-kurangi meluk adiknya sembarangan. Sekarang dia udah ada yang punya, lo,” kata Ayah yang disambut gelak tawa Mas Reza, Mas Gibran dan ... aku baru sadar jika suamiku sudah bergabung dengan kami. Aku sedikit salah tingkah saat tatapan mata kami bersirobok dalam beberapa saat. Mas Reza juga sudah menurunkan lengannya di pundakku.


“Mas Farhan udah lama di sini?” tanyaku malu-malu. Mas Farhan mengangguk kemudian tersenyum.


Ya Allah, nikmat manakah yang akan aku dustakan? Baru melihat senyumnya saja debar jantungku sudah tidak keruan. Menurutku, Ayah tidak salah memilihkan jodoh untukku.


“Udah, tatap-tatapannya nanti aja lagi,” ledek Mas Reza. Aku mendengkus mendengarnya. Aku ‘kan jadi salah tingkah di depan Mas Farhan.


"Salim sama suamimu, Dek," ucap Mas Reza tiba-tiba. Ya Allah, aku sampai lupa untuk menyalaminya. Segera kumajukan tubuh, kemudian meraih tangan Mas Farhan dan mengecupnya penuh takzim. Setelah itu, Ayah membacakan doa untuk kami, yang kemudian diamini oleh kedua kakakku.

__ADS_1


"Titip adikku, Han. Dia cengeng soalnya," kata Mas Reza setelah Ayah mengakhiri doanya. Aku melotot ke arah Mas Reza, tetapi lelaki itu malah terkekeh. Begitu pun Ayah dan Mas Gibran.


"Mas Reza tidak usah khawatir," sahut Mas Farhan. Membuatku tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia.


“Lihat aja kejutan selanjutnya,” desis seseorang di sampingku. Aku menoleh ke arah Mas Farhan begitu mendengar desisan kecil itu.


“Mas ngomong tadi?” tanyaku kepada Mas Farhan. Dia sedikit kaget, terlihat dari bola matanya yang melebar. Namun dia tidak menjawab.


Lalu, kalau bukan Mas Farhan yang bergumam, siapa? Perasaan di sini hanya ada Mas Gibran, Mas Reza, Mas Farhan sama Ayah, deh. Tidak mungkin kedua kakakku, ‘kan?


“Kamu lihatin apa, sih, Dek? Celingak-celinguk kayak maling?”


“Eh, enggak Mas,” jawabku cepat kepada Mas Reza.


"Bagaimana, Najwa? Suka sama kejutannya?"


Kepalaku yang semula tertunduk dalam seraya memutar ingatan beberapa jam yang lalu, perlahan mendongak. Kutatap lekat wajah Mas Farhan yang kini menampakkan seringai jahat di sana. Raut wajahnya yang kuyu karena kantuk sepertinya sudah sirna, berganti aura menakutkan di sana. Atau dia memang belum tidur, tetapi pura-pura tidur? Aku menelan ludah melihat ekspresi itu.


Jadi?


Belum sempat aku melontarkan pertanyaan, meski bibir ini sudah terbuka hendak menyahut, Mas Farhan berkata, "Memang saya yang mengatakannya tadi."


Bola mataku membulat. Kepala dengan spontan bergerak, menggeleng, tidak percaya dengan kenyataan yang baru diungkap oleh suamiku ini. Jangan tanyakan lagi perihal rasaku, hatiku. Aku bahkan tidak tahu apakah ia masih berbentuk atau tidak sekarang. Bagaimana bisa lelaki yang dipasrahi menjagaku oleh Ayah malah begini? Apa yang ada di pikirannya?


"Jangan bahagia dulu. Tidak semudah itu untuk masuk ke dalam hidup seorang Farhan Fuadi, Najwa. Kamu belum tahu siapa saya."

__ADS_1


Bibirku perlahan mengatup, serapat-rapatnya. Apa-apaan ini? Setelah dia menghancurkan harapan, kemudian beralih menginjak-injakku dengan sikap dingin dan penolakan tidak langsungnya tadi, lalu sekarang ...? Apa dia berniat membunuhku secara perlahan? Jika memang iya, apa salahku? Kami tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Lalu kapan aku punya salah terhadapnya?


Makin ke sini, sikap Mas Farhan benar-benar tidak aku sangka. Dia berbeda jauh dari Bu Rasti yang lemah lembut dan penyayang. Bagaimana ini? Aku sudah kepalang basah menerima perjodohan ini, pernikahan pun usai dilaksanakan. Tidak mungkin aku langsung mundur sekarang, 'kan?


Tidak, Najwa. Kamu harus bertahan. Jangan menyerah. Setidaknya demi Ayah dan keluargamu.


"Apa yang harus kulakukan untuk masuk ke dalam hidupmu?" Kuberanikan diri membalas tatapan tajamnya. Ini adalah keputusanku. Aku akan memperjuangkan apa yang harus kuperjuangkan.


"Kamu yakin dengan pertanyaanmu itu, Najwa?" Pertanyaannya terdengar meremehkan di telinga.


Rupanya kamu memang sengaja mau mengujiku, Suamiku? Baiklah.


"Kenapa tidak?"


"Baiklah. Kamu boleh tinggal di kamar ini, tapi dengan syarat yang tadi. Jika tidak, silakan pilih salah satu di antara dua kamar kosong yang ada di rumah ini. Kita buktikan seberapa kuat pertahananmu, Najwa."


...***...


Bab 2 Sudah rilis. Mohon dukungannya, ya, Teman-teman.


Salam manis dari author manis. Hehe.


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Sabtu, 12 Juni 2021

__ADS_1


__ADS_2