Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Akhirnya Tiba Juga


__ADS_3

“Bunda apaan, sih. Angkat tuh telepon Ayah. Nanti baru aku ngomong sama Bunda.”


Membiarkan Bunda berbicara dengan Ayah, aku mencoba merelaksasi diri dengan mengambil napas banyak-banyak seraya menyandarkan punggung kembali di sandaran dipan. Meskipun aku tidak akan benar-benar tenang, apalagi melihat raut serius Bunda.


“Oh, Mas Faridzi masih ada di Sumenep, Mas Ahmad. Kemungkinan nanti malam masih pulangnya.”


Kira-kira apa yang Ayah kepada Bunda dan menanyakan Bapak, ya?


Berulang kali kuacak-acak rambut menatap Bunda yang masih sibuk berbicara dengan Ayah.


“Oh, iya, Mas. Tadi Reza juga kasih tahu kalau Najwa ada di klinik. Iya, Mas.” Senyuman yang terulas di bibir Bunda


terlihat dipaksakan. “Iya, Mas. Mohon maaf, ya. Nanti saya kasih tahu Farhan, Mas.” Bunda terlihat menganggukkan kepala. “Baik, Mas. Wa alaikumussalam.”


Begitu Bunda menurunkan ponsel dari telinga, aku langsung buru-buru mengalihkan pandangan, berpura-pura sibuk sendiri.


“Enggak usah sok polos. Bunda tahu kamu nguping dari tadi.” Aku hanya bisa meringis pelan mendengar kata-kata itu. Kapan aku bisa berkelit kalau berhadapan dengan Bunda? Tidak akan pernah.


“Kapan kamu akan ke rumah Najwa?” Nah, 'kan?


Aku membeku. Pertanyaan ini yang paling tidak ingin kudengar beberapa waktu itu. Tapi mau apa lagi? Semuanya pasti terungkap, dan memang seharusnya aku siap dengan hal ini.


“Bunda enggak mau denger cerita dari aku dulu?” Niatnya mau mengulur waktu lagi. Beneran, aku belum siap.


“Lebih baik kamu cerita di depan semua orang, biar enggak ada hal yang kamu tutupi. Dan harus secepatnya kamu


akui apa yang sudah kamu perbuat.” Akhirnya akan bertemu masa itu juga. Ah, bisa enggak, sih, waktu itu berhenti berputar sebentar. Eh, apa sih? Yang ada kiamat kalau waktu berhenti berputar. Astaghfirullah, Farhan.


“Farhan, kamu ini sudah jadi orang linglung, ya? Orang ngomong enggak disahuti.”


Aku menghela napas berat. Kudongakkan kepala, menatap Bunda cukup lama. “Besok pagi, Bunda.”

__ADS_1


Lagi-lagi Bunda melotot. Heran aku tuh. Bunda enggak capek apa, ya? Teriak-teriak, melotot, mengerahkan emosi dari tadi. Kali ini beliau sudah berkacak pinggang seraya masih menatap tajam ke arahku. “Kenapa masih nunggu besok pagi? Kamu enggak mau masalah kamu cepat selesai? Atau jangan-jangan ini yang kamu mau dari awal? Mau menghindar dari kesalahan yang sudah kamu perbuat?”


Aku bingung. Mau menggeleng, tapi pertanyaan Bunda saling kontradiktif. Yang ada, salah paham lagi. “Bundaku


sayang. Bunda bilang aku harus mengakui kesalahan aku di depan semuanya, ‘kan? Bapak lagi di mana? Di Sumenep, ‘kan? Ya udah. Bapak saja belum datang. Gimana ceritanya?”


Selamat. Kali ini aku selamat karena Bapak belum pulang.


“Oke, besok pagi kita ke sana. Awas kalau kamu bikin ulah.”


Oke. Rileks. Masih ada waktu menyiapkan diri untuk menghadapi semua orang besok.


Wanita itu lantas menurunkan tangan di pingganganya, merapikan tas di pundak, kemudian melangkah keluar kamar. Sepeninggal Bunda, aku langsung berbaring tengkurap di tempat tidur. Hari ini benar-benar melelahkan. Aku butuh istirahat.


***


Berdiri di depan rumah ini lagi membuatku teringat kenangan yang pernah tercipta di sini. Bagaimana awal mulanya hati yang selama ini beku—dipenuhi kebencian kepada Najwa—perlahan mencair. Di rumah inilah semuanya benar-benar bermula. Cerita demi cerita yang disuguhkan oleh orang tua dan saudara-saudara Najwa, serta gelagat aneh yang sering tidak sengaja kutangkap dari perempuan itu yang menggetarkan hati, hingga ia melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Namun, tidak berselang lama, hal-hal yang menjadi pemicu penderitaan Najwa di rumahnya sendiri ini juga ikut mengekor di belakangnya.


Tapi, rasa bersalah itulah yang kini menjadi alasan kenapa aku kembali berdiri di sini. Aku akan mempertanggungjawabkan semuanya.


Tolong beri saya kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita, Najwa.


“Farhan!” Tepukan cukup kasar dan teriakan itu mengalihkanku dari pemandangan halaman depan rumah mertuaku ini.


Ya, karena sudah mendapat peringatan dari Bunda kemarin, aku tidak berani mengulur-ulur waktu. Di sinilah kami berada sekarang. Bapak hanya diam saja, tapi sejatinya aku tahu beliau sedang menahan amarah. Itu terlihat dari sikap dingin yang ditampakkan sejak menjemputku ke rumah.


“Kamu ini malah bengong. Ayo panggil salam, atau apa gitu,” tegur Bunda.


Aku memutar bola mata. “Siapa yang bengong, Bunda? Lagian Bunda, sih, hanya mau panggil salam aja mesti aku.”


Satu dehaman cukup keras yang bersumber dari Bapak, membuatku kicep seketika. Astaga, Farhan. Masih bisa-bisanya bandel sama ibumu.

__ADS_1


“Eh, kamu sudah sampai, Ridz.” Terdengar suara Ayah dari pintu rumah. Bapak dan Bunda serempak menyambut


sapaan Pa-Ayah dengan ramah, sementara aku tiba-tiba menjadi grogi. Tatapan cukup lekat yang Ayah layangkan kepadaku itu sukses membuat aku mati kutu.


“Kok Mas Ahmad kayak tahu kalau kami bakal ke sini?” tanya Bunda. Ah, iya juga, ya.


“Faridzi ngasih tahu tadi kalau kalian mau ke sini.”


O, ternyata.


“Ayah,” sapaku seraya meraih tangan kanannya untuk dijabat. Pria yang biasanya ramah itu tidak menampakkan ekspresi apa pun, selain menerima jabatan tanganku. Ini benar-benar menegangkan.


“Ayo masuk.”


Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah gontai membuntuti Bunda dan Bapak menuju ruang depan rumah, tentunya dengan pikiran tidak karuan. Setibanya di sana, kedua orang tuaku masih sibuk basa-basi dengan Ayah, sementara aku hanya bisa duduk lemas menyaksikan interaksi mereka seperti gembel di jalanan. Sesekali aku diam-diam celingak-celinguk, mencari keberadaan Najwa. Mau bertanya, tapi tenggorokan terasa tercekat.


“Oh, iya, Mas. Najwa di mana?”


Pucuk dicita, ulam pun tiba. Bunda, penyelamat banget, sih.


“Najwa ada di kamarnya. Lagi istirahat. Tapi sudah dikasih tahu kalau mertuanya akan datang.”


Serasa disentil hati ini kala sebutan suami tidak terucap dari lisan ayah mertuaku ini. Beliau pikir aku ini apa? Makhluk gaib? Aku makin khawatir dengan semua ini. Ayah sudah menampakkan sindiran halus sejak tadi. Ya, aku menyadari betul kalau perlakuan pria terkasih istriku ini adalah teguran secara tidak langsung.


“Pak, aku mau jenguk Najwa dulu,” kata Bunda seraya bangkit dari tempat duduknya. Tidak tahan dengan suasana mencekam yang tercipta di ruangan berukuran empat kali tiga meter ini, aku segera bangkit untuk mengekori Bunda. Aku juga ingin ketemu Najwa kali. Namun— “Kamu mau ke mana, Farhan?”


***


Halo. Mas Farhan come back. Yuhu! Siapa yang kangen? Komen kuy. Bentar lagi dia bakal ketemu Najwa, lo.


Sumenep, Madura, Jawa Timur

__ADS_1


Minggu, 10 Oktober 2021


__ADS_2