
Hari ini cukup berwarna karena kehadiran Bunda di rumah. Bibir yang sebelum-sebelumnya terasa kaku dan berat untuk menyunggingkan senyum, kali ini tidak. Aku malah tidak ingin berhenti tersenyum, saking berwarnanya hidupku hari ini. Mulai dari senyum tipis, manis, bahkan kecut semua hadir hari ini. Meskipun sesekali Bunda memberikan pertanyaan-pertanyaan mengejutkan, tetapi aku seperti mulai terbiasa. Ya, terbiasa memakai topeng kepalsuan demi mengelabui ibu mertuaku itu.
"Farhan itu anaknya supel banget, Naj. Dia ramah ke siapa pun. Dia suka fotografi sejak kecil, makanya pas kuliah dan dia bertemu Kinan, temannya yang pencinta fotografi juga, dia merintis studio foto itu." Aku hanya mengangguki saja kalimat Bunda yang itu. Tidak tahu respons seperti apa yang harus kutunjukkan. "Itu yang hadir di acara resepsi kalian, itu kameramen studionya Farhan. Namanya Rayhan kalau itu."
Bibirku membulat, membentuk huruf O. "Wah, pantas hasil fotonya bagus-bagus," sahutku, "Najwa baru tahu kalau itu miliknya Mas Farhan, Bun."
"Memang Farhan tidak pernah cerita kalau dia punya studio?"
Aku tersentak dengan pertanyaan itu. Aku salah ngomong lagi, ya? Duh.
"Em. Cerita kok, Bun."
"Bunda pikir belum. Kamu kayak tidak tahu sekali tadi."
He. Aku hanya bisa menyengir tanpa memberi jawaban kepada Bunda. Jangankan bercerita soal pekerjaan, ngomong saja seperlunya.
"Bagaimana perasaanmu setelah menikah dengan anak Bunda? Dia baik, 'kan, sama kamu?"
Aku tercenung, tidak lantas menjawab pertanyaan Bunda. Malas sekali melayani pertanyaan macam itu.
"Bunda percaya sama Mas Farhan?"
Wanita yang melahirkan suamiku itu tampak mengerutkan kening sebentar. Namun, beliau pun mengangguk setelah beberapa saat. "Dia adalah lelaki yang bertanggung jawab. Bunda percaya itu."
"Kalau Bunda percaya sama Mas Farhan, berarti semuanya baik-baik saja, Bunda. Tidak ada yang perlu Bunda takutkan."
Wanita itu tersenyum lembut ke arahku. "Bunda beruntung punya menantu sepertimu, Nak. Kamu bukan anak kandung Bunda, tapi sudah seperti anak kandung. Kamu tidak sungkan sama Bunda, itu yang buat Bunda merasa dekat denganmu."
Terima kasih jika anggapan itu yang ada di benak Bunda.
Setelah seharian beraktivitas dengan Bunda, kami pun memutuskan untuk membersihkan diri karena hari juga sudah sore. Kata Bunda, Mas Farhan akan segera datang. Jadi, aku harus cantik untuk menyambut kedatangannya. Ah, berhubungan dengan alat kosmetik itu lagi.
"Lo, Bunda belum pulang?" tanya Mas Farhan yang baru datang.
Orang yang ditunggu sejak tadi sore, baru datang jam delapan malam. Tentu saja aku tidak kaget. Namun Bunda, beliau jelas akan memprotes lagi.
"Belum. Kamu ini gimana sih, Han, sudah punya istri masih suka pulang telat," protes Bunda.
Oh, berarti memang kebiasaan dia pulang telat.
"Apaan, sih, Bunda. Di toko 'kan banyak kerjaan, orang ke studio juga banyak."
Dan aku hanya diam bak patung melihat interaksi antara ibu dan anak itu.
"Farhan, kamu sudah beristri. Kurangilah jam kerja kamu. Di toko 'kan sudah ada Firman dan Fildan. Di studio juga ada teman kamu itu, si Rayhan dan Kinan. Lagian kamu ini bos. Kok malah kamu yang terkesan bawahan di sana."
__ADS_1
"Sudah, deh, Bun. Lagian Najwa tidak komplain, kenapa Bunda yang ribet? Dia pasti mengertilah, Farhan keluar bukan untuk main-main. Farhan kerja, Bun."
Jika memang begitu keadaannya, aku jadi kasihan sama Mas Farhan. Aku yang duduk di samping Bunda pun bangkit, menghampirinya.
"Mas, sudah. Mending Mas mandi dulu. Kita makan malam sama Bunda bentar lagi."
Kalau dibiarkan, aku takut Mas Farhan kalut dan tanpa sadar mengeluarkan kalimat yang tidak diinginkan. Kasihan juga sama Bunda kalau harus bertengkar sama putranya. Lagian Mas Farhan juga, kenapa enggak iya-in saja ucapan Bunda. Malah cari masalah dengan mengajak debat Bunda.
“Malam ini bunda nginap di sini, ya?” Ucapan Bunda memecah keheningan ruang makan malam ini.
“Apa?” Itu respons Mas Farhan.
Sedangkan aku merespons dengan mata membelalak. Kuangkat kepala, lalu menoleh ke arah Mas Farhan yang duduk di sampingku. Ternyata, dia pun menatapku. Alhasil, kami saling tatap dalam waktu yang cukup lama. Jelas saja kami kaget mendengar pernyataan Bunda.
“Iya, Bunda ingin nemenin kalian. Lagian, Bapak 'kan lagi di luar kota, Bunda sendirian di rumah,” jelas Bunda. “Tidak ada masalah, 'kan?”
Kami masih terdiam. Bunda yang tidak sengaja melihat kami yang masih kaget, tiba-tiba bertanya, "Kalian kenapa?”
“Enggak, Bun.” Kami menjawabnya serempak. Membuatku canggung saja.
“Kalau kalian keberatan Bunda nginap di sini, karena takut ganggu bulan madu kalian, enggak papa kok. Bunda nginapnya lain kali aja. Gimana?”
Ya Allah, Bunda. Bulan madu apaan? Yang ada bulan gelap. Tidak ada cahayanya, tidak ada manis-manisnya. Kelewat pahit yang ada.
Aku mengatupkan bibir. Sengaja ingin tahu jawaban apa yang akan diberikan Mas Farhan.
Cocok banget jadi bunglon. Bisa mengelabui siapa pun. Eh.
Bunda tersenyum ceria. "Oke. Nanti kalian tunjukkan kamar Bunda di mana, ya.”
“Ya, Bun.”
Baiklah. Mau tidak mau kami harus menerima kehadiran Bunda di rumah kami. Ya walaupun dengan hadirnya Bunda di sana kami merasa bagaikan hidup di penjara. Merasa selalu terawasi sehingga kami tidak begitu bebas untuk melakukan apa pun yang kami inginkan. Kami tidak mungkin menjalani hidup seperti yang telah berlalu saat Bunda tak bersama kami.
Usai makan malam dan membereskan piring kotor, aku lekas kembali ke kamar, setelah mengantar Bunda ke kamarnya.
“Najwa, ini kenapa ada alas di dekat kasur? Siapa yang tidur di sini? Kalian enggak tidur bareng?”
Aku terperanjat karena Bunda tiba-tiba muncul di belakangku.
Kenapa Bunda malah di sini, sih? Tadi sudah kuantar ke kamarnya, 'kan? Ya ampun, mana Bunda peka banget. Kenapa juga Mas Farhan sudah menggelar tikar sekarang? Padahal Bunda sering muncul tiba-tiba seperti ini.
“Bunda ini kok nanya gitu sih? 'Kan aneh klo suami istri tidak tidur bareng? Jangan aneh-anehlah, Bunda pertanyaannya.”
Mas Farhan tiba-tiba datang dan mengeluarkan argumentasinya. Baiklah, kita ikuti saja panggung sandiwara yang diciptakan suamiku ini.
__ADS_1
Tunggu? Tadi dia bilang aneh kalau suami-istri tidak tidur bersama? Yakin, Mas? Kepalaku tidak bisa untuk berdiam saja. Meski kecil, kugelengkan kepalaku karena benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Mas Farhan.
Bunda beralih menatap putranya, menatapnya intens, seperti mengisyaratkan permintaan jawaban.
“Tadi habis dari salat, sebelum keluar kamar, Farhan tiduran di bawah.”
Bagus juga jawabannya, Mas. Encer banget, ya, otaknya sampai-sampai dapat ide terus untuk mengarang alasan kepada Bunda.
“Kok tidak tidur di atas sih?”
“Bunda ini lama-lama makin buat aku bingung deh. Masa cuma tidur di bawah aja, jadi salah. Apa-apa salah terus.”
Uh, Mas Farhan ... wajahnya 'menggemaskan' sekali, sih. Ingin kucabik-cabik muka menjengkelkan yang dia tampakkan kali ini. Apaan sih, Najwa? Perdebatan antara ibu dan anak ini seru. Jadi, jangan sampai dilewatkan. Ha ha. Ya Allah, maafkan kekhilafanku.
“Bukan begitu, Han. Bunda hanya aneh saja dengan sikap kalian. Apa memang benar, kalian tidak tidur bareng?”
Aku menggeleng samar, benar-benar takjub dengan kepekaan perasaan Bunda.
“Ya ampun, Bunda. Masa mau tidur harus bareng-bareng terus sih, Bun?”
Aku membekap mulut, menyembunyikan tawa yang ingin berderai mendengar rajukan Mas Farhan. Dia benar-benar terlihat lucu kali ini. Bayangkan saja, lelaki yang selama ini selalu cuek, dingin dan pemarah terhadapku dan sudah seperti singa kelaparan, tiba-tiba menjelma menjadi kucing jinak. Lucu, 'kan?
"Lagian Najwa 'kan kadang masih punya pekerjaan lain. Dia dari tadi nemenin Bunda, 'kan? Farhan cuma istirahat sebentar di bawah, yang salah di mana? Masa iya, Farhan dan Najwa harus apa-apa berdua terus? Kegiatan kita beda-beda. Kembar identik saja masih banyak yang beda dan tidak mesti selalu melakukan hal yang sama dengan kembarannya. Apalagi Farhan dan Najwa yang memang terlahir dari orang tua dan dari latar belakang keluarga berbeda?”
Mari bertepuk tangan atas kecerdasan suamiku ini. Kemampuan berdebatnya pasti mewarisi gen Bunda.
“Iya memang, Han, tapi Bunda tetap ngerasa aneh. Bunda yakin ada sesuatu yang kalian tutupin dari Bunda. Ayo, sekarang kalian jawab Bunda dengan jujur!" tegas Bunda.
Katanya, perasaan seorang ibu atas apa yang terjadi kepada anak-anaknya banyak bertepatan dengan takdir. Banyak benarnya, begitu. Mas Farhan sempat diam, sepertinya sudah kehabisan kata-kata untuk menutupi semua masalah kami. Kulihat Mas Farhan melipat paksa tikar yang sengaja disiapkannya untuk beristirahat tadi, mungkin takut menimbulkan kecurigaan Bunda.
"Sudah, ya, Bun. Ini sudah malam, lo. Bunda istirahat, ya. Aku sama Najwa juga mau beristirahat."
Bunda langsung meninggalkan kami berdua.
"Tidur di atas, jangan sampai Bunda curiga lagi."
Aku segera menyusulnya naik ke tempat tidur. Debaran jantungku ternyata masih sama seperti saat pertama kali tidur bersisian dengannya awal kami tiba di rumah ini. Ya Tuhan, setelah sebulan kami tidak pernah tidur bersama, akhirnya malam ini hal itu terulang lagi.
"Tidur, jangan berisik apalagi ganggu istirahat saya."
...***...
Salam manis dari orang manis. Hehe. Jangan lupa like, vote dan komentar. Share pun boleh.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
__ADS_1
Selasa, 15 Juni 2021