
“Bahkan setelah nikah pun, aku masih suka nyetak foto di sana, Mbak."
Perasaanku terasa makin campur aduk setelah mendengar kalimat lanjutan dari Rifka. Sesekali kutatap Mas Farhan, tetapi dia diam saja, seperti tidak ada niatan menjelaskan apa pun. Entah apa yang harus kuresponskan kali ini. Aku hanya bisa mengigit bibir dan berusaha menetralkan raut wajah, meski perasaan sudah tidak keruan.
"Tapi ke sananya sudah sama Mas Rifki. Lumayan lah, Mbak, demi foto bagus dan harga yang ... ya, bisa dibicarakan lah.”
Positif thinking, Najwa. Jangan biarkan pikiran negatif menguasaimu.
Kutanggapi kalimat adikku ini dengan anggukan kecil. “Kamu tahu studio Mas Farhan dari siapa, Dek? Dikasih tahu Bunda apa--”
“Dari Mas Farhan langsung, Mbak.” Aku tertegun mendengar jawaban Rifka. "Waktu itu Pak Faridzi sama Bu Rasti ngajak Ayah ke mana gitu, aku lupa. Aku ditawari ikut, tapi enggak mau. Mas Farhan jadinya nawarin buat nunggu di studionya. Setelah itu aku lantas sering main ke sana."
Rifka mulai bercerita dengan antusias soal studio Mas Farhan, malah dia juga tahu soal usaha toko Mas Farhan. Hampir keseluruhan dia ceritakan kepadaku, dan aku hanya bisa menanggapi dengan anggukan atau tersenyum tipis. Lagipula apa yang akan kujawabkan sementara aku tidak tahu apa-apa tentang Mas Farhan?
Ya Tuhan, apa Rifka tidak tahu jika hal-hal yang diceritakannya malah membuatku insecure? Tidakkah dia tahu kalau aku benar-benar merasa makin kerdil setelah mendengar penjelasan-penjelasannya tentang suamiku? Pernikahan yang aneh, 'kan? Bagaimana bisa aku yang merupakan istri Mas Farhan tidak tahu-menahu tentangnya?
Kedua tanganku mulai berkeringat akibat emosi negatif yang terus meluap di balik dada. Ingin pamit pergi saja, tetapi aku takut malah membuat Rifka atau Mas Reza, mungkin juga Mas Farhan curiga. Kucoba mengalihkan perhatian lagi ke arah ponsel Mas Reza. Ternyata dia sudah mengganti film baru.
“Memang Mbak Najwa enggak pernah diajak ke studionya Mas Farhan waktu ikut Ayah dan Ibu."
Aku tersenyum kecil, lantas menggeleng pelan. “Malah, pertama kali Mbak ketemu Mas Farhan, ya, pas lamaran.”
Dan aku masih ingat betul pertemuan pertama kami itu. Masa pertama kali aku merasakan getaran cinta pada pandangan pertama kepadanya.
"Oh, iya? Berarti Mbak enggak tahu dong sebelumnya kalau Bu Rasti punya anak Mas Farhan?" tanya Rifka lagi.
Ini Rifka kenapa kepo banget, ya? Apa dia sedang ingin membanggakan dirinya yang bisa lebih kenal dengan Mas Farhan?
Aduh, astaghfirullahal azim. Setan, oh, setan. Makin mencoba menghalau pikiran-pikiran negatif agar tidak suuzan sama adik sendiri, malah makin merajalela menguasai otak. Berpikirlah positif, Najwa.
"Mbak tahu kok, Dek. Cuma belum pernah ketemu saja sebelumnya. Iya, kan, Mas?" Aku melirik Mas Farhan.
Dia mengangguk. "Iya. Enggak jodoh kali, ya. Jodohnya sama kamu, Ka. Soalnya pas ikut Bapak untuk ketemu Ayah dan Ibu, kebetulan selalu kamu yang ikut."
Bibirku sedikit terbuka mendengar kata-kata Mas Farhan kepada Rifka. Makin mencoba berpikir positif, makinada saja yang memancing otak untuk berpikir negatif. Apalagi setelah mendengar sahutan Rifka.
"Mas Farhan bisa aja." Adik pertamaku itu tertawa pelan. "Jodohnya Mas Farhan itu Mbak Najwa," lanjutnya.
__ADS_1
Akan kubantu aminkan, Dek. Kalaupun memang Mas Farhan bukan jodohku, semoga aku bisa kuat menerimanya. Ah, makin ke sini, makin mellow saja rasanya.
“Kalau Mas Reza kenal Mas Farhan di mana?” tanya Rifka. Namun, Mas Reza tidak menanggapi. Dia terlihat fokus dengan ponselnya.
Aku menarik napas panjang saat menyadari telinga Mas Reza tersumpal headset. Pantas saja dia tidak menimpali apa pun perbincangan kami dari tadi.
Kubuka salah satu headset itu dari telinga Mas Reza, membuatnya menatapku cukup lama. “Kenapa, Dek?”
"Tuh, ditanya sama Rifka."
Mas Reza membuka satu headset di telinga yang satunya, kemudian menatap ke arah Rifka. "Tanya apa, Ka?"
“Mas Reza kenal Mas Farhan dari kapan?” tanya Rifka lagi.
“Baru kenal, sih. Mas tahu anaknya Bu Rasti namanya Farhan, tapi enggak begitu kenal. Mas kenalnya ya, pas mau nikah sama Najwa.”
Ternyata apa yang terjadi antara aku dan Mas Reza hampir sama.
“Kenapa?” Mas Reza mengerutkan kening.
"Enggak apa-apa, Mas. Cuma tanya aja. Mbak Najwa bilang belum pernah ketemu Mas Farhan sebelum mereka nikah."
Ah, aku teringat sesuatu. Awal-awal, Rifka sering tidak mau kalau diajak ketemu rekan kerja Ayah, dan akulah yang sering ikut. Nah, pada satu waktu, entah ada angin apa, Rifka mau diajak keluar sama Ayah. Lalu setelah itu, dia jadi sering ikut hingga akhirnya aku yang harus mengalah dan tidak ikut. Di samping itu aku suka badmood kalau berada dalam satu ruangan sama dia. Dia 'kan suka usil. Pasti itu setelah bertemu Mas Farhan. Seperti yang dikatakannya barusan.
Lalu pertanyaannya sekarang, ada apa antara Mas Farhan dan Rifka setelah itu?
“Terus sekarang Mbak Najwa 'kan sudah nikah sama Mas Farhan. Mbak Najwa sudah pernah ke studionya Mas Farhan, 'kan?”
Pertanyaan tiba-tiba dari Rifka membuatku terkesiap.
Apa yang mesti kujawabkan? Jangankan pergi ke studionya, aku baru tahu kalau dia pemilik studio foto pun baru beberapa waktu setelah pernikahan kami digelar. Itu pun bukan dari orangnya langsung.
Aku masih terdiam dalam tundukan kepala, bingung harus berkata seperti apa. Ada Mas Reza di sisiku. Aku tidak mau dia mengenali gelagat anehku, sehingga berujung interogasi lagi darinya.
“Mbak?”
Cepat, aku mengangkat kepala saat mendengar panggilan Rifka.
__ADS_1
"Iya, kenapa?"
"Mbak Najwa kenapa, sih? Kok kayak enggak konek gitu? Jiwa Mbak Najwa kayak ada di mana-mana, gitu?"
Aku berdecak pelan. "Sok tahu kamu, Dek."
"Ya gimana aku enggak bilang gitu. Mbak ditanya malah diam."
Ya mau jawab apa, Rifka? Orang aku enggak tahu apa-apa.
“Aku belum bawa mbakmu ke studio sama sekali, Ka. Biasalah, aku lagi sibuk banget, takutnya dia juga ditinggal-tinggal sampai di sana.”
Aku? Kenapa Mas Farhan bisa pakai kata "aku" kepada Rifka sedangkan ke aku enggak, Mas?
Ingin rasanya bertanya begitu, tetapi ... ah, sudahlah. Aku lelah.
"Oh, gitu. Padahal studionya Mas Farhan keren banget, Mbak. Mbak pasti suka kalau ke sana, enggak pengin pulang rasanya."
Lagi-lagi aku seperti kutu dikasih kapur barus, tidak berdaya. Aku hanya diam seraya menggigit bibir saat obrolan Rifka dan Mas Farhan kembali menyambung.
"Mbak Najwa itu enggak suka selfie, Mas. Kali saja kalau dibawa ke studio Mas Farhan, dia mau buat foto-foto."
"Iya, Ka. Nanti aku bawa mbakmu ke sana, kok."
Kupalingkan wajahku ke samping karena tiba-tiba ada air mata yang melintasi pipi. Rasa nyeri karena ulah Mas Farhan yang mulai berakting lagi kembali menyiksa. Aku bahkan tidak paham dengan perasaanku sendiri saat ini. Jujur, aku kecewa pada diriku sendiri yang tidak mengenal siapa suamiku sebenarnya. Aku merasa menjadi perempuan yang gagal, pada saat ada perempuan lain yang lebih tahu soal suamiku. Parahnya lagi, dia adikku sendiri.
Di antara Mas Farhan dan Rifka tidak ada sesuatu, ‘kan? Dan pertanyaan itu lagi.
...***...
Hai, aku update! Senang enggak? Senang dong.
Jangan lupa tinggalkan jejak apresiasi kalian, ya. Love you all.💙
Salam manis dari author manis.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
__ADS_1
Senin, 2 Agustus 2021